Novel Tere Liye Lebih Banyak Bercerita tentang yang Sudah Terjadi

A A

Ilustrasi novel tebal terbuka, secangkir teh, dan buku catatan di meja dekat jendela [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Dua peneliti Universitas Negeri Padang menemukan 630 data adverbia penanda aspek dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar.
  • Aspek perfektif ditemukan sebanyak 362 data, aspek imperfektif 96 data, aspek duratif 88 data, dan aspek inkoatif 84 data.
  • Tabel 1 paper mencatat penanda telah sebanyak 150 data, sudah 140 data, dan pernah 72 data.
  • Data hanya bersumber dari satu novel, sehingga hasilnya belum dapat menggambarkan karya sastra Indonesia secara umum.
Daftar Isi
  1. Empat Cara Sebuah Kata Memandang Waktu
  2. Kursi yang Telah Terisi, Waktu yang Sudah Berlalu
  3. Masa Lalu yang Menyangga Cerita
  4. Yang Belum Selesai dan yang Sedang Seru
  5. Alat Berat di Jalan Menuju Gunung Purba
  6. Satu Novel dan Saran Kajian Lanjutan

Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye menyajikan cerita yang kaya akan rangkaian peristiwa dan interaksi antartokoh yang berlangsung secara berkesinambungan, begitu catatan dua peneliti bahasa yang menelitinya. Ketika keduanya menghitung kata-kata kecil penanda waktu peristiwa di dalam novel itu, jenis yang paling banyak ditemukan adalah penanda peristiwa yang telah selesai berlangsung, yakni kata telah, sudah, dan pernah, dengan 362 dari 630 data.

Penelitian itu ditulis Faula Vanesa Hardi dan Siti Ainim Liusti dari Universitas Negeri Padang dengan judul Adverbia Penanda Aspek dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye, terbit di jurnal Persona volume 5 nomor 2 tahun 2026. Keduanya menyimak seluruh novel dari halaman awal hingga akhir, mencatat setiap adverbia yang berpotensi menjadi penanda aspek, lalu mengelompokkannya menurut klasifikasi Kridalaksana, dan dari pembacaan yang tidak membatasi bab mana pun itu terkumpul 630 data.

Pilihan atas novel ini punya alasannya sendiri, sebagaimana dicatat kedua penulis. Teruslah Bodoh Jangan Pintar disebut sebagai karya kontemporer yang mendapat perhatian akademis karena tema kritik sosial dan gaya penceritaannya yang lugas, kaya akan rangkaian peristiwa dan interaksi antartokoh, serta mengangkat dinamika kehidupan masyarakat dengan berbagai latar peristiwa. Kajian sebelumnya, menurut mereka, sudah menyentuh tema, kritik sosial, dan unsur intrinsiknya, tetapi studi khusus tentang bagaimana adverbia penanda aspek digunakan di dalamnya belum dijumpai.

Empat Cara Sebuah Kata Memandang Waktu

Paper ini menjelaskan aspek sebagai kategori yang menunjukkan bagaimana suatu tindakan atau keadaan dilihat dari perspektif waktu, apakah sedang berlangsung, belum selesai, atau telah selesai, sementara adverbia, merujuk Kridalaksana, adalah kata yang dipakai untuk memerikan verba, adjektiva, preposisi, atau adverbia lain, seperti sangat, lebih, dan tidak.

Dari klasifikasi Kridalaksana itulah keempat jenis yang dipakai dalam penelitian ini berasal. Aspek duratif menerangkan sesuatu yang sedang berlangsung dan ditandai kata lagi, aspek imperfektif menunjukkan peristiwa yang belum selesai dan ditandai kata masih, aspek perfektif menyatakan peristiwa yang telah selesai berlangsung dengan penanda pernah, telah, dan sudah, sedangkan aspek inkoatif menunjukkan peristiwa yang mulai berlangsung, ditandai kata mulai.

