- Tes kulit C-TST pada 22.109 siswa baru SMA di Taizhou menemukan 167 positif, angka infeksi TB 0,76 persen
- Riwayat TB keluarga menaikkan peluang infeksi 7,75 kali, etnis non-Han 4,21 kali, parut BCG menurunkannya jadi 0,52 kali
- Riwayat kontak TB dan tinggal di asrama gugur setelah dihitung bersama; gejala batuk dan demam tidak berkaitan
- Studi potong lintang; naskah memuat interval kepercayaan asrama yang tidak memuat titik estimasinya
Daftar Isi
Hanya 0,76 persen remaja Taizhou terinfeksi kuman TB. Angka itu dari tes kulit pada 22.109 siswa baru SMA usia 15 sampai 17 tahun. Rata-rata penduduk Tiongkok jauh di atasnya, 13 sampai 20 persen.
Temuan itu ditulis Cheng Chen, Jiongya Liu, Xinsong Hu, Yan Shao, Qiao Liu, Changdong Miao, dan Limei Zhu dalam Tuberculosis infection and related factors among 15–17 years old teenagers in Eastern China. Artikelnya terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1414, tahun 2026. Limei Zhu penulis korespondensinya.
Sebagian besar penulis bekerja di Center for Disease Control and Prevention of Jiangsu Province di Nanjing. Jiongya Liu tercatat di CDC Jingjiang dan School of Public Health, Nanjing Medical University. Changdong Miao dari CDC Kota Taizhou.
Satu Kota, 65 Sekolah
Taizhou ada di Tiongkok timur. Insiden TB di kota itu sekitar 30 per 100.000 penduduk. Setiap siswa baru SMA di sana wajib menjalani tes infeksi TB sebagai bagian pemeriksaan kesehatan masuk sekolah.
Pada Agustus 2022 ada 30.011 siswa baru dari 65 SMA. Sebanyak 729 siswa menolak dites, dan 29.282 sisanya menjalani tes. Yang masuk analisis akhirnya 22.109 siswa, setelah 7.038 siswa tidak melengkapi kuesioner dan 135 datanya tidak valid.
Siswa laki-laki 57,85 persen dan perempuan 42,15 persen, dengan etnis Han 99,20 persen dan etnis lain 0,80 persen. Hampir seperempat siswa, tepatnya 22,56 persen, masuk kategori obesitas, dan 20,30 persen berbobot kurang. Dalam tiga bulan terakhir 18,16 persen siswa mengaku batuk dan 13,92 persen demam.
Infeksi TB berbeda dari sakit TB. Peneliti mendefinisikannya sebagai respons imun yang menetap terhadap antigen Mycobacterium tuberculosis tanpa tanda TB aktif. Kasus TB baru, tulis mereka, terutama muncul dari kelompok yang sudah terinfeksi ini.
Alat tesnya bernama C-TST, dulu disebut tes ESAT6-CFP10. Ini tes kulit berbasis antigen kuman TB yang direkomendasikan WHO pada 2022. Hasil dibaca 48 sampai 72 jam setelah suntikan, dan rata-rata diameter indurasi atau kemerahan 5 milimeter ke atas dihitung positif.
Peneliti memilih C-TST karena hasilnya tidak terpengaruh vaksinasi BCG. Tes lama PPD dinilai sering melebihkan angka infeksi, dan riset sebelumnya dengan PPD pada siswa memberi angka di atas 5 persen. Uji klinis mereka sebelumnya menunjukkan C-TST sebanding dengan tes darah T-SPOT.TB.
Angka Kecilnya
Hasilnya 167 siswa positif. Angka infeksinya 0,76 persen, dengan interval kepercayaan 0,65 sampai 0,88 persen. Siswa yang dikeluarkan dari analisis tetapi sempat dites punya angka 0,6 persen, tepatnya 43 dari 7.173 orang, dan bedanya tidak bermakna dengan nilai P 0,358.
