- Dukungan keluarga dan pengawasan orang tua menaikkan regulasi diri remaja, bukan langsung menekan narkoba
- Keterlibatan komunitas menaikkan persepsi risiko, yang baru kemudian menekan penggunaan narkoba
- Niat perilaku menjadi jalur terkuat menuju penggunaan narkoba, dengan koefisien jalur 0,45
- Studi memakai data potong lintang dari 350 remaja 15-19 tahun sehingga hasilnya bersifat korelasi
Daftar Isi
Orang tua yang rajin mengawasi anak remajanya ternyata tidak langsung membuat anak itu menjauhi narkoba, setidaknya bukan secara langsung dalam satu model penelitian di Indonesia. Pengawasan itu justru berhenti dulu di satu tempat: kemampuan remaja mengendalikan dirinya sendiri. Baru dari sanalah, dan bukan dari pengawasan itu sendiri, jalan menuju penggunaan narkoba tertahan atau terbuka.
Pola ini ditulis Muhammad Azwar, Dian Furqani Hamdan, Ratnasari Iskandar, Lilis Widiastuty, dan Yudi Adnan dalam Behavioral and social pathways of adolescent drug use in Indonesia: implications for community-based prevention, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1031, tahun 2026. Mereka meneliti 350 remaja berusia 15 sampai 19 tahun di sekolah menengah dan komunitas pemuda, lalu memodelkan bagaimana faktor keluarga dan komunitas benar-benar sampai ke perilaku memakai narkoba.
Sampelnya cukup berimbang: 176 laki-laki dan 174 perempuan, lebih dari enam dari sepuluh masih duduk di sekolah menengah atas, dan sebagian besar, 331 dari 350 remaja, masih terdaftar aktif sebagai siswa saat data dikumpulkan. Sebagian besar juga tinggal bersama kedua orang tuanya, sementara sisanya terbagi antara yang tinggal dengan satu orang tua dan yang tinggal bersama kerabat. Latar yang beragam ini yang kemudian dipakai untuk menguji apakah pola jalur yang sama berlaku lintas kelompok.
Pengawasan yang Berhenti di Kendali Diri
Karena itulah dukungan keluarga dan pengawasan orang tua, dalam model ini, tidak berhubungan langsung dengan penggunaan narkoba remaja. Keduanya justru menaikkan satu variabel antara: regulasi diri, yakni kemampuan remaja mengelola dorongan dan mengambil keputusan. Dukungan keluarga menaikkan regulasi diri dengan koefisien jalur 0,29, dan pengawasan orang tua menaikkannya dengan koefisien 0,34, keduanya signifikan secara statistik pada taraf di bawah 0,001.
Regulasi diri yang sudah terbentuk itulah yang kemudian menekan penggunaan narkoba, dengan koefisien jalur negatif 0,28. Artinya keluarga tidak bekerja sebagai penghalang langsung di depan pintu narkoba, melainkan sebagai pembentuk kemampuan menahan diri jauh sebelum pintu itu didekati. Persoalannya, kemampuan menahan diri itu sendiri masih bisa kalah oleh faktor lain yang lebih dekat ke keputusan akhir, dan itulah yang belakangan diuji oleh tim peneliti lewat variabel yang berbeda sama sekali dari urusan keluarga.
Komunitas Mengubah Cara Melihat Risiko, Bukan Mengawasi Langsung
Jalur serupa berlaku untuk komunitas. Keterlibatan remaja dalam kegiatan komunitas atau kelompok pemuda dikaitkan dengan naiknya persepsi risiko, yakni seberapa besar remaja itu menyadari bahaya penggunaan narkoba, dengan koefisien jalur 0,27 dan signifikansi di bawah 0,001. Bukan pengawasan sosial langsung dari tetangga atau tokoh masyarakat yang tampak berperan, melainkan paparan berulang pada norma dan informasi pencegahan lewat kegiatan terstruktur itu.
Persepsi risiko yang terbentuk kemudian menekan penggunaan narkoba dengan koefisien jalur negatif 0,24, signifikan pada taraf 0,001. Yang membuatnya rumit, sama seperti pada keluarga, komunitas dalam model ini juga tidak punya hubungan langsung dengan penggunaan narkoba. Pengaruhnya berhenti dulu di persepsi risiko, baru dari sana menjalar ke perilaku. Program pencegahan yang sekadar mengumpulkan remaja tanpa menaikkan kesadaran risiko, menurut logika model ini, tidak akan banyak mengubah apa pun.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Titik Paling Dekat ke Keputusan Memakai
Di ujung rantai sebab-akibat itu ada satu variabel yang bekerja berbeda dari yang lain: niat perilaku, yakni kecenderungan remaja untuk benar-benar berniat memakai narkoba. Niat ini bukan hasil dari regulasi diri atau persepsi risiko dalam alur yang digambar peneliti, melainkan berdiri sebagai prediktor sendiri, dan pengaruhnya terhadap penggunaan narkoba justru yang terkuat dari semua jalur: koefisien jalur positif 0,45, jauh melampaui angka regulasi diri maupun persepsi risiko, dengan signifikansi di bawah 0,001.
