- Gula darah puasa kelompok jeda gerak turun dari 5,38 menjadi 5,09 mmol/L dalam 12 minggu.
- Selisih gula darah dua jam antara kelompok jeda gerak dan kontrol mencapai 0,58 mmol/L pada minggu ke-12.
- Sembilan dari 16 peserta prediabetes di kelompok jeda gerak beralih ke gula darah normal pada minggu ke-12.
- Rapat kerja menjadi penghalang yang paling sering disebut, oleh 64 persen peserta.
Daftar Isi
- Awal Uji: 86 Pegawai Diundi ke Dua Kelompok
- Minggu Keenam: Gula Darah Mulai Bergeser
- Minggu Kedua Belas: Gula Darah dan Insulin Terus Turun
- Minggu Kedua Belas: Pinggang Menyusut, Tekanan Sistolik Turun
- Minggu Kedua Belas: Peserta Prediabetes dan Catatan Kepatuhan
- Sesudah Minggu Kedua Belas: Batas Uji di Nanchang
Antara September dan Oktober 2024, 142 pegawai kantor di Nanchang, Tiongkok, diperiksa kelayakannya untuk sebuah uji coba. Sebanyak 86 orang lolos. Mereka bekerja di tiga tempat: satu kantor administrasi pemerintahan, satu perusahaan jasa keuangan, dan satu perusahaan teknologi.
Dua belas minggu kemudian, gula darah puasa kelompok yang diminta bergerak tiga menit setiap jam turun dari 5,38 menjadi 5,09 mmol/L. Pada kelompok yang bekerja seperti biasa, angkanya 5,42 di awal dan 5,40 di akhir. Selisih antarkelompoknya 0,31 mmol/L.
Uji coba itu dilaporkan Yu Fang dan rekan. Fang, Pengpeng Dong, dan Fang Wan berasal dari Departemen Budaya Publik Nanchang Health Vocational and Technical College, sedangkan Haolan Li dari Anhui Lvhai Vocational College of Business di Hefei. Laporan mereka berjudul Micro-exercise breaks every hour: a feasible strategy to improve metabolic health in sedentary office workers dan terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Awal Uji: 86 Pegawai Diundi ke Dua Kelompok
Peserta harus berusia 25 sampai 55 tahun, duduk lebih dari enam jam per hari kerja, memiliki indeks massa tubuh 19 sampai 35 kg/m², dan bergerak sedang hingga berat kurang dari 150 menit per minggu. Penyandang diabetes, pekerja sif, serta perempuan hamil atau menyusui tidak diikutkan.
Sesudah pemeriksaan awal, 86 peserta diundi dengan bilangan acak dari komputer. Sebanyak 43 orang masuk kelompok jeda gerak dan 43 lainnya masuk kelompok kontrol. Petugas pengukur dan petugas laboratorium tidak diberi tahu siapa masuk kelompok mana.
Gambaran awal peserta dicatat dalam tabel pertama. Usia rata-rata mereka 37,8 tahun, dan 59,5 persen perempuan. Indeks massa tubuh rata-rata 28,5 kg/m². Rata-rata waktu duduk harian tercatat 8,2 jam di kelompok jeda gerak dan 8,3 jam di kelompok kontrol.
Tingkat gerak mereka rendah sejak awal, rata-rata hanya 349 MET-menit aktivitas sedang hingga berat per minggu. Gula darah puasa rata-rata 5,40 mmol/L, gula darah dua jam sesudah uji toleransi glukosa 7,15 mmol/L, dan skor resistansi insulin HOMA-IR 2,21. Sebanyak 32 peserta, atau 40,5 persen, tergolong prediabetes.
Kelompok jeda gerak menerima satu sesi latihan bersama selama 45 menit di awal. Setiap orang mendapat panduan bergambar berlaminasi dan lembar catatan kepatuhan. Mereka dianjurkan memasang pengingat tiap jam di telepon pintar, dan pesan penyemangat dikirim setiap minggu.
Tugas hariannya sederhana. Setiap jam antara pukul 09.00 dan 17.00, peserta berhenti bekerja selama tiga menit, sehingga ada tujuh jeda dalam sehari. Isinya enam gerakan tanpa alat, masing-masing 30 detik: berbaris di tempat, push-up di meja atau dinding, jongkok dengan kursi atau meja, berjinjit, memutar lengan dan bahu, serta memutar badan perlahan.
Gerakan itu dipilih karena tidak butuh alat, tidak butuh ruang luas, dan bisa dilakukan dengan pakaian kerja. Kelompok kontrol diminta bekerja seperti biasa tanpa sengaja menambah gerak. Mereka ditawari pelatihan yang sama sesudah penilaian minggu ke-12.
