- Jumlah seluruhnya sampai 2024 mencapai 51.789 kasus bruselosis pada manusia di Provinsi Shanxi.
- Angka kejadian bergerak dari 23,53 menjadi 8,34 kasus per 100.000 penduduk pada 2014 sampai 2017.
- Sesudah titik balik, angka kejadian naik menjadi 13,14 kasus per 100.000 penduduk pada 2024.
- Petani dan peternak mencakup 88,29 persen dari seluruh kasus, dan puncaknya berulang setiap Mei.
- Pusat sebaran bergeser ke barat daya, dari Shanxi utara menuju kawasan tengah dan barat daya.
Daftar Isi
Tahun 2017 menjadi titik balik. Sebelum tahun itu, angka bruselosis pada manusia di Provinsi Shanxi, Tiongkok, terus menurun. Sesudahnya, angka itu naik dari tahun ke tahun. Catatan sebelas tahun, dari 2014 sampai 2024, memperlihatkan belokan tersebut, dan memperlihatkan pula ke arah mana penyakit ini bergerak di dalam provinsi.
Catatan itu disusun Yongfei Bai, Pei Lei, Zhaoyu Fan, Yuzan Bai, Kaiguang Zhang, Fengping Wang, Xue Dong, Ruiqi Gao, Wenqing Wang, Xi Zhang, dan Huaxiang Rao dalam artikel Epidemiological characteristics and spatiotemporal trend analysis of human brucellosis in Shanxi Province, China, 2014–2024. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Shanxi, Changzhi Medical College, dan beberapa lembaga lain di Tiongkok.
Bruselosis, tulis mereka, adalah penyakit menular dari hewan ke manusia yang disebabkan bakteri Brucella. Penyakit ini juga dikenal sebagai demam undulan. Penularannya terjadi lewat luka di kulit, lewat udara yang terhirup, atau lewat susu mentah dan produk susu lain yang dikonsumsi. Sekali terjangkit, tulis para peneliti, penyakit ini sulit disembuhkan.
Shanxi mendapat perhatian karena letaknya. Provinsi ini berbatasan dengan Daerah Otonom Mongolia Dalam, wilayah yang paling berat terdampak bruselosis di Tiongkok. Para penulis mengutip catatan bahwa Mongolia Dalam melaporkan 249.407 kasus sepanjang 2004 sampai 2023. Keadaan itu, menurut mereka, sampai batas tertentu menaikkan risiko penularan pada manusia di Shanxi.
2014: Catatan Dibuka dengan Angka Tertinggi
Catatan dimulai pada 2014, dan menurut para peneliti angka kejadian yang dilaporkan paling tinggi tercatat pada tahun itu. Kasus dilaporkan setiap bulan sepanjang sebelas tahun pengamatan. Jumlah seluruhnya sampai 2024 mencapai 51.789 kasus, mencakup kasus yang dipastikan laboratorium maupun yang didiagnosis secara klinis.
Pada tahun-tahun awal itu, pusat penyakit berada di utara. Kelompok kasus yang paling mungkin untuk kurun 2014 sampai 2017 ditemukan di Shanxi utara, meliputi sebagian Kota Datong, Shuozhou, dan Xinzhou. Kelompok itu terbentuk pada 2014–2015. Risiko di dalamnya 4,32 kali risiko di wilayah lain.
Selain kelompok utama, ada lima kelompok sekunder pada kurun yang sama. Kelimanya terkumpul di sebelah selatan Shanxi tengah. Wilayah yang tercakup antara lain Jinzhong, Changzhi, Linfen, Lvliang, dan Yuncheng. Semua kelompok itu, seperti kelompok utama, bermakna secara statistik.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
2014–2017: Tiga Tahun Angka Menurun
Dari 2014 sampai 2017, angka kejadian turun. Para peneliti mencatat penurunan rata-rata 31,16 persen per tahun pada babak ini. Angka kejadian bergerak dari 23,53 menjadi 8,34 kasus per 100.000 penduduk. Penurunan itu bermakna secara statistik.
Sebaran menurut wilayah tidak merata. Daerah berangka tinggi terutama terkumpul di Shanxi utara, termasuk sejumlah kabupaten di Datong, Xinzhou, dan Shuozhou. Angka yang lebih rendah tercatat di Taiyuan dan Yangquan di Shanxi tengah. Angka rendah juga tercatat di Jincheng di ujung tenggara dan Yuncheng di ujung barat daya.
Ketimpangan itu teruji secara statistik. Angka kejadian di satu kabupaten cenderung mirip dengan angka di kabupaten tetangganya, dan pola ini bermakna pada setiap tahun pengamatan. Nilai ukuran pengelompokan yang dipakai para peneliti berkisar 0,307 sampai 0,498. Artinya, kasus bruselosis di Shanxi mengelompok, tidak tersebar acak.