Kebanyakan siswa tidak bereaksi sama sekali, 91,66 persen tanpa indurasi maupun kemerahan. Dari yang negatif, 92,36 persen benar-benar nol milimeter dan 7,58 persen berada di antara nol dan 5 milimeter. Pola itu, tulis peneliti, berbeda dari tes PPD yang lebih dari separuh pesertanya bereaksi sedang.
Yang positif terbagi tiga. Diameter 5 sampai 9,99 milimeter 0,19 persen, 10 sampai 19,99 milimeter 0,28 persen, dan 20 milimeter ke atas 0,28 persen. Median diameter siswa positif 16,5 milimeter, dekat dengan hasil uji klinis fase 2a C-TST sebesar 17,0 milimeter.
Jenis kelamin tidak membedakan. Laki-laki positif 0,66 persen dan perempuan 0,88 persen, dengan nilai P 0,07. Angka infeksi antarsekolah bervariasi, dan beberapa sekolah tidak punya satu pun siswa positif.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Tiga Faktor Bertahan
Peneliti menguji puluhan faktor satu per satu. Lima yang bermakna: etnis non-Han, parut BCG, riwayat kontak dengan penderita TB, riwayat TB dalam keluarga, dan tinggal di asrama. Lima faktor itu lalu dihitung bersama dalam satu model.
Setelah dihitung bersama, tinggal tiga yang bertahan. Riwayat TB keluarga paling kuat, peluangnya 7,75 kali dengan interval 2,44 sampai 24,57. Etnis non-Han 4,21 kali dengan interval 1,49 sampai 11,87, dan nilai P keduanya di bawah atau sama dengan 0,01.
Faktor ketiga bekerja sebaliknya. Siswa berparut BCG punya peluang infeksi 0,52 kali dibanding yang tidak berparut, dengan interval 0,30 sampai 0,91. Angka mentahnya 0,59 persen berbanding 1,09 persen, atau 71 dari 12.052 siswa berparut berbanding 16 dari 1.467 siswa tanpa parut.
Jumlah siswa di kelompok berisiko sangat kecil. Yang punya riwayat TB keluarga hanya 116 siswa dan etnis non-Han 176 siswa, masing-masing empat positif. Interval kepercayaannya karena itu sangat lebar, sampai 24,57 untuk riwayat keluarga.
Kontak dan Asrama Gugur
Riwayat kontak dengan penderita TB tampak kuat di awal. Peluangnya 3,05 kali saat dihitung sendiri. Dalam model gabungan angkanya turun ke 1,77 kali dengan interval 0,57 sampai 5,53, dan tidak lagi bermakna.
Peneliti menduga ingatan siswa jadi penyebabnya. Bias ingatan bisa membuat paparan TB tercatat lebih rendah dari sebenarnya, sehingga efek risikonya melemah. Riwayat keluarga justru tetap bermakna, dan peneliti menghubungkannya dengan penularan di dalam rumah.
Asrama juga gugur, peluang siswa asrama 1,62 kali saat dihitung sendiri, lalu jadi 0,71 kali dan tidak bermakna dalam model gabungan. Jumlah kamar tidur di rumah nasibnya sama, 1,23 kali dan tidak bermakna. Peneliti tetap menulis bahwa kondisi hunian yang lebih baik akan membantu menekan risiko infeksi.
Batuk, dahak, demam, keringat malam, dan berat turun tidak berkaitan dengan infeksi. Peneliti ingin tahu apakah gejala TB bisa jadi penanda infeksi. Jawabannya tidak untuk populasi ini, termasuk nyeri dada dan sesak napas.
Berat badan rendah juga tidak, padahal peneliti semula menduga siswa kurus lebih rentan. Data 22.109 siswa tidak mendukungnya, dan sebuah meta-analisis yang mereka kutip memberi hasil serupa. Siswa obesitas pun tidak berbeda dari siswa berbobot normal.