Baca juga Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok
Minggu Keenam: Gula Darah Mulai Bergeser
Penilaian pertama sesudah awal uji jatuh pada minggu keenam. Gula darah puasa kelompok jeda gerak turun dari 5,38 menjadi 5,24 mmol/L. Pada kelompok kontrol, angkanya 5,42 di awal dan 5,39 di minggu keenam. Selisih antarkelompok pada titik ini 0,18 mmol/L.
Gula darah dua jam bergerak searah. Kelompok jeda gerak turun dari 7,12 menjadi 6,84 mmol/L, sedangkan kelompok kontrol dari 7,18 menjadi 7,15. Selisih antarkelompoknya 0,34 mmol/L, dan para penulis menyebutnya perbaikan metabolik yang bertahap.
Skor HOMA-IR, ukuran resistansi insulin dalam penelitian ini, turun dari 2,18 menjadi 1,91 pada kelompok jeda gerak. Kelompok kontrol mencatat 2,24 di awal dan 2,20 di minggu keenam. Selisih antarkelompoknya 0,24. Pengukuran berikutnya dijadwalkan enam minggu kemudian.
Minggu Kedua Belas: Gula Darah dan Insulin Terus Turun
Pada minggu ke-12, penurunan itu berlanjut. Gula darah puasa kelompok jeda gerak mencapai 5,09 mmol/L, turun 0,29 dari awal. Kelompok kontrol berada di 5,40. Selisih antarkelompoknya 0,31 mmol/L, dengan nilai p di bawah 0,001.
Gula darah dua jam kelompok jeda gerak turun 0,64 mmol/L, dari 7,12 menjadi 6,48. Kelompok kontrol turun 0,06, dari 7,18 menjadi 7,12. Selisih antarkelompoknya 0,58 mmol/L, dan para penulis menggolongkan besar efeknya sedang.
Skor HOMA-IR kelompok jeda gerak turun 0,45, dari 2,18 menjadi 1,73. Kelompok kontrol turun 0,03, dari 2,24 menjadi 2,21. Selisih 0,42 itu, menurut Fang dan rekan, kira-kira setara dengan 20 persen perbaikan kepekaan insulin.
Para penulis menulis bahwa penurunan gula darah puasa dan gula darah dua jam itu sebanding dengan hasil program gaya hidup yang lebih berat, yang memadukan latihan terstruktur dan perubahan pola makan. Perbaikan itu terjadi tanpa waktu olahraga khusus, tanpa alat, dan tanpa perubahan jadwal kerja.
“Jeda olahraga mikro tiga menit setiap jam merupakan strategi yang layak dan efektif untuk memperbaiki kesehatan metabolik pekerja kantor yang banyak duduk,” tulis Fang dan rekan dalam simpulan abstrak mereka. Kalimat itu terjemahan Cekricek.id dari naskah berbahasa Inggris.
Minggu Kedua Belas: Pinggang Menyusut, Tekanan Sistolik Turun
Ukuran tubuh ikut berubah. Lingkar pinggang kelompok jeda gerak menyusut dari 94,2 menjadi 91,8 sentimeter, sedangkan kelompok kontrol dari 94,8 menjadi 94,5. Selisih antarkelompoknya 2,1 sentimeter. Indeks massa tubuh berselisih 0,4 kg/m², dan persentase lemak tubuh berselisih 0,9 persen.
Berat badan cenderung turun, tetapi perubahannya tidak bermakna secara statistik. Tekanan darah sistolik kelompok jeda gerak turun dari 128,4 menjadi 124,2 mmHg, sementara kelompok kontrol dari 129,1 menjadi 128,8. Selisih antarkelompoknya 3,9 mmHg.
Pada lemak darah, kolesterol HDL kelompok jeda gerak naik dari 1,2 menjadi 1,3 mmol/L, sedangkan kelompok kontrol tetap 1,2. Kolesterol total dan kolesterol LDL tidak berbeda bermakna antarkelompok.
Alat pengukur gerak yang dipakai di pinggul mencatat kelompok jeda gerak menambah 21 menit aktivitas ringan per hari dibanding kelompok kontrol. Waktu duduk mereka berkurang 42 menit per hari. Aktivitas sedang hingga berat di luar jam kerja tidak berbeda bermakna antarkelompok.
