Lansia Tiongkok Berpola Makan Sehat Berisiko Wafat Lebih Rendah

A A

Ilustrasi sepiring tumis sayur hijau dengan irisan bawang putih di sebuah restoran masakan Tionghoa [Foto: pelican (Flickr)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Lansia di kuartil skor cMIND tertinggi memiliki risiko kematian 23,3 persen lebih rendah dibanding kuartil terendah.
  • Pada laki-laki risiko kematian kuartil teratas 29,3 persen lebih rendah, pada perempuan 19,0 persen.
  • Jumlah makanan pokok per hari menempati urutan pertama kepentingan pada laki-laki maupun perempuan.
  • Basis data tidak memuat penyebab kematian spesifik sehingga kaitan dengan penyakit tertentu belum bisa dinilai.
Daftar Isi
  1. Menu Barat yang Ditakar Ulang untuk Dapur Tiongkok
  2. Kelompok Paling Patuh dan Sepuluh Tahun Pengamatan
  3. Garis yang Tidak Sama bagi Kakek dan Nenek
  4. Semangkuk Makanan Pokok di Puncak Daftar
  5. Desa, Kota, dan Cincin Pernikahan
  6. Pertanyaan yang Belum Terjawab Sepuluh Tahun Data

Nasihat makan sehat untuk orang tua mudah dibayangkan berlaku sama bagi semua, seolah piring seorang kakek dan piring seorang nenek berisi persoalan yang sama, seolah sayur, ikan, dan sedikit gula akan memberi hasil yang serupa di tubuh siapa pun. Data sepuluh tahun dari lansia Tiongkok memberi gambaran yang lebih rinci. Pola makan yang sama memang berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah, tetapi besar kaitannya berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Temuan itu datang dari Xiaobing Xian dan rekan dari The Thirteenth People’s Hospital of Chongqing serta Chongqing Medical University, Tiongkok, dalam makalah Sex differences in association of cMIND diet with all-cause mortality in Chinese older adults: a 10-year national cohort study yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka memakai data China Longitudinal Healthy Longevity Survey 2008–2018, survei warga berusia 65 tahun ke atas di 23 provinsi, munisipalitas, dan daerah otonom, dan akhirnya menganalisis 15.699 orang.

Menu Barat yang Ditakar Ulang untuk Dapur Tiongkok

Pola makan yang diuji bernama cMIND, versi Tiongkok dari diet MIND yang dikembangkan Morris dan rekan sebagai gabungan unsur diet Mediterania dan diet DASH. Namun, menurut para penulis, pola makan MIND yang ada tidak sepenuhnya cocok dengan praktik makan Tiongkok yang beragam, sehingga peneliti lain menyesuaikannya: porsi biji-bijian utuh ditambah, sementara porsi tepung dan beras olahan dikurangi, lalu lahirlah alat ukur cMIND.

Penyesuaiannya mengikuti dapur setempat. Teh dan bawang putih, dua bahan yang penting di meja makan Tiongkok, ditambahkan; minyak zaitun diganti minyak masak yang sehat; buah beri yang jarang dimakan diganti buah segar yang cakupannya lebih luas; dan anggur merah dicoret karena tidak lazim diminum lansia di sana. Hasilnya dua belas butir, dari jenis dan jumlah makanan pokok per hari sampai ikan, jamur atau alga, olahan kacang, kacang-kacangan, dan gula.

Tiga butir, yakni jenis makanan pokok, jumlah makanan pokok, dan minyak masak, diberi skor 0 atau 1, sedangkan sembilan butir lainnya diberi 0, 0,5, atau 1. Skor tertingginya 12, dan makin tinggi skor berarti makin patuh pada pola cMIND. Peserta lalu dibagi ke dalam empat kelompok skor, dari kuartil pertama yang paling jauh dari pola itu sampai kuartil keempat yang paling dekat.

Baca juga Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua

Kelompok Paling Patuh dan Sepuluh Tahun Pengamatan

Mereka yang diamati bukan lansia yang baru pensiun. Usia rata-rata peserta 87,75 tahun, dan 9.059 orang atau 57,70 persen di antaranya perempuan. Selama masa pengamatan rata-rata enam tahun, tercatat 9.288 kematian, atau 59,20 persen dari seluruh peserta, terdiri atas 3.844 laki-laki dan 5.444 perempuan, dan angka kematian kumulatif laki-laki lebih rendah daripada perempuan. Rata-rata usia peserta laki-laki 84,88 tahun, sedangkan perempuan 89,86 tahun.

