Thailand 18 Tahun Melatih Tenaga Kesehatan Hadapi Flu Pandemi

A A

Ilustrasi sepasang tangan menekan dada manekin dalam latihan pertolongan darurat [Foto: Raven Domingo/Pexels]

  • Thailand menggelar 114 pelatihan tentang influenza dan ancaman pandemi lain dari Agustus 2007 sampai Desember 2024.
  • Pelatihan itu mencatat 26.422 kehadiran tenaga kesehatan, dan lebih dari sepertiganya adalah perawat.
  • Sebanyak 108 pelatihan berlangsung tatap muka di 42 dari 77 provinsi Thailand.
  • Kelompok pakar penyusun pedoman klinis influenza dipakai untuk menyusun pedoman COVID-19 dengan cepat.
  • Pengetahuan peserta tidak pernah diuji sebelum dan sesudah pelatihan, yang tersedia hanya survei kepuasan sejak 2022.
Daftar Isi
  1. Narumol Mulai dari Flu Burung 2004
  2. Prabda Menghitung 114 Pelatihan di 42 Provinsi
  3. Darunee Mencatat Perawat Paling Banyak Datang
  4. Tawee dan Kurikulum yang Mengikuti Wabah
  5. Olsen, Montgomery, dan Ujian Bernama COVID-19
  6. Batas yang Diakui Narumol dan Rekan-rekannya

Narumol Sawanpanyalert membuka kembali catatan pelatihan yang disimpan Department of Medical Services, Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, sejak Agustus 2007. Di dalamnya tercatat tempat dan tanggal tiap pelatihan, topiknya, serta jumlah dan jenis pesertanya. Dari catatan itu ia menemukan 114 pelatihan tentang influenza dan ancaman pandemi lain yang digelar sampai Desember 2024.

Narumol menuliskannya bersama Prabda Praphasiri, Darunee Ditsungnoen, Peangpim Tantilipikara, Chutikarn Pakketati, Yuthana Samanmit, Tawee Chopitayasunondh, Martha P. Montgomery, dan Sonja J. Olsen. Artikel mereka berjudul Enhancing knowledge on influenza and other pandemic threats for healthcare personnel readiness in Thailand, 2007–2024 dan terbit di BMC Public Health tahun 2026. Prabda, penulis korespondensi, berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Kasetsart University, sedangkan Olsen dari Divisi Influenza U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta.

Angka yang dihimpun Narumol dan rekan-rekannya besar. Pelatihan itu mencatat 26.422 kehadiran tenaga kesehatan, rata-rata 232 orang tiap pelatihan dan 1.468 orang tiap tahun. Pesertanya datang dari rumah sakit pemerintah dan swasta serta kantor kesehatan, dari tingkat nasional sampai distrik.

Narumol Mulai dari Flu Burung 2004

Narumol memulai ceritanya dari tahun 2004, ketika kasus pertama flu burung A(H5N1) pada manusia muncul di Thailand. Empat gelombang penularan sepanjang 2004 sampai 2006 menghasilkan 25 kasus yang dilaporkan, 17 di antaranya meninggal. Pada 2004 pula sebagian besar importir melarang unggas beku segar dari Thailand, dan kerugian industri unggas negeri itu ditaksir sekitar 3 miliar dolar Amerika Serikat.

Menurut Narumol, Thailand menjawab kasus-kasus itu dengan mengesahkan rencana strategis nasional pertamanya untuk kesiapsiagaan pandemi influenza. Salah satu isinya adalah menambah pengetahuan tenaga kesehatan di seluruh negeri tentang influenza. Department of Medical Services ditugasi membangun jaringan dokter yang bertanggung jawab melaporkan penyakit di rumah sakit pemerintah dan swasta.

Olsen dan Montgomery mewakili pihak yang ikut menopang pekerjaan itu. U.S. Centers for Disease Control and Prevention ketika itu mulai bekerja dengan banyak negara, termasuk Thailand, untuk bersiap menghadapi ancaman pandemi influenza. Dengan dukungan lembaga itu, Department of Medical Services menyusun kurikulum untuk melatih dokter, perawat, teknisi medis, dan tenaga kesehatan lain.

