- Pejabat UNCTAD Luz Maria de la Mora memperingatkan lonjakan harga pupuk bisa memengaruhi panen tahun depan.
- Di Zimbabwe, lebih dari 70 persen penduduk bergantung pada pertanian.
- Menteri Perdagangan Uganda menyebut harga BBM di negaranya naik lebih dari dua kali lipat.
- Mata uang Uganda kehilangan 10 persen nilainya terhadap dolar AS.
Cekricek.id — Ketahanan pangan Afrika terancam dampak ekonomi perang di Timur Tengah, dengan kenaikan harga bahan bakar dan pupuk yang berpotensi mendorong naik harga pangan, menurut sejumlah menteri perdagangan Afrika dan pejabat perdagangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Krisis di Selat Hormuz akibat perang AS-Israel terhadap Iran perlu diselesaikan “lebih cepat lebih baik”. Hal itu disampaikan Direktur Divisi Perdagangan Internasional dan Komoditas Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) Luz Maria de la Mora di World Investment Forum di Doha, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Senin (26/10/2026).
“Harga pupuk naik drastis … sehingga banyak negara memutuskan mengurangi pemakaian pupuk, yang akan berdampak tahun depan pada hasil panen,” kata de la Mora. “Ini bisa berdampak pada ketersediaan dan harga pangan.”
Selat Hormuz sebelumnya dilalui seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Menurut de la Mora, kenaikan harga minyak telah mengganggu rantai pasok dengan dampak yang lebih lama dari perkiraan. “Dampaknya berlangsung lebih lama dari yang kami perkirakan atau inginkan,” ujarnya.
Di Zimbabwe, kenaikan harga bahan bakar dan pupuk menjadi perhatian serius karena lebih dari 70 persen penduduknya bergantung pada pertanian, kata Monica Mutsvangwa, Menteri Urusan Perempuan, Komunitas, serta Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Zimbabwe.
Uganda, negara agraris lain, juga terpukul dengan harga bahan bakar yang naik lebih dari dua kali lipat, kata Menteri Perdagangan, Industri, dan Koperasi Uganda Sanjay Tanna. Menurut dia, ketergantungan pada pertanian subsisten membantu meredam dampaknya karena produksi pangan dalam negeri memberi perlindungan dari gejolak pasar internasional.
Meski begitu, mata uang Uganda telah kehilangan 10 persen nilainya terhadap dolar AS, kata Tanna. Ditanya apakah sistem perdagangan internasional memperlakukan semua negara secara setara, ia menjawab lugas. “Tentu tidak. Dunia tidak bisa setara … Ini tidak adil, tetapi kami yakin, dalam ruang yang kami tempati, kami berada di posisi yang baik,” ujarnya.
Zimbabwe, kata Mutsvangwa, memosisikan diri sebagai mitra bagi investor dari kedua kubu perang dagang AS dan China. “Kami kawan bagi semua dan musuh bagi tak seorang pun,” ujarnya. Wakil Perdana Menteri Republik Kongo Jean-Jacques Bouya menambahkan, “Afrika tidak bisa lagi menjadi gudang bahan mentah.”















