Jamban Bertambah di India, Tinja Anak Tetap Dibuang Sembarangan

A A

Deretan bilik jamban sementara di antara tenda peziarah Kumbh Mela 2019, Prayagraj, India [Foto: Balone21/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 170 dari 707 distrik di India muncul sebagai titik panas pembuangan tinja anak yang tidak aman.
  • Buang air besar sembarangan pada orang dewasa sekitar 19 persen, sedangkan pembuangan tinja anak tidak aman 61 persen.
  • Kekayaan rumah tangga menyumbang 65,3 persen pada selisih antara titik panas dan titik dingin.
  • Sebanyak 144 distrik menanggung beban ganda kemiskinan rumah tangga dan pembuangan tinja anak tidak aman.
  • Temuan ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat, karena datanya dipotret pada satu waktu.
Daftar Isi
  1. Rahaman berangkat dari anggapan yang jarang diuji
  2. Karmakar menemukan tiga zona titik panas
  3. Latif dan Keshri menuliskan peta-peta yang bertumpuk
  4. Kemiskinan menjelaskan sebagian besar jurang
  5. Batas peta yang diakui Rahaman sendiri
  6. Yang diusulkan Rahaman untuk distrik-distrik itu

Margubur Rahaman memetakan 707 distrik di India menurut satu kebiasaan rumah tangga yang jarang dibicarakan: ke mana tinja anak kecil dibuang. Peta yang ia hasilkan tidak rata. Sebanyak 170 distrik muncul sebagai titik panas, tempat tinja anak paling sering berakhir di tanah terbuka, di tempat sampah, atau di saluran air. Hampir seperempat distrik di negeri itu masuk ke dalamnya.

Rahaman mengerjakannya bersama U. Venkatesh, Gurucharan Karmakar, Kunal Keshri, Sanju Purohit, dan Md Abdul Latif. Artikel mereka berjudul Mapping spatial inequality: unsafe child feces disposal practices across 707 districts in India, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Rahaman dan Keshri berasal dari International Institute for Population Sciences di Mumbai, sedangkan Venkatesh dari All India Institute of Medical Sciences di Gorakhpur.

Pembagian kerja di antara mereka dicatat di akhir naskah. Rahaman menyusun gagasan dan mengawasi pekerjaan, Venkatesh ikut mengawasi, dan Karmakar mengerjakan analisisnya. Keshri dan Latif menulis, sementara Purohit menelaah tulisan itu. Bahan mereka adalah Survei Kesehatan Keluarga Nasional India putaran kelima, yang berlangsung pada 2019 sampai 2021, dengan 79.618 anak berusia dua tahun ke bawah.

Apa yang disebut aman dan tidak aman ditetapkan Rahaman sejak awal. Tinja anak dianggap dibuang secara aman bila dimasukkan ke toilet atau jamban, atau dikubur dengan layak. Sebaliknya, pembuangan tergolong tidak aman bila tinja dibiarkan di tempat terbuka, dibuang ke tempat sampah, atau dibilas ke saluran pembuangan. Batasan itu mengikuti survei tersebut dan standar internasional.

Rahaman berangkat dari anggapan yang jarang diuji

Titik berangkat Rahaman adalah sebuah ketimpangan perhatian. Riset dan kebijakan sanitasi di India, tulis timnya, sebagian besar tertuju pada kebiasaan orang dewasa. Padahal buang air besar sembarangan pada orang dewasa sudah turun menjadi sekitar 19 persen, sedangkan pembuangan tinja anak secara tidak aman masih 61 persen. Angka kedua itu, menurut naskah mereka, tiga kali lipat angka pertama.

“Anggapan tersirat bahwa perbaikan sanitasi orang dewasa dengan sendirinya akan menjangkau pembuangan tinja anak hampir tidak pernah digugat, meski bukti empiris membantahnya,” tulis Rahaman dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Tingginya angka pembuangan tidak aman itu mereka sebut persoalan kesehatan masyarakat yang penting dan sering terabaikan.

