Skrining Kanker di Korea Turun pada 2022, Kecuali Kanker Hati

A A

Ilustrasi mesin mamografi model lama di ruang pemeriksaan, arsip National Cancer Institute Amerika Serikat [Foto: Bill Branson / National Cancer Institute/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Dari lima jenis skrining dalam program nasional, empat menurun antara 2018 dan 2022.
  • Skrining payudara turun ke 62,27 persen dan lambung ke 62,14 persen.
  • Daerah dengan proporsi lansia lebih tinggi cenderung punya angka skrining lebih rendah, tulis para peneliti.
  • Data ini hanya memuat orang yang pernah mengikuti skrining nasional setidaknya sekali.
Daftar Isi
  1. Empat turun, satu naik
  2. Pemeriksaan umum jadi penanda
  3. Daerah berpenduduk lansia
  4. Kanker kolorektal berbeda
  5. Kantong tinggi dan rendah
  6. Saran untuk kebijakan
  7. Batas yang diakui peneliti
  8. Sisa pertanyaan

Skrining kanker di Korea Selatan tidak merata antardaerah. Angkanya juga bergerak tidak seragam. Dari lima jenis skrining dalam program nasional, empat menurun antara 2018 dan 2022. Hanya skrining kanker hati yang naik.

Temuan itu ditulis Dae Hun Ryu, Min Soo Kim, Mina Suh, Eun Kyo Kang, Chang Kyun Choi, Sokbom Kang, dan Hyeon Ji Lee. Artikel mereka berjudul Municipal-level correlates and spatial variations of Korea’s national cancer screening program in 2018 and 2022: focus on weighted ordinary least squares regression and local indicators of spatial association. Tulisan itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.

Sebagian besar penulis bekerja di National Cancer Control Institute, National Cancer Center, di Goyang. Mereka menghitung angka skrining di seluruh 250 daerah setingkat si-gun-gu. Datanya mencakup 21.879.658 orang pada 2018 dan 21.477.470 orang pada 2022.

Kanker, tulis para peneliti, masih menjadi penyumbang besar beban penyakit di Korea Selatan. Negara itu menjawabnya dengan National Cancer Screening Program. Program itu bermula dari skrining lambung, payudara, dan leher rahim. Kini cakupannya enam jenis kanker. Kajian ini menelaah lima di antaranya, yaitu lambung, kolorektal, hati, payudara, dan leher rahim. Skrining kanker paru baru dimulai pada 2019. Jenis itu tidak dimasukkan karena tidak ada data sasaran 2018 yang bisa dibandingkan.

Empat turun, satu naik

Pada 2018, skrining kanker payudara mencatat angka tertinggi, yaitu 77,59 persen. Skrining kanker lambung menyusul dengan 76,08 persen. Di bawahnya ada skrining kanker leher rahim, 62,73 persen. Skrining kanker kolorektal hanya 46,21 persen. Skrining kanker hati paling rendah, 29,29 persen.

Empat tahun kemudian, angkanya berubah. Skrining payudara turun ke 62,27 persen dan lambung ke 62,14 persen. Skrining leher rahim turun ke 54,76 persen. Skrining kolorektal turun ke 37,25 persen.

Skrining kanker hati bergerak ke arah sebaliknya. Angkanya naik menjadi 41,29 persen pada 2022. Para peneliti menyebut pola itu berbeda-beda menurut jenis kanker, padahal semuanya berada dalam satu program nasional.

Angka skrining lima kanker di KoreaPayudara 77,59 ke 62,27; Lambung 76,08 ke 62,14; Leher rahim 62,73 ke 54,76; Kolorektal 46,21 ke 37,25; Hati 29,29 ke 41,29.Angka skrining lima kanker di KoreaRata-rata 250 daerah, dalam persen2018202220406080Payudara62,2777,59Lambung62,1476,08Leher rahim54,7662,73Kolorektal37,2546,21Hati29,2941,29
Sumber: Dae Hun Ryu, Min Soo Kim, Mina Suh, Eun Kyo Kang, Chang Kyun Choi, Sokbom Kang, dan Hyeon Ji Lee, Municipal-level correlates and spatial variations of Korea’s national cancer screening program in 2018 and 2022, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka hati dihitung dengan ukuran yang ketat. Skrining kanker hati di Korea dijadwalkan dua kali setahun bagi orang berisiko tinggi. Seseorang baru dihitung tuntas bila menjalaninya pada kedua paruh tahun. Para peneliti juga mencoba ukuran lain yang bersumber dari buku statistik tahunan pemeriksaan kesehatan. Dengan ukuran itu, angka skrining hati lebih tinggi pada kedua tahun. Pola hubungannya dengan ciri daerah tetap serupa.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Pemeriksaan umum jadi penanda

Lalu apa yang membedakan daerah berangka tinggi dari daerah berangka rendah? Para peneliti menyandingkan angka skrining dengan sepuluh ciri daerah. Di antaranya proporsi penduduk lansia, kepadatan penduduk, jumlah klinik, dan kemandirian keuangan daerah.

