- Hampir satu dari tujuh mahasiswa kedokteran Bangladesh memakai tembakau atau zat lain.
- Sebagian besar pemakai mengenal tembakau atau zat dari teman.
- Di tahun pertama hanya 4,9 persen mahasiswa yang memakai, sedangkan di masa magang 26 persen.
- Sebanyak 35,7 persen pemakai tidak pernah didekati siapa pun untuk berhenti.
Daftar Isi
Hampir satu dari tujuh mahasiswa kedokteran Bangladesh memakai tembakau atau zat lain. Dari 1.129 mahasiswa yang disurvei, 154 orang tergolong pemakai, atau 13,64 persen. Mereka kuliah di enam belas kolese kedokteran yang tersebar di delapan divisi negeri itu.
Temuan itu ditulis Mohammad Azmain Iktidar bersama Simanta Roy, M. Tasdik Hasan, Azaz Bin Sharif, dan sejumlah rekan. Artikel mereka berjudul Investigating the prevalence of tobacco or other substance use (TOSU) and associated factors among the medical students: a nationwide cross-sectional survey from Bangladesh. Naskah itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Iktidar bernaung di Department of Public Health, North South University, Dhaka. Surveinya berlangsung dari Mei 2023 sampai Agustus 2024. Usia rata-rata peserta 22,3 tahun, 52,3 persen di antaranya perempuan, dan 71,7 persen kuliah di kolese kedokteran pemerintah.
Yang dihitung sebagai zat adalah alkohol, ganja, obat penenang tanpa resep, sirop obat batuk tanpa resep, opioid, amfetamin, dan kokain. Seorang mahasiswa disebut pemakai bila memakai sedikitnya dua kali dalam sebulan terakhir. Ia juga harus mengaku masih memakainya saat ini.
Para penulis mencatat Bangladesh punya hampir 50.000 mahasiswa kedokteran. Bukti tentang pemakaian tembakau dan zat di kalangan mereka masih sangat terbatas. Padahal, tulis mereka, pemakaian zat pada dokter bermula sejak muda dan dapat berdampak besar pada kemampuan bekerja kelak.
Tembakau paling banyak dipakai
Produk tembakau menempati urutan pertama. Di antara 154 pemakai, 54,5 persen memakainya. Obat penenang yang dipakai tanpa resep dokter menyusul dengan 26 persen, lalu sirop obat batuk tanpa resep dengan 18,8 persen.
Susunan itu berbeda dari negara tetangga. Iktidar mencatat mahasiswa kedokteran India paling banyak memakai alkohol dan ganja setelah tembakau. Di Nepal, alkohol justru yang terbanyak, dengan 59,6 persen, seperti di banyak negara maju.
Angka 13,64 persen itu lebih rendah daripada mahasiswa nonkedokteran di Bangladesh. Dua studi yang dikutip Iktidar, garapan Roby serta Sujan, mencatat 33,5 persen dan 54,9 persen. Menurut para penulis, selisih ini mungkin berkaitan dengan kesadaran mahasiswa kedokteran akan dampak kesehatannya.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Teman yang mengenalkan
Sebagian besar pemakai mengenal tembakau atau zat dari teman. Teman dari luar kedokteran disebut 44,8 persen pemakai, teman sesama mahasiswa kedokteran 31,8 persen. Anggota keluarga disebut 11,7 persen, sedangkan senior di kedokteran 8,4 persen.
Alasan mulai dan alasan bertahan tidak sama. Sebanyak 70,8 persen pemakai pertama kali mencoba karena penasaran. Mereka terus memakai terutama karena kesenangan, alasan yang disebut 36,4 persen pemakai. Temuan ini, tulis Iktidar, mirip dengan hasil studi Seid dan rekan.
Uang yang dikeluarkan umumnya kecil. Sebanyak 42,9 persen pemakai menghabiskan kurang dari 500 taka sebulan, dengan kurs yang dicatat naskah 120 taka per dolar AS. Namun 21,4 persen menghabiskan lebih dari 2.000 taka.