Alasannya dirumuskan Narumol dan rekan-rekannya dalam satu kalimat. “Tenaga kesehatan sering kali menjadi yang pertama mengenali ancaman baru, menggunakan penanggulangan medis, dan memberi tahu rekan mereka di bidang kesehatan masyarakat untuk memulai respons,” tulis Narumol Sawanpanyalert dari Department of Medical Services, bersama delapan rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China

Prabda Menghitung 114 Pelatihan di 42 Provinsi

Prabda dan Narumol mencatat bahwa 108 dari 114 pelatihan itu berlangsung tatap muka di 42 dari 77 provinsi Thailand. Wilayah Timur Laut mendapat 28 pelatihan, Tengah 23, Utara 22, dan Selatan 21. Wilayah Timur mendapat sembilan dan Barat lima, sedangkan enam pelatihan lain disiarkan langsung secara daring mulai 2021.

Isi pelatihan, menurut Prabda dan rekan-rekannya, disampaikan selama satu sampai dua hari dalam bahasa Thai. Setiap topik berupa kuliah yang disusul tanya jawab. Kerangkanya selalu sama: situasi wabah di dunia dan kawasan, cara mengenali penyakit pada pasien, diagnosis laboratorium, tata laksana klinis, serta pencegahan dan pengendalian infeksi.

Pengajarnya bukan pelatih berantai. Narumol menyebut semua sesi diajarkan langsung oleh para pakar, dan naskah itu menyampaikan terima kasih kepada mereka satu per satu. Di antaranya Dr. Prasert Thongcharoen dan Dr. Richard Brown dari World Health Organization, Prof. Anucha Apisarnthanarak dari Thammasat University Hospital, serta Dr. Tim Uyeki dari U.S. Centers for Disease Control and Prevention.

Peserta terbanyak dalam satu acara yang dicatat Prabda adalah 700 orang. Mereka hadir pada seminar nasional pertama tentang diagnosis dan tata laksana klinis influenza musiman dan pandemi pada Mei 2010. Seminar itu, tulis para peneliti, adalah jawaban langsung program atas pandemi influenza A(H1N1) 2009.

Darunee Mencatat Perawat Paling Banyak Datang

Darunee Ditsungnoen, yang ikut mengolah data, menemukan bahwa peserta pelatihan berubah dari tahun ke tahun. Pada lima tahun pertama, yang dilatih kurang dari 1.000 orang setahun dan semuanya klinisi. Tahun-tahun berikutnya menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi penyakit pernapasan menular membutuhkan kerja sama yang lebih luas daripada para klinisi saja.

Catatan Darunee dan Peangpim Tantilipikara memperlihatkan hasilnya. Lebih dari sepertiga kehadiran, 37,0 persen, adalah perawat. Petugas kesehatan masyarakat mengisi 18,7 persen dan dokter 11,9 persen, disusul teknolog medis 3,8 persen dan apoteker 3,2 persen. Staf pendukung yang bekerja di fasilitas kesehatan mencapai 25,2 persen, kira-kira satu dari empat kehadiran.

Siapa yang hadir di pelatihan flu ThailandPerawat: Persen kehadiran +37,0%; Staf pendukung: Persen kehadiran +25,2%; Petugas kesehatan masyarakat: Persen kehadiran +18,7%; Dokter: Persen kehadiran +11,9%; Teknolog medis: Persen kehadiran +3,8%; Apoteker: Persen kehadiran +3,2%.Siapa yang hadir di pelatihan flu ThailandPersen dari 26.422 kehadiran, 2007-202410%20%30%40%0Perawat37,0%Staf pendukung25,2%Petugas kesehatan masyarakat18,7%Dokter11,9%Teknolog medis3,8%Apoteker3,2%Angka kehadiran, bukan jumlah orang: satu orang bisa hadir lebih darisekali.
Sumber: Narumol Sawanpanyalert, Prabda Praphasiri, Darunee Ditsungnoen, Peangpim Tantilipikara, Chutikarn Pakketati, Yuthana Samanmit, Tawee Chopitayasunondh, Martha P. Montgomery, Sonja J. Olsen, Enhancing knowledge on influenza and other pandemic threats for healthcare personnel readiness in Thailand, 2007–2024, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Peangpim dan rekan-rekannya juga mencatat naik turunnya jumlah peserta. Pada 2012 jumlah itu naik tajam dan mencapai puncak hampir 3.500 orang pada 2013. Kehadiran merosot pada 2020 sampai 2021, ketika acara tatap muka besar dihentikan dan tenaga kesehatan dikerahkan untuk menangani COVID-19, lalu naik lagi pada 2023.