Bayangkan regulasi diri dan persepsi risiko sebagai rem yang dipasang jauh dari kemudi, sementara niat perilaku adalah tangan yang sudah memegang kemudi itu sendiri. Rem yang baik memang memperlambat, tetapi begitu tangan sudah mengarahkan ke satu arah, kekuatan rem tidak selalu cukup menahannya. Perumpamaan ini tidak ada di paper, tetapi menggambarkan mengapa niat perilaku muncul sebagai jalur paling kuat menuju penggunaan narkoba dalam model yang mereka susun.
Ketika Faktor Pelindung Saja Belum Cukup
Karena niat perilaku berdiri sebagai jalur tersendiri, remaja dengan regulasi diri kuat dan persepsi risiko tinggi tetap bisa memiliki niat memakai narkoba yang tinggi, dan sebaliknya. “Behavioural intention emerged as the strongest and most proximal predictor of drug use,” tulis Muhammad Azwar, Dian Furqani Hamdan, Ratnasari Iskandar, Lilis Widiastuty, dan Yudi Adnan dalam ringkasan hasil penelitian mereka yang berbahasa Inggris.
Kalimat berbahasa Inggris itu, dalam terjemahannya, berarti niat perilaku muncul sebagai prediktor penggunaan narkoba yang paling kuat sekaligus paling dekat dengan tindakan itu sendiri, mengungguli seluruh jalur lain yang sudah lebih dulu dijelaskan di atas. Posisinya di ujung rantai sebab-akibat membuatnya sulit disentuh hanya lewat penguatan regulasi diri atau persepsi risiko semata, karena keduanya terbukti tidak sepenuhnya menjelaskan dari mana niat itu berasal.
Temuan ini membuat mereka menyimpulkan bahwa strategi pencegahan berbasis komunitas perlu menyasar niat perilaku dan norma yang membentuknya secara langsung, bukan hanya berharap regulasi diri dan persepsi risiko yang sudah terbangun akan otomatis meredam niat itu. Kampanye kesadaran risiko semata, tanpa menyentuh sikap dan norma yang membentuk niat, berisiko berhenti di setengah jalan menurut kerangka yang mereka bangun.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Model ini dibangun dari data potong lintang yang diambil dalam satu rentang waktu, sehingga urutan sebab-akibat yang digambarkan sebenarnya adalah urutan teoretis yang diuji secara statistik, bukan urutan kejadian yang benar-benar diamati satu demi satu pada remaja yang sama dari waktu ke waktu. Peneliti sendiri menulis bahwa desain potong lintang ini membatasi kemampuan menetapkan urutan waktu dan hubungan kausal di antara konstruk perilaku, kognitif, dan sosial yang mereka ukur, sehingga asosiasi yang ditemukan sepatutnya dibaca sebagai korelasi, bukan sebab-akibat yang pasti.
Seluruh data juga berasal dari laporan sendiri remaja lewat kuesioner tentang topik yang sensitif, yang menurut peneliti rentan bias mengingat dan bias ingin tampak baik di mata orang lain, meski kuesioner diisi secara anonim untuk mengurangi kecenderungan itu. Konteks penelitian pun spesifik pada sosiokultural Indonesia dengan kohesi keluarga dan norma komunitas yang kuat, sehingga generalisasi pola jalur ini ke masyarakat dengan struktur keluarga atau komunitas yang berbeda perlu dilakukan dengan hati-hati.
Kejanggalan yang Tersisa di Susunan Tabel
Ada satu hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang menelusuri naskah aslinya. Tabel hasil pengukuran model, yang semestinya berisi angka keandalan tiap indikator seperti outer loading, reliabilitas komposit, dan variansi rata-rata yang terekstraksi, justru tercetak terpotong dan bercampur dengan beberapa paragraf pembahasan tentang karakteristik sosio-demografis peserta. Angka-angkanya sendiri masih bisa ditelusuri satu per satu, tetapi peletakannya di badan naskah tidak rapi dan berpotensi membuat pembaca yang ingin mencocokkan indikator dengan angkanya kebingungan sejenak.
Kejanggalan kedua ada di bagian pendahuluan, yang mengutip angka prevalensi nasional dari Badan Narkotika Nasional, yakni 3,2 persen di sektor pelajar dan mahasiswa atau setara sekitar 2,3 juta orang, sebagai gambaran skala masalah. Angka itu berasal dari survei nasional yang berbeda, bukan dari 350 remaja yang benar-benar diteliti dalam model jalur ini, dan naskahnya tidak menjelaskan bagaimana kedua skala data yang berbeda sumber itu semestinya dibaca berdampingan.
Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu
Kembali ke kejanggalan di awal: pengawasan orang tua yang ketat memang tetap penting dalam model ini, hanya saja kepentingannya tidak berdiri sendiri di depan pintu narkoba. Ia bekerja lebih jauh ke belakang, membentuk kemampuan menahan diri yang baru kemudian ikut menentukan arah, sementara niat remaja itu sendiri tetap menjadi jalur yang paling dekat dan paling kuat menuju keputusan memakai atau tidak.














