- Peneliti Universitas Negeri Padang mencatat 97 data abreviasi valid dari cuitan akun X @komunitasmarahmarah.
- Singkatan paling dominan dengan 67 data atau 69,07 persen, sedangkan kontraksi sama sekali tidak ditemukan.
- Bentuk grb, ngga, dan M dikeluarkan dari distribusi akhir karena memerlukan kriteria tambahan.
- Lambang km dinilai sebagai lambang baku, bukan abreviasi kreatif buatan pengguna media sosial.
Daftar Isi
Bentuk mtr untuk motor dan grb untuk Grab sama-sama ditulis tanpa satu pun huruf vokal, dan keduanya muncul di cuitan akun yang sama. Hanya satu yang akhirnya dihitung. Bentuk mtr masuk daftar sebagai singkatan, jenis bentuk pendek yang paling banyak ditemukan, karena mempertahankan sejumlah konsonan utama kata asalnya, sedangkan grb dikeluarkan karena lebih tepat dipahami sebagai pemendekan grafis informal dari nama sebuah aplikasi.
Garis tipis di antara keduanya ditarik Helta Bunga Riska dan Ermanto dari Universitas Negeri Padang dalam artikel Abreviasi Bahasa Indonesia dalam Akun @komunitasmarahmarah di Media Sosial X: Kajian Morfologi, dimuat jurnal Persona Vol. 5 No. 2 tahun 2026. Objek kajian mereka adalah akun Komunitas Marah Marah di X, yang menurut keduanya didirikan pengguna @gulalism pada 2022 sebagai wadah untuk mengungkapkan kemarahan, kesedihan, dan frustrasi lewat cuitan.
Dari luapan perasaan itulah beragam bentuk pendek bermunculan. Kedua peneliti membaca dan mencatat cuitan yang memuat bentuk pendek, lalu memilahnya menurut kategori abreviasi Kridalaksana yang mengenal lima jenis: singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf. Setiap bentuk dicari dulu bentuk asalnya dan diperiksa konteks pemakaiannya. Hasil klasifikasinya divalidasi oleh dosen pembimbing sebagai ahli bahasa.
Yang Lolos: 97 Bentuk Pendek dari Cuitan
Sesudah disaring, tersisa 97 data abreviasi yang dinyatakan valid. Singkatan menjadi jenis paling dominan dengan 67 data atau 69,07 persen. Akronim menyusul dengan 19 data atau 19,59 persen, penggalan 8 data atau 8,25 persen, dan lambang huruf 3 data atau 3,09 persen. Kontraksi, jenis kelima dalam daftar Kridalaksana, sama sekali tidak ditemukan.
Kedua peneliti membaca sebaran itu sebagai tanda bahwa pemendekan dalam cuitan lebih banyak diwujudkan lewat pengekalan huruf atau unsur tertentu dari bentuk asalnya. Pola itu berlaku baik pada bentuk yang sudah lama beredar maupun pada bentuk yang lebih dekat dengan percakapan daring. Namun angka 97 itu bukan hasil hitungan pertama. Ia lahir sesudah beberapa bentuk dikeluarkan dari penghitungan awal.
Baca juga Bengkel dan Bahagia, Dua Jalan Kata Serapan
Yang Tertahan: Grb, Ngga, dan 10M
Di sisi lain timbangan ada tiga bentuk yang semula ikut dihitung, lalu disisihkan dari distribusi akhir. Bentuk grb dipahami sebagai pemendekan grafis informal dari nama aplikasi Grab, dibuat dengan menghilangkan huruf vokal. Bentuk ngga dinilai sebagai variasi ejaan informal dari enggak yang umum dipakai dalam bahasa percakapan tertulis. Keduanya dicatat di tabel proses pembentukan sebagai bentuk problematis.
Kasus ketiga lebih rumit. Huruf M dalam ungkapan digaji 10M bisa ditafsirkan sebagai miliar dalam pemakaian informal, tetapi kedua peneliti menilai penggunaannya tidak sejelas lambang satuan baku seperti km untuk kilometer. Karena itu M tidak dimasukkan ke distribusi akhir, sebab menurut mereka bentuk itu memerlukan kriteria interpretasi yang lebih eksplisit. Ketiga bentuk itu dikeluarkan, tulis mereka, agar klasifikasi hasil penelitian lebih konsisten secara morfologis.
