- Enam bulan kemudian, para pegawai itu duduk hampir 43 menit lebih singkat setiap hari.
- Tiga orang meminta program itu dicopot, sehingga 84 dari 87 pegawai tetap memakainya.
- Kolesterol baik atau HDL naik dari 54,66 menjadi 57,53 miligram per desiliter pada bulan keenam.
- Tidak ada kelompok pembanding, sebab semua pegawai bekerja di ruang yang sama dan mudah saling meniru.
Daftar Isi
Sira Boonprasop dan Chutima Jalayondeja membawa dua alat ke kantor sebuah perusahaan minyak di Bangkok. Yang pertama gelang jam pintar murah berlayar LED sederhana, dipakai di pergelangan kanan delapan sampai sepuluh jam sehari. Yang kedua program komputer yang setiap enam puluh menit memunculkan satu pertanyaan di layar: mau rehat? Enam bulan kemudian, para pegawai itu duduk hampir 43 menit lebih singkat setiap hari.
Keduanya peneliti Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Bersama Wattana Jalayondeja, Keerin Mekhora, Petcharatana Bhuanantanondh, Rujiret Upiriyasakul, Bukhari Putsa, Paritthipong Samsang, Teerapat Kansadub, dan Khajornyod Anuraktam, mereka menuliskan hasilnya dalam artikel Effect of smartwatch and break-reminder with exercises application on cardiometabolic risk and cognition in office workers: a single group pre-posttest design. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Orang-orang yang didampingi Boonprasop adalah 87 pegawai berusia 20 sampai 59 tahun, rata-rata 40,64 tahun. Sebanyak 54 di antaranya perempuan dan 33 laki-laki. Semuanya bekerja di depan komputer, paling singkat lima jam dan paling lama dua belas setengah jam sehari, dengan rata-rata 7,32 jam. Mereka diikuti dari September 2018 sampai Maret 2019.
Gambaran awal mereka terkumpul lewat kuesioner daring yang dikembangkan Keerin Mekhora, salah satu anggota tim. Sebanyak 47 pegawai mengaku berat badannya naik dalam dua tahun terakhir, rata-rata 4,29 kilogram. Ada 33 orang yang sudah membawa penyakit, 21 di antaranya kadar lemak darah tinggi dan sembilan hipertensi. Empat puluh orang tidur kurang dari enam jam sehari, dan 20 orang mencatat stres tinggi sampai sangat tinggi.
Gelang Murah di Pergelangan Kanan Pegawai
Boonprasop dan rekan-rekannya sengaja memilih jam pintar yang harganya terjangkau, Xiaomi Mi Band 2. Fungsinya pun pokok saja, yakni menghitung langkah dan kalori yang terpakai. Gelang itu tidak dimaksudkan sebagai alat ukur utama. Tugasnya menyemangati pegawai agar lebih banyak berjalan dan lebih sering melakukan kegiatan fisik berintensitas sedang sampai berat, di kantor maupun di luar kantor.
Alasannya mereka pinjam dari riset Tudor-Locke dan rekan yang dikutip dalam naskah. Berjalan kurang dari 5.000 langkah sehari, atau kurang dari 1.500 langkah selama jam kerja, dikaitkan dengan menurunnya kepekaan tubuh pada insulin dan menumpuknya jaringan lemak. Padahal, menurut studi lain yang juga dirujuk tim Boonprasop, pegawai kantor hanya berjalan 2.473 sampai 5.446 langkah di tempat kerja dan duduk tiga sampai delapan jam.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Pada bulan keempat dan keenam, para pegawai diajak berbincang secara informal tentang gelang itu. “Banyak peserta melaporkan bahwa memakai jam pintar menjadi alat pemberi semangat, yang mendorong mereka menambah aktivitas fisik sedang hingga berat selama jam kerja, saat makan siang, sepulang kerja, dan pada akhir pekan,” tulis Sira Boonprasop, peneliti Faculty of Physical Therapy Mahidol University, bersama sembilan rekannya. Naskah aslinya berbahasa Inggris.
Angka yang dihimpun Chutima Jalayondeja dan tim dari kuesioner sejalan dengan pengakuan itu. Di antara 22 pegawai yang semula bergerak kurang dari 150 menit seminggu, rata-rata waktu aktivitas sedang sampai berat naik dari 67,74 menit menjadi 577,18 menit pada bulan keempat. Pada bulan keenam angkanya 379,77 menit. Dua puluh dua pegawai lain yang sejak awal sudah aktif naik dari 304,14 menjadi 717,45 menit, lalu 559,77 menit.
