Debu Silika dan Benzena Dikaitkan Ratusan Kanker Pekerja Iran

A A

Ilustrasi pekerja berhelm dan bermasker memotong lempeng batu di bengkel penuh debu [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Model para peneliti mengaitkan 623 kasus kanker pada 2019 dengan paparan debu silika di tempat kerja di Iran.
  • Sebanyak 602 kasus kanker dikaitkan dengan paparan benzena, dengan kanker kandung kemih di urutan teratas.
  • Asbes punya fraksi atribusi tertinggi, 42 persen, tetapi hanya 57 pekerja tercatat terpapar pada 2019.
  • Bila pelaporan diasumsikan hanya separuh lengkap, total kasus naik dari 1.285 menjadi 2.571.
Daftar Isi
  1. Ruang Kosong di Antara Angka Global dan Pabrik Iran
  2. Debu Silika di Puncak Hitungan
  3. Asbes dan 57 Pekerja yang Tercatat
  4. Ketika Iran Disandingkan dengan Eropa
  5. Angka yang Berlipat Saat Catatan Bolong
  6. Batas yang Diakui Sendiri

Paparan zat penyebab kanker di tempat kerja hanya menyumbang porsi yang relatif kecil dari seluruh kanker. Meski begitu, empat peneliti kesehatan masyarakat di Iran menilai perkiraan bebannya di negeri itu tetap cukup besar, karena paparan meluas di industri-industri besar sementara data nasionalnya langka. Mereka lalu mencoba menaksir berapa banyak kasus kanker yang dapat dikaitkan dengan paparan itu.

Para peneliti itu adalah Ahmad Naghibzadeh-Tahami dari Departemen Biostatistik dan Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kerman University of Medical Sciences, bersama rekan-rekannya dari kampus yang sama dan dari Alborz University of Medical Sciences di Karaj. Temuan mereka dimuat dalam artikel Attributable fraction and number of cancer cases attributed to occupational carcinogens in Iran in 2019 di jurnal BMC Public Health tahun 2026, dengan Ali-Akbar Haghdoost sebagai penulis korespondensi.

Mereka menaksir berapa kasus kanker paru, kandung kemih, laring, hati, dan leukemia pada 2019 yang dapat dikaitkan dengan empat zat di tempat kerja, yakni debu silika kristalin, benzena, asbes, dan timbal. Bahannya adalah catatan 196.854 pekerja yang terpapar zat karsinogen kimia menurut sistem pemantauan paparan kerja Kementerian Kesehatan Iran, ditambah data registri kanker nasional tahun yang sama.

Ruang Kosong di Antara Angka Global dan Pabrik Iran

Paper itu membuka dengan gambaran yang jauh lebih luas daripada Iran. Menurut Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), hampir 200 agen digolongkan sebagai penyebab kanker pada manusia atau kemungkinan besar penyebab kanker, dan cukup banyak di antaranya dijumpai di tempat kerja. Perkiraan global yang dikutip para penulis menyebut sekitar 19 persen kanker terkait faktor lingkungan dan pekerjaan, setara hampir 1,3 juta kematian setiap tahun.

Namun, di Iran sendiri, belum pernah ada taksiran menyeluruh dengan satu kerangka analisis yang seragam, padahal menurut Buku Statistik Tahunan Iran sekitar 1.703.800 orang bekerja di sektor industri, sebagian besar laki-laki. Dua riset Iran terdahulu berbasis data sekunder yang disebut paper itu melaporkan fraksi atribusi yang tak bisa diabaikan untuk kanker paru dan leukemia terkait paparan kerja.

Para penulis menyebut model mereka sebagai perkiraan berbasis skenario, bukan perkiraan beban empiris secara langsung, karena bahan bakunya datang dari sumber yang beragam: rasio odds dari tinjauan sistematis, jumlah pekerja dari sistem pemantauan, dan insidens kanker dari registri nasional. Pekerja diasumsikan mulai bekerja sekitar usia 30 tahun dan terpapar rata-rata 40 tahun.

Baca juga Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit

Debu Silika di Puncak Hitungan

Asbes punya fraksi atribusi tertinggiAsbes 42; Silika 36; Timbal 34; Benzena 23.Asbes punya fraksi atribusi tertinggiFraksi atribusi (AF), persen, gabungan lima jenis kanker01020304050Asbes42Silika36Timbal34Benzena23Tabel 2, kolom AF %. Asbes: hanya 57 pekerja terpapar pada 2019
Sumber: Ahmad Naghibzadeh-Tahami dan rekan, Attributable fraction and number of cancer cases attributed to occupational carcinogens in Iran in 2019, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari keempat zat itu, debu silika menyumbang jumlah kasus terbanyak. Model para peneliti mengaitkan 623 kasus kanker pada 2019 dengan paparan silika di masa lalu, dengan rentang ketidakpastian 365 sampai 881 kasus, terdiri atas 204 kasus kanker kandung kemih, 174 kanker paru, 127 leukemia, 59 kanker hati, dan 59 kanker laring. Fraksi atribusinya 36 persen untuk kelima kanker itu sekaligus.

