- Hanya 39,9 persen keluarga pengungsi di Yaman yang masuk golongan berkebiasaan bersih yang baik.
- Sebelum makan 91,2 persen ibu mencuci tangan, tetapi sebelum menyuapi anak hanya 17,5 persen.
- Di antara keluarga dengan sanitasi layak 48,0 persen berkebiasaan baik, tanpa sanitasi layak hanya 23,8 persen.
- Keluarga dengan ibu 40 tahun ke atas berpeluang dua kali untuk berkebiasaan baik dibandingkan ibu termuda.
- Hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan karena semua keluarga hanya dipotret pada satu waktu.
Daftar Isi
- Dua belas kebiasaan ditimbang menjadi satu nilai
- Tangan dicuci sebelum makan, jarang sebelum menyuapi anak
- Air direbus, tetapi merebus menuntut waktu dan bahan bakar
- Jamban layak berkaitan dengan kebiasaan bersih keluarga
- Tenda dan gubuk menyempitkan ruang untuk hidup bersih
- Mengapa ibu yang lebih tua lebih terjaga kebersihannya
- Sampai di mana penjelasan ini bisa dipegang
Sabun ada di hampir delapan dari sepuluh rumah keluarga pengungsi di Yaman. Kenyataannya, hanya 17,5 persen ibu yang mengaku mencuci tangan sebelum menyuapi anak, dan ada tidaknya sabun di rumah tidak berkaitan dengan baik buruknya kebiasaan bersih keluarga. Yang berkaitan justru dua hal lain: umur sang ibu dan jamban yang layak.
Gambaran itu disusun Mansour Abdu Al-Taj dalam artikel Water, sanitation, and hygiene practices among internally displaced households in Yemen: a cross sectional study, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Al-Taj bekerja di Department of Community Medicine, Faculty of Medicine and Health Sciences, Sana’a University, Yaman. Ia menulis naskah itu seorang diri, dari perumusan sampai penafsiran hasilnya.
Yang ia tanyai adalah 627 ibu dari keluarga pengungsi yang punya sedikitnya satu anak di bawah lima tahun, pada Februari 2024. Mereka tinggal di lima distrik di empat provinsi: Al-Qahirah dan Al-Mudhaffar di Taiz, Broum di Hadramaut, Al-Wadi di Marib, dan Khab Al-Sha’af di Al-Jawf. Para ibu dipilih karena dalam keseharian Yaman merekalah yang memasak, membersihkan rumah, dan mengurus kotoran anak.
Latar yang dipakai naskah itu berat. Konflik berkepanjangan membuat sekitar 4,5 juta orang di Yaman mengungsi di dalam negerinya sendiri, krisis pengungsian internal terbesar kelima di dunia. Sebanyak 17,8 juta orang, separuhnya anak-anak, tidak cukup terjangkau air bersih, sanitasi, dan layanan kebersihan. Padahal bukti tentang kebiasaan bersih para pengungsi di negeri itu, menurut Al-Taj, masih dibutuhkan.
Dua belas kebiasaan ditimbang menjadi satu nilai
Kebersihan sebuah keluarga tidak diukur dari satu perilaku. Al-Taj menimbang dua belas kebiasaan sekaligus, dari mencuci tangan, mengolah air minum, menyimpan air, menutup makanan, sampai membuang kotoran anak. Sebagian diceritakan sendiri oleh ibu, sebagian dilihat langsung oleh petugas di rumah. Semuanya dilebur menjadi satu nilai, lalu keluarga dipilah menjadi dua golongan: berkebiasaan baik atau buruk.
Hasilnya, hanya 39,9 persen keluarga yang masuk golongan baik. Enam dari sepuluh keluarga lainnya, tepatnya 60,1 persen, berada di golongan buruk. Tingkat itu, tulis Al-Taj, sangat mengkhawatirkan di lingkungan pengungsian, tempat kepadatan dan terbatasnya layanan memperbesar risiko penyakit yang menular lewat air. Angka itu masih lebih tinggi daripada 19,8 persen yang dilaporkan sebuah penelitian pada pengungsi di Somalia.
Siapa keluarga-keluarga ini tergambar dari ciri-cirinya. Hampir separuh ibu, 48,0 persen, tidak pernah bersekolah, dan hanya 4,6 persen yang bekerja. Kira-kira dua pertiga keluarga, 67,8 persen, tinggal di tenda atau gubuk. Air minum yang layak hanya terjangkau 34,1 persen keluarga, dan sekitar sepertiga, 33,5 persen, tidak punya sanitasi yang layak.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Tangan dicuci sebelum makan, jarang sebelum menyuapi anak
Kebiasaan mencuci tangan memperlihatkan polanya dengan terang. Ada lima waktu penting yang ditanyakan: sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah dari jamban, setelah mengurus kotoran anak, dan sebelum menyuapi anak. Sebelum makan, 91,2 persen ibu mengaku mencuci tangan. Pada empat waktu lainnya, angkanya jauh lebih rendah.
