- Seorang perawat tewas dan seorang petugas kesehatan luka parah setelah diserang di Bafwasende, Provinsi Tshopo.
- Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan layanan kesehatan harus selalu dilindungi.
- Wabah sejak Mei mencatat lebih dari 9.800 kasus dan lebih dari 4.700 kematian, terparah dalam sejarah Kongo.
- Uganda mewajibkan karantina 21 hari bagi warga yang pulang dengan riwayat perjalanan ke Kongo.
Cekricek.id — Seorang perawat tewas dan seorang petugas kesehatan lain luka parah setelah diserang saat menanggapi laporan kasus Ebola di Kongo timur, tepatnya di kota Bafwasende, Provinsi Tshopo, pada Sabtu (25/10/2026).
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkap serangan itu lewat unggahan di X pada Minggu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Senin (26/10/2026). Serangan tersebut merupakan yang terbaru dari rangkaian serangan terhadap petugas kesehatan dan tim tanggap darurat yang menurut otoritas menghambat upaya memperlambat wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
“Setiap orang yang bekerja melindungi masyarakat dari penyakit mematikan ini harus dapat bekerja secara bermartabat dan aman. Layanan kesehatan harus selalu dilindungi,” kata Tedros.
Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Yakub Janabi, juga mengecam serangan itu. “Kesehatan BUKAN sasaran,” ujarnya. “Mereka yang menanggapi wabah Ebola harus dilindungi. Misinformasi dan ketakutan tidak boleh memicu kekerasan.”
Otoritas setempat belum memberikan komentar mengenai serangan tersebut maupun para pelakunya.
Ketidakpercayaan warga hambat penanganan Ebola di Kongo
Data Kementerian Kesehatan Kongo menunjukkan lebih dari 9.800 kasus, termasuk lebih dari 4.700 kematian, tercatat sejak wabah Ebola dimulai pada Mei. Angka itu menjadikannya wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.
Penanganan wabah oleh pemerintah, ditambah korupsi kronis, menumbuhkan ketidakpercayaan yang luas, bahkan sebagian warga menganggap Ebola sebagai hoaks. Petugas tanggap darurat menyebut skeptisisme masyarakat menyulitkan kerja mereka, termasuk di daerah terpencil dan titik panas baru yang sudah kekurangan pasokan medis serta tenaga kesehatan.
Bulan lalu, seorang politikus Kongo dipukuli hingga tewas di Kivu Utara setelah membela respons pemerintah terhadap Ebola dalam sebuah acara radio. Pada Mei, warga yang marah membakar dua tenda di pusat kesehatan dalam dua serangan terpisah hanya dalam sepekan. Petugas juga menyebut sebagian warga pernah menyandera atau mengancam anggota tim di zona kesehatan.
Wabah ini kini dilaporkan di empat negara di Afrika timur, tengah, dan barat, sebaran geografis terluas dari wabah Ebola mana pun di benua itu. Pada Minggu, Menteri Kesehatan Uganda Chris Baryomunsi mengumumkan seluruh warga yang pulang dengan riwayat perjalanan ke Kongo akan dikarantina selama 21 hari.
Uganda menyatakan bebas Ebola setelah mengumumkan berakhirnya wabah terakhirnya pada Juli. Namun, para ahli tetap waspada setelah dua orang yang baru melintasi negara itu kemudian dinyatakan positif di Kenya dan Nigeria.
Strain penyebab wabah ini, Bundibugyo, belum memiliki vaksin yang disetujui maupun pengobatan khusus. WHO sebelumnya telah mengumumkan dimulainya uji klinis vaksin Ebola di Kongo. Dalam pembaruan 23 Oktober, WHO mendesak pemantauan dan kerja sama lintas batas yang lebih kuat, sembari menyarankan agar tidak ada pembatasan perjalanan atau perdagangan dengan negara terdampak.














