Pasien Demam Berdarah Bangladesh Kian Banyak di Luar Dhaka

A A

Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti betina bertotol putih-hitam mengisap darah di kulit manusia [Foto: James Gathany (CDC)/Wikimedia Commons, Public domain]

  • Pada 2022, Distrik Dhaka menyumbang 63,5 persen rawat inap demam berdarah yang dilaporkan, dan pada 2025 tinggal 31,5 persen.
  • Divisi Barishal naik dari 3.157 rawat inap pada 2022 menjadi 21.673 pada 2025, atau 21,1 persen.
  • Pada 2025, Barguna mencatat angka tertinggi sepanjang masa penelitian, yaitu 959,5 per 100.000 penduduk.
  • Laporan DGHS hanya mencakup sekitar 138 fasilitas kesehatan peserta di seluruh negeri.
Daftar Isi
  1. Empat Tahun Naik Turun
  2. Porsi Dhaka Menyusut
  3. Hampir Semua Distrik
  4. Musim Hujan dan Sesudahnya
  5. Barishal Melonjak
  6. Barguna di Puncak
  7. Dhaka Bukan Inti Titik Panas
  8. Batas Data

Pasien demam berdarah di Bangladesh kini lebih banyak dirawat di luar Dhaka. Pada 2022, Distrik Dhaka menyumbang 63,5 persen rawat inap demam berdarah yang dilaporkan secara nasional, dan pada 2025 porsinya tinggal 31,5 persen. Porsi di luar Distrik Dhaka naik dari 36,5 persen menjadi 68,5 persen.

Temuan ini berasal dari Istiaque Ahamed Nabed dan rekan dari Departemen Ilmu Bencana dan Ketahanan Iklim, Universitas Dhaka. Laporan mereka berjudul Spatiotemporal Epidemiology of Dengue Fever Across All 64 Districts of Bangladesh: A Retrospective Ecological Analysis of Reported Hospital Admissions. Naskahnya terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.

Tim membaca laporan harian Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan Bangladesh (DGHS) dari 1 Januari 2022 sampai 31 Desember 2025 untuk seluruh 64 distrik. Hasilnya 93.504 catatan harian per distrik. Dari data itu, Divisi Barishal di selatan muncul dengan kenaikan relatif terbesar.

Empat Tahun Naik Turun

Lonjakan terbesar terjadi pada 2023. Rawat inap yang dilaporkan melompat dari 62.034 pada 2022 menjadi 320.943 pada 2023, naik 417,4 persen dalam setahun. Pada 2024 angkanya turun ke 100.803, lalu menjadi 102.929 pada 2025, hanya 2,1 persen di atas 2024.

Namun angka dua tahun terakhir tidak kembali ke titik awal. Menurut tim, jumlah 2024 dan 2025 sama-sama sekitar 60 persen lebih tinggi daripada 2022, walau 2023 tetap tahun wabah paling besar. Rawat inap yang dilaporkan tetap tinggi setelah wabah itu.

Tahun 2019 menjadi tahun pertama rawat inap demam berdarah dilaporkan dari seluruh 64 distrik. Wabah 2023 lalu menjadi wabah demam berdarah terbesar yang pernah tercatat di negeri itu. Ringkasan terbitan yang dirujuk tim menyebut 321.179 rawat inap dan 1.705 kematian pada tahun itu.

Dasbor resmi DGHS yang dipakai tim mencatat 321.017 rawat inap untuk 2023. Angka analisis tim sedikit berbeda, yaitu 320.943, karena tanggal laporan yang hilang diisi dengan perkiraan dari laporan sebelum dan sesudahnya.

Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat

Porsi Dhaka Menyusut

Porsi Distrik Dhaka dalam rawat inap demam berdarah menyusut2022 63,5%; 2023 35,3%; 2024 41,8%; 2025 31,5%.Porsi Distrik Dhaka dalam rawat inap demamberdarah menyusutPersen dari seluruh rawat inap demam berdarah yangdilaporkan di Bangladesh0%20%40%60%80%63,5%202235,3%202341,8%202431,5%2025Data interpolasi laporan harian DGHS, 64 distrik
Sumber: Istiaque Ahamed Nabed dan rekan, Spatiotemporal Epidemiology of Dengue Fever Across All 64 Districts of Bangladesh: A Retrospective Ecological Analysis of Reported Hospital Admissions, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Distrik Dhaka tetap penyumbang besar. Pada 2022, ada 39.388 rawat inap di Dhaka dari total 62.034, atau 63,5 persen dari angka nasional. Pada 2023 porsinya turun menjadi 35,3 persen, yakni 113.144 dari 320.943 rawat inap.

Pada 2024 porsinya naik lagi ke 41,8 persen, yakni 42.130 dari 100.803. Pada 2025, Dhaka mencatat 32.471 dari 102.929 rawat inap, atau 31,5 persen. Angka-angka ini berasal dari data interpolasi, yakni data harian yang celah tanggalnya sudah diisi.

