- Dari 3.023 orang berusia 30 tahun ke atas, 82 orang tercatat memiliki keterbatasan fungsi tubuh, atau 2,71 persen.
- Sebanyak 79,3 persen orang dengan keterbatasan fungsi duduk lebih dari tiga jam sehari, sedangkan pada warga lain 25,2 persen.
- Setelah disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin, selisih hipertensi dan diabetes tidak lagi bermakna secara statistik.
- Dalam setahun terakhir, 30,5 persen dari mereka pernah dirawat inap karena penyakit apa pun, sementara pada warga lain 8,4 persen.
Daftar Isi
- Delapan Puluh Dua Orang dari Tiga Ribu yang Tersandung Urusan Sehari-hari
- Hipertensi dan Diabetes Lebih Sering Ditemukan, sampai Usia Ikut Diperhitungkan
- Di Meja Makan, Dua Kelompok Itu Nyaris Tak Bisa Dibedakan
- Kursi yang Menggantikan Langkah, Lebih dari Tiga Jam Setiap Hari
- Rumah Sakit, Rasa Murung, dan Nilai Kesehatan yang Diberikan Sendiri
Tangga menjadi lawan yang paling sering menang. Di dua blok pedesaan Punjab, India, petugas survei mencatat kemampuan ribuan orang dewasa menjalani sepuluh kegiatan harian, dari makan dan mandi sampai berpakaian dan naik tangga. Dari semua kegiatan itu, naik tangga paling banyak dilaporkan sulit, yakni oleh 2,08 persen orang. Berpakaian menyusul dengan 1,12 persen.
Angka keseluruhannya kecil. Dari 3.023 orang berusia 30 tahun ke atas, 82 orang tercatat memiliki keterbatasan fungsi tubuh, atau 2,71 persen. Pada perempuan angkanya 3,06 persen, pada laki-laki 2,30 persen. Namun kelompok kecil ini lebih jarang bergerak, jauh lebih lama duduk, lebih murung, dan lebih sering dirawat di rumah sakit dibandingkan warga lain di desa yang sama.
Temuan itu dilaporkan Dewan Muhammad Shoaib dari Hubert Department of Global Health, Rollins School of Public Health, Emory University, Atlanta, Amerika Serikat, bersama rekan dari All India Institute of Medical Sciences dan Centre for Chronic Disease Control di New Delhi. Laporan mereka berjudul Functional limitation and cardiometabolic health: a cross-sectional exploration in adults aged 30 and older in rural Punjab, India dan terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Datanya berasal dari survei komunitas pada 2018 di Blok Mukandpur dan Sujjon, Distrik Shaheed Bhagat Singh Nagar, sebagai evaluasi awal program I-TREC untuk penanganan hipertensi dan diabetes. Keterbatasan fungsi diukur dengan indeks Barthel. Skor 100 berarti tanpa keterbatasan, sedangkan skor di bawah 100 menandakan kesulitan pada setidaknya satu kegiatan harian.
Delapan Puluh Dua Orang dari Tiga Ribu yang Tersandung Urusan Sehari-hari
Tidak seorang pun berada di tingkat keterbatasan total, yakni skor 0 sampai 20. Tujuh orang atau 0,2 persen masuk tingkat berat, 47 orang atau 1,6 persen tingkat sedang, dan 28 orang atau 0,9 persen tingkat ringan. Kelompok sedang, dengan skor 61 sampai 90, menjadi yang terbesar di antara ketiganya.
Wajah kelompok ini berbeda dari warga lain. Rata-rata usia mereka 68,4 tahun, sedangkan warga tanpa keterbatasan rata-rata 51,0 tahun. Sebanyak 61 persen di antaranya perempuan, dan hampir seperempat, 24,4 persen, berusia 80 tahun ke atas. Hampir separuh, 48,8 persen, tidak pernah bersekolah, berbanding 22,1 persen pada kelompok tanpa keterbatasan.
“Yang penting, kami menemukan bahwa satu dari empat orang dengan keterbatasan fungsi berusia di bawah 60 tahun, yang menunjukkan bahwa hingga 25 persen dari mereka bisa terlewat dalam penelitian yang berfokus pada orang lanjut usia,” tulis Shoaib dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Peserta survei ini berusia 30 sampai 92 tahun.
