Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga

A A

Menara pendingin dan cerobong PLTU Junliangcheng di Tianjin, Tiongkok, mengepulkan asap, dipotret dari udara [Foto: Shubert Ciencia/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Skema perdagangan emisi menurunkan rata-rata total biaya berobat warga di provinsi rintisan sebesar 442 yuan.
  • Rata-rata biaya yang dibayar dari kantong sendiri turun 1.207 yuan.
  • Penurunan yang berarti baru muncul pada periode keempat setelah kebijakan berlaku.
  • Mereka yang merasa sehat mengalami penurunan total biaya berobat yang lebih besar.
  • Survei yang mereka pakai dilakukan dua tahun sekali dan hanya menyediakan keterangan wilayah sampai tingkat provinsi.
Daftar Isi
  1. Janji Iklim di Satu Sisi
  2. Tagihan Berobat di Sisi Lain
  3. Turun 442 Yuan pada Total Biaya
  4. Turun Pula Emisi dan Rawat Inap
  5. Yang Muda dan Sehat Lebih Terasa
  6. Yang Belum Terjawab Masih Tersisa

Pasar izin emisi dan tagihan rumah sakit jarang dibicarakan dalam satu napas. Yang pertama urusan perusahaan dan karbon yang mereka lepaskan, yang kedua urusan orang sakit dan keuangan keluarganya. Sebuah penelitian di Tiongkok menyandingkan keduanya. Hasilnya, di provinsi yang menjalankan perdagangan emisi karbon, biaya berobat warga ikut turun.

Temuan itu ditulis Yun Fei, Qianbing Xiao, dan Dongxiao Yang dalam artikel The impact of carbon emissions trading scheme on residents’ medical expenses: a test based on multi-period difference-in-differences method. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Fei bekerja di The Third Xiangya Hospital, Central South University, sedangkan Xiao dan Yang masing-masing berasal dari Central South University of Forestry and Technology dan Hunan University of Technology and Business di Changsha.

Ketiganya memakai data China Family Panel Studies, survei keluarga yang diulang tiap dua tahun, dari 2010 sampai 2022. Survei itu mencatat biaya berobat responden di 25 provinsi akibat sakit atau cedera. Ada dua angka yang diikuti, yaitu total biaya berobat dan bagian yang dibayar warga dari kantong sendiri.

Janji Iklim di Satu Sisi

Pada 2020, di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-75, Tiongkok berjanji mencapai puncak emisi karbon pada 2030 dan netral karbon pada 2060. Janji itu, tulis para peneliti, menuntut pengaturan lingkungan yang lebih tinggi. Skema perdagangan emisi karbon, yang diluncurkan pada 2011, mereka sebut sebagai perangkat inti pengaturan lingkungan berbasis insentif pasar.

Skema itu mencakup delapan provinsi dan kota: Shenzhen, Shanghai, Beijing, Guangdong, Tianjin, Hubei, Chongqing, dan Fujian. Enam rintisan dimulai pada akhir 2013 atau pada 2014, sehingga 2014 dipakai sebagai tahun berlakunya. Fujian menyusul pada 2016. Shenzhen, satu-satunya kota setingkat prefektur di antara rintisan itu, tidak dimasukkan ke kelompok yang dibandingkan karena secara administratif bagian dari Guangdong.

Jejak perdagangan emisi karbon TiongkokJejak perdagangan emisi karbon TiongkokJejak perdagangan emisi karbon TiongkokTahun-tahun yang disebut para peneliti2010Survei keluarga CFPS dimulai, lalu diulang tiap duatahun2011Skema perdagangan emisi karbon diluncurkan2014Tahun berlaku yang dipakai untuk enam wilayahrintisan2016Rintisan di Fujian dimulai2020Tiongkok berjanji netral karbon pada 20602022Gelombang survei terakhir yang dianalisis
Sumber: Yun Fei, Qianbing Xiao, dan Dongxiao Yang, The impact of carbon emissions trading scheme on residents’ medical expenses: a test based on multi-period difference-in-differences method, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Selama ini, menurut para peneliti, kajian tentang skema tersebut lebih banyak menyoroti dampaknya pada lingkungan dan ekonomi. Skema itu disebut sudah terbukti membantu menurunkan emisi karbon, mendorong inovasi teknologi hijau, dan memperbaiki struktur industri. Dampaknya pada kesejahteraan sosial, terutama pada kesehatan dan biaya berobat warga, jarang ditelusuri.