Alasannya dirumuskan dengan terang di bagian pembahasan. “Jika setiap penghilangan huruf dalam komunikasi digital langsung dikategorikan sebagai abreviasi, analisis akan menjadi terlalu longgar dan berisiko mencampurkan beberapa fenomena yang berbeda,” tulis Helta Bunga Riska dan Ermanto. Fenomena yang mereka maksud adalah proses morfologis, variasi ortografis, penyingkatan grafis, dan bentuk slang. Data digital, tulis mereka, sering menampilkan bentuk ringkas yang secara visual menyerupai singkatan atau penggalan, tetapi tidak selalu memenuhi kriteria morfologis yang sama.
Singkatan yang Mapan: ABK dan UMKM
Pada kelompok yang lolos, garis pembeda berikutnya muncul di dalam jenis singkatan sendiri. Bentuk ABK muncul dalam cuitan tentang awak kapal yang dituduh menyelundupkan sabu. Ia berasal dari anak buah kapal, dibentuk dengan mengekalkan huruf pertama setiap komponen: A dari anak, B dari buah, dan K dari kapal. Kedua peneliti menyebutnya singkatan konvensional yang sudah umum dalam bahasa Indonesia.
Bentuk UMKM muncul dalam cuitan tentang modus penipuan yang menyangkut UMKM dan pemda Tangerang. Kepanjangannya usaha mikro, kecil, dan menengah. Polanya serupa dengan ABK, yakni pengekalan huruf pertama setiap komponen utama, dengan satu perbedaan: konjungsi dan tidak dipertahankan dalam bentuk singkatnya. Dalam pembahasan kedua peneliti, ABK dan UMKM tergolong singkatan yang sudah mapan dan mudah dikenali.
Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok
Singkatan dari Ruang Ketik: Ttd dan Mtr
Di sisi yang lebih santai berdiri ttd dan mtr. Bentuk ttd muncul dalam cuitan tentang pekerjaan yang isinya hanya membubuhkan tanda tangan. Di sini konteks menjadi penentu, sebab ttd juga bisa dibaca sebagai tertanda. Kedua peneliti memutuskan bahwa dalam cuitan itu ttd merujuk pada tanda tangan, sehingga ia digolongkan sebagai singkatan informal dari frasa tersebut.
Keputusan sekecil itu, menurut mereka, menentukan langkah berikutnya, sebab kekeliruan menentukan bentuk asal akan menghasilkan kekeliruan pula pada penentuan proses pembentukannya. Bentuk mtr dari motor menjadi contoh lain. Ia mempertahankan sejumlah konsonan utama kata asalnya, dan kedua peneliti membacanya sebagai pemendekan ketikan yang menghasilkan bentuk tulis lebih ringkas tanpa menghilangkan keterbacaan makna dasarnya.
Singkatan yang mapan dan singkatan informal itu sama-sama terhitung dalam 67 data singkatan. Namun kedua peneliti menolak membaca jumlah itu sebagai bukti niat penggunanya. “Tingginya frekuensi singkatan tidak dapat secara langsung ditafsirkan sebagai bukti bahwa pengguna sengaja memilih bentuk tersebut karena alasan kecepatan atau efisiensi,” tulis mereka, sebab penelitian ini tidak mengumpulkan data mengenai motivasi penutur.
Yang bisa dikatakan, menurut keduanya, adalah bahwa dominasi itu menjadi indikasi singkatan merupakan bentuk pemendekan yang paling tersedia dan paling mudah dikenali dalam cuitan pengguna. Pengguna akun komunitas itu tidak hanya memakai bentuk pendek yang tumbuh dari kebiasaan komunikasi daring. Mereka juga memanfaatkan singkatan yang sebelumnya sudah dikenal dalam bidang sosial, pekerjaan, ekonomi, dan aktivitas sehari-hari.
Akronim Lama dan Akronim Obrolan
Akronim, dengan 19 data, bekerja dengan cara lain. Bentuknya dirangkai dari bagian-bagian dua kata atau lebih dan dapat dilafalkan sebagai kata. Bentuk ultah berasal dari ulang tahun lewat pengekalan dua huruf pertama kata ulang dan tiga huruf pertama kata tahun. Bentuk maba berasal dari mahasiswa baru, dengan ma- dari mahasiswa dan ba- dari baru, dan muncul dalam pembicaraan tentang kegiatan kampus.