Venkatesh dan rekan-rekannya menyebut tiga program nasional yang telah memperluas cakupan sanitasi rumah tangga, yaitu Total Sanitation Campaign, Nirmal Bharat Abhiyan, dan Swachh Bharat Mission. Kemajuan cakupan itu, tulis mereka, belum menjelma menjadi perbaikan dalam pengelolaan tinja anak. Kajian yang ada, tambah mereka, belum memakai sudut pandang kewilayahan yang mendalam.

Risikonya diuraikan Rahaman dari penelitian terdahulu yang ia rujuk. Pembuangan tinja anak secara tidak aman memperbesar penularan penyakit infeksi, termasuk diare dan infeksi cacing. Rumah tangga yang melakukannya menghadapi risiko diare 6 sampai 23 persen lebih tinggi dibanding rumah tangga yang membuang tinja anak secara aman. Sebuah studi terdahulu yang dikutipnya memperkirakan sekitar 361.000 kematian balita per tahun dapat dicegah lewat perbaikan pasokan air, kebiasaan higiene, dan pengelolaan tinja anak.

Baca juga Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa

Karmakar menemukan tiga zona titik panas

Analisis yang dikerjakan Karmakar memperlihatkan tiga zona titik panas. Zona terbesar membentang di Odisha, Jharkhand, Bihar, Uttar Pradesh, Chhattisgarh, dan distrik-distrik di sekitarnya. Zona kedua berada di Assam. Zona ketiga lebih kecil, meliputi sepuluh distrik di Tamil Nadu. Ketiganya berjumlah 170 distrik, dan seluruh pengelompokan itu dinyatakan bermakna secara statistik.

Tinja anak di India, sekilasTinja anak di India, sekilasTinja anak di India, sekilasSurvei Kesehatan Keluarga Nasional India 2019-2021707distrikdipetakan170titik panasdi tiga zona61%tidak amantinja anak19%dewasaBAB terbukaJalan risetnya636.699 rumah tangga232.920 balita79.618 anak dianalisis
Sumber: Margubur Rahaman, U. Venkatesh, Gurucharan Karmakar, Kunal Keshri, Sanju Purohit, dan Md Abdul Latif, Mapping spatial inequality: unsafe child feces disposal practices across 707 districts in India, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rahaman mencatat bahwa di banyak distrik angka pembuangan tidak aman melampaui 65 persen, terutama di Odisha, Jharkhand, Bihar, Uttar Pradesh, Assam, Madhya Pradesh, dan Tamil Nadu. Di distrik-distrik Maharashtra, Karnataka, dan Andhra Pradesh angkanya tergolong sedang, antara 50,8 dan 65,4 persen. Tingkat di atas 65 persen itu disebut naskah mereka mengkhawatirkan.

Ujung yang lain juga terlihat di peta Rahaman. Di sebagian besar distrik Kerala, Punjab, Delhi, Haryana, Uttarakhand, Himachal Pradesh, serta Jammu dan Kashmir, angkanya berada di bawah 34 persen. Timnya juga menemukan perbedaan yang besar di dalam satu distrik yang sama, ketika peta diperhalus sampai ke tingkat kelompok permukiman.

Wilayah titik panas itu, menurut Keshri dan rekan-rekannya, bukan nama baru. Penelitian sebelumnya sudah mengenali Odisha, Jharkhand, Bihar, Uttar Pradesh, dan Chhattisgarh sebagai kawasan yang tertinggal secara sosial ekonomi dan memiliki angka buang air besar sembarangan yang tinggi. Studi ini mengaitkan pengelompokan itu dengan kemiskinan serta kebutuhan sanitasi dan air yang belum terpenuhi.

