AS Bantu Ekspor Minyak Teluk 1,5 Miliar Barel Lewat Hormuz

A A

Dok. Sebuah kapal kargo berlayar di Teluk menuju Selat Hormuz, terlihat dari Dubai, Uni Emirat Arab, 21 Oktober 2026. [Foto: Altaf Qadri/AP via Al Jazeera]

  • CENTCOM menyebut lebih dari 3.000 kapal komersial melintasi Selat Hormuz dengan dukungan AS dalam enam bulan.
  • Laksamana Brad Cooper menyatakan jalur transit utama di selat itu bebas ranjau Iran.
  • Menurut Kpler, sedikitnya 16,5 juta barel minyak per hari keluar dari kawasan pada September.
  • Harga Brent sekitar 114,50 dolar AS per barel, jauh di atas 72,48 dolar AS sebelum perang.

Cekricek.id — Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukan AS telah membantu ekspor minyak Teluk lebih dari 1,5 miliar barel sejak Juni, meski Iran berupaya mengendalikan jalur perairan vital tersebut.

CENTCOM pada Minggu menyebut lebih dari 3.000 kapal komersial telah melintasi Selat Hormuz dengan dukungannya selama enam bulan terakhir, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Senin (26/10/2026). Menurut CENTCOM, lebih dari 95 persen kapal yang melintas dalam beberapa bulan terakhir berlayar dengan selamat meski ada ancaman Iran.

Angka itu diumumkan saat Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper berkunjung ke kawasan dan memantau kondisi operasional di selat tersebut dari helikopter Angkatan Darat AS.

“Kami terus berdiri bahu-membahu dengan mitra Teluk dan industri pelayaran,” kata Cooper dalam pernyataannya. “Kunjungan ini menegaskan komitmen kuat kami terhadap kebebasan navigasi yang berkelanjutan melalui Selat Hormuz.”

Cooper menyebut jalur transit utama kapal di selat itu bebas dari ranjau Iran berkat kerja personel yang menjalankan operasi pembersihan ranjau. “Kami tetap sangat fokus menjaga lalu lintas komersial terus mengalir sembari bekerja dengan rekan-rekan kami di lembaga antarinstansi AS, Dewan Kerja Sama Teluk, dan industri pelayaran,” ujarnya.

Aliran minyak mentah sebagian besar telah kembali ke tingkat sebelum AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari, meski ancaman serangan pasukan Iran terhadap kapal komersial masih berlangsung.

Menurut firma intelijen pasar Kpler, sedikitnya 16,5 juta barel minyak per hari keluar dari kawasan itu pada September, setara rata-rata sebelum perang, tidak termasuk Iran. Analis mengaitkan pemulihan tersebut dengan kombinasi pemindahan muatan antarkapal di lepas pantai, pengawalan militer AS, dan peningkatan penggunaan pipa minyak.

Meski begitu, harga minyak masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang. Harga minyak mentah berjangka Brent berada di sekitar 114,50 dolar AS per barel pada Minggu, setelah turun sekitar 2 persen dari level tertinggi dalam hampir enam bulan pada pekan lalu. Pada 27 Februari, sehari sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran, Brent ditutup di 72,48 dolar AS per barel.

Bagikan

Baca Juga

Perawat Tewas Diserang Saat Tangani Kasus Ebola di Kongo
BEI Siap Bekukan Rekening Investor Mencurigakan Mulai November
Satu dari Empat Tenaga Kesehatan Bangladesh Idap Penyakit Ganda
Pemilu Presiden Bulgaria Berlanjut ke Putaran Kedua
Pejabat PBB: Kesenjangan AI Bisa Perdalam Ketimpangan Global
Marine Le Pen Buka Kampanye, Janjikan Kebangkitan Prancis