- Dari 659 peserta yang sakit lambung, 434 orang memakai obat yang dibeli sendiri.
- Angkanya turun menjadi 1,75 kali, dengan rentang kepercayaan 1,46 sampai 2,09.
- Pada peserta dengan penyakit ginjal kronis, peluang sakit lambung pada pembeli obat sendiri sekitar 1,89 kali mereka yang tidak membeli.
- Rasa tidak nyaman di lambung, tulis mereka, bisa saja yang mendorong orang membeli obat sendiri.
Daftar Isi
- Sebelum 2018: lemari obat lansia yang makin penuh
- Tahun 2018: 6.087 jawaban yang lengkap
- Hitungan pertama: peluang yang 1,75 kali lebih besar
- Hitungan kedua: ginjal dan diabetes memperkuat kaitan
- Sesudah angka: tiga golongan obat dan usulan pengawasan
- Catatan terakhir: batas temuan dan yang perlu dicocokkan
Pada 2018, sebanyak 20.866 orang mengikuti survei CHARLS di daratan China. Semuanya berusia 45 tahun ke atas. Dua pertanyaan dalam kuesioner itu kelak dipertemukan. Yang satu menanyakan apakah mereka memakai obat yang dibeli sendiri. Yang lain menanyakan apakah dokter pernah mendiagnosis mereka sakit lambung.
Jawaban itu kemudian dibaca ulang oleh Hui-Yun Hou, Yan Wang, Peng-Xi Zuo, Liu Yang, Xi Yan, Jing Wei, Yu-Jie Jing, Nan Zhang, dan Jun Wang. Hasilnya terbit sebagai Association between self-purchased medication use and gastric disease among Chinese adults: a cross-sectional analysis based on CHARLS 2018 data di BMC Public Health volume 26 nomor 1905, tahun 2026.
Delapan penulis bekerja di Department of Gastroenterology, The 986th Hospital of Xijing Hospital, Fourth Military Medical University, di Xi’an, Shaanxi. Peng-Xi Zuo berasal dari Sunyuan Town Health Center di Tongchuan, provinsi yang sama. Mereka ingin tahu apakah kebiasaan membeli obat sendiri berjalan beriringan dengan sakit lambung.
Sebelum 2018: lemari obat lansia yang makin penuh
Catatan yang dirujuk para penulis menggambarkan lansia China sebagai pemakai banyak obat. Rata-rata seorang lansia meminum 4,2 jenis obat. Sebanyak 38,7 persen melaporkan memakai obat yang dibeli sendiri. Di perdesaan angkanya lebih tinggi, yakni 52,1 persen, atau kira-kira satu dari dua orang.
Kebiasaan serupa mereka catat di Jepang. Di negeri itu, lebih dari 45 persen lansia rutin membeli obat bebas tanpa berkonsultasi dengan tenaga profesional. Obat itu terutama dipakai untuk nyeri kronis dan keluhan pencernaan. Para penulis menyebut kemiripan lintas negara ini sebagai tantangan bersama masyarakat yang menua.
Jalan menuju obat pun terbuka lebar. Menurut naskah itu, lebih dari 40 persen lansia memperoleh obat tanpa resep. Penyebabnya pasar obat bebas yang sangat mudah dijangkau dan sistem pengawasan obat yang belum memadai. Di titik inilah para penulis melihat celah yang jarang diteliti.
Lambung sendiri sudah lama menjadi beban di kawasan itu. Angka kejadian kanker lambung di Asia Timur mencapai 28,3 per 100.000 penduduk, dengan angka kematian 17,6 per 100.000. Infeksi Helicobacter pylori dan gaya hidup buruk dikenal sebagai faktor risiko utama. Cedera lambung akibat obat pada penduduk menua belum banyak digali.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Tahun 2018: 6.087 jawaban yang lengkap
Tidak semua peserta survei bisa dipakai. Setelah peserta tanpa keterangan lambung, tanpa data pendukung, dan tanpa keterangan obat disisihkan, tersisa 6.087 orang. Dari jumlah itu, 659 orang menyatakan pernah didiagnosis dokter menderita sakit lambung. Sisanya, 5.428 orang, menjadi kelompok pembanding.