Penilaian diri peserta juga bergeser. Skor energi kelompok jeda gerak naik dari 5,2 menjadi 7,0, dan skor produktivitas kerja dari 6,4 menjadi 7,8. Dibanding kelompok kontrol, selisihnya 1,6 poin untuk energi dan 1,3 poin untuk produktivitas. Rasa lelah sore hari 2,1 poin lebih rendah dibanding kelompok kontrol, sedangkan keluhan otot dan tulang tidak berbeda bermakna.
Baca juga Bergerak Petang Hari, Pekerja Jepang Lebih Jarang Murung Esoknya
Minggu Kedua Belas: Peserta Prediabetes dan Catatan Kepatuhan
Hasil paling mencolok datang dari 32 peserta yang tergolong prediabetes di awal, 16 orang di tiap kelompok. Pada mereka, selisih gula darah puasa antarkelompok di minggu ke-12 mencapai 0,46 mmol/L. Pada peserta dengan toleransi glukosa normal, selisihnya 0,19 mmol/L. Menurut para penulis, pola serupa terlihat pada HOMA-IR dan gula darah dua jam.
Sebanyak sembilan dari 16 peserta prediabetes di kelompok jeda gerak, atau 56 persen, beralih ke gula darah normal pada minggu ke-12. Di kelompok kontrol, hanya dua dari 16 peserta, atau 13 persen, dengan nilai p 0,01.
Menurut usia, selisih gula darah puasa 0,31 mmol/L pada peserta di bawah 40 tahun dan 0,32 pada peserta 40 tahun ke atas, dengan nilai p interaksi 0,89. Pada peserta berat badan berlebih, dengan indeks massa tubuh 25,0 sampai 29,9, selisihnya 0,29, sedangkan pada peserta obesitas 0,36, dengan nilai p interaksi 0,65.
Kepatuhan dicatat lewat lembar harian, telepon mingguan, dan pengamatan acak di tempat kerja. Rata-rata kepatuhan 82 persen, dengan rentang 65 sampai 97 persen. Sebanyak 33 dari 40 peserta, atau 82,5 persen, menjalankan sedikitnya 80 persen jeda yang ditetapkan.
Kepatuhan itu tidak menurun bermakna selama 12 minggu. Penghalang yang paling sering disebut adalah rapat kerja, oleh 64 persen peserta. Tenggat mendesak menyusul dengan 51 persen, dan 28 persen merasa canggung berolahraga di ruang kantor terbuka.
Tidak ada kejadian merugikan yang serius. Lima peserta, atau 12,5 persen, mengalami pegal otot sesaat, dan dua peserta, atau 5 persen, merasa tidak nyaman di lutut. Semua keluhan itu hilang dalam satu sampai dua minggu, dan tidak seorang pun mundur karenanya.
Tiga peserta di kelompok jeda gerak dan empat di kelompok kontrol tidak menyelesaikan uji. Alasannya perubahan jadwal kerja, urusan pribadi, dan pindah tempat tinggal. Sebanyak 79 peserta, atau 91,9 persen, menjalani penilaian minggu ke-12.
Baca juga Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan
Sesudah Minggu Kedua Belas: Batas Uji di Nanchang
Fang dan rekan mencatat sejumlah keterbatasan. Uji ini hanya berlangsung di satu kota menengah di Tiongkok, dengan peserta dari tiga lembaga yang relatif seragam. Sebagian besar peserta berat badannya berlebih, dengan indeks massa tubuh rata-rata sekitar 28,5 kg/m², sehingga penerapan hasilnya pada orang berberat badan normal perlu hati-hati.
Peserta dan pendamping tahu kelompok masing-masing, sehingga laporan diri bisa bias. Kepatuhan terutama dicatat sendiri oleh peserta dan bisa lebih tinggi dari kenyataan. Para penulis juga tidak mengumpulkan data asupan makanan, padahal perubahan pola makan yang tak terukur bisa ikut memengaruhi hasil metabolik.
Uji ini juga tidak memiliki kelompok pembanding yang menerima perhatian tanpa latihan. Menurut Fang dan rekan, masa 12 minggu belum cukup untuk menilai apakah perbaikan bertahan lama atau berujung pada berkurangnya kasus diabetes. Mereka mengusulkan uji bertahun-tahun pada pekerja prediabetes untuk menjawabnya.
Para penulis juga menyarankan penelitian tentang frekuensi, lama, dan intensitas jeda yang paling tepat, serta perbandingan dengan meja berdiri dan akses pusat kebugaran. Bagi kelompok kontrol di Nanchang, uji coba berakhir pada minggu ke-12. Sesudah itu, mereka ditawari pelatihan jeda gerak yang sama.















