Sakit Perut Mahasiswa Palestina saat Puasa Terkait Penyakit Lama

A A

Ilustrasi hidangan berbuka berisi kurma, air, sup, dan hummus di atas meja [Foto: Pexels]

  • Skor total keluhan pencernaan 696 mahasiswa An-Najah selama Ramadan 2025 rata-rata 2,07 dari skala tujuh, tergolong ringan.
  • Riwayat penyakit pencernaan kronis menjadi faktor paling konsisten di ketiga model, dengan Beta 0,294 untuk skor total.
  • Sesudah disesuaikan, roti saat berbuka dan makan sebelum tidur tetap terkait skor keluhan total.
  • Mahasiswa laki-laki punya skor refluks lebih tinggi daripada perempuan, berlawanan dengan studi terdahulu yang dirujuk.
Daftar Isi
  1. Ramadan 2025 di Kampus An-Najah
  2. Meja Berbuka Ramadan 2025: Sup, Roti, Kibbeh
  3. Keluhan Ringan dan Temuan yang Berbeda dari Riset Terdahulu
  4. Jejak Ruderstam dan Ohlsson: Penyakit Lama dan Obat
  5. Roti dan Makan Larut Malam Sesudah Disesuaikan
  6. Keshteli, Jafari, dan Soal Sembelit
  7. Satu Kampus, Satu Ramadan, dan Riset Berikutnya

Setiap Ramadan, umat Islam menahan makan dan minum dari fajar sampai matahari terbenam, selama 12 sampai 16 jam sehari bergantung musim. Dengan lebih dari dua miliar Muslim di dunia dan sekitar 1,5 miliar di antaranya menjalankan Ramadan, bulan itu disebut kemungkinan besar sebagai uji kohort puasa berselang terbesar yang terus berlangsung di dunia. Selama ini, riset tentang Ramadan dan pencernaan lebih banyak menyoroti penyakit dan komplikasinya.

Keluhan pencernaan fungsional, seperti gangguan cerna, kembung, nyeri perut, atau sembelit, masih jarang diteliti pada orang dewasa muda selama Ramadan. Celah itu, menurut tim peneliti dari Palestina, terutama terasa di negeri mereka sendiri dan di negara-negara Syam lainnya. Padahal keluhan pencernaan fungsional semacam itu disebut lazim di kalangan mahasiswa, kelompok yang juga harus menyeimbangkan kuliah, urusan sosial, dan tenaga yang naik turun selama berpuasa.

Celah itu yang digarap Fatima Al-Amouri dan rekan dari Departemen Gizi dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan, An-Najah National University, Nablus, bersama MoezAlIslam E. Faris dari Applied Science Private University, Amman. Hasilnya terbit dengan judul Gastrointestinal symptoms and eating patterns during Ramadan fasting among university students in Palestine: a cross-sectional study di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Ramadan 2025 di Kampus An-Najah

Datanya dikumpulkan selama Ramadan 2025 lewat kuesioner daring berbahasa Arab yang disebar melalui kanal media sosial fakultas. Sebanyak 696 mahasiswa S1 ikut dianalisis, dengan usia rata-rata 20,6 tahun, dan 69,4 persen di antaranya perempuan. Keluhan pencernaan diukur dengan Gastrointestinal Symptom Rating Scale atau GSRS, skala satu sampai tujuh, yang angka makin tingginya berarti keluhan makin berat.

Kebanyakan mahasiswa, 62,8 persen, makan saat berbuka dan saat sahur. Sebanyak 79,5 persen langsung menyantap hidangan berbuka lengkap begitu azan berkumandang, mulai dari kurma, air, hidangan utama, sampai makanan pembuka. Sahur pun cenderung dimepetkan: 62,2 persen makan dalam satu jam sebelum azan subuh. Sisanya terbagi ke pola lain, termasuk yang hanya makan saat berbuka.

Kurma dan air menjadi pembuka berbuka paling umum, dipilih 54,7 persen mahasiswa. Air saja dipilih 34,1 persen, kurma atau buah kering 6,3 persen, dan pilihan lain 4,9 persen. Dari meja berbuka itu, para peneliti kemudian menelusuri hidangan mana saja yang berjalan seiring dengan keluhan perut, sekaligus mencatat faktor di luar makanan seperti jenis kelamin, pekerjaan, dan riwayat penyakit.

