- Timbal, kadmium, dan seng mencemari kedua lapis tanah dengan berat.
- Pada anak-anak, rata-ratanya 1,22 dan pada paparan tinggi 2,74, jauh di atas batas.
- Tumbuhan, sebagai penyerap logam lewat akar, memikul 25,0 persen.
- Daya tampung sisa ketiganya habis, yang menurut para peneliti berarti tanah sudah kelebihan beban.
Daftar Isi
- Tanah Atas Menyimpan Jejak Debu yang Masih Baru
- Tanah Bawah Menyimpan Seng dan Raksa yang Lebih Tua
- Di Tubuh Manusia, Anak Menanggung Beban Lebih Berat
- Di Rantai Makanan, Mikroba Tanah Menanggung Paling Banyak
- Kadmium, Timbal, dan Seng Sudah Kehabisan Ruang
- Raksa Paling Cepat Kehilangan Ruang dalam Sepuluh Tahun
Seorang anak yang bermain di tanah terbuka dan sekumpulan mikroba yang hidup di bawah akar tanaman tampak tidak punya urusan satu sama lain. Di sekitar sebuah tambang timbal-seng di Distrik Shuicheng, Kota Liupanshui, Provinsi Guizhou, Tiongkok, keduanya memikul beban dari tanah yang sama, dan masing-masing memikulnya paling berat di kelompoknya sendiri.
Temuan itu ditulis Tianzhu Shi, Jingyi Huang, Shihuang Chen, Huawei Chen, Huajie Xu, Ju Guo, Xiangui Wang, Qiong Li, Qulai Tang, Feng Xie, dan Guanglin Song dalam Integrated assessment and forecasting of heavy metal contamination in soils affected by Pb–Zn mining in Guizhou, China, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1818, tahun 2026. Sebagian besar penulisnya berasal dari Moutai Institute di Renhuai, sementara Guanglin Song dari Guizhou Academy of Testing and Analysis.
Tanah yang mereka periksa berasal dari 20 titik di sekitar satu perusahaan tambang, membentang sekitar 1,76 kilometer dari kawasan pengolahan bijih dan timbunan tailing sampai lahan terdampak terjauh. Di setiap titik ada dua lapis yang dibandingkan, yakni tanah atas sedalam 0 sampai 20 sentimeter dan tanah bawah sedalam 20 sampai 60 sentimeter.
Gambaran besarnya langsung terlihat. Timbal, kadmium, dan seng mencemari kedua lapis tanah dengan berat, dan hanya tiga logam itulah yang rata-ratanya melewati ambang risiko tanah pertanian dalam standar Tiongkok. Timbal menjadi yang paling mencolok, dengan rata-rata 381 miligram per kilogram di tanah atas, kira-kira 21,6 kali kadar latar alami tanah Liupanshui.
Tanah Atas Menyimpan Jejak Debu yang Masih Baru
Di tanah atas, enam dari delapan logam yang diperiksa berada di atas kadar latar setempat. Seng rata-rata 796 miligram per kilogram atau 6,65 kali kadar latar, kadmium 2,30 miligram per kilogram atau 5,78 kali, dan raksa 0,300 miligram per kilogram atau 2,75 kali. Tembaga dan arsen hanya sedikit di atas latar, masing-masing 1,31 dan 1,26 kali.
Ukuran pencemaran gabungan juga lebih tinggi di lapis ini. Indeks beban pencemaran tanah atas rata-rata 2,11 dengan rentang 0,80 sampai 7,99, sedangkan tanah bawah rata-rata 1,93. Para peneliti membaca pola itu sebagai tanda pengaruh manusia yang lebih kuat di permukaan, kemungkinan dari endapan debu yang terus turun dan limpasan air di permukaan tanah.
Timbal memberi sinyal paling keras di permukaan. Nilai akumulasi geologisnya rata-rata 3,30, masuk golongan tercemar sedang sampai berat, sementara seng dan kadmium tercemar ringan sampai sedang dan raksa tercemar ringan. Tiga titik, yakni S1, S3, dan S4, menunjukkan jejak tambang paling kuat dan disebut layak diprioritaskan untuk pemantauan serta pemeriksaan lapangan.
Sebaran risikonya pun berat di permukaan. Indeks risiko ekologis tanah atas berkisar dari 157 sampai 1.570, dengan 65 persen titik masuk risiko sedang, 15 persen risiko cukup besar, dan 20 persen risiko tinggi. Kadmium menjadi penekan ekologis utama, disusul raksa dan timbal, karena daya racun keduanya tinggi meski kadar raksa relatif rendah.