Satu ciri menonjol, yaitu angka pemeriksaan kesehatan umum. Pada 2018, ciri ini sudah berhubungan positif paling kuat dengan skrining kanker payudara. Koefisiennya 0,390. Kepadatan penduduk berada di urutan kedua dengan koefisien 0,269.

Pada 2022, hubungan itu menguat. Koefisien pemeriksaan kesehatan umum untuk skrining payudara menjadi 0,582. Untuk skrining lambung, koefisiennya 0,502. Keduanya merupakan hubungan positif terkuat pada jenis kanker masing-masing.

Skrining lambung menunjukkan pergeseran yang jelas. Pada 2018, hubungan terkuatnya justru negatif dan datang dari kemandirian keuangan daerah, dengan koefisien minus 0,326. Proporsi lansia waktu itu berhubungan positif, dengan koefisien 0,226.

Angka pemeriksaan kesehatan umum sendiri sedikit menurun. Rata-ratanya 76,22 persen pada 2018 dan 74,17 persen pada 2022. Para peneliti menyebut ciri ini mencerminkan budaya layanan pencegahan di suatu daerah.

Daerah berpenduduk lansia

Ciri kedua yang sering muncul adalah proporsi penduduk lansia. Arahnya berlawanan. Daerah dengan proporsi lansia lebih tinggi cenderung punya angka skrining lebih rendah, tulis para peneliti.

Hubungan itu paling kuat pada skrining kanker leher rahim. Koefisiennya minus 0,466 pada 2018 dan minus 0,481 pada 2022. Pemeriksaan kesehatan umum tetap berhubungan positif di sini, dengan koefisien 0,199 lalu 0,304.

Skrining kanker hati menunjukkan pola serupa. Proporsi lansia berhubungan negatif, dengan koefisien minus 0,420 pada 2018 dan minus 0,416 pada 2022. Rata-rata proporsi lansia sendiri naik dari 19,42 persen menjadi 23,32 persen.

Ada satu ciri yang berhubungan positif dengan skrining hati, yaitu angka penerima jaminan penghidupan dasar nasional. Koefisiennya 0,280 pada 2018 dan 0,333 pada 2022. Kemandirian keuangan daerah berhubungan negatif pada 2022, dengan koefisien minus 0,347.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Kanker kolorektal berbeda

Skrining kanker kolorektal tidak mengikuti pola itu. Ciri yang paling kuat berhubungan dengannya adalah angka penduduk yang pernah didiagnosis hipertensi. Koefisiennya 0,294 pada 2018 dan 0,256 pada 2022.

Pemeriksaan kesehatan umum baru muncul di urutan kedua pada 2022, dengan koefisien 0,245. Secara keseluruhan, hubungan skrining kolorektal dengan ciri daerah lebih lemah. Daya jelas modelnya juga paling rendah di antara lima kanker.

Para peneliti menawarkan satu tafsir. Skrining kolorektal dalam program ini memakai tes darah samar pada tinja. Cara itu berbeda dari pencitraan atau pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Riset terdahulu yang mereka rujuk menyebut rasa malu, jijik, keinginan menghindar, dan kesan repot sebagai penghambat. Karena itu, keikutsertaan mungkin lebih ditentukan hambatan pada diri orang daripada ciri daerah. Para peneliti meminta tafsir ini dibaca dengan hati-hati.

