- Di antara para perokok itu, 43,85 persen sudah mulai pada usia 18 tahun atau kurang.
- Hanya 35,20 persen upaya berhenti yang bertahan 28 hari atau lebih, sedangkan 64,80 persen sisanya kandas.
- Di Barisal 53,62 persen upaya berhenti berhasil, sedangkan di Chattogram hanya 16,02 persen dan di Sylhet 28,62 persen.
- Lulusan sarjana berpeluang 2,23 kali lebih besar berhasil berhenti dibanding mereka yang tidak pernah bersekolah formal.
- Tinggal di kota atau di desa tidak membedakan satu pun dari ketiga perilaku merokok itu.
Daftar Isi
Lebih dari empat dari sepuluh perokok di Bangladesh sudah menyalakan batang pertamanya ketika usia mereka belum melewati 18 tahun, dan dari mereka yang kemudian mencoba berhenti, hampir dua dari tiga tidak mampu bertahan lebih dari empat pekan. Sekitar satu dari sepuluh perokok di negeri itu tergolong perokok berat, dan ketiga hal tersebut, yakni usia mulai, banyaknya rokok, serta keberhasilan berhenti, berbeda menurut divisi tempat tinggal dan jenjang pendidikan.
Gambaran itu disusun Zakia Sultana, Md. Fahim, dan Papia Sultana dalam Age of initiation, intensity and cessation of tobacco smoking among Bangladeshi adults: evidence from a cross-sectional nationally representative survey, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Ketiganya berasal dari Department of Statistics, University of Rajshahi, Bangladesh, dan mereka membaca jawaban 12.774 orang berusia 15 tahun ke atas dalam survei tembakau orang dewasa yang digelar di delapan divisi negeri itu pada 2017 sampai 2018.
Dari seluruh responden, yang terbagi nyaris sama rata antara laki-laki dan perempuan, 18,13 persen adalah perokok tembakau. Di antara para perokok itu, 43,85 persen sudah mulai pada usia 18 tahun atau kurang. Sisanya, 56,15 persen, baru mulai sesudah usia itu, dan para penulis mengingatkan lewat pustaka yang mereka rujuk bahwa mulai merokok pada usia muda memangkas harapan hidup sedikitnya sepuluh tahun dibanding orang yang tidak merokok.
Batang pertama yang datang terlalu cepat
Rata-rata laki-laki Bangladesh mulai merokok pada usia 20,05 tahun, dan usia mulai itu berbeda antarkelompok umur. Perokok yang saat survei berusia 15 sampai 25 tahun rata-rata sudah mulai pada usia 16,79 tahun, lebih awal daripada kelompok 25 sampai 35 tahun yang rata-rata mulai pada usia 19,79 tahun, dan kaitan antara umur responden dengan usia mulai itu tetap bertahan setelah faktor lain ikut ditimbang.
Jenjang pendidikan juga berkaitan dengan usia mulai merokok. Mereka yang tidak pernah mengenyam sekolah formal rata-rata mulai pada usia 19,75 tahun dan yang tidak tamat sekolah dasar pada usia 19,72 tahun, lebih dini daripada mereka yang berpendidikan lebih tinggi, sementara di antara kelompok pekerjaan, pelajar tercatat mulai pada usia 18,11 tahun dan mereka yang menganggur karena tidak mampu bekerja pada usia 17,39 tahun.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Usia mulai juga berbeda antardivisi. Mymensingh mencatat rata-rata usia mulai paling rendah di antara semua divisi, yakni 18,53 tahun, dan dalam perhitungan para penulis, perokok di Mymensingh serta Sylhet disebut mulai lebih awal dibanding perokok di Barisal. Jenis kelamin, umur, divisi tempat tinggal, dan jenjang pendidikan adalah empat hal yang menurut mereka berkaitan secara bermakna dengan usia seseorang mulai merokok.
