Perokok Berat Timur Laut China Rentan Darah Tinggi dan Diabetes

A A

Ilustrasi tangan lansia bermanset tensimeter yang tersambung ke tensimeter digital di meja [Foto: Pexels]

  • Dari 78.674 warga Jilin berusia 35 sampai 75 tahun, 16.401 orang atau 20,85 persen tercatat sebagai perokok.
  • Perokok berat yang masih merokok mencatat rasio odds 1,38 untuk hipertensi, 1,32 untuk dislipidemia, dan 1,14 untuk diabetes.
  • Rasio odds dislipidemia naik dari 1,05 pada 1 sampai 5 batang menjadi 1,81 pada 31 batang atau lebih per hari.
  • Lamanya berhenti merokok tidak berhubungan dengan risiko ketiga penyakit, kecuali diabetes pada rentang 2 sampai 3 tahun dan 7 sampai 20 tahun.
Daftar Isi
  1. Perokok Berat: Merokok Empat Hari atau Lebih Seminggu
  2. Dislipidemia: Kadar Lemak Darah di Luar Ambang
  3. Rasio Odds: Peluang Dibanding yang Tak Pernah Merokok
  4. Dosis-Respons: Makin Banyak Batang, Makin Tinggi Peluang
  5. Lama Merokok: Naik sampai 31 Tahun, lalu Turun
  6. Lama Berhenti: Masa Sejak Rokok Ditinggalkan

Dalam sebuah penelitian besar di Provinsi Jilin, timur laut China, perokok berat tidak ditentukan dari banyaknya batang yang diisap. Ukurannya adalah berapa hari dalam seminggu seseorang merokok.

Ukurannya sederhana. Perokok berat adalah warga yang merokok setidaknya empat hari dalam seminggu, sedangkan perokok ringan merokok kurang dari tiga hari seminggu. Dengan pembagian itu, para peneliti menemukan bahwa perokok berat, baik yang masih merokok maupun yang sudah berhenti, lebih rentan mengidap darah tinggi, diabetes, dan dislipidemia.

Penelitian itu ditulis Qian Zhao dan rekan dari Suzhou Vocational Health College serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jilin. Laporan mereka berjudul Connection of smoking with risks of dyslipidemia, diabetes, and hypertension among adults in Northeast China: a cross-sectional study dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Datanya berasal dari program skrining dini penyakit jantung dan pembuluh darah Provinsi Jilin pada 2020. Sebanyak 78.674 warga berusia 35 sampai 75 tahun dari 62 puskesmas dan rumah sakit di sepuluh kota dan prefektur diperiksa darah serta tekanan darahnya, lalu ditanya tentang kebiasaan merokok.

Hasil besarnya bisa diringkas dalam satu kalimat. Status merokok, jumlah rokok, dan lamanya merokok berhubungan dengan risiko ketiga penyakit itu, sedangkan lamanya berhenti merokok tidak.

Perokok Berat: Merokok Empat Hari atau Lebih Seminggu

Sebelum menghitung risiko, para peneliti memilah warga ke beberapa kelompok. Yang tidak pernah merokok adalah warga yang seumur hidupnya mengisap kurang dari 100 batang. Perokok saat ini adalah yang masih merokok dalam 30 hari terakhir, sedangkan mantan perokok adalah yang sudah berhenti paling sedikit satu bulan.

Maksudnya, seorang mantan perokok berat adalah orang yang dulu merokok empat hari atau lebih dalam seminggu, lalu berhenti. Pembagian berat dan ringan berlaku untuk perokok saat ini maupun mantan perokok, sehingga ada empat kelompok yang dibandingkan dengan warga yang tidak pernah merokok.

Perokok lebih banyak mengidap tiga penyakitDislipidemia: Perokok (16.401 orang) 37,80%, Bukan perokok (62.273 orang) 31,48%; Diabetes: Perokok (16.401 orang) 23,33%, Bukan perokok (62.273 orang) 20,85%; Hipertensi: Perokok (16.401 orang) 48,50%, Bukan perokok (62.273 orang) 41,09%.Perokok lebih banyak mengidap tiga penyakitPersen pengidap di tiap kelompok, warga Jilin usia 35-75tahun, 2020Perokok (16.401 orang)Bukan perokok (62.273 orang)0%20%40%60%37,80%31,48%Dislipidemia23,33%20,85%Diabetes48,50%41,09%HipertensiSemua selisih P<0,001. Tabel 1
Sumber: Qian Zhao dan rekan, Connection of smoking with risks of dyslipidemia, diabetes, and hypertension among adults in Northeast China: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari 78.674 warga, 16.401 orang atau 20,85 persen tercatat sebagai perokok, kira-kira satu dari lima orang. Bedanya tajam menurut jenis kelamin. Sebanyak 40,02 persen laki-laki merokok, sementara pada perempuan angkanya 7,85 persen. Perokok juga lebih banyak ditemukan pada warga berpendidikan SD dan SMP serta pada petani, pekerja kehutanan, dan nelayan. Di kelompok perokok, 45,15 persen bekerja di pertanian, kehutanan, atau perikanan, sedangkan di kelompok bukan perokok angkanya 28,31 persen. Laki-laki mencapai 77,57 persen dari kelompok perokok dan 30,62 persen dari kelompok bukan perokok.