Chutikarn Pakketati dan Yuthana Samanmit, dua penulis lain dari Department of Medical Services, ikut mengelola data kajian, termasuk penilaian peserta. Sepanjang 2022 sampai 2024 ada 2.299 peserta, dan 1.544 orang atau 67,2 persen mengisi survei. Dari yang menjawab, 1.012 orang adalah perawat, 305 petugas kesehatan masyarakat, 146 klinisi, 73 staf pendukung, dan delapan apoteker.

Menurut Chutikarn dan rekan-rekannya, peserta melaporkan kepuasan yang tinggi terhadap pembicara, bentuk pelatihan, tempat, pengaturan acara, dan manfaat yang diperoleh. Mereka juga punya permintaan. Peserta ingin pelatihan lebih panjang, bahan dibagikan lebih awal, topik pencegahan penyakit yang sesuai keadaan setempat, dan pelatihan yang digelar setiap tahun.

Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen

Tawee dan Kurikulum yang Mengikuti Wabah

Tawee Chopitayasunondh dari Queen Sirikit National Child Health Institute di Bangkok ikut merancang kajian tentang kurikulum yang terus berubah itu. Pada 2007 sampai 2008 isinya berpusat pada virus flu burung A(H5N1) dan dasar-dasar kesiapsiagaan pandemi. Sejak 2011, tulis Tawee dan rekan-rekannya, modulnya meluas ke MERS-CoV dan flu burung A(H7N9) ketika ancaman itu muncul di kawasan.

Narumol mencatat sejumlah tambahan lain. Pada 2013 digelar pelatihan penulisan ilmiah untuk 20 dokter dan tenaga kesehatan, setelah para dokter menyatakan ingin menerbitkan laporan kasus. Pada 2020 dua topik COVID-19 ditambahkan, dan pada 2023 masuk topik kesiapan medis dan kesehatan masyarakat bagi pelancong, ketika Thailand bersiap membuka kembali negerinya.

Pelatihan yang mengikuti datangnya wabahPelatihan yang mengikuti datangnya wabahPelatihan yang mengikuti datangnya wabahThailand, menurut catatan dalam naskah2004Kasus pertama flu burung A(H5N1) pada manusia2007Pelatihan tenaga kesehatan dimulai2010Seminar nasional pertama, 700 peserta2013Puncak kehadiran, hampir 3.500 dalam setahun2015MERS-CoV masuk kurikulum2020Dua topik COVID-19 ditambahkan2021Pelatihan daring mulai ditawarkan
Sumber: Narumol Sawanpanyalert, Prabda Praphasiri, Darunee Ditsungnoen, Peangpim Tantilipikara, Chutikarn Pakketati, Yuthana Samanmit, Tawee Chopitayasunondh, Martha P. Montgomery, Sonja J. Olsen, Enhancing knowledge on influenza and other pandemic threats for healthcare personnel readiness in Thailand, 2007–2024, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kisah obat ikut masuk ke ruang pelatihan, menurut Narumol dan Prabda. Pada awal wabah flu burung 2004, oseltamivir diimpor dari pembuat aslinya dengan harga sekitar 41 dolar atau 1.300 baht untuk satu paket pengobatan. Karena itu pedoman klinis flu burung terutama diarahkan kepada pasien yang sakit kritis. Prabda dan rekan-rekannya menulis bahwa keadaan itu berubah pada 2007. Thailand mulai memproduksi dan menjual oseltamivir generik sendiri dengan harga sekitar 8 dolar atau 250 baht per paket pengobatan. Pedoman klinis ikut diperbarui, dan kabar tentang perubahannya diteruskan kepada tenaga kesehatan lewat pelatihan.

Tawee dan para penulis lain juga mengangkat soal ibu hamil. Saat pandemi 2009, media Thailand memberitakan kematian janin pada ibu hamil yang divaksin influenza, dan survei sesudahnya menunjukkan dokter tidak rutin menyarankan vaksin itu. Department of Medical Services lalu memasukkan pembahasan kasus influenza yang fatal ke dalam pelatihan dan bekerja dengan dokter kandungan.

Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai

Olsen, Montgomery, dan Ujian Bernama COVID-19

Naskah Montgomery, Olsen, dan rekan-rekannya juga memuat soal biaya. Pada tiga tahun pertama, 2007 sampai 2009, Department of Medical Services menanggung seluruh program dengan sekitar 1 juta baht setahun. Sejak 2010 biaya dibagi: departemen itu menanggung sekitar 53 persen dan U.S. Centers for Disease Control and Prevention sekitar 47 persen. Dukungan itu, menurut Narumol, mengubah jumlah pelatihan. Kebijakan Department of Medical Services semula menargetkan sedikitnya lima sesi setahun. Pada 2010 jumlahnya digandakan menjadi sepuluh sesi setahun, yang membantu melatih tenaga kesehatan baru di tengah tingginya pergantian dokter dan perawat muda.

Ketika COVID-19 datang, tulis Olsen dan rekan-rekannya, kelompok pakar yang dulu menyusun pedoman klinis influenza dipakai untuk menyusun pedoman COVID-19 dengan cepat. Perawat pengendali infeksi yang pernah dilatih berada dalam posisi untuk mengenali ancaman pernapasan lebih awal. Para klinisi yang akrab dengan tata laksana influenza cepat menyesuaikan diri.

Narumol dan rekan-rekannya berhati-hati menakar klaim itu. “Meskipun tidak ada data evaluasi formal yang secara langsung menghubungkan pelatihan influenza sebelumnya dengan kinerja respons COVID-19, infrastruktur tenaga terlatih, jaringan pakar yang sudah terbentuk, dan kurikulum yang mudah disesuaikan, yang dikembangkan selama 18 tahun, memberi landasan operasional bagi respons itu,” tulis mereka.

Prabda mencatat pula bahwa kurikulum itu akhirnya dipakai di negara lain, yakni Laos, Kamboja, Mesir, Myanmar, dan Nepal. World Health Organization mengundang para pakar yang menyusunnya untuk menjadi pelatih di negara-negara tersebut.

Batas yang Diakui Narumol dan Rekan-rekannya

Narumol dan rekan-rekannya menuliskan sendiri keterbatasan kajian mereka. Angka 26.422 adalah jumlah kehadiran, bukan jumlah orang, sebab satu orang bisa mengikuti beberapa sesi. Pelatihan juga hanya digelar di 42 dari 77 provinsi, sehingga jangkauan langsungnya ke daerah pedesaan dan terpencil terbatas. Prabda dan para penulis lain menambahkan bahwa pengetahuan peserta tidak pernah diuji sebelum dan sesudah pelatihan. Yang tersedia hanya survei kepuasan sejak 2022, sehingga hasilnya dibaca sebagai ukuran kepuasan dan manfaat yang dirasakan peserta. Catatan tahun-tahun awal, 2007 sampai 2010, juga mungkin kurang lengkap.

Untuk langkah berikutnya, Narumol dan rekan-rekannya menyebut pilihan yang lebih berkelanjutan, seperti memasukkan materi ini ke kurikulum sekolah kedokteran, yang masih dibicarakan. Thailand, tulis mereka, melisensikan sekitar 2.900 dokter baru dan 9.000 sampai 10.000 perawat baru setiap tahun.

Catatan pelatihan yang dibuka Narumol berakhir pada Desember 2024, tetapi simpulannya menunjuk ke depan. “Kursus penyegaran berkala atau tutorial daring dapat membantu memastikan pengetahuan mereka tetap mutakhir,” tulis Narumol dan delapan rekannya tentang tenaga kesehatan, yang mereka sebut garis pertahanan pertama melawan penyakit menular.

Bagikan

Baca Juga

Mahasiswa Kesehatan di Turki Merasa Belum Siap Menghadapi Bencana
Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga
Perempuan Herat Lebih Terhalang Izin Keluarga daripada Jarak
Bruselosis di Shanxi Naik Lagi Sejak 2017 dan Merambat ke Selatan
Dua dari Tiga Remaja dengan HIV di Ho Chi Minh Terpukul Pandemi
Perokok India Berkurang, yang Berhasil Berhenti Tetap Segelintir