Soal pekerjaan, selisihnya mencolok. Hanya 8,5 persen orang dengan keterbatasan fungsi yang punya pekerjaan berbayar, dibandingkan 44,1 persen pada warga lain. Sebanyak 48,8 persen menyatakan tidak mampu bekerja karena sakit atau cacat, sementara pada kelompok tanpa keterbatasan angkanya 5,3 persen. Yang masih berstatus menikah 63,4 persen, berbanding 86,0 persen.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Namun tidak semua hal memisahkan mereka. Sebaran pendapatan rumah tangga, agama, dan kasta hampir sama di kedua kelompok. Lebih dari 60 persen rumah tangga berpenghasilan 10.000 sampai 30.000 rupee sebulan. Menurut para peneliti, kesamaan itu menunjukkan bahwa keterbatasan fungsi menembus beragam lapisan masyarakat.
Hipertensi dan Diabetes Lebih Sering Ditemukan, sampai Usia Ikut Diperhitungkan
Sepintas, beban penyakit mereka berat. Hipertensi ditemukan pada 70,7 persen orang dengan keterbatasan fungsi, berbanding 54,5 persen pada warga lain. Diabetes tercatat pada 29,3 persen, berbanding 12,3 persen. Seseorang dihitung hipertensi bila pernah didiagnosis tenaga medis atau tekanan sistoliknya 140 mm Hg ke atas atau diastoliknya 90 mm Hg ke atas saat diukur petugas.
Diabetes dihitung dengan cara serupa. Peserta dianggap diabetes bila pernah didiagnosis tenaga medis atau gula darah sewaktunya mencapai 200 mg/dL ke atas dari tetes darah kapiler yang diambil saat survei. Tinggi dan berat badan juga diukur langsung di lapangan untuk menentukan obesitas dengan ambang khusus orang Asia.
Lalu usia masuk ke hitungan. Setelah disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin, selisih kedua penyakit itu tidak lagi bermakna secara statistik. Para penulis mencatat bahwa orang dengan keterbatasan fungsi lebih tua, sehingga lebih banyak mengidap penyakit kardiometabolik yang berkaitan dengan usia. Obesitas tidak berbeda, sebelum maupun sesudah penyesuaian: 34,1 persen berbanding 38,6 persen.
Meski begitu, angka diabetesnya menonjol bagi para peneliti. Mereka menyebut laporan sebelumnya dari pedesaan Haryana, wilayah tetangga, yang mencatat diabetes pada 6,5 persen orang dengan keterbatasan fungsi, sedangkan di Punjab sekitar 30 persen. Menurut mereka, orang dengan keterbatasan fungsi mungkin menghadapi tantangan lebih besar dalam mengelola penyakit semacam ini.
Di Meja Makan, Dua Kelompok Itu Nyaris Tak Bisa Dibedakan
Kebiasaan makan tidak memisahkan mereka. Sebanyak 29,3 persen orang dengan keterbatasan fungsi makan sedikitnya empat porsi buah dan sayur sehari, hampir sama dengan 28,1 persen pada warga lain. Yang menambahkan garam ke makanan 53,7 persen berbanding 48,8 persen. Tak satu pun selisih pola makan bermakna, sebelum maupun sesudah penyesuaian.
Begitu pula tembakau dan alkohol. Minum alkohol tercatat pada 23,2 persen orang dengan keterbatasan fungsi dan 25,4 persen orang tanpa keterbatasan. Pemakaian tembakau 15,9 persen berbanding 14,9 persen. Soal apa yang masuk ke mulut, dua kelompok ini berjalan beriringan, dan para peneliti tidak menemukan perbedaan statistik di antara keduanya.
Satu hal justru lebih tinggi pada kelompok dengan keterbatasan. Di antara penderita diabetes, 80,5 persen dari mereka mendapat dukungan keluarga atau teman untuk makan dengan cara yang membantu menjaga gula darah, berbanding 69,9 persen. Di antara penderita hipertensi, dukungan serupa untuk menjaga tekanan darah diterima 81,2 persen, berbanding 69,5 persen.
Kursi yang Menggantikan Langkah, Lebih dari Tiga Jam Setiap Hari
Perbedaan paling tajam muncul ketika tubuh harus bergerak. Hanya 52,4 persen orang dengan keterbatasan fungsi yang beraktivitas fisik sedikitnya 150 menit seminggu, sementara pada warga lain angkanya 75,7 persen. Setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, selisihnya masih bermakna, yakni 13,5 persen lebih rendah pada kelompok dengan keterbatasan.