Aspek perfektif paling dominan di novel iniPerfektif (telah, sudah, pernah): Jumlah data 362; Imperfektif (masih): Jumlah data 96; Duratif (lagi): Jumlah data 88; Inkoatif (mulai): Jumlah data 84.Aspek perfektif paling dominan di novel iniJumlah data adverbia penanda aspek per jenis aspek, total630 data, Tabel 11002003004000Perfektif (telah, sudah, pernah)362Imperfektif (masih)96Duratif (lagi)88Inkoatif (mulai)84
Sumber: Faula Vanesa Hardi dan Siti Ainim Liusti, Adverbia Penanda Aspek dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye, Persona, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari 630 data, aspek perfektif ditemukan sebanyak 362 data, aspek imperfektif 96 data, aspek duratif 88 data, dan aspek inkoatif 84 data, sehingga kedua penulis menyebut perfektif sebagai jenis yang paling dominan dibandingkan ketiga jenis lainnya. Perbedaan frekuensi itu, menurut paper, menunjukkan adanya variasi penggunaan adverbia penanda aspek dalam novel, terutama dalam menandai peristiwa yang telah selesai, keadaan yang masih berlangsung, keberlangsungan suatu peristiwa, dan permulaan tindakan atau keadaan. Mereka juga mencatat bahwa tidak ada data yang membentuk kategori aspek lain di luar klasifikasi yang dipakai.

Paper juga menjelaskan cara data itu dipilah. Keempat jenis tersebut merupakan kategori aspek yang ditemukan setelah seluruh data yang memenuhi kriteria penelitian diseleksi. Menurut paper, pengelompokan ke dalam empat jenis tidak semata-mata didasarkan pada bentuk leksikal penandanya, melainkan pada kesesuaian makna aspektual setiap data dengan karakteristik masing-masing jenis, sedangkan seleksinya dilakukan berdasarkan makna aspektual data dalam konteks kalimat.

Baca juga Deiksis Novel Fabel, 3.690 Data dari Dua Novel Indonesia

Kursi yang Telah Terisi, Waktu yang Sudah Berlalu

Di dalam kelompok perfektif sendiri, ketiga penandanya tidak tampil sama banyak. Tabel 1 paper mencatat penanda telah sebanyak 150 data, sudah 140 data, dan pernah 72 data, yang bersama-sama membentuk 362 data aspek perfektif. Menurut Kridalaksana yang dirujuk paper, aspek perfektif menyatakan bahwa suatu peristiwa telah selesai berlangsung. Kedua penulis lalu memperlihatkan bagaimana masing-masing penanda bekerja lewat contoh kalimat yang diambil langsung dari novel.

Contoh pertama adalah kalimat pendek, “Pagi itu, semua kursi telah diisi.” Di sini kata telah menerangkan predikat diisi, dan menurut analisis paper kehadirannya menunjukkan bahwa proses pengisian kursi sudah mencapai titik penyelesaian sebelum situasi yang menjadi fokus narasi, yaitu pagi itu, sehingga pembaca memahami bahwa tidak ada lagi proses pengisian kursi yang sedang berlangsung. Secara aspektual, kata paper, peristiwa itu dipandang sebagai satu keseluruhan yang telah tuntas dan menghasilkan keadaan berupa seluruh kursi yang telah terisi.

Contoh kedua berbentuk tuturan tokoh. Dalam tuturan “Ini sudah hampir lima menit, Mukti,” kata sudah berkaitan dengan frasa hampir lima menit, sehingga menurut paper maknanya menandai ketercapaian suatu tahap waktu, dan secara pragmatis dapat mengandung penegasan penutur terhadap lamanya waktu yang telah berlalu. Paper menyebut makna perfektif pada data ini tidak dapat dipahami semata-mata sebagai selesainya suatu tindakan.

Contoh ketiga datang dari kalimat “Dia pernah membacanya, saat pelatihan bidan di kota provinsi.” Kata pernah menunjukkan bahwa peristiwa membaca telah terjadi setidaknya satu kali dalam pengalaman tokoh, dan kedua penulis menegaskan, “Hal yang dipentingkan bukan waktu pasti atau hasil akhir dari tindakan membaca, melainkan keberadaan peristiwa tersebut dalam pengalaman tokoh.” Keterangan pelatihan bidan di kota provinsi, menurut paper, memperjelas latar pengalaman yang dirujuk.