Sumber uangnya terutama keluarga, yang disebut 48,1 persen pemakai. Sebanyak 39,6 persen menyebut pos yang ditulis naskah sebagai tuitions, dan 23,4 persen menyebut teman. Lima orang menyebut menjual obat, tiga orang menyebut pekerjaan kriminal.
Sirop batuk termudah didapat
Seluruh peserta juga ditanya seberapa mudah tiap zat diperoleh. Sirop obat batuk dinilai mudah didapat oleh 64,2 persen mahasiswa. Tembakau menyusul dengan 56,3 persen, lalu obat penenang dengan 44,5 persen.
Iktidar memberi penjelasan untuk dua yang teratas. Sirop obat batuk dijual bebas dan bisa diperoleh di toko obat mana pun, bahkan tanpa resep. Tembakau, menurut para penulis, tersedia di hampir semua toko dan kedai di negeri itu.
Zat lain dinilai jauh lebih sulit dijangkau. Amfetamin disebut sulit didapat oleh 73,3 persen mahasiswa, opioid oleh 71 persen, dan ganja oleh 65,6 persen. Meski begitu, para penulis mengingatkan bahwa mahasiswa kedokteran punya akses yang mudah ke zat seperti opioid dan obat penenang.
Makin senior, makin banyak
Pemakaian naik seiring tahun kuliah. Di tahun pertama, hanya 4,9 persen mahasiswa yang memakai. Di tahun kelima angkanya 21,8 persen, dan di masa magang sebagai dokter muda 26 persen, yang tertinggi di antara semua jenjang.
Kenaikannya tidak lurus. Tahun kedua mencatat 17,6 persen, lalu turun ke 9,3 persen di tahun ketiga dan 10,4 persen di tahun keempat. Lonjakan baru datang lagi di dua jenjang terakhir, yakni tahun kelima dan masa magang.
Usia bergerak searah. Pemakai rata-rata berusia 23,6 tahun, bukan pemakai 22,1 tahun. Setelah faktor lain diperhitungkan, tiap tambahan satu tahun usia berkaitan dengan peluang memakai yang 41 persen lebih tinggi.
Iktidar merujuk dua studi lain, garapan Arora dan Kushwaha, yang menemukan pola serupa. Kedua studi itu menduga kenaikan terutama datang dari tekanan akademik dan beban kerja yang bertambah.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Laki-laki jauh lebih banyak
Jarak antara laki-laki dan perempuan lebar. Sebanyak 23,4 persen mahasiswa laki-laki memakai tembakau atau zat lain, sedangkan perempuan 4,7 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang laki-laki 6,88 kali peluang perempuan.
Para penulis menduga selisih itu mencerminkan faktor sosial budaya di kawasan tersebut. Mereka menyebut struktur patriarkal yang membatasi ruang gerak perempuan dan aksesnya ke tembakau atau zat. Stigma juga membuat perempuan enggan mengaku, sehingga angka yang terlapor lebih rendah.
Pada perempuan, beberapa faktor justru berkaitan lebih kuat. Riwayat pemakaian di keluarga berkaitan dengan rasio odds 5,289 pada perempuan dan 3,823 pada laki-laki. Masuk kedokteran bukan atas kemauan sendiri berkaitan dengan rasio 5,445 pada perempuan dan 2,891 pada laki-laki.
Orang tua yang bercerai, berpisah, atau meninggal juga muncul sebagai faktor pada mahasiswa perempuan, dengan rasio odds 4,335. Pada laki-laki, kaitan itu tidak bermakna secara statistik. Iktidar membacanya sebagai tanda kemungkinan perbedaan pengaruh keluarga antara kedua kelompok.
Rumah, keluarga, pilihan kuliah
Tempat tinggal ikut membedakan. Mahasiswa yang indekos tanpa keluarga mencatat angka tertinggi, 26,3 persen. Penghuni asrama kolese 13,8 persen, sedangkan yang tinggal bersama keluarga 9,2 persen.
Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang kedua kelompok pertama kira-kira dua kali kelompok yang tinggal bersama keluarga. Sebanyak 70,7 persen peserta survei tinggal di asrama. Karena itu Iktidar menulis asrama mungkin memerlukan intervensi khusus, hiburan alternatif, dan pemantauan langsung.