Sebelum menyiapkan makanan, yang mencuci tangan tinggal 49,6 persen. Setelah dari jamban 38,6 persen, dan setelah mengurus kotoran anak 26,0 persen. Paling rendah adalah sebelum menyuapi anak, 17,5 persen, atau kurang dari satu di antara lima ibu. Yang mencuci tangan dengan sabun dan air pun hanya 45,3 persen, walaupun sabun tersedia di 79,9 persen rumah.
Karena itu Al-Taj menyebut kebiasaan ini belum memadai. Mencuci tangan yang tidak optimal, tulisnya, dapat menaikkan risiko diare dan kekurangan gizi pada anak-anak pengungsi. Angka yang ia temukan juga lebih rendah daripada yang dilaporkan penelitian-penelitian di Ethiopia. Hanya sebelum makan kebiasaan itu dilaporkan tinggi, sedangkan pada waktu lainnya kurang dari separuh ibu yang melakukannya.
Air direbus, tetapi merebus menuntut waktu dan bahan bakar
Air minum punya ceritanya sendiri. Sebanyak 62,8 persen keluarga mengaku merebus air sebelum diminum. Merebus, menurut naskah itu, adalah cara yang efektif, terutama dalam krisis dan pengungsian, dan dapat menurunkan risiko penyakit diare serta kolera. Cara lain jauh lebih jarang. Mengolah air dengan klorin dan menyimpannya dalam wadah bersih masing-masing hanya dilakukan sekitar seperempat keluarga.
Persoalannya, merebus bukan pekerjaan sekali jadi. Ia memerlukan waktu yang cukup, bahan bakar, dan kepatuhan yang terus dijaga, tiga hal yang menurut Al-Taj dapat menghambat pemakaiannya secara ajek dari waktu ke waktu. Bagian keluarga yang merebus air dalam temuannya pun lebih kecil daripada yang dilaporkan penelitian di Uganda dan Ethiopia.
Urusan kotoran berjalan di dua arah. Jamban dipakai untuk buang air besar oleh 81,7 persen keluarga. Tetapi kotoran anak baru dibuang dengan aman oleh 24,7 persen keluarga, dinilai dari cerita ibu bahwa kotoran itu dibuang ke jamban dan dari tidak adanya kotoran anak di dalam atau di sekitar rumah. Angka itu sejalan dengan Ghana, 22 persen, dan berbeda dari India yang sekitar 50 persen.
Makanan berada di tengah-tengah. Sebanyak 51,8 persen keluarga dinilai menangani makanan secara higienis, yakni sisa makanan yang terlihat dalam keadaan tertutup dan peralatan makannya bersih. Perbedaan kebiasaan bersih antartempat seperti itu, tulis Al-Taj dengan merujuk penelitian lain, mungkin berasal dari perbedaan keadaan sosial dan ekonomi.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Jamban layak berkaitan dengan kebiasaan bersih keluarga
Ciri keluarga pertama yang berkaitan adalah sanitasi yang layak. Sanitasi disebut layak bila jambannya tersambung ke tangki septik atau saluran pembuangan umum. Di antara keluarga yang memilikinya, 48,0 persen berkebiasaan baik. Di antara yang tidak memilikinya, hanya 23,8 persen. Jarak itu bertahan sesudah umur, pendidikan, pekerjaan ibu, dan jenis rumah ikut diperhitungkan.
“Kebiasaan bersih yang baik berkurang 60,0 persen pada keluarga tanpa akses ke sanitasi yang layak,” tulis Mansour Abdu Al-Taj, dari Department of Community Medicine, Sana’a University, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Temuan itu, menurutnya, sejalan dengan kepustakaan yang menegaskan bahwa keluarga memerlukan perlengkapan kebersihan dan sarana yang memadai agar perilaku bersih bisa dijaga.
Naskah itu juga mengingatkan apa yang dipertaruhkan. Di negara berpendapatan rendah dan menengah, diperkirakan 829.000 kematian akibat diare berkaitan dengan air, sanitasi, dan kebersihan yang buruk, setara 60 persen dari seluruh kematian karena diare. Sebaliknya, Organisasi Kesehatan Dunia menghitung bahwa setiap satu dolar AS yang ditanam untuk sanitasi kembali 5,50 dolar AS dalam bentuk biaya kesehatan yang lebih rendah, produktivitas, dan berkurangnya kematian dini.