Titik panas yang paling bertahan ada di utara. Kabupaten Zuoyun di Datong serta Distrik Shuocheng, Pinglu, dan Youyu di Shuozhou muncul sebagai kelompok berangka tinggi lebih dari enam kali. Di wilayah itu angka kejadian terus-menerus tinggi. Titik dingin terutama terkumpul di kawasan Taiyuan, lalu di Changzhi dan Jincheng di tenggara.
2017: Titik Balik
Pada 2017 arah berubah. Angka kejadian 8,34 per 100.000 penduduk pada tahun itu menjadi dasar babak baru. Para peneliti menyebut 2017 sebagai titik balik yang kritis. Sebelum tahun itu angka kejadian secara keseluruhan menurun. Sejak tahun itu angka naik setiap tahun.
Kenaikan itu, tulis para peneliti, tampak bertentangan dengan kebijakan pencegahan dan pengendalian yang diperkuat pada kurun yang sama. Mereka menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan. Yang pertama menyangkut pencatatan. Pemantauan menyeluruh yang ditekankan dalam kampanye intensif membuat penemuan kasus jauh lebih peka.
Kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi lalu ikut terlaporkan. Hasilnya, menurut para penulis, adalah kenaikan yang mereka beri tanda petik sebagai kenaikan “semu” dalam data statistik. Gejala serupa, tulis mereka, pernah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya di wilayah lain.
Penjelasan kedua menyangkut ternak. Shanxi utara adalah daerah sumber wabah yang sudah lama, dan menyimpan cadangan infeksi yang besar pada ternaknya. Turunnya angka pada manusia biasanya tertinggal di belakang penerapan pengendalian pada hewan. Kawasan itu, menurut para penulis, mungkin sedang berada pada tahap kritis dalam menangani cadangan infeksi yang ada.
Penjelasan ketiga menyangkut perluasan. Industri yang bertumpu pada ternak tumbuh di zona peralihan pertanian dan penggembalaan, sehingga jumlah penduduk berisiko tinggi bertambah. Ada pula tekanan dari kasus yang masuk dari provinsi tetangga berangka tinggi. Semua itu, tulis para peneliti, bersama-sama menyumbang kebangkitan bertahap angka kejadian.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
2018–2024: Naik Lagi dan Bergeser ke Barat Daya
Sesudah titik balik, angka kejadian naik dari 8,34 menjadi 13,14 kasus per 100.000 penduduk pada 2024. Bila sebelas tahun dihitung sebagai satu rentang, para peneliti mencatat kecenderungan menurun, rata-rata 5,00 persen per tahun. Angka kejadian rata-rata tahunan yang dibakukan menurut umur adalah 10,4 per 100.000 penduduk.
Yang berubah pada babak ini adalah luas sebarannya. Para peneliti menggambar elips di atas peta untuk menandai jangkauan penyakit. Luas elips itu 74.336,99 kilometer persegi pada 2014. Pada 2017 luasnya menjadi 82.601,68 kilometer persegi, perubahan terbesar selama pengamatan. Setelah itu luasnya berangsur menyusut.
Pada 2024 luas elips tercatat 79.270,00 kilometer persegi, tetap melebihi luas pada 2014. Elips untuk kawasan titik panas pada 2022, 2023, dan 2024 juga jauh lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Bagi para peneliti, hal ini menandakan cakupan kawasan titik panas yang cenderung meluas.
Arah geraknya pun terbaca. Pusat sebaran bergeser ke barat daya, dari Shanxi utara menuju kawasan tengah dan barat daya. Para penulis menggambarkannya sebagai penyebaran dari utara ke selatan dan dari timur ke barat. Dalam pembagian timur dan barat, wilayah barat bahkan melampaui wilayah timur.
Kelompok kasus ikut berubah. Untuk kurun 2018 sampai 2024, kelompok yang paling mungkin terbentuk pada 2019–2021, dan arealnya meluas ke arah tengah dibandingkan dengan 2014. Antara 2021 dan 2023 ditemukan enam kelompok tambahan. Kota Lvliang dan Linfen, yang sebelumnya bukan daerah endemis, kini memperlihatkan kelompok kasus.
Perbandingan dua kurun itu memperlihatkan kelompok penyakit yang bertahan lebih lama dan menjangkau wilayah lebih luas. Penyebaran ke barat daya sejak 2018 ini, tulis para peneliti, berbeda dari pola yang lebih diam di sejumlah provinsi pedalaman lain. Mereka menduga Shanxi sedang berada pada tahap peralihan dalam perluasan wabah.
Gambaran nasional yang mereka kutip searah dengan itu. Antara 2019 dan 2023, jumlah kasus di Tiongkok naik dari 45.046 menjadi 70.439. Shanxi berada di peringkat ketiga tertinggi secara nasional, dengan 21.932 kasus. Di seluruh dunia, perkiraan kasus bruselosis melampaui 1,6 juta setiap tahun.