Pertanyaan yang Muncul Setiap Enam Puluh Menit
Alat kedua digarap dengan sokongan Teerapat Kansadub dan Khajornyod Anuraktam. Program itu mencatat lama pemakaian komputer dari gerak papan ketik dan tetikus. Begitu seorang pegawai bekerja enam puluh menit tanpa henti, muncul pesan di layar yang menanyakan apakah ia mau rehat. Ia boleh memilih rehat dengan caranya sendiri, memilih latihan, atau menolak dan terus bekerja.
Bagi yang memilih latihan, tim Boonprasop menyediakan sembilan belas gerakan yang semuanya dilakukan sambil berdiri. Gerakan itu dirancang dua belas ahli fisioterapi. Enam di antaranya melatih napas, kestabilan, dan kelenturan, enam lagi gerak aktif dan peregangan, tiga untuk saraf lengan, dua untuk penguatan, dan dua untuk rangsang peraba serta tangan. Tiap gerakan diulang lima sampai sepuluh kali, sehingga satu kali rehat memakan dua sampai lima menit.
Rencana Boonprasop semula adalah memasang program itu sejak hari pertama. Kenyataannya lain. Izin perusahaan untuk memasang program di komputer tiap pegawai memakan waktu lebih lama daripada perkiraan, dan program itu harus diubah dulu untuk menjawab kekhawatiran soal kerahasiaan data yang keluar dari perusahaan. Akibatnya gelang dipakai enam bulan penuh, sedangkan pengingat rehat baru bekerja pada dua bulan terakhir.
Sambutan pegawai tercatat rapi oleh Boonprasop dan rekan. Tiga orang meminta program itu dicopot, sehingga 84 dari 87 pegawai tetap memakainya. Dari yang bertahan, 82 orang mengaku bangkit dari kursi ketika pesan muncul dan dua orang menolak rehat. Tidak semuanya senang. “Selama dua bulan terakhir, meski banyak peserta mematuhi pengingat rehat tiap jam, beberapa orang melaporkan bahwa kekerapannya mengganggu pekerjaan mereka,” tulis para peneliti itu.
Duduk Berkurang 43 Menit, Kolesterol Baik Naik
Hasil yang paling mudah dibayangkan adalah lama duduk. Menurut catatan Jalayondeja dan tim, pegawai semula duduk rata-rata 7,50 jam sehari di tempat kerja. Pada bulan keempat angkanya 7,18 jam, dan pada bulan keenam 6,78 jam. Selisihnya dari awal 42,9 menit sehari. Dari jumlah itu, 23,8 menit hilang sesudah pengingat rehat terpasang selama dua bulan.
Darah para pegawai ikut berubah. Boonprasop mencatat kolesterol baik atau HDL naik dari 54,66 menjadi 57,16 miligram per desiliter pada bulan keempat, lalu 57,53 pada bulan keenam. Kolesterol jahat atau LDL bergerak lain. Angkanya sempat naik dari 128,21 ke 131,93, kemudian turun 7,34 poin menjadi 124,59 pada dua bulan terakhir, tepat ketika pengingat rehat mulai bekerja.
Lingkar perut memberi cerita yang lebih kecil. Perbandingan lingkar pinggang dengan tinggi badan, yang oleh tim Boonprasop dianggap berisiko bila melewati 0,5, turun dari 0,51 menjadi 0,50. Indeks massa tubuh hanya bergeser dari 24,61 ke 24,47, setelah sempat menyentuh 24,81 pada bulan keempat. Lingkar pinggang, kadar lemak tubuh, dan trigliserida tidak berubah secara berarti.
Perubahan paling jelas tampak pada pegawai yang sejak awal masuk golongan berisiko tinggi. Pada mereka, tulis Boonprasop, perbandingan pinggang dan tinggi turun pada pengukuran ketiga, trigliserida turun pada pengukuran kedua, dan HDL naik pada kedua pengukuran lanjutan. Sebagai pembanding, tim itu menyebut kajian gabungan Mulchandani dan rekan, yang menemukan program gerak di tempat kerja menurunkan indeks massa tubuh 2,61 poin dan lingkar pinggang 1,92 sentimeter.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Pegawai Lebih Tangkas Menyaring Gangguan
Jalayondeja dan rekan tidak hanya menimbang dan mengambil darah. Mereka juga menguji daya pikir, antara lain dengan tes Stroop, yang meminta orang menyebut warna tinta secepat mungkin dalam 45 detik. Skor bagian warna naik dari 77,19 menjadi 82,84 pada bulan keenam. Skor bagian warna-kata, yang lebih sulit, naik dari 41,86 menjadi 47,15 lalu 47,99.