Jam belajar, jam tidur, merokok, alkohol, dan pendidikan orang tua tidak bermakna. Paparan asap rokok di rumah dan jumlah penghuni juga tidak. Lama tinggal di daerah itu kurang dari enam bulan hanya mendekati batas bermakna, dengan nilai P 0,07.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Lebih Rendah dari Barat
Peneliti membandingkan dengan Tiongkok barat, tempat tes C-TST pada siswa SMA memberi angka 1,10 persen. Insiden TB di wilayah itu 64,82 per 100.000, lebih dari dua kali Taizhou. Tes PPD pada siswa SMA di barat bahkan memberi 3,73 persen.
Sepuluh tahun sebelumnya angkanya jauh lebih tinggi. Riset Gao dan rekan pada 2013 dengan IGRA di Tiongkok timur menemukan 3 persen untuk usia 10 sampai 19 tahun. Insiden TB nasional 2014 tercatat 67,05 per 100.000 dan turun separuh dalam sepuluh tahun.
Penurunan itu jadi penjelasan utama. Rendahnya infeksi pada siswa sekarang, tulis peneliti, disebabkan turunnya insiden TB secara drastis. Untuk etnis non-Han, mereka menduga migrasi dari barat ke timur Tiongkok, karena insiden TB di wilayah barat relatif tinggi.
Kesimpulannya ditulis dalam naskah berbahasa Inggris. “Hasil kami menunjukkan prevalensi infeksi TB di kalangan pelajar remaja rendah. Vaksinasi BCG berkaitan dengan risiko infeksi TB yang lebih rendah,” tulis Cheng Chen dan rekan-rekannya, dan kalimat aslinya our results indicated the prevalence of TBI among teenage students was low. BCG vaccination was associated with a lower risk of TBI.
Batas Datanya
Penelitiannya potong lintang. Peneliti menegaskan risiko siswa terinfeksi berkembang jadi TB aktif tidak bisa dinilai, dan perlu pemantauan lanjutan. Angka infeksi yang rendah membuat sejumlah faktor tidak bermakna, dan jumlah siswa positif yang sedikit menghasilkan variasi antarsekolah.
Hasilnya tidak bisa digeneralisasi ke kelompok usia lain. Peneliti meminta studi serupa di bagian lain Tiongkok timur. Sebanyak 2,4 persen siswa menolak dites, dan kuesioner isian sendiri membuka bias ingatan.
Angka yang Perlu Dicek
Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Tabel 2 menulis peluang siswa asrama 1,62 kali dengan interval 1,88 sampai 2,21. Titik estimasinya berada di luar intervalnya sendiri.
Angka parut BCG muncul dua versi. Bagian hasil menulis peluang 0,68 kali dengan interval 0,50 sampai 0,92 dan nilai P 0,01. Tabel 1 dan paragraf berikutnya menulis 0,54 kali, interval 0,31 sampai 0,93, nilai P 0,03.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Baris sesak napas di Tabel 1 juga janggal, tertulis 362 siswa negatif dan 1 positif dengan persentase positif 1,36 persen. Satu dari 363 seharusnya 0,28 persen. Peluang 0,36 kali di baris itu dihitung dari angka yang sama.
Data parut BCG hanya terisi 13.519 siswa dari 22.109. Naskah tidak menjelaskan status 8.590 siswa sisanya. Diskusi juga menyebut riwayat kontak tidak bermakna, padahal dalam analisis satu faktor nilai P-nya di bawah 0,01.
Sisa Pertanyaan
Peneliti menyarankan tes infeksi TB diarahkan ke kelompok berisiko. Datanya memang menunjuk riwayat keluarga, etnis, dan parut BCG. Tetapi 167 siswa positif itu belum tentu akan sakit, dan naskah tidak memantaunya.
Yang tersisa adalah pertanyaan tentang 8.590 siswa tanpa data BCG dan 729 siswa yang menolak dites. Angka 0,76 persen berdiri di atas siswa yang bersedia dites dan mengisi kuesioner. Sisanya tidak diketahui.