Skrining kanker Korea, sekilasSkrining kanker Korea, sekilasSkrining kanker Korea, sekilasPerbandingan 2018 dan 2022250daerahseluruh si-gun-gu5jenis kankerdalam programnasional0,582payudaraperiksa umum2022-0,481leher rahimlansia 2022Jalan risetnyaEmpat skrining turunSkrining hati naikKantong bertahan
Sumber: Dae Hun Ryu, Min Soo Kim, Mina Suh, Eun Kyo Kang, Chang Kyun Choi, Sokbom Kang, dan Hyeon Ji Lee, Municipal-level correlates and spatial variations of Korea’s national cancer screening program in 2018 and 2022, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kantong tinggi dan rendah

Peta yang mereka susun memperlihatkan kantong-kantong daerah. Ada kelompok daerah bertetangga yang sama-sama tinggi angkanya. Ada pula kelompok yang sama-sama rendah. Sepuluh ciri daerah tadi menjelaskan sebagian pola itu. Setelah ciri-ciri itu diperhitungkan, jumlah dan luas kantong umumnya berkurang. Namun kantong tetap tersisa pada beberapa jenis kanker dan tahun.

Sisa pola itu ditemukan pada kelima kanker dan kedua tahun. Ada daerah yang angkanya terus menyimpang dari perkiraan model. Menurut para peneliti, ini menandakan kemungkinan adanya faktor lain di luar yang mereka analisis.

Mereka menulis alasan mengapa daerah bertetangga bisa mirip. Daerah yang berdekatan sering berbagi pasar layanan kesehatan dan jaringan transportasi. Praktik administrasi dan lingkungan sosial budayanya juga sering sama.

Saran untuk kebijakan

Dari temuan itu lahir dua saran. Pertama, angka skrining per daerah dimasukkan ke pemantauan rutin kesetaraan kesehatan di tingkat daerah. Dengan begitu, daerah yang angkanya terus lebih rendah dari perkiraan bisa dikenali.

Saran kedua menyangkut cara menaikkan keikutsertaan. Para peneliti menulis dalam bahasa Inggris bahwa “intervensi yang ditujukan untuk meningkatkan keikutsertaan skrining kanker mungkin lebih efektif bila dipadukan dengan prakarsa layanan pencegahan yang lebih luas daripada dijalankan sendiri-sendiri.” Kalimat itu tercantum dalam naskah Dae Hun Ryu dan rekan-rekannya. Mereka menyebut pendekatan ini kesetaraan berbasis tempat. Daerah dengan angka yang terus rendah diprioritaskan untuk penilaian setempat. Strategi pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan tiap daerah.

Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen

Batas yang diakui peneliti

Para peneliti mencatat sejumlah keterbatasan. Analisis ini memakai rata-rata daerah. Karena itu, hasilnya tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan sebab-akibat pada tingkat perorangan.

Waktu yang dibandingkan pun hanya dua titik. Angka 2022 mungkin sebagian mencerminkan perubahan pemakaian layanan kesehatan dan jalannya program selama dan sesudah pandemi COVID-19. Perbandingan antarwaktu, tulis mereka, harus dibaca sebagai hubungan, bukan akibat dari peristiwa atau kebijakan tertentu.

Ada pula faktor yang tidak terukur. Mereka menyebut akses transportasi, gencarnya penjangkauan setempat, pemakaian skrining swasta, pola praktik penyedia layanan, dan faktor sosial budaya. Faktor semacam itu mungkin ikut menjelaskan kantong yang tersisa.

Satu batas lagi menyangkut siapa yang dihitung. Data ini hanya memuat orang yang pernah mengikuti skrining nasional setidaknya sekali. Akibatnya, angka skrining di sini selalu lebih tinggi daripada angka pada seluruh penduduk.

Sisa pertanyaan

Kajian ini tidak dapat menilai faktor perilaku dan klinis pada tiap orang. Para peneliti menyarankan riset berikutnya memakai analisis bertingkat. Analisis itu menelaah faktor perorangan dan faktor daerah secara bersamaan. Simpulan mereka tetap pada tingkat daerah. Angka skrining lebih tinggi di daerah yang penduduknya lebih terlibat dalam layanan pencegahan dan susunan penduduknya lebih menguntungkan.

Bagikan

Baca Juga

Laba Bank Sentral ASEAN Baru Meredam Inflasi Bila Independen
Kasa Berinsektisida di Jendela dan Celah Atap Menahan Nyamuk
Hampir Dua dari Tiga Perokok Bangladesh Gagal Saat Coba Berhenti
Jamban Bertambah di India, Tinja Anak Tetap Dibuang Sembarangan
Warga Uzbekistan Kenal Hepatitis B, Sedikit Paham Cara Menularnya
Remaja Korea yang Diet dengan Banyak Cara Lebih Sering Murung