Selisih risiko paling lebar ada pada laki-lakiSeluruh peserta 23,3%; Perempuan 19,0%; Laki-laki 29,3%.Selisih risiko paling lebar ada pada laki-lakiPersen risiko kematian lebih rendah pada kuartil skor cMINDtertinggi dibanding terendah, model 30%10%20%30%Seluruh peserta23,3%Perempuan19,0%Laki-laki29,3%Lansia 65 tahun ke atas, CLHLS 2008-2018, n 15.699
Sumber: Xiaobing Xian dan rekan, Sex differences in association of cMIND diet with all-cause mortality in Chinese older adults: a 10-year national cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah usia, jenis kelamin, suku, status pernikahan, lama sekolah, tempat tinggal, pengaturan tempat tinggal, kebiasaan merokok dan minum, olahraga, indeks massa tubuh, hipertensi, serta diabetes ikut diperhitungkan, kelompok kuartil keempat memiliki rasio hazard 0,767 dibanding kuartil pertama. Dalam bahasa makalah itu, risiko kematian mereka 23,3 persen lebih rendah, sementara kuartil kedua dan ketiga berada di antaranya, dengan rasio 0,909 dan 0,865.

Uji tren menunjukkan hubungan garis lurus yang bermakna antara skor cMIND dan kematian dari semua sebab, dan kurva dosis-respons memperlihatkan rasio hazard yang menurun seiring naiknya skor. Untuk menjelaskannya, para penulis menyebut kemungkinan peran senyawa aktif dalam buah segar, sayur, kacang, dan ikan serta kaitan pola MIND dengan penyakit kronis. Mereka juga menyebut kemungkinan bahwa orang yang lebih patuh pada cMIND sering menjalani gaya hidup lebih sehat, seperti rutin berolahraga dan tidak merokok.

Garis yang Tidak Sama bagi Kakek dan Nenek

Di sinilah perbedaan itu terlihat. Pada perempuan, mereka yang berada di kuartil keempat memiliki rasio hazard 0,810, atau risiko kematian 19,0 persen lebih rendah dibanding kuartil pertama, sedangkan pada laki-laki rasionya 0,707, atau 29,3 persen lebih rendah. Batas kuartilnya pun tidak sama, sebab kuartil teratas perempuan dimulai dari skor 5,5, sementara laki-laki dari skor 6.

Angka per kuartilnya juga berbeda. Pada laki-laki, rasio hazard bergerak dari 0,881 di kuartil kedua ke 0,818 di kuartil ketiga lalu 0,707 di kuartil keempat, sedangkan pada perempuan angkanya 0,869, 0,895, lalu 0,810. Meski begitu, uji tren tetap bermakna pada kedua jenis kelamin, dan hubungan dosis-respons juga teramati baik pada laki-laki maupun perempuan.

Bagi para penulis, perbedaan itulah pokok terpenting makalah mereka. “Temuan ini menyoroti keterbatasan gaya satu-ukuran-untuk-semua dalam kesehatan dan menegaskan pentingnya memberi perhatian lebih besar pada perbedaan jenis kelamin dalam manfaat intervensi pola makan,” tulis Xiaobing Xian dan rekan di bagian simpulan, dalam terjemahan Cekricek.id, sambil menyebut temuan itu dapat memperkuat layanan kesehatan yang lebih personal.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Mengapa laki-laki? Para penulis menawarkan beberapa kemungkinan, bukan kepastian. Perempuan umumnya mengonsumsi total kalori lebih sedikit karena kebutuhan energinya lebih rendah, dan hormon estradiol ikut mengatur asupan makan, sementara karena pengaruh estrogen selama siklus haid, perempuan mungkin mengonsumsi proporsi makanan tinggi gula dan lemak yang lebih besar pada masa tertentu; mereka juga lebih mungkin mengalami intoleransi glukosa setelah lama mengonsumsi karbohidrat olahan.

Penjelasan lain justru berangkat dari kebiasaan buruk laki-laki. Menurut teori paparan yang dikutip makalah itu, laki-laki lebih mungkin merokok, minum berlebihan, tidur tidak teratur, dan makan dengan buruk, sehingga data mereka lebih beragam dan manfaat pola makan lebih mudah terdeteksi.

Semangkuk Makanan Pokok di Puncak Daftar

Dari dua belas butir cMIND, satu muncul paling atas pada kedua jenis kelamin: jumlah makanan pokok per hari. Analisis hutan acak yang memeringkat kepentingan tiap butir menempatkannya di urutan pertama, baik pada perempuan maupun laki-laki, dan para penulis mencatat bahwa efek pelindungnya lebih kuat pada laki-laki, yang menurut mereka sebagian bisa menjelaskan selisih antara kedua kelompok.