Menurut paper itu, 36 persen kasus kanker paru, kandung kemih, hati, laring, dan leukemia di kalangan pekerja industri Iran berpotensi dicegah dengan menghapus paparan silika. Jumlah kasus dalam model diperoleh dengan mengalikan fraksi atribusi dengan jumlah pekerja yang tercatat terpapar, sehingga angkanya menyangkut kelompok pekerja yang terpapar.

Benzena hanya terpaut tipis di belakangnya. Sebanyak 602 kasus, dengan rentang 334 sampai 887, dikaitkan dengan paparan benzena di tempat kerja, dan sekali lagi kanker kandung kemih berada di urutan teratas dengan 200 kasus, disusul kanker paru 168 kasus, leukemia 122 kasus, serta kanker hati dan laring yang masing-masing 56 kasus. Fraksi atribusinya lebih rendah, yakni 23 persen.

Timbal berada pada skala yang jauh lebih kecil. Model mengaitkan 60 kasus kanker dengan paparan timbal di masa lalu, dengan rentang 46 sampai 77, terdiri atas 19 kasus kandung kemih, 16 kasus paru, 14 leukemia, 6 kanker hati, dan 5 kanker laring. Meski jumlahnya kecil, fraksi atribusinya 34 persen, yang menurut paper berarti sekitar 34 persen kasus kelima kanker itu di kalangan pekerja industri Iran berpotensi dicegah bila paparan timbal dihapuskan.

Asbes dan 57 Pekerja yang Tercatat

Asbes mencatat fraksi atribusi tertinggi di antara keempat zat, yaitu 42 persen dengan rentang 18 sampai 60, tetapi jumlah kasus yang dikaitkan dengannya hanya sekitar 0,41 kasus. Penyebabnya, menurut paper itu, jumlah pekerja terpapar yang sangat terbatas: sistem pemantauan nasional hanya mencatat 57 pekerja yang terpapar asbes di industri Iran pada 2019. Para penulis menyebut hasil itu mencerminkan gabungan pengaruh populasi terpapar yang kecil dan asumsi yang dipakai dalam model simulasi.

Para penulis sengaja tetap mencantumkan angka sekecil itu dalam tabel demi kelengkapan dan agar tidak disalahpahami. Mereka juga mencatat bahwa penggunaan asbes dalam produk akhir dilarang di Iran sejak 2000 dan impor asbes putih dilarang pada 2012, meski sejumlah industri, seperti pembuatan mobil, masih mengandalkan bahan berasbes selama beberapa tahun sesudahnya.

Benzena memperlihatkan kebalikannya. Paparannya menyentuh populasi pekerja yang relatif besar, tetapi rasio odds yang dipakai tergolong sedang, sehingga jumlah kasusnya tinggi sementara fraksi atribusinya lebih rendah daripada asbes dan silika.

Para penulis merangkum temuan itu dalam simpulan mereka. “Temuan ini menunjukkan bahwa paparan zat karsinogenik di tempat kerja mungkin berkontribusi secara substansial terhadap beban sejumlah kanker tertentu di Iran,” tulis Naghibzadeh-Tahami dan rekan dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa perkiraan itu bersifat eksploratif dan bertumpu pada asumsi pemodelan berbasis skenario, tetapi menyoroti pentingnya intervensi pencegahan di tempat kerja serta sistem pemantauan paparan kerja yang lebih baik.

Baca juga Tanah Tambang Timbal Guizhou Lebih Mengancam Anak daripada Dewasa

Ketika Iran Disandingkan dengan Eropa

Paper itu kemudian menoleh ke negara lain, meski dengan peringatan bahwa perbandingan lintas negara harus dibaca hati-hati. Di Inggris, Lesley Rushton dan rekan pada 2012 melaporkan 907 kasus kanker paru terkait silika pada 2004 sampai 2005, sedangkan di Prancis Micallef dan rekan pada 2018 menaksir 444 kasus kanker paru, dan Houot dan rekan pada 2021 melaporkan 505 kasus.

Menurut para penulis, angka Houot, yang metodenya mirip dengan riset Iran ini, hampir sama dengan total seluruh kanker terkait silika dalam taksiran mereka, dan perkiraan Iran untuk semua kanker terkait silika lebih rendah. Para penulis mengingatkan bahwa perbedaan metode, pelaporan yang kurang, dan cara menilai paparan bisa sangat memengaruhi hasil, sementara perlindungan yang terbatas di negara berkembang serta pemantauan paparan yang tidak lengkap dapat membuat beban sesungguhnya tertaksir terlalu rendah.