Seberapa banyak yang diisap dalam sehari
Mulai merokok hanyalah satu wajah dari kebiasaan itu, sebab yang juga ditakar para penulis adalah berapa banyak produk tembakau, entah bidi, sigaret, atau churut, yang dihabiskan seseorang dalam sehari. Sebagian besar perokok, 66,05 persen, tergolong ringan dengan sepuluh produk atau kurang per hari, 23,17 persen tergolong sedang dengan 11 sampai 20 produk, dan 10,78 persen, kira-kira satu dari sepuluh, tergolong berat dengan lebih dari 20 produk sehari.
Laki-laki rata-rata menghabiskan 11,43 produk tembakau per hari dan perempuan 7,65 produk, sedangkan kelompok usia 45 sampai 54 tahun menjadi yang paling banyak mengisap, rata-rata 12,75 produk sehari. Di antara divisi, rata-rata tertinggi tercatat di Rangpur, 13,41 produk per hari, dan di antara kelompok pekerjaan, angka tertinggi ada pada mereka yang menganggur padahal mampu bekerja, 17,40 produk, disusul pemilik usaha besar, 14,70 produk.
Namun, ketika semua faktor ditimbang bersama, yang menonjol justru Mymensingh, divisi yang perokoknya tercatat merokok 4,72 kali lebih banyak dibanding perokok di Barisal, dengan rentang ketidakpastian 1,86 sampai 11,97. Divisi yang sama, dengan kata lain, muncul dua kali dalam naskah itu, sekali sebagai tempat orang mulai merokok paling muda dan sekali lagi sebagai tempat orang merokok paling banyak.
Jenis pekerjaan juga berkaitan dengan banyaknya rokok. Dibanding pegawai pemerintah, buruh tani tercatat merokok 90 persen lebih banyak, buruh harian 95 persen lebih banyak, dan pekerja mandiri lainnya 82 persen lebih banyak, sedangkan mereka yang menganggur padahal mampu bekerja merokok 2,22 kali lebih banyak. Buruh tani, buruh harian, dan penganggur yang mampu bekerja itulah yang oleh para penulis disebut sebagai pekerja berupah rendah yang lekat dengan intensitas merokok tinggi.
Para penulis menawarkan penjelasan untuk pola itu dengan merujuk penelitian lain. Menurut para penulis, tingginya konsumsi pada kelompok tersebut dapat diterangkan oleh tekanan kerja yang lebih besar, lingkungan kerja yang berat secara fisik, status sosial ekonomi yang lebih rendah, akses yang lebih sempit ke informasi kesehatan, serta norma yang lebih longgar terhadap rokok di tempat kerja.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Pekerjaan tidak berkaitan dengan dua perilaku lain. Dalam pembahasan mereka, para penulis menyatakan bahwa jenis pekerjaan tidak ditemukan berkaitan secara bermakna dengan usia mulai merokok ataupun dengan keberhasilan berhenti. Yang berkaitan secara bermakna dengan tingginya intensitas merokok, tulis mereka, adalah pekerjaan sebagai buruh tani, buruh harian, dan keadaan menganggur padahal mampu bekerja.
Kemauan berhenti yang tidak sampai empat pekan
Wajah ketiga adalah berhenti, dan di sinilah kebanyakan upaya kandas. Para penulis menanyakan berapa lama seorang perokok mampu menjauh dari rokok pada upaya berhentinya yang terakhir, lalu menyebut upaya itu berhasil bila ia bertahan 28 hari atau lebih. Hanya 35,20 persen upaya berhenti yang bertahan 28 hari atau lebih, sedangkan 64,80 persen sisanya kandas. Di antara laki-laki, keberhasilan itu tercatat 35,37 persen, sedangkan di antara perempuan 17,61 persen.
Atas ketiga wajah itu, para penulis menutup naskah dengan simpulan tentang tantangan yang masih ada. “Meskipun banyak upaya pengendalian tembakau dilakukan di Bangladesh dalam beberapa dekade terakhir, tantangan tetap ada, terutama menyangkut tingginya intensitas merokok, usia mulai yang dini, dan rendahnya angka berhenti,” tulis Sultana, Fahim, dan Sultana dalam naskah mereka yang berbahasa Inggris.
