- Dari 510 orang itu, 94,1 persen mengaku pernah mendengar tentang batu ginjal.
- Kalau dijumlah, rata-rata responden menjawab benar 3,16 dari enam pertanyaan.
- Sebanyak 43,9 persen responden makan daging setiap hari.
- Orang yang nilainya tinggi sama seringnya makan daging dengan orang yang nilainya rendah.
Daftar Isi
Delapan gelas air sehari. Kalimat itu disodorkan kepada 510 orang dewasa di Palestina lewat sebuah kuesioner daring yang beredar di Facebook, WhatsApp, dan Instagram, lalu mereka diminta menilai seberapa setuju. Pada skala nol sampai sepuluh, rata-rata jawabannya 7,98. Itu termasuk angka persetujuan tertinggi di seluruh kuesioner.
Kuesioner itu disusun Salahaldeen Deeb, Alhareth M. Amro, dan delapan rekan mereka. Hasilnya terbit sebagai artikel Gaps in Knowledge and Prevention of Kidney Stone Disease among Palestinian Adults: Findings from an Online Cross-Sectional Survey di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor 425 tahun 2026. Para penulisnya bekerja di fakultas kedokteran Al-Quds University di Jerusalem, Arab American University di Ramallah, serta Palestine Polytechnic University dan Hebron University di Hebron.
Gelas air itu hanya satu butir dari daftar panjang tentang batu ginjal, penyakit saluran kemih yang menurut naskah sebagian besar bisa dicegah. Jawaban atas butir-butir lain tidak semulus itu. Hampir semua orang mengenal nama penyakitnya. Jauh lebih sedikit yang tahu apa saja yang memicunya.
Tepi Barat sampai Gaza
Formulir itu berpindah dari satu orang ke orang berikutnya sepanjang Januari sampai Oktober 2025. Ia menjangkau Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur, dan Jalur Gaza sejauh sambungan internet memungkinkan. Siapa saja yang berusia 18 tahun ke atas boleh mengisi, dalam bahasa Arab atau Inggris.
Yang menjawab ternyata kebanyakan anak muda. Separuh responden berusia 19 tahun atau kurang, dan tiga dari empat orang belum melewati usia 20 tahun. Perempuan mencapai 81,2 persen, atau 414 orang, sedangkan pria hanya 96 orang. Sebanyak 84,3 persen masih lajang.
Mereka juga bukan orang yang sehari-hari bergelut dengan urusan medis. Para penulis sengaja tidak mengikutkan orang yang bekerja atau belajar di bidang kesehatan, seperti kedokteran, keperawatan, dan farmasi, agar nilai pengetahuan tidak terdongkrak oleh pendidikan profesi. Sekitar seperempat responden, tepatnya 27,1 persen, punya keluarga dekat yang pernah terkena batu ginjal.
Palestina dipilih karena dua hal yang disebut naskah, yaitu iklimnya yang panas dan pola hidup warganya yang sedang berubah. Sampai survei ini dikerjakan, menurut para penulis, hampir tidak ada kajian terbit tentang seberapa paham warga di sana soal batu ginjal. Di tempat lain angkanya sudah dihitung: 7 sampai 13 persen penduduk Amerika Utara pernah mengalaminya, dan 1 sampai 13 persen di Asia.
Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Enam Pertanyaan
Dari 510 orang itu, 94,1 persen mengaku pernah mendengar tentang batu ginjal. Begitu pertanyaannya bergeser sedikit, yaitu apakah pernah mendengar cara mencegahnya, yang menjawab ya tinggal 56,3 persen. Jarak antara dua angka itulah yang kemudian dibedah lewat enam pertanyaan pilihan ganda.
Pertanyaan pertama terdengar mudah: di mana batu ginjal terbentuk. Hanya 43,1 persen yang tahu bahwa batu bisa muncul di sepanjang saluran kemih. Sebanyak 40,8 persen yakin batu hanya terbentuk di ginjal, dan para penulis menduga mereka terbawa oleh nama penyakitnya sendiri.
