Ekspor Jasa Digital Menekan Emisi Karbon di Lima Negara BRICS

A A

Deretan panel surya di atap Om Shanti Retreat Centre, Gurgaon, India [Foto: Ggn77/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Di lima negara BRICS, ekspor jasa digital berjalan seiring dengan emisi karbon per orang yang lebih rendah.
  • Ekspor barang teknologi informasi tidak berpengaruh bermakna terhadap emisi karbon per orang di lima negara tersebut.
  • Kenaikan satu unit kerumitan ekonomi berkaitan dengan kenaikan 0,09 unit emisi karbon per orang dalam jangka panjang.
  • Kenaikan satu unit porsi energi terbarukan menurunkan emisi karbon per orang sebesar 0,35 unit dalam jangka panjang.
Daftar Isi
  1. Pendapatan naik, emisi karbon ikut naik
  2. Jasa digital diekspor, emisi karbon turun
  3. Ekonomi makin rumit, emisi makin tinggi
  4. Energi makin bersih, emisi makin rendah
  5. Saran bagi sisi yang menurunkan emisi
  6. Saran bagi sisi yang menaikkan emisi

Perangkat lunak dan telepon genggam sama-sama disebut teknologi informasi, tetapi jejak karbon keduanya tidak sama. Di lima negara BRICS, ekspor jasa digital berjalan seiring dengan emisi karbon per orang yang lebih rendah. Ekspor dan impor barang digital, sebaliknya, tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna terhadap emisi itu.

Perbandingan itu ditulis Neharika Singh dan Meenakshi Gupta dalam Modelling the impact of Information and Communication Technology (ICT) trade, economic complexity and energy structure on carbon neutrality: Evidence from BRICS. Artikel tersebut terbit di Economic Journal of Emerging Markets volume 18 nomor 1 tahun 2026. Keduanya berasal dari School of Economics, Shri Mata Vaishno Devi University, Katra, Jammu and Kashmir, India.

Lima negara yang mereka amati adalah Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, dengan data dari tahun 2000 sampai 2022. Di satu sisi, kelima negara itu tumbuh cepat, teknologi informasinya meluas, dan peralihan ke energi terbarukan berjalan. Di sisi lain, emisi karbon mereka naik tajam. Merujuk penelitian lain, kedua penulis mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir BRICS menyumbang sekitar 42 persen emisi karbon dunia.

Dari sana kedua ekonom itu menimbang dua kelompok hal. Kelompok pertama terbukti berjalan bersama naiknya emisi karbon per orang, yaitu pendapatan per orang dan kerumitan ekonomi. Kelompok kedua berjalan bersama turunnya emisi, yaitu ekspor jasa teknologi informasi dan porsi energi terbarukan. Perdagangan barang teknologi informasi berada di antara keduanya, tanpa pengaruh yang bermakna.

Pendapatan naik, emisi karbon ikut naik

Sisi pertama adalah pendapatan. Produk domestik bruto per orang berpengaruh positif dan bermakna terhadap emisi karbon per orang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Menurut hitungan kedua penulis, kenaikan satu unit pendapatan per orang berkaitan dengan kenaikan 0,68 unit emisi karbon per orang dalam jangka panjang.

Angka itu mereka baca sebagai tanda bahwa pertumbuhan ekonomi di BRICS datang bersama tekanan lingkungan yang membesar. Pola tersebut, tulis mereka, menunjukkan ketergantungan kelima negara pada industrialisasi yang boros energi dan pembangunan infrastruktur. Ketergantungan yang berlanjut pada bahan bakar fosil ikut disebut sebagai penyebab emisi yang meningkat.

Urbanisasi, yang diukur dari porsi penduduk kota, semula diduga ikut menaikkan emisi. Kedua penulis menyebut kebutuhan energi, perluasan infrastruktur, dan transportasi sebagai alasannya. Namun, dalam hitungan utama mereka, pengaruh penduduk kota terhadap emisi karbon per orang ternyata tidak bermakna, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya

Jasa digital diekspor, emisi karbon turun

Sisi kedua adalah jasa digital. Ekspor jasa teknologi informasi dan komunikasi berpengaruh negatif dan bermakna terhadap emisi karbon per orang, juga dalam jangka pendek dan jangka panjang. Kenaikan satu unit ekspor jasa itu, menurut kedua penulis, menurunkan emisi karbon per orang sebesar 0,08 unit dalam jangka panjang.

Jasa yang dimaksud mencakup telekomunikasi, konsultansi, layanan informasi, dan perangkat lunak. Ekspor jasa semacam itu, tulis mereka, menggeser kegiatan ekonomi ke sektor padat pengetahuan yang emisinya lebih rendah. Ketergantungan pada sektor yang boros energi pun berkurang. Jasa digital juga membantu industri memakai teknologi yang menghemat energi untuk setiap unit barang yang dihasilkan.