Kedua kelompok mirip dalam banyak hal. Tiga dari empat peserta adalah perempuan, baik di kelompok sakit lambung maupun pembanding. Sebanyak 96,4 persen di kedua kelompok tinggal di rumah keluarga. Pendidikan, status perkawinan, dan kebiasaan minum alkohol juga tidak berbeda bermakna di antara keduanya.
Perbedaan muncul pada kesehatan. Di kelompok sakit lambung, 23,1 persen menilai kesehatannya buruk, sedangkan di kelompok pembanding hanya 11,5 persen. Yang menilai kesehatannya sangat baik justru berbalik arah. Angkanya 5,9 persen pada kelompok sakit lambung dan 16,5 persen pada kelompok pembanding.
Penyakit lain ikut menumpuk pada kelompok sakit lambung. Dislipidemia, gangguan lemak darah, tercatat pada 21,2 persen dari mereka, dibanding 8,5 persen pada pembanding. Penyakit paru kronis tercatat 12,1 persen dibanding 3,5 persen. Penyakit hati 7,9 persen dibanding 2,0 persen, dan penyakit ginjal 7,0 persen dibanding 2,5 persen.
Lalu soal obat. Dari 659 peserta yang sakit lambung, 434 orang memakai obat yang dibeli sendiri. Itu 65,9 persen, kira-kira dua dari tiga orang. Di kelompok pembanding, 2.520 dari 5.428 orang melakukan hal yang sama, atau 46,4 persen. Riwayat merokok juga lebih banyak pada kelompok sakit lambung, 14,3 persen dibanding 10,2 persen.
Hitungan pertama: peluang yang 1,75 kali lebih besar
Selisih itu kemudian dihitung sebagai rasio peluang. Tanpa penyesuaian apa pun, peluang sakit lambung pada pembeli obat sendiri 2,23 kali peluang mereka yang tidak membeli. Setelah usia dan etnis diperhitungkan, angkanya nyaris tidak bergeser, yakni 2,20 kali. Hubungan itu belum goyah.
Penyesuaian terakhir memasukkan semua faktor yang tersedia, dari jenis kelamin sampai penyakit penyerta dan riwayat merokok. Angkanya turun menjadi 1,75 kali, dengan rentang kepercayaan 1,46 sampai 2,09. Artinya sebagian selisih tadi dijelaskan faktor lain. Namun hubungan antara obat beli sendiri dan sakit lambung tetap bertahan.
Para penulis menimbang angka itu terhadap risiko yang lebih dikenal, seperti merokok dan minum alkohol. “Perbandingan ini mengisyaratkan bahwa risiko dari swamedikasi tanpa pengawasan mungkin setara dengan, atau bahkan melampaui, sebagian risiko gaya hidup tradisional,” tulis Hui-Yun Hou dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Hitungan lengkap itu juga diuji kemampuannya memilah orang. Nilainya 0,71 pada skala yang dipakai para penulis untuk mengukur daya beda. Mereka menyebutnya kemampuan memilah tingkat sedang antara peserta yang sakit lambung dan yang tidak. Angka itu, tulis mereka, bersifat deskriptif.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Hitungan kedua: ginjal dan diabetes memperkuat kaitan
Langkah berikutnya memecah peserta menurut penyakit penyerta. Pada peserta dengan penyakit ginjal kronis, peluang sakit lambung pada pembeli obat sendiri sekitar 1,89 kali mereka yang tidak membeli. Pada peserta diabetes, angkanya sekitar 1,82 kali. Keduanya lebih tinggi daripada angka seluruh peserta, yakni 1,75 kali.
Penjelasan yang ditawarkan berasal dari kepustakaan. Pada pasien ginjal kronis, racun tertentu yang menumpuk di tubuh dapat mengganggu pemulihan lapisan lambung. Pada pasien diabetes, gula darah tinggi yang menahun dapat memperlambat pengosongan lambung. Lapisan lambung jadi lebih lama bersentuhan dengan zat yang berpotensi merusak.
Dari situ para penulis meminta kehati-hatian lebih bagi dua kelompok ini. Bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal, obat antiradang nonsteroid yang jelas membebani ginjal sebaiknya dihindari sebisa mungkin. Bagi pasien diabetes, mereka mengingatkan risiko kombinasi obat tertentu. Di kelompok lain, arah hubungannya tetap sama.
