- Penggemar mengantre sejak dini hari demi rilisan terbaru kartu Pokemon di London
- Antrean diperkirakan separuh penggemar dan separuh pedagang yang hendak menjual lagi
- Toko membatasi pembelian satu kotak per orang untuk menangkal calo
- Pakar menyebut permintaan sudah melampaui kapasitas mesin cetak
Cekricek.id — Demam kartu Pokémon membuat penggemar rela mengantre sejak dini hari demi rilisan terbaru. Namun, mereka kini harus bersaing dengan calo dan pedagang yang memburu kartu untuk dijual kembali dengan harga tinggi.
Melansir laporan The Guardian, Sabtu (7/11/2026), antrean di depan toko budaya pop Forbidden Planet di pusat kota London mengular melewati lima toko lain sebelum toko dibuka pukul 10.00 pada Jumat. Lebih dari 120 orang mengantre, dan menurut seorang penggemar bernama Kai yang sudah datang sejak pukul 03.00, separuhnya diperkirakan adalah pedagang.
Kai, 25 tahun, menyalahkan orang-orang dari dunia kripto yang ikut terjun ke Pokémon sebagai pemicu tingginya minat membeli kartu demi untung. “Kartu-kartunya dulu murah, tetapi harganya melonjak,” katanya.
Baca juga Penjualan Nintendo Switch 2 Anjlok 41 Persen, Harga Kian Mahal
Dibatasi Satu per Orang
Seperti toko lain, Forbidden Planet membatasi pembelian produk yang paling dicari, yakni kotak Delta Reign “elite trainer” seharga 49,99 poundsterling, hanya satu per pembeli. Toko itu juga menerapkan kebijakan membuka segel kemasan atas permintaan pemasok, sehingga produk tak bisa dijual kembali sebagai barang baru.
Para pembeli paling gigih bahkan berpindah dari satu toko ke toko lain dengan sepeda listrik. Sebagian lainnya dilaporkan mengakali batas pembelian dengan berganti pakaian. Sejumlah toko kini hanya menjual kartu secara daring, sementara Amazon memakai sistem pembelian khusus undangan untuk menangkal bot calo.
Permintaan Lampaui Kapasitas Mesin
Meski Pokémon memproduksi sekitar 10 miliar kartu per tahun, ahli strategi fandom dan budaya pop Calvin Innes menilai permintaan sudah “melampaui kapasitas mesin, sehingga semua hal lainnya, mulai dari bot, calo, hingga antrean, berpangkal pada adanya batas pasokan yang ketat.”
“Bukan mustahil bagi anak-anak untuk mendapatkan kartu, tetapi pengalaman membelinya sudah menjadi sangat buruk,” kata Innes, penulis buku Fandom Power: Marketing in the Age of Nerd Culture. “Sebagai ayah dari tiga anak yang semuanya menyukai Pokémon, ini menyebalkan.”
Baca juga Remake Zelda: Ocarina of Time Rilis 5 November di Switch 2
Pemilik pusat permainan Hull Pops Gaming Centre di Hessle, East Yorkshire, Daniel Garnett, mengaku berusaha menyisihkan stok untuk pemain tetap di klub anak yang ia kelola secara gratis. “Sayangnya, sekitar sebulan lalu, banyak orang tua membawa anak mereka semata-mata untuk membeli produk, tanpa niat bermain atau mengikuti sesi,” ujarnya.
Innes menyarankan orang tua membeli kartu satuan dari toko kartu atau penjual tepercaya, atau datang ke acara prarilis dan liga di toko gim yang biasanya berbiaya 25 hingga 30 poundsterling. Di acara itu, anak biasanya mendapat kartu yang dijamin sekaligus kesempatan memainkan gimnya.
Baca juga Free Fire Kembali ke India Empat Tahun Setelah Diblokir