Soal makanan adalah titik paling lemah. Hanya 18,8 persen, kurang dari satu di antara lima orang, yang memilih jawaban benar tentang makanan pemicu batu. Lebih dari separuh, 57,8 persen, memilih jawaban tidak tahu. Sisanya menunjuk satu jenis makanan saja, seperti daging atau nasi putih.
Tentang gejala, hasilnya lebih baik. Sebanyak 65,1 persen mengenali semua gejala utama, termasuk nyeri pinggang dan nyeri saat berkemih, dan hanya 11,4 persen yang tidak tahu sama sekali. Untuk faktor risiko seperti kekurangan cairan dan keturunan, 49,0 persen menjawab benar, sementara 26,3 persen mengaku tidak tahu.
Dua pertanyaan terakhir paling banyak dijawab benar. Dua dari tiga responden, 66,9 persen, tahu bahwa pengobatannya beragam, dari pemecahan batu dengan gelombang kejut, pembedahan, sampai obat. Sebanyak 72,7 persen mengenali cara pencegahan yang lengkap, yaitu banyak minum, makan sehat, dan menjaga berat badan.
Kalau dijumlah, rata-rata responden menjawab benar 3,16 dari enam pertanyaan. Persis separuh jalan. Hanya 40 orang yang benar semuanya, dan 45 orang tidak menjawab benar satu pun. Para penulis menyebut tingkat ini sedang.
Gelas Air
Di bagian sikap, gelas air muncul lagi bersama anjuran lain yang sudah akrab. Olahraga teratur mendapat nilai setuju 8,0 dari sepuluh. Bertanya kepada tenaga kesehatan mendapat 7,96, dan periksa kesehatan setahun sekali 7,65. Anjuran yang umum diterima hampir tanpa keberatan.
Persetujuan itu menipis ketika anjurannya makin khusus. Makan tiga sampai lima porsi buah dan sayur sehari hanya mendapat 5,83. Anjuran mengurangi asupan protein tinggi kecuali minumnya ditambah, yang paling dekat dengan urusan batu ginjal, cuma mendapat 4,02. Keyakinan responden bahwa mereka mampu mengenali gejalanya pun hanya 4,9.
Dalam keseharian, 94,9 persen responden melaporkan minum air setiap hari, dan tidak seorang pun mengaku tidak pernah. Angka itu tampak menenangkan, tetapi yang ditanyakan hanya seberapa sering, bukan seberapa banyak. Para penulis mengakui volume air yang benar-benar diminum tidak mereka ukur, sehingga delapan gelas tadi tinggal sebagai sikap, belum sebagai takaran.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Piring Daging, Cangkir Kopi
Di sebelah gelas air itu ada piring dan cangkir. Sebanyak 43,9 persen responden makan daging setiap hari. Sekitar 64 persen minum teh, kopi, atau minuman ringan setiap hari. Buah dan sayur disantap harian oleh kira-kira enam dari sepuluh orang, sedangkan ikan hanya oleh sekitar 5 persen.
Naskah mencatat bahwa daging dan minuman berkafein atau manis yang dikonsumsi sering, tanpa diimbangi cairan yang cukup, termasuk faktor risiko batu ginjal yang sudah dikenal. Kebiasaan itu lebih kuat pada pria. Sebanyak 57,3 persen pria makan daging setiap hari, dibanding 40,8 persen perempuan. Untuk teh, kopi, dan minuman ringan, angkanya 76,0 persen berbanding 61,1 persen.
Yang paling menarik justru apa yang tidak ditemukan. Orang yang nilainya tinggi sama seringnya makan daging dengan orang yang nilainya rendah. Olahraga pun tidak berkaitan dengan pengetahuan. Baru ketika minum air, makan buah, gerak badan, dan menahan protein hewani digabung menjadi satu indeks, muncul kaitan dengan nilai pengetahuan, dan kaitan itu lemah.
