- Sebanyak 1.162 peserta, atau 40 persen, mengidap sedikitnya satu penyakit tidak menular.
- Yang membawa dua penyakit atau lebih berjumlah 708 orang, atau 25 persen.
- Hipertensi paling banyak ditemukan, disusul diabetes dan penyakit paru kronis.
- Perempuan punya peluang multimorbiditas 1,8 kali dibanding laki-laki.
- Para peneliti mengusulkan program kesehatan di tempat kerja dan skrining kesehatan rutin.
Daftar Isi
Satu dari empat tenaga kesehatan Bangladesh mengidap penyakit kronis ganda. Mereka dokter, perawat, dan staf pendukung yang sehari-hari merawat orang sakit. Dari 2.881 orang yang diperiksa, 708 membawa dua penyakit tidak menular atau lebih di tubuhnya sendiri.
Angka itu dilaporkan Md. Azazul Haque, Ahamed Khairul Basher, Afsana Yeamin, Md Tauhidul Islam, Md Shahjahan Siraj, Fahmida Chowdhury, dan Md. Zakiul Hassan. Artikel mereka berjudul Prevalence, patterns, and correlates of non-communicable disease multimorbidity among healthcare workers: a multicenter study from Bangladesh. Naskah itu terbit di BMC Public Health tahun 2026, dalam versi yang belum melewati penyuntingan akhir.
Sebagian besar penulis bekerja di International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh, atau icddr,b, di Dhaka. Pesertanya berasal dari 13 fasilitas kesehatan primer, 2 sekunder, dan 5 tersier di empat divisi administratif. Mereka diperiksa antara Juli 2021 dan Maret 2024.
Dari 2.881 peserta, 1.827 orang atau 63 persen adalah perempuan. Hampir separuhnya berusia 30 sampai 44 tahun. Usia tengah mereka 36 tahun, dengan rata-rata indeks massa tubuh 25,02.
Perawat menjadi kelompok terbesar, yakni 1.274 orang atau 44 persen. Staf pendukung berjumlah 944 orang atau 33 persen. Kelompok ini mencakup petugas laboratorium, asisten kesehatan, penyedia layanan kesehatan komunitas, sopir ambulans, petugas bangsal, aya, dan petugas kebersihan.
Sebanyak 58 persen peserta bekerja di fasilitas tersier. Sebanyak 78 persen berpendidikan sarjana atau lebih tinggi. Hampir dua pertiga punya penghasilan keluarga di atas 50.000 taka per bulan, kira-kira 410 dolar Amerika Serikat.
Empat dari Sepuluh
Sebanyak 1.162 peserta, atau 40 persen, mengidap sedikitnya satu penyakit tidak menular. Itu berarti empat dari sepuluh tenaga kesehatan. Penyakit tidak menular, tulis para peneliti, lazim disebut penyakit kronis: bertahan lama dan biasanya berkembang pelan.
Yang membawa dua penyakit atau lebih berjumlah 708 orang, atau 25 persen. Kondisi ini disebut multimorbiditas. Gambar dalam naskah merincinya: 59,7 persen tanpa penyakit, 15,8 persen dengan satu penyakit, dan 24,6 persen dengan dua atau lebih.
Para peneliti semula menduga lain. Tenaga kesehatan memandang gaya hidup sehat jauh lebih positif daripada warga biasa, sehingga penyakit kronis diperkirakan lebih jarang pada mereka. Namun jadwal kerja tak teratur, jam kerja panjang, dan tekanan merawat pasien kritis menaikkan risiko mereka.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Darah Tinggi Teratas
Hipertensi paling banyak ditemukan, yakni pada 612 orang atau 21,2 persen. Diabetes menyusul dengan 409 orang atau 14,2 persen, lalu penyakit paru kronis dengan 323 orang atau 11,2 persen. Dislipidemia, yaitu ketidakseimbangan lemak darah, dilaporkan 160 orang atau 5,6 persen, dan penyakit jantung 111 orang atau 3,9 persen.
Ada pula 123 orang, atau 4,3 persen, dengan penyakit lain. Kelompok ini berisi penyakit hati, ginjal, darah, dan saraf kronis, kanker, gangguan jiwa, serta penyakit sumsum tulang. Para peneliti menggabungkannya karena masing-masing jarang ditemukan.
