Remaja Korea yang Diet dengan Banyak Cara Lebih Sering Murung

A A

Ilustrasi sepasang kaki berkaus abu-abu berdiri di atas timbangan badan putih [Foto: Annushka Ahuja/Pexels]

  • Bahan penelitian adalah jawaban 16.074 siswa sekolah menengah Korea yang berupaya menurunkan berat badan.
  • Kelompok pertama berisi 83,7 persen remaja yang berolahraga teratur dan makan lebih sedikit.
  • Kelompok ketiga berisi 15,1 persen remaja yang memakai banyak cara, dan 76,4 persen anggotanya perempuan.
  • Separuh lebih anggota kelompok ketiga mengaku pernah merasa sedih atau putus asa selama dua minggu.
  • Kelompok kedua yang memakai cara ekstrem hanya 1,2 persen dan diminta didahulukan dalam penapisan.
Daftar Isi
  1. Yang diyakini sebelum Lee, Han, dan Jeong
  2. Sembilan cara dalam 30 hari terakhir
  3. Kelompok ketiga yang didominasi remaja perempuan
  4. Beban batin yang dicatat Lee dan rekan-rekannya
  5. Angka di timbangan menurut Lee, Han, dan Jeong
  6. Usulan Lee dan rekan untuk sekolah
  7. Batas yang diakui dan mata rantai berikutnya

Masa remaja adalah masa ketika tubuh dan cara seseorang memandang dirinya sama-sama berubah, dan penampilan mulai menjadi urusan besar. Kira-kira tiga dari sepuluh remaja, menurut riset yang dirujuk tiga peneliti keperawatan Korea Selatan, aktif mengatur berat badannya. Di Korea, remaja disebut lebih sering mencoba menurunkan berat badan dan memakai lebih banyak cara daripada remaja di negara lain. Dari kebiasaan itulah penelitian ini berangkat.

Ketiga peneliti itu adalah Eunyoung Lee dari College of Nursing, Catholic University of Pusan, Gyumin Han dari College of Nursing, Pusan National University, dan Hyesun Jeong dari Department of Nursing, Youngsan University. Artikel mereka berjudul Weight loss behavior patterns among South Korean adolescents: a latent class analysis of data from the 18th Korea Youth Risk Behavior Web-based Survey. Tulisan itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Bahan mereka adalah jawaban 16.074 siswa sekolah menengah pertama dan atas yang mengaku berupaya menurunkan berat badan dalam 30 hari terakhir. Usia rata-rata mereka 15,1 tahun, dan 60,6 persen di antaranya perempuan. Jawaban itu diambil dari survei perilaku kesehatan remaja Korea yang ke-18, survei daring tanpa nama yang mewakili siswa sekolah menengah di seluruh negeri.

Yang diyakini sebelum Lee, Han, dan Jeong

Riset terdahulu yang mereka rujuk sudah lama memilah cara menurunkan berat badan menjadi dua. Ada cara sehat, seperti makan seimbang dan berolahraga teratur. Ada pula cara tidak sehat, seperti berpuasa 24 jam atau lebih, melewatkan waktu makan, memuntahkan makanan, serta memakai pencahar dan pil diet. Cara sehat disebut dapat menopang kesejahteraan, sedangkan cara tidak sehat dikaitkan dengan kelebihan berat badan, obesitas, dan mutu makanan yang buruk, yang bisa terbawa sampai dewasa.

Rangkaian penelitian itu juga mencatat sisi batinnya. Remaja yang kegemukan kerap memiliki citra tubuh negatif dan harga diri rendah, lalu mengambil berbagai strategi untuk menurunkan berat badan. Sementara itu, cara yang tidak sehat dikaitkan dengan ketidakpuasan pada tubuh dan gangguan pola makan, dan pada remaja Korea dikaitkan pula dengan pikiran serta rencana bunuh diri.