Dari angka itu tim Boonprasop menghitung kemampuan menahan gangguan pikiran. Skornya naik dari 1,11 pada awal menjadi 2,63 pada bulan keempat dan 3,3 pada bulan keenam. Mereka membacanya sebagai perbaikan perhatian dan fungsi eksekutif, kemampuan yang menurut naskah menopang pekerjaan kantor: memusatkan perhatian, mengingat, dan mengambil keputusan di tengah pekerjaan yang sering terpotong.
Tes lain tidak ikut bergerak. Kemampuan mengulang deret angka dan kecepatan menanggapi cahaya di layar tablet tidak berubah secara berarti. Skor menyebut kata berawalan satu huruf Thai malah turun dari 20,53 ke 19,08 pada bulan keempat sebelum kembali ke 20,11. Boonprasop dan rekan tetap menilai hasil mereka sejalan dengan riset Bojsen-Møller dan Erickson yang mengaitkan gerak badan dengan daya pikir.
Mereka sendiri memasang rem pada tafsir itu. Para pegawai mengerjakan tes yang sama tiga kali, sehingga bisa saja mereka sekadar makin terbiasa. “Karena itu, sebagian perubahan yang teramati mungkin mencerminkan efek pengujian, bukan semata-mata dampak intervensi,” tulis Chutima Jalayondeja, peneliti Faculty of Physical Therapy Mahidol University yang menjadi penulis korespondensi, bersama timnya.
Yang Belum Bisa Dijawab Tim Mahidol
Keterbatasan penelitian ini disebut Boonprasop dan Jalayondeja dengan terang. Tidak ada kelompok pembanding, sebab semua pegawai bekerja di ruang yang sama dan mudah saling meniru. Peserta ikut secara sukarela, sehingga hasilnya lebih mewakili orang yang memang berminat hidup sehat. Pola makan dan kegiatan mereka di luar kantor pun tidak dikendalikan, sehingga pengaruh program sulit dipisahkan dari hal-hal itu.
Gelang dari tim Boonprasop juga tidak menyumbang angka. Terlalu banyak pegawai yang tidak menyerahkan data jam pintarnya, sehingga data itu dikeluarkan dari hitungan. Lama duduk dan waktu bergerak akhirnya hanya bersandar pada kuesioner yang diisi sendiri, dan cuma 44 dari 87 pegawai yang mengisinya lengkap tiga kali. Pengingat rehat yang hanya berjalan dua bulan membuat dampak jangka panjangnya belum terukur.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Tim Jalayondeja lalu menaruh temuan mereka di samping kajian Prince dan rekan. Di sana, program yang hanya mendorong gerak badan mengurangi duduk 19 menit sehari, sedangkan program yang menggabungkan dorongan gerak dan pengurangan duduk mengurangi 35 menit. Program yang khusus menyasar duduk malah mengurangi 91 menit. Dari situ mereka menyimpulkan bahwa jam pintar saja barangkali tidak cukup, dan pengingat rehat layak diuji lebih lama.
Angka yang Tidak Seragam di Dalam Naskah
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka Boonprasop dan rekan yang tidak sama antarbagian. Penurunan perbandingan pinggang dan tinggi dari awal ke bulan keenam ditulis 0,007 di abstrak, tetapi 0,013 di pembahasan. Pembahasan juga menyebut indeks massa tubuh bulan keenam berbeda nyata dari awal, sedangkan tabel hasil hanya menandai perbedaan nyata antara bulan keenam dan bulan keempat.
Ada satu lagi yang patut dicatat dari tabel tim Boonprasop. Kolesterol total naik dari 196,51 menjadi 203,61 pada bulan keempat dan 201,95 pada bulan keenam, sementara abstrak memasukkannya ke dalam deretan ukuran yang membaik. Naskah tidak menjelaskan kenaikan itu. Selain itu, satu sel tabel untuk skor awal tes deret angka tercetak tidak lazim, sehingga nilainya tidak bisa dibaca dengan pasti.
Maka yang tersisa dari enam bulan di kantor Bangkok itu adalah gambaran awal, dan begitulah Sira Boonprasop dan Chutima Jalayondeja sendiri menyebut pekerjaan mereka. Sebuah gelang murah membuat banyak pegawai mau bergerak. Sebuah pertanyaan di layar tiap enam puluh menit membuat sebagian besar dari mereka berdiri, sementara beberapa yang lain merasa terganggu. Berapa lama kebiasaan itu bertahan, belum ada yang mengukurnya.