Empat hal yang menggerakkan emisi BRICSEmpat hal yang menggerakkan emisi BRICSEmpat hal yang menggerakkan emisi BRICSKoefisien terhadap emisi karbon per orang, 2000-2022Jangka pendekJangka panjang0,8120,689Pendapatan perorang0,0880,095Kerumitan ekonomi-0,088-0,088Ekspor jasa TIK-0,381-0,359Energi terbarukanAngka positif berarti emisi naik, angka negatif berarti emisi turun.
Sumber: Neharika Singh dan Meenakshi Gupta, Modelling the impact of Information and Communication Technology (ICT) trade, economic complexity and energy structure on carbon neutrality: Evidence from BRICS, Economic Journal of Emerging Markets, 18(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Barang digital memberi hasil yang berbeda. Kedua penulis semula menduga ekspor barang teknologi informasi menaikkan emisi, sebab pembuatan komputer, telepon, semikonduktor, dan perangkat keras lain boros energi. Dugaan itu tidak terbukti. Ekspor barang teknologi informasi tidak berpengaruh bermakna terhadap emisi karbon per orang di lima negara tersebut.

Impor barang yang sama pun demikian. Sejak awal kedua penulis menyebut arah pengaruhnya belum pasti. Barang teknologi yang diimpor dapat membawa cara produksi yang lebih bersih dan hemat energi, tetapi dapat pula menambah pemakaian energi. Hasil hitungan mereka menunjukkan impor barang teknologi informasi tidak berpengaruh bermakna terhadap emisi. Dari perbandingan jasa dan barang itu kedua penulis menarik satu simpulan. Perluasan ekspor jasa teknologi informasi, menurut mereka, dapat menjadi cara memisahkan pertumbuhan ekonomi dari emisi. Alasannya, jasa tersebut memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan pembuatan barang teknologi informasi.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Ekonomi makin rumit, emisi makin tinggi

Sisi ketiga adalah kerumitan ekonomi. Ukuran ini menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan yang tertanam dalam susunan produksi suatu negara. Wujudnya terlihat dari kemampuan negara itu membuat dan mengekspor beragam barang yang canggih. Makin beragam dan makin canggih barang ekspornya, makin tinggi angka kerumitan ekonominya.

Di BRICS, kerumitan ekonomi berpengaruh positif dan bermakna terhadap emisi karbon per orang dalam jangka pendek dan jangka panjang. Kenaikan satu unit kerumitan ekonomi berkaitan dengan kenaikan 0,09 unit emisi karbon per orang dalam jangka panjang. Kedua penulis mengartikan hasil itu sebagai tanda bahwa kerumitan ekonomi di lima negara tersebut terkait dengan manufaktur yang boros sumber daya.

Kedua penulis mengingatkan bahwa penelitian terdahulu tentang hal ini tidak seragam. Sebagian menemukan kerumitan ekonomi menaikkan emisi ketika ekspor bergeser dari hasil pertanian ke manufaktur yang boros energi. Sebagian lain menemukan emisi justru turun di negara yang mengekspor barang bernilai tambah tinggi dan padat pengetahuan. Dampaknya, tulis mereka, bergantung pada susunan produksi dan bauran energi yang berlaku.

Energi makin bersih, emisi makin rendah

Sisi keempat adalah energi terbarukan, yang diukur sebagai porsinya dalam seluruh energi yang dipakai. Pengaruhnya terhadap emisi karbon per orang negatif dan bermakna, dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kenaikan satu unit porsi energi terbarukan menurunkan emisi karbon per orang sebesar 0,35 unit dalam jangka panjang.

Penjelasan yang ditawarkan kedua penulis singkat. Sumber energi terbarukan, tulis mereka, menghasilkan emisi yang lebih rendah sepanjang daur hidupnya dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Hasil itu mendukung manfaat lingkungan yang diharapkan dari peralihan ke sumber energi yang lebih bersih, dan sejalan dengan penelitian lain yang mereka rujuk.

Dagang teknologi dan emisi karbon BRICSDagang teknologi dan emisi karbon BRICSDagang teknologi dan emisi karbon BRICSData 2000-2022, pengaruh jangka panjang42%emisi karbonduniaporsi BRICS5negarayang diamati-0,08jasa TIKdiekspor, emisiturun-0,35energiterbarukanemisi turunJalan risetnyaLima negara BRICSDagang teknologiEmisi per orangEkspor dan impor barang TIK tidak berpengaruh signifikan.
Sumber: Neharika Singh dan Meenakshi Gupta, Modelling the impact of Information and Communication Technology (ICT) trade, economic complexity and energy structure on carbon neutrality: Evidence from BRICS, Economic Journal of Emerging Markets, 18(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kedua penulis lalu menguji hasil itu dengan cara hitung yang lain. Hasilnya secara umum sejalan. Pendapatan per orang dan kerumitan ekonomi tetap berkaitan positif dengan emisi. Porsi energi terbarukan dan ekspor jasa teknologi informasi tetap berkaitan negatif. Ekspor dan impor barang teknologi informasi tetap tidak bermakna.