Namun ketiga peneliti melihat celah. Perilaku yang digolongkan tidak sehat berbeda-beda dari satu studi ke studi lain, sehingga hasilnya sulit dibandingkan. Penelitian atas survei remaja Korea edisi sebelumnya, tulis mereka, memberi bukti penting, tetapi belum membedakan kelompok-kelompok remaja menurut kombinasi cara yang mereka pakai. Padahal remaja Korea, menurut naskah itu, biasa menggabungkan beberapa cara sekaligus.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Sembilan cara dalam 30 hari terakhir

Survei itu menanyakan sembilan cara, masing-masing dijawab ya atau tidak. Kesembilannya adalah berolahraga teratur, berpuasa 24 jam atau lebih, makan lebih sedikit, menyantap makanan diet, meminum pil diet dengan resep dokter, meminum pil diet tanpa resep dokter, memuntahkan makanan atau memakai pencahar dan diuretik, menjalani diet satu jenis makanan, dan memakai obat herbal yang diresepkan dokter pengobatan tradisional.

Dari pola jawaban itu, Lee dan kedua rekannya menemukan tiga kelompok remaja yang jelas berbeda. Kelompok pertama adalah yang terbesar, yakni 13.452 remaja atau 83,7 persen. Mereka punya peluang tinggi berolahraga teratur dan makan lebih sedikit. Dalam pembahasannya, para peneliti menyebut kelompok ini memakai cara-cara konvensional.

Kelompok kedua sangat kecil, hanya 195 remaja atau 1,2 persen. Cirinya adalah berpuasa 24 jam atau lebih, menyantap makanan diet, memuntahkan makanan atau memakai pencahar dan diuretik, meminum pil diet dengan atau tanpa resep dokter, atau memakai obat herbal. Para peneliti menggolongkan pemakaian pil diet, muntah, dan pencahar sebagai praktik ekstrem yang dikaitkan dengan risiko fisik dan psikologis yang berarti.

Kelompok ketiga berisi 2.427 remaja atau 15,1 persen. Mereka punya peluang tinggi makan lebih sedikit, berolahraga teratur, menyantap makanan diet, berpuasa 24 jam atau lebih, dan menjalani diet satu jenis makanan. Naskah itu menyebutnya keterlibatan luas dalam beragam strategi menurunkan berat badan. Temuan itu, tulis para peneliti, menunjukkan betapa beragamnya perilaku remaja dalam urusan ini.

Remaja Korea yang menurunkan berat badan, sekilasRemaja Korea yang menurunkan berat badan, sekilasRemaja Korea yang menurunkan berat badan,sekilasSiswa sekolah menengah, upaya dalam 30 hari terakhir16.074remajausia rata-rata15,183,7%kelompok 1olahraga, makansedikit15,1%kelompok 3banyak carasekaligus1,2%kelompok 2cara ekstremJalan risetnya51.850 siswa ikut survei16.074 berupaya turunberatTiga kelompok cara
Sumber: Eunyoung Lee, Gyumin Han, dan Hyesun Jeong, Weight loss behavior patterns among South Korean adolescents: a latent class analysis of data from the 18th Korea Youth Risk Behavior Web-based Survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kelompok ketiga yang didominasi remaja perempuan

Perbedaan pertama yang tampak adalah jenis kelamin. Di kelompok pertama, 57,9 persen anggotanya perempuan, dan di kelompok kedua 50,3 persen. Di kelompok ketiga angkanya 76,4 persen, sedangkan laki-laki hanya 23,7 persen. Bila dibandingkan dengan kelompok pertama, remaja perempuan jauh lebih mungkin berada di kelompok ketiga, dengan rasio peluang atau odds ratio sebesar 6,49.

Para peneliti membaca perbedaan itu dengan bersandar pada riset terdahulu yang mereka rujuk. Remaja perempuan disebut lebih mungkin mengalami dan meresapi tekanan sosial budaya soal penampilan yang datang lewat teman sebaya dan media. Bukti sebelumnya juga menunjukkan remaja perempuan Korea yang berat badannya normal lebih sering menaksir berat badannya terlalu tinggi, sehingga lebih rentan berdiet dan memakai produk diet.