Tanah Bawah Menyimpan Seng dan Raksa yang Lebih Tua
Pada lapis kedua, ceritanya tidak sepenuhnya serupa. Timbal di tanah bawah memang sedikit lebih rendah, rata-rata 334 miligram per kilogram atau 18,9 kali kadar latar, tetapi seng justru naik menjadi 913 miligram per kilogram atau 7,63 kali, dan raksa menjadi 0,385 miligram per kilogram atau 3,53 kali kadar latar.
Para peneliti menduga logam itu turun dari permukaan, tertahan dari cemaran lama di bawah lapisan olah, atau ikut berasal dari batuan induk setempat. Guizhou adalah kawasan karst yang tanahnya kaya karbonat, dan kondisi itu disebut bisa memengaruhi gerak logam ke bawah. Mereka juga mengakui bahwa perpindahan ke bawah ini hanya disimpulkan dari selisih dua lapis, bukan diukur langsung.
Di sisi lain, logam yang berasal dari alam bertingkah berbeda. Timbal dan seng bergerak sangat seiring di seluruh titik, sehingga keduanya diduga bersumber sama dari tambang, sedangkan kromium dan nikel tetap di bawah kadar latar dan tersebar merata. Kedua logam terakhir itu dibaca sebagai hasil pelapukan batuan induk, bukan buangan kegiatan tambang.
Tanah bawah tetap tidak bisa disebut aman. Indeks risiko ekologisnya berkisar dari 86,1 sampai 1.570, dan selain lima titik yang tergolong rendah, sisanya masuk risiko sedang sampai tinggi. Seperti di permukaan, hanya kadmium, timbal, dan seng yang rata-ratanya melewati ambang risiko tanah pertanian, sehingga dua lapis itu sama-sama membawa beban tiga logam yang sama.
Baca juga Wisata, Tambang, dan Hak Tanah Togutil di Halmahera
Di Tubuh Manusia, Anak Menanggung Beban Lebih Berat
Dari tanah yang sama, beban kesehatan terbagi timpang menurut usia. Pada orang dewasa, indeks bahaya nonkanker rata-rata 0,122 dan pada paparan tinggi 0,286, keduanya di bawah batas aman 1. Pada anak-anak, rata-ratanya 1,22 dan pada paparan tinggi 2,74, jauh di atas batas, atau sekitar sepuluh kali angka orang dewasa untuk nilai rata-rata.
Urutan logam penyumbang bahaya nonkanker sama untuk kedua kelompok, dimulai dari timbal, arsen, lalu kromium. Pada anak dengan paparan tinggi, nilai bahaya timbal dan arsen masing-masing sudah melewati angka 1. Para peneliti menjelaskan anak lebih rentan karena lebih banyak menelan tanah dibanding berat badannya yang lebih ringan daripada orang dewasa.
Pada risiko kanker, jaraknya serupa tetapi aktornya bergeser. Bagi orang dewasa, risiko kanker dari arsen, kadmium, kromium, dan nikel tetap dalam rentang yang dapat diterima, bahkan pada paparan tinggi. Bagi anak, risiko setiap logam lebih tinggi, dan risiko kanker gabungan pada paparan tinggi melewati ambang satu per sepuluh ribu yang dianggap tidak dapat diterima.
“Temuan ini menunjukkan risiko kesehatan yang jauh lebih tinggi bagi anak-anak dan mendukung prioritas pengurangan risiko di tempat-tempat anak terpapar,” tulis Tianzhu Shi dari School of Brewing Engineering, Moutai Institute, bersama rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi The findings indicate substantially higher health risks for children and support priority risk reduction in child-exposure settings.
Di Rantai Makanan, Mikroba Tanah Menanggung Paling Banyak
Pada kasus kedua, penanggung beban terbesar bukan manusia melainkan penghuni tanah itu sendiri. Dari empat komponen ekosistem yang ditelusuri, yakni tumbuhan, hewan pemakan tumbuhan, hewan pemangsa, dan mikroba tanah, nilai risiko terpadu mikroba mencapai 2,46. Tumbuhan menyusul dengan 0,924, hewan pemakan tumbuhan 0,188, dan hewan pemangsa 0,131.
“Mikroorganisme tanah adalah penampung utama risiko ekologis, dengan porsi 66,4% dari risiko ekosistem terpadu,” tulis para peneliti dalam kesimpulan berbahasa Inggris, yang aslinya berbunyi soil microorganisms were the main ecological risk sink, accounting for 66.4% of integrated ecosystem risk. Tumbuhan, sebagai penyerap logam lewat akar, memikul 25,0 persen.