Sesudah angka: tiga golongan obat dan usulan pengawasan
Survei itu tidak mencatat obat apa yang dibeli. Para penulis lalu bersandar pada kepustakaan farmakologi untuk menduga jalurnya. Obat antiradang nonsteroid menghambat enzim COX-1 dan mengurangi prostaglandin E2 yang melindungi lapisan lambung. Lendir, bikarbonat, dan aliran darah ke lapisan itu ikut terganggu.
Golongan kedua adalah penghambat pompa proton, obat penekan asam lambung. Pemakaian jangka panjang menaikkan pH lambung secara menetap. Keadaan itu membuka jalan bagi pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus. Risiko tersebut, menurut kajian yang mereka kutip, bertambah seiring lamanya pemakaian.
Golongan ketiga adalah antibiotik spektrum luas. Obat ini menurunkan keragaman mikroba usus. Perubahan itu dapat memberi tempat bagi Helicobacter pylori untuk menetap. Para penulis menambahkan satu peringatan: penekan asam sering dipakai untuk mencegah cedera akibat obat antiradang, tetapi perlindungannya mungkin tidak sepenuhnya menutup risiko.
Batas dugaan itu mereka nyatakan sendiri. Pembahasan mekanisme tersebut, tulis mereka, “terutama didasarkan pada inferensi dari literatur farmakologi yang ada, bukan dukungan data langsung dari penelitian ini.” Kalimat aslinya berbahasa Inggris. Dengan kata lain, survei hanya mencatat ya atau tidak.
Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata
Dari temuan itu para penulis menyusun usulan. Aturan penyerahan obat antiradang nonsteroid berisiko tinggi perlu ditegakkan ketat agar penjualan ilegal terbendung. Pasien yang lama memakai penekan asam lambung sebaiknya punya rencana pemantauan berkala. Pengetahuan masyarakat tentang pemakaian obat yang rasional juga perlu ditingkatkan.
Usulan lain menyangkut pemeriksaan. Orang yang dinilai berisiko tinggi dapat didahulukan untuk pemeriksaan endoskopi. Mereka yang berisiko sedang dapat dipantau setahun sekali dengan tes darah. Para penulis mengakui kelayakan dan hitungan biaya strategi semacam ini masih harus diuji dalam penelitian di dunia nyata.
Catatan terakhir: batas temuan dan yang perlu dicocokkan
Keterbatasannya mereka tulis panjang. Banyak peserta tersisih karena datanya tidak lengkap, sehingga bias seleksi mungkin masih ada. Sakit lambung sepenuhnya bersandar pada pengakuan peserta. Infeksi Helicobacter pylori dan pola makan tinggi garam tidak terukur. Dosis dan gabungan obat pun tidak tercatat.
Urutan kejadian juga tidak terjawab. Menurut mereka, penelitian ini “tidak dapat menentukan urutan waktu antara swamedikasi dan penyakit lambung, juga tidak dapat menyingkirkan kemungkinan sebab-akibat terbalik.” Rasa tidak nyaman di lambung, tulis mereka, bisa saja yang mendorong orang membeli obat sendiri.
Beberapa hal bisa dicocokkan sendiri oleh pembaca naskah. Abstrak menyebut 19.752 peserta disertakan, sedangkan hitungan dikerjakan pada 6.087 orang. Bagian cara hitung menyebut kuartil pertama pemakaian obat beli sendiri sebagai acuan. Padahal jawaban yang tersedia hanya ya atau tidak.
Pendahuluan menyebut penelitian ini menghasilkan alat penilai risiko yang tervalidasi. Bagian lain menegaskan angka 0,71 hanya ukuran deskriptif, bukan validasi. Penyakit ginjal kronis juga dirumuskan lewat ukuran laboratorium di pendahuluan. Data yang dipakai berupa jawaban kuesioner, dengan 181 peserta berpenyakit ginjal.
Kronologinya berhenti pada satu potret. Semua jawaban dikumpulkan pada 2018, dalam satu kali survei. Catatan terakhir yang pasti tetap angka itu: 434 dari 659 penderita sakit lambung memakai obat yang mereka beli sendiri.