Urutan sesudahnya justru berbeda. Pada perempuan, bawang putih menyusul di urutan kedua, lalu olahan kacang, gula, dan ikan, sedangkan pada laki-laki gula berada di urutan kedua, disusul bawang putih, olahan kacang, dan ikan. Teh dan sayur segar berada di bagian bawah pada keduanya, dan minyak masak menempati urutan terakhir, baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Rasio hazard kematian per kuartil cMINDKuartil 2: Perempuan 0,869, Laki-laki 0,881; Kuartil 3: Perempuan 0,895, Laki-laki 0,818; Kuartil 4: Perempuan 0,810, Laki-laki 0,707.Rasio hazard kematian per kuartil cMINDModel 3 yang disesuaikan penuh; kuartil 1 sebagai acuanbernilai 1PerempuanLaki-laki0,000,250,500,751,000,8690,881Kuartil 20,8950,818Kuartil 30,8100,707Kuartil 4Batas kuartil 4: skor 5,5 ke atas (perempuan), 6 ke atas (laki-laki)
Sumber: Xiaobing Xian dan rekan, Sex differences in association of cMIND diet with all-cause mortality in Chinese older adults: a 10-year national cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika tiap butir diuji sendiri, minyak, buah segar, ikan, gula, kacang-kacangan, serta jamur atau alga berkaitan secara bermakna dengan kematian pada perempuan. Pada laki-laki, daftar itu memuat jenis dan jumlah makanan pokok, buah segar, ikan, gula, kacang-kacangan, serta jamur atau alga. Para penulis juga mencatat bahwa dalam penelitian ini gula berkaitan dengan naiknya risiko kematian.

Desa, Kota, dan Cincin Pernikahan

Pola cMIND tetap berkaitan bermakna dengan kematian di keempat belas subkelompok yang diuji, namun kekuatannya bergeser menurut latar hidup. Pada perempuan, interaksi bermakna muncul pada suku, status pernikahan, lama sekolah, olahraga, indeks massa tubuh, dan diabetes; pada laki-laki, satu-satunya justru tempat tinggal, desa atau kota. Penulis menduga perempuan mungkin lebih dipengaruhi status pernikahan secara fisiologis, sementara penghuni desa cenderung berkualitas makan lebih buruk, mungkin karena akses ke makanan seimbang dan sehat terbatas.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Latar zamannya juga ikut dicatat. Sepanjang 2008–2018, tulis para penulis, masyarakat Tiongkok berubah cepat, dan struktur makan bergeser dari pola berbasis biji-bijian ke pola dengan lebih banyak makanan non-pokok dan makanan hewani, didorong urbanisasi, naiknya pendapatan, globalisasi pasokan pangan, dan kebarat-baratan budaya makan, yang menurut mereka dapat menjadi tantangan bagi bertahannya pola seperti cMIND.

Hasil itu juga diuji dengan cara lain. Dengan pencocokan skor kecenderungan, peneliti menyusun kelompok seimbang berisi 4.894 orang, masing-masing 2.447 dari kuartil terendah dan tertinggi, dan hubungannya tetap bermakna; dua analisis kepekaan, termasuk yang mengeluarkan peserta dengan hipertensi, diabetes, dan penyakit pencernaan, juga memberi hasil serupa.

Pertanyaan yang Belum Terjawab Sepuluh Tahun Data

Para penulis juga mencatat keterbatasan penelitiannya. Seluruh data berasal dari laporan diri sehingga bias ingatan masih bisa memengaruhi hasil, kuesioner frekuensi makannya tidak mengukur jumlah secara tepat, temuannya terbatas pada lansia Tiongkok, dan variabel seperti frekuensi merokok, minum, serta penggunaan suplemen tidak dimasukkan. Selain itu, basis data itu tidak memuat penyebab kematian spesifik, sehingga kaitan cMIND dengan kematian karena penyakit tertentu belum bisa dinilai dan, menurut penulis, penelitian lanjutan masih diperlukan.

Dalam simpulannya, para penulis menyatakan skor cMIND yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kematian dari semua sebab yang lebih rendah pada lansia Tiongkok, dengan kaitan yang lebih nyata pada laki-laki. “Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya pengaruh pola makan cMIND terhadap kematian dari semua sebab dan perbedaan jenis kelaminnya pada populasi Tiongkok,” tulis Xiaobing Xian dan rekan.

Bagikan

Baca Juga

Ibu Kegemukan dan Anak Kurang Darah Kerap Serumah di Burkina Faso
Kurir Makanan Wuhan Lebih Siap Menolong Korban Henti Jantung
Berat Peserta Obesitas Turun Selama Empat Pekan Diet Nasi Porang
Ekonomi Digital Kota Tiongkok Sejalan dengan Rasa Sehat Warganya
Debu Kasar dan Ozon Terkait Cemas dan Depresi Remaja Sichuan
Kue dan Permen Kuasai Jajanan Sekolah di Perkotaan Komoro