Beban itu menurun bertingkat ke atas rantai makanan. Ancaman bagi mikroba tanah 2,66 kali ancaman bagi tumbuhan, tumbuhan 4,91 kali hewan pemakan tumbuhan, dan hewan pemakan tumbuhan 1,44 kali hewan pemangsa. Risiko hewan pemangsa sendiri 68,7 persen datang dari mangsanya dan 31,3 persen dari tumbuhan, bukan langsung dari tanah.
Timbal, seng, dan kadmium memberi tekanan paling kuat di semua tingkat, lalu merambat ke hewan pemakan tumbuhan dan pemangsa. Sebaliknya, raksa, tembaga, dan arsen terutama mengenai tumbuhan dan mikroba dengan perpindahan kecil ke tingkat di atasnya. Risiko awal yang diterima mikroba juga tidak diteruskan ke komponen lain, sehingga beban itu berhenti dan menumpuk di sana.
Baca juga Semprotan Adas Sowa Tak Menutup Jurang Tanah Lempung dan Gipsum
Kadmium, Timbal, dan Seng Sudah Kehabisan Ruang
Pertanyaan berikutnya adalah seberapa banyak lagi logam yang masih bisa ditampung tanah sebelum melewati ambang aman. Untuk kadmium, timbal, dan seng, jawabannya sudah nol di kedua lapis tanah. Daya tampung sisa ketiganya habis, yang menurut para peneliti berarti tanah sudah kelebihan beban dan tidak mampu menerima tambahan tanpa kerusakan lebih lanjut.
Logam lain masih punya ruang, dengan ukuran yang sangat berbeda. Daya tampung awal seng tercatat 293 kilogram per hektare, sedangkan raksa hanya 1,10 kilogram per hektare, sehingga raksa paling mudah jenuh. Sisa ruang arsen dan raksa sudah tinggal 44,0 sampai 61,4 persen dari daya tampung awalnya, tanda tekanan pencemaran yang terus bertambah.
Kromium dan nikel justru menunjukkan sisa ruang di atas daya tampung awalnya. Para peneliti menduga hal itu terjadi karena ambang risiko yang dipakai cukup longgar, atau karena kedua logam memang sulit bergerak di tanah. Kedua dugaan itu sejalan dengan kesimpulan sebelumnya bahwa kromium dan nikel di kawasan ini lebih banyak berasal dari alam.
Raksa Paling Cepat Kehilangan Ruang dalam Sepuluh Tahun
Bila tekanan pencemaran berlanjut, ruang yang tersisa itu ikut menyempit. Dalam skenario yang disusun para peneliti, dalam sepuluh tahun daya tampung kromium turun 66,0 persen, nikel 73,0 persen, tembaga 71,0 persen, arsen 65,0 persen, dan raksa 82,0 persen. Penurunan paling tajam terjadi di dekade pertama, lalu melambat setelah 30 tahun.
Skenario itu memakai satu ukuran penyusutan yang sama untuk semua logam, sehingga para peneliti meminta hasilnya dibaca sebagai arah perubahan, bukan ramalan pasti tiap logam. Keterbatasan lain juga diakui: 20 titik belum cukup untuk memetakan musim, dan risiko kesehatan dihitung dari kadar total logam, sehingga kemungkinan besar terhitung lebih tinggi daripada yang benar-benar terserap tubuh.
Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Ada dua angka yang patut diperiksa pembaca. Pada tanah bawah, lima titik risiko rendah setara 25 persen, ditambah 30 persen sedang, 10 persen cukup besar, dan 30 persen tinggi, jumlahnya 95 persen. Untuk tembaga, tabel daya tampung mencatat 116 menjadi 30,0 kilogram per hektare dalam sepuluh tahun, sekitar 74 persen, bukan 71,0 persen seperti di teks.
Naskah juga menyebut risiko kanker gabungan anak umumnya dalam rentang dapat diterima, tetapi pada kalimat yang sama menyatakan nilai paparan tingginya melewati ambang. Untuk menekan risiko, para peneliti menyarankan pengendalian sumber di tailing dan pengolahan bijih, penekanan debu, penutupan atau penggantian tanah bersih, tanaman lokal yang tahan logam, serta pembatasan paparan anak.
Anak yang bermain di tanah terbuka dan mikroba di bawah akar tanaman akhirnya berdiri di dua ujung yang sejajar. Satu menanggung bahaya kesehatan sepuluh kali orang dewasa, yang lain menanggung dua pertiga beban ekosistem, dan keduanya hidup di atas tanah yang untuk kadmium, timbal, serta seng sudah tidak menyisakan ruang lagi.