Riwayat keluarga juga berkaitan kuat. Di antara mahasiswa yang kerabat tingkat pertamanya memakai tembakau atau zat, 28,9 persen ikut memakai. Pada mahasiswa tanpa riwayat itu angkanya 8 persen, dan peluangnya terpaut 3,97 kali.
Keadaan orang tua juga tercatat. Mahasiswa yang orang tuanya bercerai, berpisah, atau meninggal memakai sebanyak 25,3 persen. Pada mahasiswa yang orang tuanya masih bersama, angkanya 12,8 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang kelompok pertama 2,81 kali kelompok kedua.
Sebanyak 169 mahasiswa, atau 15 persen, mengaku masuk kedokteran bukan atas kemauan sendiri. Di kelompok ini 27,8 persen memakai tembakau atau zat lain, sedangkan di kelompok yang masuk dengan sukarela 11,1 persen. Peluangnya terpaut 3,61 kali.
Para penulis menduga hal itu berkaitan dengan depresi, frustrasi, dan kurangnya minat pada ilmu kedokteran. Tekanan akademik yang berat mungkin ikut berperan. Namun mereka mengakui depresi dan kecemasan tidak diukur langsung dalam survei ini.
Jenis kolese dan asal daerah turut tercatat. Di kolese nonpemerintah 18,1 persen mahasiswa memakai, di kolese pemerintah 11,9 persen. Mahasiswa dari perdesaan mencatat 7,8 persen, lebih rendah daripada perkotaan yang 14,1 persen dan daerah semi-perkotaan yang 18,5 persen.
Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Yang menolak, yang menegur
Sebanyak 975 mahasiswa tidak memakai atau sudah berhenti. Alasan yang paling banyak mereka sebut adalah etika agama, 68,3 persen, dan etika moral, 63,8 persen. Alasan keluarga disebut 39,8 persen, dan Iktidar mencatat pola serupa pada sebuah studi di Etiopia.
Di sisi pemakai, teguran jarang datang. Sebanyak 35,7 persen tidak pernah didekati siapa pun untuk berhenti. Teman menegur 26,6 persen pemakai, keluarga 17,5 persen, dan pasangan 11,7 persen, sementara senior hanya 5,8 persen.
Kampus nyaris tidak muncul. Hanya tiga pemakai yang pernah didekati dosen, dan satu orang yang didekati lembaganya, setara 0,6 persen. Iktidar menyebut angka itu sebagai celah besar dalam pencegahan berbasis kampus di Bangladesh.
Batas yang diakui peneliti
Iktidar menulis beberapa keterbatasan. Survei ini memotret satu waktu saja, sehingga kaitan yang ditemukan tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat. Peserta juga dipilih berdasarkan kemudahan menjangkau mereka, sehingga bias sampel mungkin terjadi.
Angkanya pun mungkin lebih rendah dari kenyataan. “Karena potensi stigma dan dorongan untuk tampak baik secara sosial, penggunaan zat kemungkinan dilaporkan lebih rendah dari yang sebenarnya,” tulis Iktidar dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa definisi pemakai yang dipilih ikut memengaruhi besar angka.
Survei ini juga tidak memakai alat ukur baku untuk menilai keparahan dan pola pemakaian. Para penulis menilai hal itu membatasi kedalaman gambaran perilaku. Mereka menyarankan studi lanjutan yang mengikuti mahasiswa dari waktu ke waktu.
Saran mereka tertuju pada kampus dan keluarga. Kampus diminta menyusun program motivasi dan konseling, menegakkan aturan ketat, dan menyediakan layanan berhenti yang mudah dijangkau. Program penyadaran disarankan berpijak pada nilai agama dan moral.
Dukungan keluarga dan teman sebaya juga diminta diperkuat untuk mengimbangi tekanan teman dan paparan dari rumah. Semua itu, tulis Iktidar, diarahkan kepada anak muda yang berisiko, di negeri tempat hampir satu dari tujuh mahasiswa kedokteran memakai tembakau atau zat lain.