Ada beda lain yang lebih halus. Nilai rata-rata prestasi akademik yang dinilai sendiri di kelompok ketiga adalah 2,8 pada skala satu sampai lima, di bawah 3,1 di dua kelompok lainnya. Kepuasan tidur mereka juga paling rendah, yakni 2,4, dibandingkan 2,7 di kelompok pertama dan 2,6 di kelompok kedua. Tingkat stres yang dirasakan justru paling tinggi, 3,8, sementara dua kelompok lain berada di 3,4 dan 3,5.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Beban batin yang dicatat Lee dan rekan-rekannya

Kelompok kedua dan ketiga, dibandingkan dengan kelompok pertama, berkaitan bermakna dengan faktor psikologis negatif. Separuh lebih anggota kelompok ketiga, tepatnya 50,5 persen, mengaku dalam 12 bulan terakhir pernah merasa begitu sedih atau putus asa selama sedikitnya dua minggu sampai berhenti dari kegiatan sehari-hari. Di kelompok kedua angkanya 38,0 persen, dan di kelompok pertama 30,5 persen. Dibandingkan dengan kelompok pertama, rasio peluang kelompok ketiga untuk mengalaminya adalah 2,00.

Kecemasan mengikuti urutan yang sama. Remaja yang tergolong cemas mencapai 24,9 persen di kelompok ketiga, 21,5 persen di kelompok kedua, dan 13,4 persen di kelompok pertama. Pikiran bunuh diri dalam 12 bulan terakhir juga lebih sering dilaporkan di kelompok kedua dan ketiga daripada di kelompok pertama.

Kebiasaan berisiko juga lebih sering muncul di dua kelompok itu. Minum alkohol dalam 30 hari terakhir dilaporkan 25,1 persen anggota kelompok kedua dan 19,8 persen anggota kelompok ketiga, sementara di kelompok pertama 13,1 persen. Untuk merokok, angkanya berturut-turut 13,3 persen, 8,6 persen, dan 4,3 persen. Rasio peluang merokok terhadap kelompok pertama mencapai 2,28 pada kelompok kedua dan 2,12 pada kelompok ketiga.

Beban batin dan kebiasaan berisiko di tiga kelompokCemas: Kelompok 1 +13,4%, Kelompok 2 +21,5%, Kelompok 3 +24,9%; Sedih atau putus asa dua minggu: Kelompok 1 +30,5%, Kelompok 2 +38,0%, Kelompok 3 +50,5%; Minum alkohol: Kelompok 1 +13,1%, Kelompok 2 +25,1%, Kelompok 3 +19,8%; Merokok: Kelompok 1 +4,3%, Kelompok 2 +13,3%, Kelompok 3 +8,6%.Beban batin dan kebiasaan berisiko di tigakelompokPersen remaja di tiap kelompok cara menurunkan berat badanKelompok 1Kelompok 2Kelompok 320%40%60%0Cemas13,4%21,5%24,9%Sedih atau putus asa dua minggu30,5%38,0%50,5%Minum alkohol13,1%25,1%19,8%Merokok4,3%13,3%8,6%Kelompok 1 olahraga dan makan lebih sedikit, kelompok 2 caraekstrem, kelompok 3 banyak cara sekaligus.
Sumber: Eunyoung Lee, Gyumin Han, dan Hyesun Jeong, Weight loss behavior patterns among South Korean adolescents: a latent class analysis of data from the 18th Korea Youth Risk Behavior Web-based Survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari angka-angka itu ketiga peneliti menarik satu pelajaran. “Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan cara-cara yang tampak sehat tidak boleh dianggap aman”, tulis Eunyoung Lee, Gyumin Han, dan Hyesun Jeong dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Risiko, menurut mereka, mungkin tidak terbatas pada perilaku ekstrem. Pengendalian makan yang terus-menerus dan sudah dianggap wajar pun dapat menandai kerentanan bila disertai tekanan psikologis.

Angka di timbangan menurut Lee, Han, dan Jeong

Ukuran tubuh ikut dibandingkan. Para peneliti memakai skor Z indeks massa tubuh, yaitu indeks massa tubuh yang sudah disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin menurut grafik pertumbuhan Korea. Rata-rata taksirannya paling tinggi di kelompok pertama, yakni 1,54. Kelompok kedua berada di tengah dengan 0,39, dan kelompok ketiga paling rendah dengan minus 0,10. Selisih antarkelompok itu semuanya bermakna secara statistik.