Penyakit jantung memang paling jarang, tetapi beban penyertanya paling tinggi. Pengidapnya rata-rata membawa 2,8 penyakit penyerta. Pengidap hipertensi rata-rata membawa 2,2, pengidap diabetes 2,4, dan pengidap penyakit paru kronis 2,1.
Usia 45 ke Atas
Usia menjadi faktor dengan angka terbesar. Tenaga kesehatan berusia 45 tahun ke atas punya peluang (odds) multimorbiditas 35,2 kali dibanding yang berusia di bawah 30 tahun. Perbandingan itu memakai kelompok tanpa penyakit sebagai pembanding.
Angkanya mengecil bila pembandingnya kelompok dengan satu penyakit. Peluang itu menjadi 5,5 kali dan tetap bermakna. Kelompok usia 30 sampai 44 tahun pun sudah menanggung peluang 7,3 kali pada perbandingan pertama.
Semua jenis penyakit paling banyak ditemukan pada kelompok tertua. Hipertensi tercatat pada 47,7 persen peserta berusia 45 tahun ke atas, dan hanya 2,0 persen pada peserta di bawah 30 tahun. Diabetes tercatat pada 30,7 persen kelompok tertua.
Para peneliti meminta angka 35,2 itu dibaca hati-hati. Penyakit kronis menumpuk seiring usia, sehingga kaitan yang kuat memang sudah diduga. Besaran pastinya, tulis mereka, perlu ditafsirkan dengan cermat.
Perempuan dan Perawat
Perempuan punya peluang multimorbiditas 1,8 kali dibanding laki-laki. Angka itu 1,7 kali bila pembandingnya pengidap satu penyakit. Penyakit paru kronis juga lebih banyak pada perempuan, 13,0 persen berbanding 8,3 persen.
Naskah itu menyebut beberapa kemungkinan dari literatur terdahulu: pelaporan diri yang lebih tinggi, pemakaian kontrasepsi, menopause, diabetes saat hamil, dan kerentanan biologis. Semua itu tidak diukur dalam riset ini. Hubungan jenis kelamin dengan penyakit tidak menular, tulis para peneliti, masih rumit dan belum dipahami dengan baik.
Perawat mengisi 384 dari 708 pengidap multimorbiditas, atau 54,2 persen. Dibanding staf pendukung, peluang perawat 1,7 kali pada perbandingan dengan pengidap satu penyakit. Hasil itu berada tepat di ambang batas kemaknaan statistik.
Dokter berbeda polanya. Dislipidemia tercatat pada 8,9 persen dokter, lebih tinggi daripada perawat 4,9 persen dan staf pendukung 4,1 persen. Peluang multimorbiditas dokter tidak berbeda bermakna dari staf pendukung.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Fasilitas Tersier
Tempat kerja ikut berkaitan. Tenaga kesehatan di fasilitas tersier punya peluang multimorbiditas 1,9 kali dibanding rekan mereka di fasilitas primer. Hipertensi, diabetes, dan penyakit paru kronis juga lebih banyak ditemukan di sana.
Di fasilitas tersier, hipertensi tercatat pada 23,2 persen peserta dan diabetes pada 15,8 persen. Para peneliti menduga sebabnya tekanan kerja yang lebih tinggi, kasus pasien yang rumit, kebiasaan kurang gerak, atau jam kerja panjang. Data stres kerja dan kerja sif sendiri tidak tersedia dalam riset ini.
Pendidikan tinggi juga berkaitan. Lulusan sarjana ke atas punya peluang 1,9 kali dibanding yang berpendidikan dasar atau kurang. Para peneliti meminta temuan ini dibaca hati-hati karena bisa terpengaruh jenis pekerjaan, posisi sosial ekonomi, dan akses layanan kesehatan.
Penghasilan menunjukkan pola serupa pada tabel. Hipertensi tercatat pada 25,0 persen peserta berpenghasilan keluarga di atas 50.000 taka, dan 12,9 persen pada yang di bawah 25.000 taka. Dalam model akhir, kaitan penghasilan dengan multimorbiditas tidak bermakna.