Satu hal berubah dalam uji tersebut. Pengaruh urbanisasi terhadap emisi menjadi negatif dan bermakna, padahal dalam hitungan utama tidak bermakna. Kedua penulis menyebut sendiri batas itu, yakni bahwa pengaruh urbanisasi peka terhadap cara model disusun. Rentang 2000 sampai 2022 pun, menurut mereka, dipilih berdasarkan ketersediaan data.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Saran bagi sisi yang menurunkan emisi

Sesudah empat sisi itu, kedua penulis beralih ke saran. Untuk jasa digital, mereka menganjurkan kebijakan yang memudahkan tumbuhnya industri jasa teknologi informasi. Caranya dengan membangun lingkungan yang mendukung melalui investasi pada infrastruktur digital dan pengembangan keterampilan digital di lima negara tersebut.

Layanan yang mereka sebut meliputi pengembangan perangkat lunak, komputasi awan, konsultansi teknologi informasi, pemerintahan elektronik, dan perbankan digital. Layanan semacam itu, menurut mereka, tidak boros energi. Dalam naskah berbahasa Inggris itu Neharika Singh dan Meenakshi Gupta menulis, “ekspor jasa TIK dapat menjadi strategi pertumbuhan rendah karbon bagi perekonomian BRICS”. Untuk energi terbarukan, sarannya tertuju kepada pembuat kebijakan. Mereka diminta mengutamakan investasi pada infrastruktur energi terbarukan dan memperbesar subsidi bagi energi tersebut. Kedua penulis juga menganjurkan kerangka aturan yang mendorong dunia usaha beralih ke cara kerja yang berkelanjutan.

Saran bagi sisi yang menaikkan emisi

Untuk kerumitan ekonomi, sarannya berbeda arah. Pengaruh buruknya terhadap mutu lingkungan, tulis kedua penulis, menunjukkan bahwa negara perlu memadukan strategi peningkatan industri dengan tujuan lingkungan. Investasi mereka anjurkan diarahkan ke pengembangan kemampuan teknologi hijau, seperti penelitian dan pengembangan teknologi energi terbarukan serta cara manufaktur yang hemat energi.

Kedua penulis juga menimbang seberapa jauh sisi penurun dapat mengimbangi sisi penaik. Memperluas pemakaian energi terbarukan dan jasa teknologi informasi, menurut mereka, dapat membantu mengurangi emisi karbon. Namun, dalam naskah berbahasa Inggris itu mereka menulis bahwa “dampaknya terhadap pengurangan emisi tetap terbatas dibandingkan dengan tekanan emisi yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kompleksitas ekonomi”.

Karena itu, jalan pengurangan karbon yang lebih efektif menurut mereka menuntut perubahan pada sistem produksi. Mereka menyebut penurunan intensitas karbon pada industri yang rumit dan pemaduan energi terbarukan ke sektor bernilai tambah tinggi. Energi terbarukan dan jasa teknologi informasi mereka tempatkan sebagai faktor pendukung dalam strategi peralihan yang lebih menyeluruh menuju netralitas karbon.

Pada akhirnya, catatan dari lima negara itu memuat dua sisi yang berjalan bersamaan. Pendapatan per orang dan kerumitan ekonomi berjalan seiring dengan emisi yang naik, sedangkan jasa digital yang diekspor dan energi terbarukan seiring dengan emisi yang turun. Pertumbuhan yang digerakkan ekspor jasa teknologi informasi, simpul kedua penulis, dapat mendukung keberlanjutan dan perlu dipadukan dengan energi terbarukan, langkah hemat energi, serta peningkatan industri berbasis inovasi.

Bagikan

Baca Juga

Panggung Piramida Daft Punk Segera Hadir sebagai Set LEGO Resmi
Pendapatan Negara Naik, Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Turun
Pasien Diabetes di Desa India Masih Tertinggal Layanan Digital
Iklim dan Modal Asing Perlebar Ketimpangan di Empat Negara ASEAN
Pengiriman PC Dunia Anjlok 21 Persen akibat Harga RAM Melonjak
Pengawal Energi Dibuka, Lulusan Muda Awasi BBM di 3.679 SPBU