Latar kebijakannya diuraikan di bagian awal naskah. Naskah tersebut mencatat bahwa konvensi pengendalian tembakau Organisasi Kesehatan Dunia sudah diadopsi lebih dari 182 negara, tetapi pelaksanaan dan penegakannya sangat beragam, terutama di negara-negara Asia seperti Bangladesh, India, dan China, dan bahwa menurut lembaga yang sama sekitar 19,2 juta orang dewasa di Bangladesh adalah perokok aktif.
Peta yang membelah keberhasilan berhenti
Keberhasilan berhenti berbeda bermakna antardivisi. Di Barisal 53,62 persen upaya berhenti berhasil, sedangkan di Chattogram hanya 16,02 persen dan di Sylhet 28,62 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, perokok di Chattogram berpeluang 70 persen lebih kecil untuk berhasil berhenti dibanding perokok di Barisal, dan perokok di Sylhet 50 persen lebih kecil, dua selisih yang oleh para penulis dinyatakan bermakna.
Para penulis tidak memastikan sebab perbedaan antardivisi itu. Mereka menyebut bahwa perbedaan tersebut mungkin didorong oleh gabungan faktor sosial ekonomi, pengaruh teman sebaya, mudahnya memperoleh rokok, paparan di tempat kerja akibat ketiadaan aturan, norma budaya, serta terbatasnya kesadaran akan bahaya tembakau bagi kesehatan, dan bahwa usia mulai yang dini ikut menyumbang pada tingginya konsumsi di divisi-divisi itu.
Dua hal tidak ditemukan berkaitan dengan ketiga perilaku itu. Tinggal di kota atau di desa tidak membedakan satu pun dari ketiga perilaku merokok itu. Indeks kekayaan rumah tangga pun tidak ditemukan bermakna bagi usia mulai, banyaknya rokok, ataupun keberhasilan berhenti, sementara umur responden, yang berkaitan dengan usia mulai merokok, tidak ditemukan berkaitan dengan berhasil atau tidaknya seseorang berhenti.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Pendidikan disebut sebagai faktor pelindung
Pendidikan disebut para penulis berkaitan dengan ketiga perilaku itu. Lulusan sarjana berpeluang 2,23 kali lebih besar berhasil berhenti dibanding mereka yang tidak pernah bersekolah formal. Pada lulusan pascasarjana peluang itu 3,13 kali lebih besar, dan para penulis menyebut pendidikan sebagai faktor pelindung yang bermakna, karena jenjang yang lebih tinggi berkaitan dengan usia mulai yang lebih lambat, intensitas merokok yang lebih rendah, dan angka upaya berhenti yang lebih tinggi.
Dari sana para penulis menarik saran, yakni program dan aturan yang dirancang menurut sasarannya, sebab ketiga perilaku itu sangat berbeda menurut jenjang pendidikan dan letak wilayah. Mereka meminta tembakau diperlakukan sebagai zat adiktif yang diprioritaskan, dengan campur tangan yang ditujukan kepada pekerja berupah rendah dan penduduk berpendidikan rendah, serta kepada divisi dengan beban tinggi seperti Mymensingh, Rangpur, Chattogram, dan Sylhet.
Batas dari sebuah pengakuan
Namun, semua angka itu bersandar pada apa yang diceritakan para perokok tentang diri mereka sendiri. Para penulis mengakui bahwa data lapor-diri membuka peluang bias, baik karena ingatan yang meleset maupun karena keinginan menjawab sesuai yang dianggap pantas, dan bahwa faktor psikologis serta perilaku yang berkaitan dengan pemakaian tembakau tidak ikut dimasukkan, sehingga akar kebiasaan merokok belum bisa dipahami secara lebih utuh.
Kekayaan pun, menurut mereka, sulit ditakar dengan tepat, karena penanda tidak langsung yang dipakai bisa saja keliru menggambarkan keadaan keuangan responden. Keterbatasan lain menyangkut batasan berhasil berhenti. Ambang 28 hari, tulis para penulis, hanya mencerminkan sebuah upaya berhenti dan bukan berhenti yang bertahan dalam jangka panjang.