Dari sana para penulis menarik garis yang hati-hati. Dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris, Deeb dan rekan-rekannya menulis bahwa “menambah pengetahuan itu perlu tetapi tidak cukup; intervensi juga harus menyentuh hambatan perilaku, budaya, dan struktural”. Di bagian kesimpulan mereka mengulanginya dengan kalimat lain: “Kesadaran saja mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan perilaku gaya hidup.”
Bangku Kuliah
Lalu apa yang membedakan orang yang tahu dari yang tidak? Hanya satu hal yang konsisten, yaitu pendidikan. Lulusan sarjana atau lebih rata-rata menjawab benar 3,40 pertanyaan. Lulusan sekolah menengah 2,68, dan pemegang diploma berada di antaranya dengan 3,00.
Selebihnya tidak berpengaruh. Perempuan mendapat 3,21 dan pria 2,93, selisih yang tidak bermakna secara statistik. Pendapatan tidak mengubah apa-apa. Bahkan punya keluarga yang pernah terkena batu ginjal hanya menaikkan nilai dari 3,10 menjadi 3,29, juga tidak bermakna.
Pengetahuan sendiri berjalan seiring dengan pernah atau tidaknya seseorang mendengar soal pencegahan. Di antara mereka yang tidak menjawab benar satu pun, hanya 22,2 persen yang pernah mendengarnya. Di antara yang benar semua, angkanya 77,5 persen. Setiap tambahan satu jawaban benar menaikkan peluang itu 1,35 kali.
Para penulis menaruh angka mereka di samping survei serupa. Di Malaysia, tempat asal kuesioner yang mereka adaptasi, rata-rata nilainya 2,70 dari enam. Di Arab Saudi, 64,1 persen responden tergolong berkesadaran rendah. Responden Palestina sedikit lebih baik, tetapi polanya sama: kenal penyakitnya, setengah paham pencegahannya.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Keran yang Tak Selalu Mengalir
Naskah lalu keluar dari lembar kuesioner dan masuk ke rumah-rumah. Pasokan air yang terputus-putus dan kekhawatiran akan keamanan air, tulis para penulis, bisa membuat orang enggan minum banyak, terutama di rumah tangga miskin atau perdesaan. Teh, kopi, dan minuman manis sudah menjadi kebiasaan, begitu pula masakan tradisional yang tinggi garam dan lemak hewani.
Masa puasa dan jam kerja panjang di tempat panas menambah risiko kekurangan cairan. Di klinik, penyuluhan soal batu ginjal jarang masuk ke kunjungan layanan primer. Karena itu mereka mengusulkan pesan yang praktis, seperti membawa botol air, mengganti minuman manis dengan air, dan mengurangi protein hewani, disampaikan lewat layanan primer, sekolah, kampus, dan kampanye warga.
Ada batas yang mereka sebut sendiri. Karena disebar dari teman ke teman di media sosial, kuesioner ini menghasilkan responden yang muda, perempuan, dan berpendidikan tinggi. Lansia, pria, warga perdesaan, dan orang berpendidikan rendah nyaris tidak terwakili. Semua jawaban juga laporan diri, dan survei sekali potret seperti ini tidak bisa menunjukkan sebab-akibat.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Pendahuluan menyebut sasarannya orang dewasa yang datang ke pusat layanan kesehatan, padahal kuesioner disebar lewat media sosial. Separuh responden berusia 19 tahun atau kurang, tetapi 60,6 persen dicatat bergelar sarjana atau lebih. Lalu 72,7 persen menjawab benar soal pencegahan, sementara hanya 56,3 persen mengaku pernah mendengar cara mencegah.
Delapan gelas air sehari tetap berdiri dengan nilai 7,98. Tetapi sesudah semua jawaban dibaca, gelas itu tidak lagi berarti orang sudah paham. Ia berdiri di samping piring daging harian, cangkir kopi, dan keran yang tidak selalu mengalir. Yang tercatat dalam survei ini adalah anak-anak muda yang hafal anjurannya, dan baru separuh jalan mengenal penyakitnya.