Meja Berbuka Ramadan 2025: Sup, Roti, Kibbeh

Yang biasa disantap mahasiswa saat dan sesudah berbukaSup saat iftar 81,3; Manisan Ramadan 73,7; Teh atau kopi sesudah iftar 66,1; Salad rutin 64,9; Roti putih 59,8; Minuman saat iftar 58,2; Jus sesudah iftar 52,4; Kibbeh 24,3.Yang biasa disantap mahasiswa saat dansesudah berbukaPersen dari 696 mahasiswa S1 An-Najah, Ramadan 20250255075100Sup saat iftar81,3Manisan Ramadan73,7Teh atau kopi sesudah iftar66,1Salad rutin64,9Roti putih59,8Minuman saat iftar58,2Jus sesudah iftar52,4Kibbeh24,3Bagian hasil: ciri hidangan iftar dan kebiasaan sesudah iftar
Sumber: Fatima Al-Amouri dan rekan, Gastrointestinal symptoms and eating patterns during Ramadan fasting among university students in Palestine: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sup adalah menu paling setia: 81,3 persen mahasiswa menyantapnya saat berbuka. Salad rutin hadir pada 64,9 persen, roti putih dikonsumsi 59,8 persen, sedangkan 20,3 persen mengaku tak pernah makan roti saat berbuka. Kibbeh, hidangan khas Timur Tengah dari bulgur dan daging cincang yang digoreng atau dipanggang, biasa disantap 24,3 persen mahasiswa.

Samosa, pastel goreng berisi daging, sayur, atau keju, selalu hadir bagi 40,1 persen. Sebanyak 32,3 persen memilih yang digoreng dan 7,5 persen yang dipanggang, dengan keju sebagai isi terfavorit. Acar menjadi lauk pendamping yang paling sering disebut, 32,8 persen. Soal bumbu, 60,2 persen kadang menambah rempah tergantung hidangan, dan 12,9 persen selalu memakai bumbu pedas.

Baca juga Batu Ginjal Akrab di Telinga Anak Muda Palestina, Pemicunya Tidak

Soal porsi hidangan utama dibanding hari tidak berpuasa, 46,3 persen merasa makan lebih sedikit, 46,0 persen sama saja, dan hanya 7,8 persen makan lebih banyak. Manisan Ramadan lain ceritanya: 73,7 persen rutin menyantapnya, paling sering sesudah salat tarawih. Teh atau kopi diminum 66,1 persen, rata-rata 1,8 cangkir.

Malam masih panjang sesudah berbuka. Sebanyak 52,4 persen minum jus, 42,1 persen makan buah, dan 33,5 persen mengudap kacang di antara berbuka dan sahur. Hanya 20,1 persen yang makan menjelang tidur. Saat sahur, protein hewani dan makanan berpati menjadi isi utama, masing-masing sekitar 89 dan 87 persen dari mereka yang bersahur, sedangkan buah hanya 16,1 persen.

Keluhan Ringan dan Temuan yang Berbeda dari Riset Terdahulu

Lalu seberapa berat keluhan perutnya? Hasilnya ringan. Skor total GSRS rata-rata 2,07 dari skala tujuh. Rata-rata skor gangguan cerna 2,30, nyeri perut 2,26, sembelit 2,05, refluks atau naiknya asam lambung 1,98, dan diare 1,66. Para penulis menyebut keluhan pada semua subskala berada di tingkat rendah sampai ringan. Skor itu dihimpun dari 15 butir pertanyaan, masing-masing dinilai satu untuk tanpa keluhan sampai tujuh untuk keluhan paling berat.

Mereka menduga hal itu bisa berkaitan dengan kemungkinan manfaat puasa atau kondisi kesehatan peserta secara umum. Tinjauan sistematis yang mereka rujuk menyebut puasa Ramadan umumnya hanya sedikit menurunkan asupan energi, karbohidrat, dan protein, sehingga dampak utamanya diduga datang dari bergesernya jam makan, bukan dari berubahnya jumlah gizi yang disantap.

Satu temuan berjalan berlawanan dengan riset sebelumnya. Mahasiswa laki-laki punya skor refluks lebih tinggi daripada perempuan, padahal studi-studi terdahulu yang dirujuk para penulis mendapati refluks lebih sering muncul pada perempuan. Mereka menduga perbedaan kebiasaan makan dan perilaku, seperti pola minum dan merokok, ikut berperan, dan menyarankan riset lanjutan. Skor refluks juga berkorelasi dengan waktu menatap layar untuk belajar dan dengan indeks massa tubuh.