Masa Lalu yang Menyangga Cerita

Dari hitungan dan contoh itu, kedua penulis menarik kecenderungan narasi. Menurut paper, dominasi aspek perfektif menunjukkan kecenderungan narasi novel ini yang banyak merujuk pada tindakan, keadaan, dan pengalaman yang telah terjadi, dan frekuensi telah, sudah, serta pernah memperlihatkan bahwa penceritaan tidak hanya bergerak pada peristiwa kini.

“Penggunaan penanda perfektif tersebut membantu narator menyusun hubungan temporal antarkejadian dan memberikan informasi mengenai latar peristiwa maupun pengalaman tokoh,” tulis Faula Vanesa Hardi dan Siti Ainim Liusti. Pada contoh ketiga, menurut paper, secara naratif penggunaan pernah menghubungkan keadaan tokoh pada saat cerita berlangsung dengan pengalaman yang terjadi sebelumnya.

Di bagian pendahuluan, kedua penulis menulis bahwa dalam novel, penggunaan adverbia penanda aspek berfungsi lebih dari sekadar keterangan waktu, tetapi juga sebagai alat untuk membangun suasana, menandai perubahan emosi tokoh, serta memperkuat alur naratif. Pentingnya penelitian adverbia penanda aspek, menurut mereka, berkaitan dengan perannya dalam membantu pembaca memaknai durasi peristiwa, membentuk suasana, dan menggambarkan perkembangan karakter.

Baca juga Novel Darman Moenir: Rumah Tangga Retak dari Dalam dan Luar

Yang Belum Selesai dan yang Sedang Seru

Berbeda dari perfektif, aspek imperfektif menurut Kridalaksana menunjukkan bahwa suatu peristiwa belum selesai, dan paper menemukannya sebanyak 96 data dengan penanda masih. Salah satu contohnya adalah jawaban singkat “Belum. Masih dicari.” Menurut analisis kedua penulis, kata masih di situ menunjukkan bahwa tindakan pencarian belum selesai dan masih berlangsung pada saat tuturan diucapkan, belum mencapai hasil atau penyelesaian.

Contoh lain memperlihatkan masih yang menempel pada keadaan, bukan pada tindakan. Dalam kalimat “Dia masih pusing,” yang didahului kalimat Ahmad mengernyit, kata masih menerangkan adjektiva pusing, dan menurut paper penggunaannya mengisyaratkan bahwa kondisi pusing telah dialami Ahmad sebelum titik waktu yang menjadi acuan dalam narasi dan tetap bertahan pada saat keadaan itu digambarkan. Kalimat Ahmad mengernyit, kata paper, turut memberi konteks pada keadaan tokoh, sehingga masih memperkuat kesinambungan kondisi yang dialaminya.

Aspek duratif, yang menerangkan sesuatu yang sedang berlangsung, ditemukan sebanyak 88 data dengan penanda lagi. Contoh yang dipilih paper adalah seruan “Sebentar, Bu! Lagi seru.” Dalam percakapan itu, menurut kedua penulis, ungkapan lagi seru menginformasikan bahwa aktivitas yang dilakukan sedang berlangsung, sehingga penutur meminta lawan tuturnya untuk menunggu sejenak. Kata lagi di situ menerangkan keadaan seru yang dirasakan tokoh pada saat tuturan diucapkan.

Paper juga menilai bahwa kata lagi di situ memperkuat makna temporal kalimat, karena memberi informasi mengenai durasi berlangsungnya keadaan yang dialami tokoh. Dengan demikian, menurut kedua penulis, adverbia lagi menandai keberlangsungan suatu keadaan yang sedang berlangsung pada waktu tutur, sesuai rumusan Kridalaksana bahwa aspek duratif menerangkan apakah suatu pekerjaan, peristiwa, keadaan, atau sifat sedang berlangsung.