Setiap Mei: Puncak yang Berulang
Di dalam setiap tahun, ada irama yang sama. Angka kejadian mulai naik pada musim semi dan memuncak pada Mei. Pada bulan itu indeks musiman mencapai nilai tertingginya, yakni 1,56. Angka tetap tinggi sepanjang musim panas. Memasuki musim gugur dan musim dingin, jumlah kasus berangsur turun ke titik terendah dalam setahun.
Para peneliti mengaitkan irama itu dengan pekerjaan. Musim semi dan musim panas bertepatan dengan puncak musim beranak sapi dan domba, ketika pekerja ternak harus membantu kelahiran. Pada masa itu risiko terpapar hewan terinfeksi dan cairan tubuhnya naik tajam. Suhu yang meningkat juga memperpanjang daya tahan kuman.
Siapa yang sakit pun terbaca jelas. Laki-laki menyumbang 77,18 persen kasus, yaitu 39.971 orang. Perempuan 22,82 persen, atau 11.818 orang. Perbandingannya 3,38 banding 1. Usia rata-rata seluruh penderita 50,9 tahun, dengan nilai tengah 52 tahun.
Pekerjaan menjadi penanda yang paling tegas. Petani dan peternak mencakup 88,29 persen dari seluruh kasus. Orang berusia 40 sampai 69 tahun menyumbang 73,5 persen. Menurut para peneliti, rentang itu bertepatan dengan usia puncak keterlibatan dalam pekerjaan pertanian dan peternakan.
Laki-laki di pedesaan Shanxi, tulis mereka, kebanyakan mengerjakan kegiatan berisiko tinggi. Kegiatan itu mencakup beternak, menggembala domba, menyembelih, dan mengolah hasil ternak. Pola umur dan jenis kelamin ini bertahan stabil selama sebelas tahun. Bagi para penulis, hal itu menguatkan dugaan bahwa penularan lewat pekerjaan tetap menjadi jalur utama bruselosis di Shanxi.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
2024: Catatan Terakhir dan Batasnya
Dari seluruh catatan itu para peneliti menarik satu penilaian. “Ringkasnya, angka kejadian bruselosis pada manusia di Provinsi Shanxi tetap tinggi,” tulis Bai, Lei, dan rekan-rekan dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Keadaan pencegahan dan pengendaliannya, menurut mereka, masih menantang dan memerlukan perhatian berkelanjutan.
Saran mereka mengikuti temuan tadi. Musim semi dan musim panas perlu diutamakan sebagai jendela pencegahan. Pada dua musim itu pekerja dianjurkan memakai pakaian pelindung dari karet. Menangani embrio atau bahan infeksius lain dengan tangan telanjang harus dilarang keras. Penyuluhan kesehatan dan penyediaan alat pelindung diri di tempat kerja berisiko tinggi juga disebut perlu.
Pengendalian pada hewan tetap disebut sangat penting. Para penulis menganjurkan cakupan vaksinasi pada domba ditingkatkan. Mereka juga menganjurkan isolasi di tempat dan pemusnahan bagi hewan yang positif dijalankan dengan ketat. Karena penyakit merambat ke barat daya, kerja sama antarwilayah perlu diperkuat, termasuk pertukaran informasi antardaerah administratif.
Catatan ini punya batas, dan para peneliti menuliskannya sendiri. Analisis hanya mencakup 2014 sampai 2024, sehingga kurun sebelumnya, misalnya 2004 sampai 2013, tidak ikut terbaca. Perubahan batas wilayah administratif pada 2017–2018 memaksa analisis dibelah menjadi dua kurun. Hal itu dapat sedikit memengaruhi keterbandingan satuan wilayah.
Ada pula yang belum dihitung. Faktor ekologi seperti iklim dan penggunaan lahan, juga pendorong sosial ekonomi, tidak dimasukkan secara kuantitatif ke dalam model. Penelitian berikutnya, tulis mereka, perlu memadukan deret waktu yang lebih panjang dan data dari banyak sumber. Tujuannya menguji sekaligus memperluas temuan ini.
Simpulan naskah itu memuat seruan bagi pusat pengendalian penyakit. “Karena itu, pusat pengendalian penyakit di semua wilayah administratif harus memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian selama musim semi dan musim panas untuk mencegah penyebaran bruselosis di Shanxi tengah,” tulis para peneliti.
Catatan berhenti pada 2024. Pada tahun itu angka kejadian bruselosis di Shanxi 13,14 per 100.000 penduduk, kawasan berisiko tinggi masih berada di utara, dan sebarannya cenderung bergeser ke barat daya.