Mahasiswa yang tinggal di kota mencatat skor total, refluks, dan diare sedikit lebih tinggi daripada yang tinggal di desa atau kamp. Rujukan terdahulu soal ini terbelah: studi di India mendapati keluhan lebih banyak di desa, sedangkan studi di Tiongkok tidak menemukan kaitan antara tinggal di desa dan keluhan pencernaan. Mahasiswa yang bekerja mencatat skor lebih tinggi di semua subskala.

Jejak Ruderstam dan Ohlsson: Penyakit Lama dan Obat

Di antara semua faktor, riwayat penyakit pencernaan kronis paling menonjol. Sebanyak 6,6 persen mahasiswa melaporkannya, terbanyak sindrom iritasi usus besar. Mereka mencatat skor lebih tinggi di semua subskala. Mahasiswa yang rutin minum obat, 7,2 persen dari peserta, juga mencatat skor total, nyeri perut, gangguan cerna, dan diare yang lebih tinggi. Penyakit kronis di luar pencernaan, yang dilaporkan 4 persen peserta, terkait skor total, refluks, nyeri perut, dan gangguan cerna yang lebih tinggi.

Temuan ini sejalan dengan Ruderstam dan Ohlsson, yang dirujuk para penulis, bahwa keluhan pencernaan terutama berkaitan dengan penyakit pencernaan dan konsumsi obat. Setelah faktor jenis kelamin, penghasilan, indeks massa tubuh, dan lainnya diperhitungkan, penyakit pencernaan kronis tetap menjadi faktor paling konsisten di ketiga model, dengan nilai Beta 0,294 untuk skor total, 0,205 untuk refluks, dan 0,206 untuk nyeri perut.

Namun para penulis mengakui belum bisa memastikan hubungan langsung antara keluhan dan jenis penyakit kronis atau jenis obatnya, karena ukuran efeknya kecil. “Gejala pencernaan selama Ramadan terutama dipengaruhi oleh kondisi pencernaan kronis yang mendasarinya, sementara perilaku makan berperan sekunder,” tulis Fatima Al-Amouri dan rekan dalam simpulannya, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Roti dan Makan Larut Malam Sesudah Disesuaikan

Sebelum disesuaikan, banyak kebiasaan makan tampak berkaitan dengan keluhan. Membuka puasa dengan kurma atau buah kering saja berjalan seiring dengan skor refluks dan nyeri perut yang lebih tinggi. Kibbeh terkait lima skor sekaligus, roti juga lima skor, sedangkan bumbu pedas terkait refluks dan diare, dan jus sesudah berbuka terkait refluks.

Empat faktor yang tetap terkait keluhan totalPenyakit pencernaan kronis: Beta 0,294; Roti saat iftar: Beta 0,092; Makan sebelum tidur: Beta 0,085; Obat rutin: Beta 0,082.Empat faktor yang tetap terkait keluhan totalNilai Beta pada model regresi skor total GSRS0,10,20,30Penyakit pencernaan kronis0,294Roti saat iftar0,092Makan sebelum tidur0,085Obat rutin0,082Tabel 5, sesudah penyesuaian. R kuadrat model 0,174
Sumber: Fatima Al-Amouri dan rekan, Gastrointestinal symptoms and eating patterns during Ramadan fasting among university students in Palestine: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Begitu faktor pengganggu diperhitungkan, daftarnya menyusut. Untuk skor total, selain penyakit kronis, yang bertahan adalah obat rutin dengan Beta 0,082, roti saat berbuka 0,092, dan makan sebelum tidur 0,085. Untuk refluks, yang bertahan protein nabati saat sahur 0,090 dan manisan Ramadan 0,087. Untuk nyeri perut, obat rutin 0,157, roti 0,085, dan kibbeh 0,082.

Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung

Para penulis membaca pergeseran itu sebagai tanda bahwa sebagian kaitan awal dipengaruhi ciri demografis dan klinis, terutama penyakit kronis dan pemakaian obat. Yang tersisa, menurut mereka, menunjukkan pentingnya jam makan dan makanan kaya karbohidrat tertentu, bukan pola makan secara keseluruhan. Roti putih sendiri disebut sebagai jenis roti yang paling banyak disantap peserta.