Tagihan Berobat di Sisi Lain

Di sisi lain, biaya berobat di Tiongkok terus membesar. Para peneliti mencatat kenaikan yang berarti pada total biaya berobat, biaya dari kantong sendiri, dan pengeluaran dana asuransi kesehatan dalam beberapa tahun terakhir. Asuransi kesehatan dasar memang sudah menjangkau hampir seluruh penduduk. Namun, perorangan dan rumah tangga masih menanggung sebagian biayanya.

Tekanan itu diperkirakan bertambah seiring penduduk yang cepat menua. Pencemaran lingkungan ikut memperberatnya karena berkaitan erat dengan penyakit pernapasan serta penyakit jantung dan pembuluh darah otak. Pencemaran yang parah, tulis mereka, bukan hanya menambah angka kesakitan, melainkan juga menaikkan angka rawat inap.

Naskah itu mengutip satu hitungan dari penelitian terdahulu oleh Barwick dan rekan-rekannya. Menurunkan kadar PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik akan memangkas biaya berobat tahunan di Tiongkok lebih dari 9,2 miliar dolar Amerika Serikat. Jumlah itu kira-kira 1,5 persen dari biaya kesehatan tahunan negara tersebut.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Turun 442 Yuan pada Total Biaya

Dari sanalah dua hal itu dipertemukan. Skema perdagangan emisi menurunkan rata-rata total biaya berobat warga di provinsi rintisan sebesar 442 yuan. Rata-rata biaya yang dibayar dari kantong sendiri turun 1.207 yuan. Kedua angka itu, menurut naskah, berasal dari kelompok data yang berbeda untuk tiap jenis biaya.

“Hasil ini menunjukkan bahwa skema perdagangan emisi karbon telah meringankan beban berobat warga secara signifikan,” tulis Yun Fei dari The Third Xiangya Hospital, Central South University, bersama Qianbing Xiao dan Dongxiao Yang dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Penurunan itu tetap muncul setelah mereka mengujinya dengan sejumlah cara lain.

Dua jenis biaya berobat, dua polaDua jenis biaya berobat, dua polaDua jenis biaya berobat, dua polaDampak perdagangan emisi karbon di provinsi rintisanTotal biayaKantong sendiri442 yuan1.207 yuanTurun rata-rataperiode keempattahun berlakuMulai terlihatyayaMelemah saat usianaikyatidakBeda menurutstatus nikahyatidakBeda menurut sakitkronisyayaBeda menurut rasasehat
Sumber: Yun Fei, Qianbing Xiao, dan Dongxiao Yang, The impact of carbon emissions trading scheme on residents’ medical expenses: a test based on multi-period difference-in-differences method, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua jenis biaya itu tidak bergerak pada waktu yang sama. Pada total biaya berobat, dampaknya tidak langsung tampak dalam jangka pendek. Penurunan yang berarti baru muncul pada periode keempat setelah kebijakan berlaku. Pada biaya dari kantong sendiri, penurunan yang berarti terjadi seketika pada tahun kebijakan diterapkan.

Para peneliti juga melihat pos ketiga, yakni pengeluaran dana asuransi kesehatan, selisih antara total biaya dan bagian yang dibayar warga. Pengeluaran dana itu ikut turun di provinsi rintisan. Mereka menyebut hasil ini hanya bukti tambahan yang bersifat penjajakan, sebab data dana asuransi untuk 2012 tidak tersedia.

Turun Pula Emisi dan Rawat Inap

Lalu lewat jalan apa pasar emisi sampai ke tagihan berobat? Para peneliti menelusurinya pada emisi karbon dioksida tiap provinsi. Hasilnya, skema itu menurunkan emisi karbon di provinsi rintisan secara berarti. Penurunan biaya berobat, menurut mereka, terutama digerakkan oleh emisi yang lebih rendah dan lingkungan yang membaik.

Lingkungan yang lebih baik, tulis mereka, di satu sisi menambah kebahagiaan dan kepuasan hidup warga. Di sisi lain, ia membantu mengurangi kejadian penyakit pernapasan dan gangguan kesehatan lain yang terkait. Dengan begitu, warga lebih jarang masuk rumah sakit. Rawat inap menjadi mata rantai yang penting. Ketika seseorang mencari pengobatan, keputusan untuk dirawat inap adalah faktor yang sangat menentukan besarnya biaya. Karena itu, frekuensi rawat inap yang menurun membawa turun total biaya berobat sekaligus biaya dari kantong sendiri.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Yang Muda dan Sehat Lebih Terasa

Penurunan itu tidak sama besar bagi semua orang. Semakin tua usia seseorang, semakin lemah dampak kebijakan itu pada biaya berobatnya, baik pada total biaya maupun pada biaya dari kantong sendiri. Para peneliti mengaitkannya dengan fungsi tubuh yang menurun pada usia lanjut, sehingga kebutuhan akan layanan kesehatan lebih sering.