Skor yang lebih rendah di kelompok ketiga diduga para peneliti berhubungan dengan pengekangan makan yang berlangsung terus dan menyatu dengan rutinitas harian. Adapun posisi tengah kelompok kedua memberi kesan bahwa perilaku ekstrem bersifat reaktif atau sesekali. Perilaku semacam itu, tulis mereka, mungkin tidak menghasilkan perubahan berat badan yang stabil dan dapat disertai makan berlebihan sesudahnya atau berat badan yang naik-turun.

Skor Z indeks massa tubuh, menurut naskah itu, mungkin kurang peka untuk menangkap risiko kesehatan yang terkait cara menurunkan berat badan yang tidak sehat, terutama ketika risikonya lebih bersifat perilaku atau psikososial daripada ukuran tubuh. Perbedaan skor antarkelompok itu, tulis mereka, dapat dibaca sebagai cerminan perbedaan mutu praktik menurunkan berat badan.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Usulan Lee dan rekan untuk sekolah

Ketiga peneliti mengusulkan penanganan yang berbeda untuk tiap kelompok. Bagi kelompok pertama, yang dianjurkan adalah praktik yang berkelanjutan dan sesuai tahap tumbuh kembang, seperti makan teratur dan gizi seimbang, serta panduan aktivitas fisik yang aman alih-alih target berat badan. Edukasi umum dapat diberikan perawat sekolah, guru, dan petugas gizi, ditambah konseling singkat bagi siswa yang melaporkan pengekangan makan berkepanjangan atau tertekan soal citra tubuh.

Untuk kelompok ketiga, usulannya mencakup literasi kesehatan dan media guna menghadapi pemasaran diet dan informasi keliru. Remaja juga perlu mendapat informasi berbasis bukti tentang terbatasnya khasiat dan adanya risiko produk diet, berikut alternatif praktis yang mendukung pola makan teratur. Para peneliti menambahkan perlunya membahas keinginan bertubuh kurus yang sudah diresapi, pengaruh teman sebaya dan media, serta stigma berat badan.

Kelompok kedua, yang paling kecil, mereka minta didahulukan. Puasa berkepanjangan, muntah, dan pemakaian pencahar atau diuretik dapat menandakan risiko gangguan makan dan tekanan psikologis berat yang lebih tinggi. Karena itu sekolah dan layanan masyarakat diminta menjalankan penapisan terstruktur untuk gejala depresi dan pikiran bunuh diri, lalu menyambungkan remaja dengan cepat ke layanan kesehatan jiwa dan layanan klinis.

Batas yang diakui dan mata rantai berikutnya

Para peneliti mencatat sendiri beberapa keterbatasan. Karena memakai data survei yang sudah ada, cakupan cara yang diteliti terbatas, dan kebiasaan seperti makan sayur, camilan, makanan cepat saji, dan makanan berlemak tidak termasuk. Semua perilaku dilaporkan sendiri oleh remaja, sehingga jawabannya bisa bias, terutama untuk hal sensitif seperti muntah serta pemakaian pencahar dan diuretik.

Data itu juga dikumpulkan pada satu titik waktu saja, sehingga tidak dapat menunjukkan bagaimana pola cara menurunkan berat badan berubah. Untuk itu ketiga peneliti menyarankan penelitian lanjutan yang mengikuti remaja dari waktu ke waktu guna menemukan arah perubahan dan faktor yang meramalkannya dalam jangka panjang. Mereka pun menyarankan butir pertanyaan yang lebih rinci tentang kebiasaan makan dan olahraga.

Lee, Han, dan Jeong menutup naskahnya dengan menyatakan bahwa temuan ini turut menyumbang bagi pengembangan intervensi yang disesuaikan untuk tiap kelompok. Intervensi itu diharapkan mendorong cara menurunkan berat badan yang seimbang dan menyertakan dukungan psikologis bagi remaja.

Bagikan

Baca Juga

Pemakaian Zat Remaja India Mengumpul di Sekolah-Sekolah Tertentu
Pendapatan Negara Naik, Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Turun
Enam dari Sepuluh Keluarga Pengungsi Yaman Belum Hidup Bersih
Lansia Tiongkok yang Tinggal Sendiri Lebih Banyak Kehilangan Gigi
Pasien Diabetes di Desa India Masih Tertinggal Layanan Digital
Rasa Tak Adil dan Gangguan Tidur serta Makan Warga Kota Tiongkok