Kasus kanker terkait silika dan benzenaLeukemia: Silika 127, Benzena 122; Paru: Silika 174, Benzena 168; Kandung kemih: Silika 204, Benzena 200; Hati: Silika 59, Benzena 56; Laring: Silika 59, Benzena 56.Kasus kanker terkait silika dan benzenaJumlah kasus yang diatribusikan (AN), Iran 2019SilikaBenzena050100150200250127122Leukemia174168Paru204200Kandungkemih5956Hati5956LaringTabel 2, kolom AN per lokasi kanker. Total: silika 623, benzena 602
Sumber: Ahmad Naghibzadeh-Tahami dan rekan, Attributable fraction and number of cancer cases attributed to occupational carcinogens in Iran in 2019, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Untuk benzena, ceritanya terbalik. Studi Eropa yang dikutip paper itu mencatat 41 kasus leukemia terkait paparan kerja di Prancis menurut Micallef dan rekan, 7 kasus di Inggris menurut Rushton, 16 kasus menurut Houot, dan 145 kasus menurut Paolo Boffetta dan rekan pada 2010. Perkiraan Iran berada di atas beberapa angka Eropa tersebut, sementara riset Iran terdahulu melaporkan fraksi lebih rendah untuk leukemia terkait paparan benzena, kemungkinan karena beda metode dan cara menilai paparan. Para penulis menawarkan dugaan penjelasannya.

“Hal ini mungkin mencerminkan luasnya industri minyak, gas, dan petrokimia di Iran, tempat paparan benzena di lingkungan kerja masih relatif umum,” tulis mereka, juga dalam terjemahan. Untuk asbes, paper itu juga mencantumkan pembanding: di Prancis, Marant Micallef dan rekan pada 2021 menaksir 1.373 kanker paru dan 42 kanker laring terkait paparan asbes di tempat kerja, sedangkan di Inggris, Rushton dan rekan melaporkan 2.223 kanker paru dan 8 kanker laring.

Angka yang Berlipat Saat Catatan Bolong

Paper itu juga memuat uji kepekaan. Bila pelaporan diasumsikan lengkap seratus persen, total kasus kanker yang dikaitkan dengan keempat paparan itu ditaksir 1.285. Ketika pelaporan diasumsikan hanya separuh lengkap, angka itu naik menjadi 2.571, kira-kira dua kali lipat. Menurut paper, kanker kandung kemih, paru, leukemia, laring, dan hati berturut-turut menempati urutan pertama sampai kelima dalam jumlah kasus yang dikaitkan dengan paparan kerja.

Kenaikan yang sebanding itu, menurut para penulis, menunjukkan bahwa besarnya beban sangat peka terhadap kelengkapan pencatatan. Jumlah pekerja terpapar pun sebetulnya hanya tersedia dalam satu angka, dan berdasarkan konsultasi dengan ahli kesehatan kerja di Kementerian Kesehatan, angka itu dianggap batas atas, sementara batas bawahnya kira-kira 25 persen lebih rendah. Dari situ para penulis menegaskan pentingnya memperkuat sistem pemantauan paparan kerja di Iran.

Baca juga Kedokteran Kerja dari Milan 1906 hingga Surabaya 2026

Batas yang Diakui Sendiri

Para penulis tidak menyembunyikan batas-batas riset mereka. Hanya empat zat penyebab kanker yang tercatat secara sistematis dalam sistem pemantauan nasional, kadar paparan tidak diukur langsung, dan model bersandar pada sejumlah asumsi, antara lain tanpa faktor perancu dan efek interaksi, struktur populasi yang tetap, serta hubungan paparan dan respons yang linear.

Rasio odds yang dipakai pun sebagian besar berasal dari riset di negara maju, yang mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi kerja di Iran. Rentang ketidakpastian hanya mencerminkan variasi data masukan, bukan seluruh ketidakpastian epidemiologis, sehingga, dalam terjemahan kalimat para penulis, “hasilnya tidak boleh ditafsirkan sebagai perkiraan beban yang presisi.” Yang mereka tawarkan adalah taksiran awal untuk riset dan pemantauan berikutnya, disertai seruan agar strategi pencegahan dijalankan di tempat kerja yang paparannya masih berlangsung.

Di bagian hasil, paper itu menyebut zat karsinogen kimia yang menurut monograf IARC paling sering dijumpai di tempat kerja, yakni asbes, silika, benzena, kromium, kadmium, timbal, asap knalpot mesin diesel, dan formaldehida, sedangkan di Iran paparan silika, asbes, timbal, dan benzena tergolong umum di berbagai industri. Para penulis berharap kerangka awal ini membantu arah pemantauan, riset, dan kebijakan kesehatan kerja di Iran ke depan.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja TI Wuhan Duduk Tujuh Jam, Satu dari Lima Bergejala Cemas
Kecelakaan Kurir Motor Ankara Terkait Cuaca dan Status Kerja
Pekerja Informal Sumatera Utara Lebih Banyak Mengeluh Sakit Otot
Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Mohsen Rezaei Temui Putin, Sampaikan Pesan Mojtaba Khamenei