Latif dan Keshri menuliskan peta-peta yang bertumpuk

Latif dan Keshri kemudian menuliskan apa yang terjadi ketika peta tinja anak ditumpuk dengan peta lain. Sebanyak 144 distrik menanggung beban ganda, yaitu kemiskinan rumah tangga dan tingginya pembuangan tinja anak secara tidak aman. Distrik-distrik itu terutama berada di Bihar, Uttar Pradesh, Jharkhand, Odisha, dan Chhattisgarh.

Tumpukan serupa ditemukan tim Rahaman pada fasilitas sanitasi yang tidak layak, yang berimpit dengan pembuangan tidak aman di 135 distrik. Ketiadaan sumber air di pekarangan rumah berimpit dengannya di 75 distrik, terutama di Odisha, Jharkhand, dan Chhattisgarh. Pola yang hampir sama muncul untuk wilayah perdesaan, dan untuk ibu yang tidak terpapar media massa kaitannya juga positif.

Karmakar juga mendapati 94 distrik tempat banyaknya ibu berusia 15 sampai 19 tahun berimpit dengan pembuangan tidak aman, terutama di Jharkhand, Bihar, Odisha, Assam, dan Tamil Nadu. Distrik yang hampir sama, kecuali di Tamil Nadu, memperlihatkan pola serupa untuk ibu yang buta huruf. Pada penduduk suku terjadwal, pola itu terlihat di 61 distrik.

Dari semua faktor itu, Rahaman menunjuk tiga pendorong utama perbedaan antardistrik: fasilitas sanitasi rumah tangga yang tidak layak, ketiadaan sumber air di pekarangan, dan kemiskinan rumah tangga. Sanitasi yang tidak layak memiliki kaitan paling kuat di antara ketiganya. Buta huruf pada ibu dan tempat tinggal di perdesaan juga berkaitan positif dengan pengelompokan itu.

Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

Kemiskinan menjelaskan sebagian besar jurang

Langkah berikutnya, Rahaman membandingkan titik panas dengan kebalikannya, yaitu kelompok distrik berangka rendah yang ia sebut titik dingin. Peluang tinja anak dibuang secara tidak aman di titik panas adalah 0,70, sedangkan di titik dingin 0,48. Selisihnya 22 persen. Faktor-faktor yang diperiksa timnya menjelaskan 50 persen dari ketimpangan itu.

Kemiskinan paling banyak menjelaskan jurang antardistrikKekayaan rumah tangga: Persen sumbangan +65,3%; Fasilitas sanitasi: Persen sumbangan +17,1%; Agama: Persen sumbangan +7,4%; Paparan media ibu: Persen sumbangan +4,5%; Pendidikan ibu: Persen sumbangan +3,2%.Kemiskinan paling banyak menjelaskan jurangantardistrikSumbangan tiap faktor pada selisih titik panas dan titik dingin20%40%60%80%0Kekayaan rumah tangga65,3%Fasilitas sanitasi17,1%Agama7,4%Paparan media ibu4,5%Pendidikan ibu3,2%
Sumber: Margubur Rahaman, U. Venkatesh, Gurucharan Karmakar, Kunal Keshri, Sanju Purohit, dan Md Abdul Latif, Mapping spatial inequality: unsafe child feces disposal practices across 707 districts in India, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari bagian yang terjelaskan itu, Karmakar menemukan satu faktor yang jauh melampaui yang lain. Kekayaan rumah tangga menyumbang 65,3 persen. Fasilitas sanitasi menyusul dengan 17,1 persen, lalu agama 7,4 persen, paparan ibu terhadap media massa 4,5 persen, dan pendidikan ibu 3,2 persen.

“Temuan kunci kedua studi ini menyoroti bahwa kesenjangan antarwilayah dalam praktik pembuangan tinja anak yang tidak aman terutama didorong oleh kemiskinan rumah tangga,” tulis Rahaman dan rekan-rekannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Rumah tangga miskin, lanjut mereka, juga menghadapi hambatan besar dalam pendidikan, sanitasi, dan akses air.