Enam penanda aspek dalam Teruslah Bodoh Jangan PintarTelah (perfektif) 150; Sudah (perfektif) 140; Masih (imperfektif) 96; Lagi (duratif) 88; Mulai (inkoatif) 84; Pernah (perfektif) 72.Enam penanda aspek dalam Teruslah BodohJangan PintarJumlah data per penanda aspek, Tabel 1; jingga = penandaaspek perfektif04080120160Telah (perfektif)150Sudah (perfektif)140Masih (imperfektif)96Lagi (duratif)88Mulai (inkoatif)84Pernah (perfektif)72
Sumber: Faula Vanesa Hardi dan Siti Ainim Liusti, Adverbia Penanda Aspek dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye, Persona, 2026. Grafik: Cekricek.id

Alat Berat di Jalan Menuju Gunung Purba

Jenis yang paling jarang ditemukan adalah aspek inkoatif, yaitu sebanyak 84 data dengan penanda mulai. Menurut Kridalaksana yang dirujuk paper, aspek inkoatif menunjukkan bahwa suatu peristiwa mulai berlangsung. Contohnya diambil dari halaman ke-109 novel, “Penduduk hanya bisa termangu menyaksikan alat-alat berat mulai membuat jalan menuju gunung purba.” Di sana kata mulai menerangkan predikat membuat, menandai bahwa tindakan membuat jalan berada pada tahap awal pelaksanaannya.

Menurut paper, kehadiran mulai menunjukkan bahwa proses pembangunan jalan baru saja diawali dan belum menggambarkan penyelesaian tindakan tersebut. Dalam konteks cerita, kata itu memberi penegasan mengenai titik awal aktivitas pembangunan yang disaksikan penduduk, dan kedua penulis menyebutnya bermakna inkoatif karena mengawali terjadinya suatu tindakan yang kemudian berpotensi berlanjut hingga selesai.

Baca juga Novel Korpus Uterus: Empat Ketidakadilan dan Empat Perlawanan

Satu Novel dan Saran Kajian Lanjutan

Dalam simpulannya, kedua penulis menegaskan bahwa dominannya penanda aspek perfektif menunjukkan Tere Liye lebih banyak merepresentasikan peristiwa, tindakan, atau pengalaman yang telah terjadi sebagai bagian dari pembangunan alur dan pengembangan cerita. Secara teoretis, mereka menyebut penelitian ini menunjukkan penerapan klasifikasi Kridalaksana untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan penanda aspek pada teks sastra berbahasa Indonesia.

Temuan itu, menurut paper, menunjukkan bahwa adverbia penanda aspek berperan penting dalam membangun makna temporal suatu peristiwa, sehingga membantu pembaca memahami urutan, keberlangsungan, penyelesaian, maupun awal terjadinya suatu tindakan dalam narasi. Namun kedua penulis juga mengakui batasnya: data hanya bersumber dari satu novel, sehingga hasilnya belum dapat menggambarkan penggunaan adverbia penanda aspek dalam karya sastra Indonesia secara umum.

Penelitian ini pun hanya berfokus pada identifikasi jenis adverbia penanda aspek, dan para penulisnya menyarankan agar kajian berikutnya memperluas objek ke novel karya pengarang lain atau membandingkan beberapa karya sastra, sehingga diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai penggunaan adverbia penanda aspek dalam karya sastra. Dengan begitu, menurut mereka, penelitian ini memberi kontribusi terhadap kajian morfologi, khususnya mengenai penggunaan adverbia penanda aspek dalam teks sastra berbahasa Indonesia.

Bagikan

Baca Juga

Deiksis Novel Fabel, 3.690 Data dari Dua Novel Indonesia
Seribu Tiga Puluh Kata Tunjuk di Novel Lilin
Ketika Kata Di Sini Terasa Asing dalam Die Sommer
Makian Kolom Komentar TikTok Didominasi Nama Makanan
124 Tuturan Emosi dalam Novel The Lady Escort
Revolver Dipanggil Sobat, Monyet Dipanggil Kawan