- Wakil Sekjen ITU memperingatkan kesenjangan AI bisa memperdalam ketimpangan sosial dan ekonomi antarnegara.
- Afrika dan Amerika Latin hanya menyumbang 3,3 persen kapasitas pusat data global.
- Sekitar 29 persen penduduk usia kerja di negara maju memakai AI generatif, berbanding 16 persen di negara berkembang.
Cekricek.id — Kecerdasan buatan berisiko memperlebar jurang antara negara kaya dan miskin, sehingga kesenjangan AI bisa memperdalam ketimpangan sosial dan ekonomi, kata seorang pejabat senior PBB.
Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU) Tomas Lamanauskas mengatakan negara berkembang menghadapi hambatan besar untuk menikmati manfaat revolusi AI, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Minggu (25/10/2026). Ia berbicara di sela Forum Investasi Dunia UNCTAD di Doha, Qatar.
“AI punya potensi besar untuk menggerakkan kesehatan, pendidikan, layanan publik, industri, pertanian, dan perdagangan. Jadi kesenjangan yang besar bisa berarti kesenjangan peluang, dan bisa memperdalam kesenjangan sosial ekonomi,” kata Lamanauskas. “Itulah bagian yang mengkhawatirkan.”
Menurut dia, Afrika dan Amerika Latin hanya menyumbang 3,3 persen kapasitas pusat data global, dan 2,2 miliar orang di dunia belum memiliki akses internet. Menutup kesenjangan infrastruktur digital diperkirakan membutuhkan investasi 2,8 triliun dolar AS hingga 2030.
Sekitar 29 persen penduduk usia kerja di negara maju menggunakan AI generatif, sementara di negara berkembang hanya 16 persen. Hanya 7 persen bahasa Afrika yang terwakili dalam alat penerjemah AI.
Lamanauskas menyebut perkiraan AI bisa menghilangkan 90 juta pekerjaan, tetapi juga menciptakan 170 juta pekerjaan baru. Ia mengingatkan, meski dampak bersihnya positif, banyak orang akan mengalami gangguan karena sekitar 40 persen keterampilan kerja bisa berubah pada 2030.
“Ketakutan itu nyata,” kata peneliti senior Universitas Oxford di bidang keselamatan dan tata kelola AI Fazl Barez. Menurut dia, pekerjaan kognitif rutin paling rentan, meski skalanya masih belum pasti.
Lamanauskas menilai AI tidak mungkin dihentikan. “AI akan tetap ada, dan AI ada untuk mengubah hidup kita,” katanya, seraya mencatat 104 negara kini memiliki strategi AI, dibandingkan hanya empat negara satu dekade lalu.
Ia menyerukan investasi lebih besar di infrastruktur digital, pendidikan, dan regulasi agar negara berkembang ikut membentuk teknologi itu.