Lingkar Perut dan Rokok
Obesitas sentral, atau obesitas perut, berkaitan erat dengan multimorbiditas. Peluangnya 2,8 kali terhadap kelompok tanpa penyakit dan 1,7 kali terhadap pengidap satu penyakit. Hipertensi tercatat pada 36,8 persen peserta dengan obesitas sentral, berbanding 19,7 persen pada yang tidak.
Berat badan berlebih atau obesitas menurut indeks massa tubuh punya peluang 2,0 kali. Kaitan itu hanya muncul terhadap kelompok tanpa penyakit. Terhadap pengidap satu penyakit, kaitannya tidak bermakna.
Para peneliti menawarkan jeda penyakit tidak menular di tempat kerja. Istilah itu merujuk pada selang pendek dan terstruktur pada jam kerja untuk peregangan, berjalan, minum, atau olahraga ringan.
Satu hasil tampak tak terduga: perokok aktif punya peluang multimorbiditas 0,5 kali terhadap kelompok tanpa penyakit. Para peneliti menegaskan hasil itu bukan bukti bahwa rokok melindungi, dan hanya 4,93 persen peserta yang merokok saat ini. Sebagian pengidap penyakit kronis mungkin berhenti merokok setelah didiagnosis, sehingga kaitan itu mereka sebut bukan sebab-akibat.
Merokok tetap berkaitan dengan hipertensi dan dislipidemia. Hipertensi tercatat pada 31,0 persen perokok, berbanding 20,8 persen pada yang tidak merokok. Dislipidemia tercatat pada 12,7 persen perokok, berbanding 5,2 persen.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Batas Temuan
Riset ini punya batas. Fasilitas dipilih secara sengaja di empat divisi saja, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi semua tenaga kesehatan Bangladesh. Dari 3.697 anggota kohort yang diundang, 2.881 ikut serta, atau 77,9 persen.
Data mereka yang tidak ikut tidak tersedia. Bila yang lebih sehat atau lebih muda cenderung tidak ikut, angka penyakit bisa terlalu tinggi. Sebaliknya, staf pendukung dengan tingkat literasi lebih rendah kesulitan menjawab istilah medis, sehingga sebagian penyakit mungkin tidak terlaporkan.
Hanya hipertensi dan diabetes yang diukur langsung, sedangkan penyakit lain dicatat dari pengakuan peserta. Diabetes pun diperiksa dengan metode strip, bukan tes toleransi glukosa oral. Data aktivitas fisik, pola makan, tidur, stres kerja, alkohol, dan kerja sif tidak tersedia.
Riset ini memotret satu waktu saja. Yang ditemukan adalah hubungan, bukan sebab-akibat. Para peneliti menyarankan riset kohort jangka panjang dengan pemeriksaan yang lebih objektif.
Urusan Sistem Layanan
Angka 25 persen itu mereka sandingkan dengan temuan lain. Skrining pada tenaga kesehatan Zimbabwe menemukan multimorbiditas 15 persen, naik menjadi 39 persen pada pekerja berusia 50 tahun ke atas. Tinjauan global dan tinjauan negara berpenghasilan rendah-menengah melaporkan angka gabungan 37,2 persen dan 36,4 persen.
Bagi para peneliti, soal ini melampaui urusan perorangan. “Mengingat peran penting tenaga kesehatan dalam menopang layanan kesehatan, kesehatan mereka bukan hanya urusan pribadi, melainkan juga prioritas sistem,” tulis Md. Azazul Haque dan rekan-rekannya dari icddr,b dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mereka mengusulkan program kesehatan di tempat kerja, skrining kesehatan rutin, dan upaya mendorong gaya hidup lebih sehat. Beban penyakit ini, tulis mereka, bisa menurunkan produktivitas, menambah ketidakhadiran, dan memperberat biaya pengobatan.
Satu dari empat orang yang merawat pasien di fasilitas itu sedang menanggung dua penyakit kronis atau lebih. Para peneliti meminta kesehatan mereka diperlakukan sebagai prioritas sistem layanan.