Tim menyebut perubahan ini sebagai pergeseran sebaran rawat inap yang dilaporkan, menjauh dari Dhaka. Pergeseran itu terjadi selama dan sesudah wabah 2023. Grafik bulanan dalam laporan menunjukkan sumbangan distrik lain terus membesar dibanding Dhaka.

Hampir Semua Distrik

Sebaran ini juga terlihat dari jumlah distrik yang melapor. Pada 2022, 62 dari 64 distrik mencatat sedikitnya satu rawat inap demam berdarah, dan pada 2023 serta 2024 seluruh 64 distrik mencatatnya. Pada 2025 ada 63 distrik yang melapor, sedangkan satu distrik mencatat nol.

Tim lalu memilah distrik menurut angka rawat inap per 100.000 penduduk. Tingkat tinggi berarti lebih dari 50 rawat inap per 100.000 penduduk, dan pada 2022 hanya lima distrik yang masuk tingkat ini. Pada 2023 jumlahnya 46 distrik, lalu 16 distrik pada 2024 dan 16 distrik pada 2025.

Tingkat sedang mencakup lebih dari 10 sampai 50 rawat inap per 100.000 penduduk. Jumlah distriknya 21 pada 2022, 16 pada 2023, 32 pada 2024, dan 33 pada 2025. Tingkat rendah justru menyempit, dari 36 distrik pada 2022 menjadi dua pada 2023, lalu 16 pada 2024 dan 14 pada 2025.

Musim Hujan dan Sesudahnya

Pola bulanannya mirip dari tahun ke tahun. Rawat inap rendah dari Januari sampai Mei, lalu naik pada musim hujan dan sesudahnya. Musim 2022 memuncak pada Oktober dengan 21.648 rawat inap, dan musim 2024 juga pada Oktober dengan 30.692.

Wabah 2023 memuncak lebih awal, pada September, dengan 79.594 rawat inap. Tahun 2025 lain ceritanya, karena data utama menunjukkan puncak pada November dengan 24.342 rawat inap. Bila hanya memakai hari yang benar-benar terlapor, puncaknya justru Oktober dengan 22.520.

Karena itu tim berhati-hati soal bulan puncak 2025 dan menyebut musim tahun itu bertahan sampai akhir musim. Tabel musim juga mencatat porsi rawat inap Januari sampai Juni, yaitu 10,3 persen pada 2025 dan 1,7 persen pada 2022.

Bulan puncak yang goyah itu terkait 19 tanggal laporan yang hilang dari arsip DGHS, sembilan di antaranya pada 2025. Enam tanggal lain, 18 sampai 23 Juli 2024, bertepatan dengan pemadaman internet nasional. Pengisian celah menambah 4.483 rawat inap, atau 0,76 persen dari total data.

Baca juga Demam Berdarah Guangzhou Terkait Pohon Rindang di Tujuan Warga

Barishal Melonjak

Di tingkat divisi, Divisi Dhaka masih penyumbang terbesar setiap tahun. Tetapi porsinya turun dari 69,3 persen pada 2022 menjadi 47,7 persen pada 2025. Angka ini mencakup seluruh Divisi Dhaka, bukan hanya Distrik Dhaka yang dibahas sebelumnya.

Rawat inap demam berdarah per divisiDhaka 43.017 ke 49.073; Barishal 3.157 ke 21.673; Chattogram 9.079 ke 15.235; Rajshahi 2.111 ke 5.862; Khulna 3.350 ke 5.311; Mymensingh 1.020 ke 4.291; Rangpur 175 ke 1.052; Sylhet 125 ke 432.Rawat inap demam berdarah per divisiJumlah rawat inap yang dilaporkan, 2022 dan 202520222025010.00020.00030.00040.00050.000Dhaka43.01749.073Barishal3.15721.673Chattogram9.07915.235Rajshahi2.1115.862Khulna3.3505.311Mymensingh1.0204.291Rangpur1751.052Sylhet125432Tabel 5, data interpolasi laporan harian DGHS
Sumber: Istiaque Ahamed Nabed dan rekan, Spatiotemporal Epidemiology of Dengue Fever Across All 64 Districts of Bangladesh: A Retrospective Ecological Analysis of Reported Hospital Admissions, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Divisi Barishal mencatat kenaikan relatif terbesar. Pada 2022 ada 3.157 rawat inap di sana, atau 5,1 persen dari total nasional, sedangkan pada 2025 jumlahnya 21.673, atau 21,1 persen. Divisi Chattogram konsisten di urutan kedua atau ketiga dan menyumbang 14,8 persen pada 2025.

Divisi Mymensingh mencatat 4.291 rawat inap pada 2025, dari 1.020 pada 2022. Rajshahi bergerak dari 2.111 ke 5.862 rawat inap, dan Khulna dari 3.350 ke 5.311. Rangpur naik dari 175 ke 1.052, sedangkan Sylhet dari 125 ke 432.