Bentuk pungli berasal dari pungutan liar, dirangkai dari pung- dan -li. Menurut kedua peneliti, ketiga bentuk itu sudah relatif mapan dalam bahasa Indonesia, dan kemunculannya di cuitan memperlihatkan bahwa pengguna memanfaatkan bentuk yang sudah tersedia dalam repertori kebahasaan masyarakat. Bentuk mintol berdiri di sisi lain. Ia berasal dari minta tolong, dirangkai dari tiga huruf awal tiap komponen, yaitu min- dan tol-.
Pada mintol, karakter yang tampak lebih informal. Bentuk itu, tulis kedua peneliti, lazim digunakan dalam komunikasi percakapan, termasuk di ruang digital. Menurut simpulan kedua peneliti, akronim seperti ultah, maba, pungli, dan mintol menunjukkan bahwa komunikasi di media sosial mempertemukan bentuk ringkas yang telah mapan dengan bentuk yang lebih dekat pada ragam percakapan informal.
Baca juga Bahasa Jawa Modern Ternyata Lebih Sering Langsung ke Inti
Penggalan dan Lambang yang Paling Jarang
Penggalan hanya 8 data, tetapi kedua peneliti menilainya penting karena memperlihatkan pemendekan terhadap satu kata. Bentuk mak dalam cuitan seseorang yang kesal kepada ibunya berasal dari emak, lewat pengekalan suku kata terakhir. Bentuk tele dalam ungkapan id tele berasal dari Telegram, lewat pengekalan bagian awal kata. Bentuk set dalam keterangan jam tidur berasal dari setengah.
Bagi kedua peneliti, tele dan set perlu ditegaskan sebagai penggalan, bukan singkatan, karena keduanya tidak dibentuk dari huruf pertama beberapa komponen, melainkan dari bagian awal satu kata. Mak dipakai sebagai sapaan atau rujukan keluarga yang lazim, sedangkan tele menjadi cara ringkas menyebut aplikasi komunikasi. Bentuk-bentuk itu tidak baku, tetapi hubungannya dengan bentuk asal tetap bisa ditentukan secara morfologis.
Lambang huruf adalah jenis paling sedikit, 3 data. Contoh yang dapat diverifikasi dengan jelas adalah km dalam cuitan tentang jarak dan tarif transportasi. Kedua peneliti meminta temuan ini dibaca hati-hati: km bukan abreviasi kreatif buatan pengguna media sosial, melainkan lambang baku yang dipakai untuk menyatakan jarak. Di titik ini km dan M berpisah jalan, yang satu masuk hitungan, yang lain tertahan.
Dari situ kedua peneliti menarik batas klaim mereka sendiri. Tidak setiap bentuk pendek di media sosial merupakan inovasi kebahasaan digital, sebab sebagian adalah lambang atau abreviasi konvensional yang sudah tersedia dan dipakai kembali sesuai kebutuhan. Kontribusi kajian ini, tulis mereka, tidak terletak pada klaim bahwa seluruh bentuk itu baru, melainkan pada pemetaan jenis bentuk pendek di akun komunitas X.
Cakupannya pun diakui sempit. Data hanya berasal dari satu akun komunitas di media sosial, sehingga tidak semua cuitan di dalamnya termasuk kategori abreviasi. Kajian ini juga tidak mengumpulkan data tentang alasan penutur memendekkan kata. Simpulannya karena itu berbicara tentang jenis dan proses pembentukan abreviasi, bukan tentang mengapa pengguna akun itu memilih bentuk tertentu.
Mtr dan grb, dua bentuk tanpa huruf vokal itu, akhirnya berada di dua sisi garis. Yang satu tercatat sebagai singkatan, yang lain menunggu kriteria tambahan untuk dibedakan dari pemendekan grafis. Garis itu, menurut simpulan kedua peneliti, menegaskan bahwa analisis abreviasi pada data digital harus mempertimbangkan bentuk asal, konteks penggunaan, dan batas operasional kategori secara konsisten.