Para peneliti punya penjelasan untuk wilayah ini. Menurut mereka, musim dingin yang panjang dan keras serta kegiatan waktu luang yang monoton membuat kebiasaan merokok tinggi di kalangan warga Timur Laut China. Survei mereka pada 2012 mencatat 30,8 persen orang dewasa usia 18 sampai 79 tahun di wilayah itu merokok.

Dislipidemia: Kadar Lemak Darah di Luar Ambang

Dislipidemia mungkin istilah paling asing dari ketiga penyakit itu. Para peneliti menetapkannya dari kadar lemak darah menurut pedoman China tahun 2007: trigliserida 2,26 mmol/L atau lebih, kolesterol total 6,22 mmol/L atau lebih, kolesterol LDL 4,14 mmol/L atau lebih, atau kolesterol HDL di bawah 1,04 mmol/L.

Dua penyakit lain lebih akrab. Diabetes ditetapkan bila gula darah puasa mencapai 7,0 mmol/L atau lebih. Hipertensi atau darah tinggi ditetapkan bila tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih. Warga yang sudah didiagnosis dokter atau minum obat dalam dua minggu terakhir juga dihitung sebagai pengidap. Hasilnya, 32,80 persen warga mengidap dislipidemia, 21,37 persen mengidap diabetes, dan 42,63 persen mengidap hipertensi. Darah tinggi menjadi yang paling banyak.

Baca juga Kunjungan Hipertensi Naik pada Hari Bursa Saham China Turun

Di antara perokok, angkanya lebih tinggi. Sebanyak 37,80 persen perokok mengidap dislipidemia, dibanding 31,48 persen pada bukan perokok. Diabetes tercatat 23,33 persen pada perokok dan 20,85 persen pada bukan perokok, sedangkan hipertensi 48,50 persen berbanding 41,09 persen.

Laki-laki juga lebih banyak mengidap ketiganya. Dislipidemia tercatat 36,91 persen pada laki-laki dan 30,01 persen pada perempuan, diabetes 22,48 persen berbanding 20,62 persen, dan hipertensi 45,27 persen berbanding 40,84 persen. Pengidap diabetes dan hipertensi rata-rata juga lebih tua daripada yang tidak mengidapnya.

Rasio Odds: Peluang Dibanding yang Tak Pernah Merokok

Para peneliti tidak berhenti pada persentase. Mereka lalu menghitung rasio odds dengan kelompok acuan warga yang tidak pernah merokok, yang bernilai 1,00. Hitungan itu disesuaikan dengan jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, indeks massa tubuh, dan beberapa faktor lain.

Perokok berat yang masih merokok mencatat rasio odds 1,38 untuk hipertensi, 1,32 untuk dislipidemia, dan 1,14 untuk diabetes. Mantan perokok berat mencatat 1,35 untuk hipertensi, 1,30 untuk dislipidemia, dan 1,39 untuk diabetes. Keenam angka itu bermakna secara statistik. Pada perokok ringan, gambarannya lain. Baik perokok ringan saat ini maupun mantan perokok ringan tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan ketiga penyakit setelah penyesuaian. Rasio odds hipertensi perokok ringan saat ini, misalnya, tercatat 0,96 dengan nilai P 0,595.

Dosis-Respons: Makin Banyak Batang, Makin Tinggi Peluang

Para peneliti juga menilai hubungan dosis-respons antara kebiasaan merokok dan ketiga penyakit. Salah satu ukurannya jumlah batang rokok per hari, yang dibagi menjadi 1 sampai 5 batang, 6 sampai 14, 15 sampai 20, 21 sampai 30, dan 31 batang atau lebih.

Makin banyak batang, makin tinggi peluang dislipidemia0 batang (acuan) 1,00; 1-5 batang 1,05; 6-14 batang 1,08; 15-20 batang 1,42; 21-30 batang 1,68; 31 batang atau lebih 1,81.Makin banyak batang, makin tinggi peluangdislipidemiaRasio odds dislipidemia yang disesuaikan menurut jumlahrokok per hari0,00,51,01,52,00 batang (acuan)1,001-5 batang1,056-14 batang1,0815-20 batang1,4221-30 batang1,6831 batang atau lebih1,81Kelompok 1-5 batang tidak bermakna (P=0,500). Tabel 3
Sumber: Qian Zhao dan rekan, Connection of smoking with risks of dyslipidemia, diabetes, and hypertension among adults in Northeast China: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada dislipidemia, rasio odds-nya 1,05 pada 1 sampai 5 batang, naik menjadi 1,42 pada 15 sampai 20 batang, 1,68 pada 21 sampai 30 batang, dan 1,81 pada 31 batang atau lebih. Pada kelompok 1 sampai 5 batang, angka 1,05 itu tidak bermakna.