Sup memberi catatan tersendiri. Menu yang dianggap ringan ini justru terkait nyeri perut dan gangguan cerna yang lebih tinggi. Para penulis menduga kemungkinan sebab-akibat terbalik, yakni mahasiswa yang sudah merasa tidak nyaman memilih membuka puasa dengan sup. Bisa juga karena jenis supnya, yang mungkin tinggi lemak atau berserat tinggi seperti sup lentil.

Keshteli, Jafari, dan Soal Sembelit

Untuk sembelit, skornya lebih tinggi pada mahasiswa yang rutin makan manisan Ramadan, makan roti saat berbuka, dan bersahur dengan daging olahan. Riset khusus Ramadan yang dirujuk para penulis memberi hasil campuran. Keshteli dan rekan melaporkan puasa Ramadan menaikkan keparahan dan frekuensi sembelit pada masyarakat umum. Daging olahan sendiri muncul di sahur 25,3 persen mahasiswa yang bersahur.

Jafari dan rekan sebaliknya mendapati pola makan sehat tidak memberi manfaat pada sembelit selama Ramadan. Kedua tim menunjuk faktor lain yang lebih dominan, yakni dehidrasi dan berkurangnya aktivitas fisik. Al-Amouri dan rekan menilai pola makan saat Ramadan kemungkinan ikut menyumbang dan berinteraksi dengan penyebab-penyebab itu, tetapi hasil sembelit ini tidak diuji dalam model multivariat.

Baca juga Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua

Hal serupa berlaku untuk diare dan gangguan cerna. Diare lebih tinggi pada mereka yang makan kibbeh, memakai bumbu pedas, dan bersahur dengan protein nabati, sedangkan gangguan cerna terkait sup, kibbeh, roti, dan buah di antara berbuka dan sahur. Para penulis meminta semua temuan ini dibaca hati-hati karena hanya berasal dari analisis dua variabel.

Satu Kampus, Satu Ramadan, dan Riset Berikutnya

Keterbatasan lain disebut terang. Rancangan potong lintang tidak bisa memastikan sebab-akibat. Data dilaporkan sendiri lewat kuesioner daring, sehingga rawan bias ingatan, seleksi, dan pelaporan, terutama untuk tinggi dan berat badan. Kuesioner kebiasaan makannya disusun sendiri dan belum divalidasi, ukuran porsi tidak dinilai menyeluruh, dan sampelnya hanya dari satu universitas. Meski begitu, menurut mereka, besarnya sampel dan dipakainya alat ukur keluhan yang sudah tervalidasi tetap memberi gambaran penting.

Meski skornya ringan, Fatima Al-Amouri dan rekan mengingatkan bahwa “gejala ringan pun dapat memengaruhi kenyamanan sehari-hari dan kualitas hidup selama berpuasa, terutama bagi mahasiswa yang sudah memiliki gangguan pencernaan,” menurut terjemahan dari bagian diskusi. Mereka menyarankan edukasi gizi yang menekankan jam makan, mengurangi karbohidrat olahan dan manisan, serta sahur yang seimbang.

Layanan kesehatan kampus juga diusulkan memberi konseling gizi singkat selama Ramadan, khususnya bagi mahasiswa dengan gangguan pencernaan atau yang rutin minum obat. Untuk langkah berikutnya, para penulis meminta riset berdesain longitudinal, alat penilaian makan yang lebih rinci, dan studi intervensi untuk menguji apakah edukasi gizi terstruktur bisa menurunkan keluhan.

Dalam simpulannya, para penulis menyebut bahwa mendorong praktik makan yang seimbang, jam makan yang tepat, dan konseling gizi yang terarah dapat mendukung pengalaman berpuasa yang lebih sehat.

Bagikan

Baca Juga

Lemak Berlebih Mahasiswa Palestina Tak Selalu Tampak di Timbangan
Sedikit Warga Tepi Barat Utara Tahu Kurang Gerak Berisiko Stroke
Orang Tua Palestina Paham Tidur Sehat Anak tapi Sulit Menjalankan
Penutupan Hebron Masuki Hari Keenam, UNRWA Peringatkan Pengusiran
Serangan Israel di Gaza Tewaskan Lima Orang, Bocah 7 Tahun
Tujuh Tewas di Gaza, Israel Serang Kampus Universitas Islam