Soal air, Purohit dan rekan-rekannya mengutip laporan pemerintah India tahun 2025 yang menyebut 79,9 persen rumah tangga perdesaan kini memiliki sambungan air keran. Program Jal Jeevan Mission telah memperluas akses itu ke lebih dari 155 juta rumah tangga. Seperlima rumah tangga yang tersisa, tulis mereka, mungkin masih membuang tinja anak secara tidak aman.

Rahaman memperkirakan pengaruh ketiadaan air akan mengecil pada tahun-tahun mendatang seiring akses air yang terus membaik. Untuk ibu yang buta huruf, timnya menulis bahwa terbatasnya pendidikan sering membuat mereka tidak mengetahui bahaya pembuangan tinja yang keliru. Para ibu itu juga lebih mungkin tinggal di rumah tanpa fasilitas sanitasi memadai.

Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025

Batas peta yang diakui Rahaman sendiri

Rahaman dan rekan-rekannya menuliskan sendiri batas penelitian mereka. Karena datanya dipotret pada satu waktu, temuan ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Angka pembuangan tidak aman juga bersandar pada pengakuan responden, yang bisa menjawab menurut apa yang dianggap pantas atau keliru mengingat kebiasaan yang sudah lewat.

Dua batas lain dicatat Venkatesh dan timnya. Gambaran yang mereka sajikan hanya mencerminkan keadaan pada masa survei dan tidak menangkap kebiasaan yang telah mengakar. Pendekatan berbasis angka juga tidak mampu menggali hal-hal seperti norma budaya dan kebiasaan yang mungkin memengaruhi cara orang membuang tinja anak.

Rahaman juga meminta penelitian lanjutan. Naskahnya menyebut masih ada celah dalam menilai apakah program-program sanitasi nasional benar-benar memperbaiki pengelolaan tinja anak. Penelitian berikutnya, tulis timnya, perlu memilah anak menurut umur agar perbedaan praktik pembuangan dan dampaknya pada kesehatan anak lebih terpahami.

Yang diusulkan Rahaman untuk distrik-distrik itu

Untuk kawasan titik panas, Rahaman mengusulkan strategi lintas sektor. Isinya pemberdayaan ekonomi, program melek huruf yang menyasar perempuan, serta perluasan air bersih dan sanitasi. Langkah-langkah itu, tulis timnya, dapat dipadukan ke dalam kerangka yang sudah ada seperti Swachh Bharat Mission, agar kebersihan anak membaik secara berkelanjutan.

Keshri dan rekan-rekannya menambahkan bahwa pembangunan ekonomi di tingkat rumah tangga perlu didahulukan, terutama lewat penguatan skema jaminan kerja. Kesimpulan naskah itu menekankan perlunya memadukan strategi perubahan perilaku dengan perbaikan sosial ekonomi. Intervensi yang disesuaikan dengan tiap wilayah, disertai penyadaran masyarakat dan pembangunan prasarana, mereka sebut penting.

“Kesenjangan antarwilayah yang nyata dalam praktik pembuangan tinja anak yang tidak aman terdapat di India,” tulis Rahaman dan timnya di bagian simpulan. Peta 707 distrik yang ia susun berakhir pada kalimat itu: tiga zona titik panas di India bagian tengah dan negara bagian sekitarnya, dengan kemiskinan, sanitasi, air, dan pendidikan ibu sebagai pendorongnya.

Bagikan

Baca Juga

Warga Uzbekistan Kenal Hepatitis B, Sedikit Paham Cara Menularnya
Remaja Korea yang Diet dengan Banyak Cara Lebih Sering Murung
Pemakaian Zat Remaja India Mengumpul di Sekolah-Sekolah Tertentu
Pendapatan Negara Naik, Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Turun
Enam dari Sepuluh Keluarga Pengungsi Yaman Belum Hidup Bersih
Lansia Tiongkok yang Tinggal Sendiri Lebih Banyak Kehilangan Gigi