Barguna di Puncak

Jumlah mentah belum menggambarkan beban per warga, sehingga tim juga menghitung angka rawat inap per 100.000 penduduk tiap distrik. Pada 2022, Dhaka mencatat angka tertinggi, yakni 257,6 per 100.000 penduduk. Di belakangnya ada Cox’s Bazar, Bandarban, Barishal, dan Chattogram.

Pada 2023, puncaknya pindah ke Manikganj dengan 809,7 per 100.000 penduduk, melampaui Dhaka yang mencatat 730,5. Pada 2024, Dhaka kembali teratas dengan 268,6, disusul Barguna dengan 246,4. Penduduk tiap distrik diambil dari proyeksi Sensus 2022.

Pada 2025, Barguna mencatat angka tertinggi sepanjang masa penelitian, yaitu 959,5 per 100.000 penduduk. Urutan berikutnya Patuakhali, Dhaka, Bandarban, dan Barishal. Peta distrik memperlihatkan angka tinggi yang merata pada 2023, lalu berulang kali terkumpul di distrik selatan dan pesisir setelah itu.

Dhaka Bukan Inti Titik Panas

Tim juga menguji apakah distrik berangka tinggi bertetangga dengan distrik berangka tinggi lain. Pengelompokan semacam itu ada di keempat tahun, tetapi paling kuat mulai 2023. Ukurannya naik dari 0,1016 pada 2022 menjadi 0,4245 pada 2023.

Kelompok distrik selatan berangka tinggi muncul berulang setelah 2023. Sebaliknya, kelompok berangka rendah bertahan di sebagian Divisi Rangpur dan Sylhet. Dhaka tidak muncul sebagai inti titik panas yang bermakna secara statistik pada cara hitung utama.

Dengan cara hitung pembanding, Dhaka hanya menunjukkan sinyal lemah pada 2023, sehingga penggolongan Dhaka tidak kokoh di antara kedua cara. Tim menyebut peta ini sebagai hasil penjajakan, bukan penetapan kelompok penularan yang pasti.

“Penelitian ini menemukan bahwa rawat inap demam berdarah yang dilaporkan di Bangladesh tidak terbatas di Dhaka pada periode setelah 2023,” tulis Nabed dan rekan dalam simpulan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Distrik selatan yang berulang kali mencatat angka tinggi pada 2024 dan 2025 terutama Barguna, Patuakhali, Barishal, dan Pirojpur.

Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat

Batas Data

Tim menyebut keterbatasannya cukup besar. Laporan DGHS hanya mencakup sekitar 138 fasilitas kesehatan peserta di seluruh negeri, sehingga pasien rawat jalan, pasien yang dirawat di rumah, dan pasien di fasilitas lain tidak tercatat. Menurut tim, kasus yang tak tercatat mungkin lebih banyak di desa dan pinggiran kota.

Laporan itu juga tidak memuat tempat tinggal pasien. Angka distrik menunjukkan lokasi rumah sakit yang merawat, bukan alamat pasien, dan rumah sakit besar di Dhaka atau Barishal bisa menerima pasien dari distrik sekitarnya. Masa penelitiannya pun hanya empat tahun penuh.

Uji tren menemukan sinyal kenaikan di 32 dari 64 distrik, dan 28 tetap bermakna setelah koreksi. Tidak ada distrik dengan sinyal turun. Tim menegaskan sinyal ini bukan tren jangka panjang, sebab wabah besar 2023 bisa membesarkannya.

Meski begitu, tim menarik pelajaran praktis. Menurut mereka, kesiapsiagaan demam berdarah perlu menjangkau wilayah di luar Dhaka. Alat diagnosis, daya tampung rumah sakit, pengendalian nyamuk penular, dan komunikasi publik dinilai penting bagi distrik selatan dan pesisir Divisi Barishal.

Tim juga menyarankan surveilans diperkuat di luar jaringan rumah sakit kota besar. Pencatatan berdasarkan tempat tinggal pasien dianjurkan untuk sistem mendatang. Temuan ini, tulis mereka, menunjukkan perubahan pola rawat inap yang dilaporkan, bukan perubahan penularan yang terkonfirmasi.

Pada 2025, rumah sakit di luar Distrik Dhaka mencatat 68,5 persen rawat inap demam berdarah yang dilaporkan. Menurut tim, hasil ini mendukung perencanaan kesiapsiagaan yang disusun per distrik.

Bagikan

Baca Juga

Promosi Rokok Menumpuk di Instagram, Paling Disambut di TikTok
Tensi Tinggi Lebih Kerap pada Pelajar Mesir yang Jarang Bergerak
Kematian Terkait Polusi di Khorramabad Turun Lebih dari Separuh
Guru Besar UNAIR Desak UU PMI Atur Kesehatan Saat Kepulangan
Air Keran Berkapur di Inggris Berkaitan dengan Kematian Kanker
Hampir Seperlima Anak di Klinik Gigi Istanbul Alami Geraham Rapuh