Tenda dan gubuk menyempitkan ruang untuk hidup bersih
Jenis tempat tinggal memberi gambaran serupa. Di rumah mandiri, 52,2 persen keluarga berkebiasaan baik, dan di flat 60,9 persen. Di tenda atau gubuk, tempat sebagian besar keluarga ini tinggal, hanya 32,7 persen. Namun, setelah faktor lain diperhitungkan kaitan itu tidak lagi bermakna secara statistik.
Al-Taj tetap menganggapnya penting bagi pelaksana program di lapangan, dan ia menerangkan cara kerjanya. “Hunian sementara sering kali hanya menyediakan ruang terbatas untuk penyimpanan air yang aman, sarana cuci tangan, dan prasarana sanitasi, sehingga penghuninya lebih sulit menjalankan perilaku bersih yang dianjurkan secara konsisten,” tulisnya. Keadaan hunian dalam pengungsian, tulisnya pula, dapat membatasi mungkin tidaknya sebuah keluarga hidup bersih.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Mengapa ibu yang lebih tua lebih terjaga kebersihannya
Faktor kedua yang bertahan adalah umur ibu. Pada keluarga dengan ibu berumur 25 tahun ke bawah, 30,9 persen berkebiasaan baik. Angkanya naik menjadi 41,0 persen pada ibu 26 sampai 30 tahun, 45,1 persen pada ibu 31 sampai 39 tahun, dan 46,1 persen pada ibu 40 tahun ke atas. Setelah faktor lain diperhitungkan, dua kelompok tertua tetap menonjol.
Dibandingkan keluarga dengan ibu termuda, keluarga dengan ibu 31 sampai 39 tahun berpeluang lebih dari satu setengah kali untuk berkebiasaan baik, dan keluarga dengan ibu 40 tahun ke atas dua kali. Al-Taj menawarkan penjelasan yang ia sebut sebagai kemungkinan: perempuan di atas 25 tahun sering punya pengalaman hidup lebih banyak, tanggung jawab mengurus rumah lebih besar, dan lebih sering terpapar informasi kesehatan. Temuan soal umur itu sejalan dengan penelitian pada pengungsi di Somalia.
Pendidikan ibu semula tampak ikut berperan. Di antara ibu berpendidikan menengah ke atas, 49,2 persen keluarganya berkebiasaan baik, sedangkan pada ibu yang tidak bersekolah 37,2 persen. Kaitan itu hilang ketika faktor lain dimasukkan. Al-Taj menduga penyebabnya pengaruh keadaan rumah dan akses ke sarana sanitasi, dan ia mencatat hasil ini berlawanan dengan penelitian lain.
Pekerjaan ibu, yang dalam penelitian lain berkaitan dengan kebersihan keluarga, juga tidak berkaitan di sini. Menurut Al-Taj, tidak munculnya kaitan itu mungkin disebabkan sangat sedikitnya ibu yang bekerja. Jumlah anak juga tidak berkaitan. Begitu pula sabun: keluarga yang punya sabun dan yang tidak punya memperlihatkan kebiasaan baik pada tingkat yang tidak berbeda bermakna, 39,3 persen dan 42,1 persen.
Sampai di mana penjelasan ini bisa dipegang
Al-Taj menandai dua batas temuannya. Karena semua keluarga hanya dipotret pada satu waktu, hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor tadi dan kebiasaan bersih tidak dapat ditetapkan. Kebiasaan itu juga mungkin dilaporkan lebih baik daripada kenyataannya, sebab para ibu bisa saja menjawab dengan cara yang mereka anggap pantas. Kekuatannya, penelitian ini menyentuh kebiasaan yang langsung terkait risiko diare anak dan dilakukan di beberapa provinsi.
Dari situ ia menarik saran yang berlapis. Promosi kebersihan perlu disesuaikan dengan umur agar lebih menjangkau ibu muda, yang sering memegang peran utama dalam pengasuhan. Program kesehatan masyarakat dan kemanusiaan di Yaman, tulisnya, perlu memakai pendekatan terpadu yang memperbaiki akses sanitasi dan membuat sarana kebersihan dapat dipakai di hunian sementara, sambil memperkuat promosi kebersihan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Simpulan Al-Taj ringkas. Yang berkaitan dengan kebiasaan bersih keluarga pengungsi adalah umur ibu dan jamban yang layak. Karena itu ia menyerukan promosi kebersihan yang lebih gencar, yang membawa dua hal sekaligus kepada keluarga rentan: pengetahuan yang terarah dan perlengkapan kebersihan yang pokok.