Diabetes mengikuti arah serupa dari ujung ke ujung. Rasio odds-nya 1,15 pada 1 sampai 5 batang dan 1,61 pada 31 batang atau lebih. Untuk hipertensi, angkanya 1,28 pada kelompok paling sedikit dan 1,52 pada kelompok paling banyak, dengan puncak 1,80 pada 21 sampai 30 batang. Naiknya tidak lurus. Analisis lanjutan para peneliti menunjukkan hubungan jumlah rokok dengan ketiga penyakit berbentuk nonlinear.

Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti

Lama Merokok: Naik sampai 31 Tahun, lalu Turun

Ukuran berikutnya adalah berapa tahun seseorang sudah merokok. Peluang ketiga penyakit naik dari kelompok 1 sampai 18 tahun ke kelompok 19 sampai 31 tahun. Untuk dislipidemia, rasio odds-nya naik dari 1,44 menjadi 1,60, sedangkan untuk hipertensi dari 1,32 menjadi 1,43.

Pada diabetes, kelompok 1 sampai 18 tahun belum bermakna dengan rasio odds 1,09. Angkanya menjadi 1,36 pada 19 sampai 31 tahun dan 1,35 pada 32 sampai 40 tahun. Menurut para peneliti, dua rentang lama merokok itu berhubungan dengan meningkatnya risiko diabetes. “Secara klinis, temuan ini menyiratkan bahwa program berhenti merokok tidak hanya perlu berfokus pada pengelolaan berat badan, tetapi juga mencakup pemantauan metabolik jangka panjang, terutama bagi mantan perokok berat dengan riwayat merokok yang panjang,” tulis Zhao dan rekan, dalam terjemahan bebas.

Setelah itu, angkanya justru turun. Dari kelompok 32 sampai 40 tahun ke kelompok 52 tahun atau lebih, rasio odds hipertensi turun dari 1,41 ke 1,12 dan dislipidemia dari 1,27 ke 0,98. Pada diabetes, kelompok 52 tahun atau lebih mencatat 0,75. Bentuk hubungannya juga nonlinear. Untuk hipertensi, para peneliti mencatat peluang yang lebih tinggi pada empat rentang sekaligus, yakni 1 sampai 18 tahun, 19 sampai 31 tahun, 32 sampai 40 tahun, dan 41 sampai 51 tahun.

Lama Berhenti: Masa Sejak Rokok Ditinggalkan

Ukuran terakhir adalah lamanya berhenti merokok. Lamanya berhenti tidak berhubungan dengan risiko dislipidemia, diabetes, dan hipertensi setelah penyesuaian, kecuali pada diabetes untuk dua rentang waktu. Kedua rentang itu adalah 2 sampai 3 tahun dengan rasio odds 1,30 dan 7 sampai 20 tahun dengan rasio odds 1,43. Menurut para peneliti, kedua rentang itu berhubungan dengan meningkatnya risiko diabetes meski indeks massa tubuh sudah ikut disesuaikan.

Temuan ini berbeda dari penelitian mereka sebelumnya. Dengan data tahun 2012, tim yang sama pernah mendapati bahwa berhenti merokok lebih dari enam tahun diperlukan untuk menurunkan risiko dislipidemia, sedangkan pada data 2020 tidak ditemukan hubungan antara lama berhenti dan dislipidemia.

Baca juga Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes

Para peneliti juga mencatat dua keterbatasan. Data kebiasaan merokok berasal dari pengakuan warga sendiri sehingga rawan bias ingatan, dan desain potong lintang membuat hubungan sebab-akibat sulit disimpulkan. Mereka menyarankan studi kohort jangka panjang dengan beberapa kali kunjungan ulang.

Dalam simpulannya, para peneliti menyatakan bahwa status, jumlah, dan lama merokok, bukan lama berhenti, berhubungan dengan risiko dislipidemia, diabetes, dan hipertensi pada orang dewasa di Timur Laut China. Menurut mereka, penelitian ini menyediakan data untuk kebijakan pengendalian tembakau di wilayah itu.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Korea yang Masuk Kerja saat Sakit Lebih Mungkin Absen
Warga Desa Punjab yang Sulit Beraktivitas Lebih Banyak Duduk
Pekerja TI Wuhan Duduk Tujuh Jam, Satu dari Lima Bergejala Cemas
Balita Bangladesh dengan Dapur di Luar Rumah Lebih Sering ISPA
Banyak SD di Uasin Gishu Kenya Tak Sediakan Sabun dan Ruang Ganti
Satu dari Lima Siswa Sfax Tunisia Aktif Memakai Rokok Elektrik