“Akibatnya, kebijakan ini relatif terbatas pengaruhnya dalam mengurangi beban biaya berobat bagi warga lanjut usia dibandingkan dengan penduduk yang lebih muda,” tulis Fei, Xiao, dan Yang. Warga yang lebih tua, menurut mereka, lebih mungkin mengidap penyakit kronis dan kurang tanggap terhadap perbaikan lingkungan semacam itu.

Pola serupa terlihat pada penilaian warga atas kesehatannya sendiri. Mereka yang merasa sehat mengalami penurunan total biaya berobat yang lebih besar. Mereka yang menilai kesehatannya buruk juga mengalami penurunan, tetapi lebih kecil. Pola yang sama muncul pada biaya dari kantong sendiri. Status pernikahan dan penyakit kronis memberi gambaran yang terbelah. Pada total biaya, kebijakan itu lebih ampuh bagi warga yang tidak menikah dan bagi warga tanpa penyakit kronis. Pada biaya dari kantong sendiri, kedua hal itu tidak membuat perbedaan yang berarti.

Untuk penyakit kronis, para peneliti menunjuk pembaruan kebijakan asuransi kesehatan sebagai penjelasannya. Tingkat penggantian biaya dinaikkan, syarat biaya yang ditanggung sendiri lebih dulu dihapus, dan cakupan penyakit diperluas. Prosedur klaim juga disederhanakan dan ketersediaan obat ditingkatkan. Langkah-langkah itu mempersempit selisih beban biaya antara pasien penyakit kronis dan penduduk umumnya.

Yang Belum Terjawab Masih Tersisa

Para peneliti mencatat keterbatasan kajiannya. Survei yang mereka pakai dilakukan dua tahun sekali dan hanya menyediakan keterangan wilayah sampai tingkat provinsi. Karena itu, pengaruh kebijakan di tingkat prefektur sulit disingkirkan sepenuhnya ketika dampak perdagangan emisi dihitung. Data biaya berobat dalam survei itu pun memiliki banyak isian perorangan yang kosong. Hal tersebut membatasi ketepatan taksiran dampak kebijakan pada pengeluaran dana asuransi kesehatan. Penelitian berikutnya, saran mereka, perlu memperoleh data dana asuransi yang lebih rinci di tingkat perorangan.

Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan

Dari temuan itu mereka mengajukan beberapa usulan. Salah satunya kerangka pemantauan terpadu yang menghubungkan penurunan emisi karbon industri dengan hasil kesehatan masyarakat. Perusahaan pengemisi utama di pasar karbon nasional diusulkan wajib mengungkapkan indikator kesehatan, misalnya kunjungan rawat jalan penyakit pernapasan di permukiman sekitarnya.

Usulan lain menyasar rumah sakit. Jalur klinis rendah karbon dapat diuji coba di bagian yang boros energi, dengan memadukan proses diagnosis dan pengobatan, mendorong konsultasi jarak jauh, dan mengurangi pemeriksaan yang tidak perlu. Mereka juga menyarankan komunikasi kepada masyarakat tentang kesehatan lingkungan diperkuat.

Pasar emisi dan tagihan berobat, dalam naskah ini, akhirnya berada pada satu garis. Di satu sisi, total biaya, biaya dari kantong sendiri, dan pengeluaran dana asuransi sama-sama turun di provinsi rintisan. Di sisi lain, penurunan itu lebih kecil bagi warga yang lebih tua dan yang merasa tidak sehat, dan penulisnya sendiri menyebut data mereka belum cukup rinci.

Bagikan

Baca Juga

Perempuan Herat Lebih Terhalang Izin Keluarga daripada Jarak
IMF: PDB per Kapita Bangladesh Diproyeksi Lampaui India pada 2026
Batin Sembilan Berladang dan Jaga Hutan, Orang Rimba Berburu
Bruselosis di Shanxi Naik Lagi Sejak 2017 dan Merambat ke Selatan
Dua dari Tiga Remaja dengan HIV di Ho Chi Minh Terpukul Pandemi
Perokok India Berkurang, yang Berhasil Berhenti Tetap Segelintir