Pekerjaan sehari-hari pun lebih jarang menuntut gerak. Hanya 32,9 persen dari mereka yang pekerjaannya melibatkan aktivitas fisik, dibandingkan 73,5 persen pada warga lain, dengan selisih yang disesuaikan 29,8 persen lebih rendah. Saat diminta menilai sendiri aktivitas fisiknya pada skala 1 sampai 5, mereka memberi rata-rata 2,6, sementara warga lain 3,5.
Baca juga Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok
Lalu kursi. Sebanyak 79,3 persen orang dengan keterbatasan fungsi duduk lebih dari tiga jam sehari, sedangkan pada warga tanpa keterbatasan angkanya 25,2 persen. Setelah penyesuaian usia dan jenis kelamin, selisihnya 35,0 persen lebih tinggi. Para penulis menyebut aktivitas fisik dan waktu duduk sebagai dua perilaku penting untuk mencegah sekaligus mengelola hipertensi dan diabetes.
Rumah Sakit, Rasa Murung, dan Nilai Kesehatan yang Diberikan Sendiri
Kehidupan sehari-hari ikut tersendat. Sebanyak 51,2 persen orang dengan keterbatasan fungsi mengaku masalah yang mereka alami menyulitkan bekerja, mengurus rumah, atau bergaul dengan orang lain, berbanding 28,9 persen. Dalam setahun terakhir, 30,5 persen dari mereka pernah dirawat inap karena penyakit apa pun, sementara pada warga lain 8,4 persen.
Setelah usia dan jenis kelamin disamakan, selisih gangguan kegiatan sehari-hari itu 15,9 persen dan selisih rawat inap 19,7 persen, keduanya lebih tinggi pada kelompok dengan keterbatasan fungsi. Para penulis menduga rawat inap yang lebih sering itu mungkin berkaitan dengan beban penyakit kardiometabolik yang lebih tinggi pada kelompok ini.
Rasa murung pun lebih kerap muncul. Skor gejala depresi menurut kuesioner PHQ-9 rata-rata 4,70 pada kelompok dengan keterbatasan dan 2,21 pada warga lain, dengan selisih yang disesuaikan 1,8 poin. Gejala depresi sedang sampai berat, yakni skor 10 sampai 27, tercatat pada 8,5 persen berbanding 2,0 persen.
Saat diminta menilai kesehatan diri pada skala 0 sampai 100, mereka rata-rata memberi angka 59,3. Warga tanpa keterbatasan memberi angka 80,2. Setelah penyesuaian usia dan jenis kelamin, selisihnya 15,0 poin lebih rendah pada kelompok yang sulit beraktivitas. Dalam analisis yang telah disesuaikan usia, para penulis mencatat profil psikososial kelompok ini lebih buruk, termasuk gejala depresi yang lebih tinggi.
“Keterbatasan aktivitas fisik, gejala depresi, dan persepsi diri sedang sakit juga mungkin saling memperkuat satu sama lain,” tulis Shoaib dan rekan dalam pembahasan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Menurut mereka, perilaku aktivitas fisik dan kesehatan psikososial yang secara konsisten lebih buruk dapat menempatkan orang-orang ini pada risiko penyakit kardiometabolik yang lebih tinggi kelak.
Baca juga Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut
Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Sebanyak 53 dari 4.237 orang dewasa di rumah tangga yang disurvei, atau 1,3 persen, tidak diikutkan karena terbaring di tempat tidur, mengalami gangguan kognitif, atau gangguan penglihatan dan pendengaran tanpa pendamping. Bila mereka ikut dihitung, beban keterbatasan fungsi diperkirakan mendekati 4 sampai 5 persen. Indeks Barthel juga tidak menilai keterbatasan kognitif atau indra.
Jumlah orang dengan keterbatasan fungsi dalam sampel pun kecil, sehingga kemampuan statistik untuk menangkap perbedaan terbatas. Penyesuaian hanya dilakukan untuk usia dan jenis kelamin, dan desain potong lintang tidak bisa menunjukkan mana yang lebih dulu terjadi, keterbatasan fungsi atau kondisi kesehatan yang diukur.
Para peneliti menutup laporannya dengan merujuk pedoman WHO tentang layanan pendukung berbasis komunitas. Pemeriksaan rutin keterbatasan fungsi di tengah masyarakat, digabungkan dengan pemantauan penyakit kardiometabolik, menurut mereka bisa menjadi langkah menuju solusi yang sesuai kebutuhan. Di dua blok desa Punjab itu, tangga tetap menjadi rintangan yang paling sering dilaporkan.















