Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 2019, Agustina menerbitkan buku tentang kelas kata dalam bahasa Minangkabau. Di dalam buku itu ia memilah kata makian berbentuk nomina menjadi tujuh kategori. Dasar pemilahannya bukan bunyi dan bukan bentuk, melainkan referen: benda apa yang sebenarnya ditunjuk kata itu. Tujuh kategori tersebut bertahan tujuh tahun. Pada 2026 Agustina sendiri yang memakainya kembali, kali ini untuk membaca kolom komentar sebuah akun TikTok penjual roti.
Artikelnya ditulis Sintia Sari bersama Agustina, keduanya dari Universitas Negeri Padang. Judulnya Analisis Jenis Makian dalam Kolom Komentar Akun TikTok @puttriipadang. Tulisan itu terbit di jurnal Persona: Kajian Bahasa dan Sastra, Volume 5 Nomor 2, tahun 2026, halaman 273 sampai 282. Hasilnya berhenti pada satu angka. Ada 37 satuan bahasa yang lolos sebagai nomina makian. Angka itu kecil. Nilainya terletak pada cara ia disusun, bukan pada besarnya.
Tujuh Kategori yang Disusun pada 2019

Klasifikasi Agustina membagi nomina makian menurut benda yang dirujuknya. Ada yang merujuk nama anggota tubuh. Ada yang merujuk nama binatang, nama makanan, nama tempat dan arah, nama penyakit, nama perangai, serta nama tumbuhan. Tujuh kategori itu yang dipakai Sintia Sari ketika ia mulai menyortir komentar. Setiap data harus masuk ke salah satunya, atau gugur.
Landasan teorinya lebih tua lagi. Pada 2007, Wijana dan Rohmadi merumuskan makian sebagai bentuk ekspresi verbal berkonotasi negatif untuk melepaskan emosi tertentu. Nomina sendiri, menurut Kridalaksana pada 2008 dan Chaer pada 2015, adalah kelas kata yang mengacu pada nama orang, benda, tempat, atau konsep. Dua rumusan itu bertemu di satu titik. Nomina berubah menjadi makian ketika fungsinya bergeser untuk merendahkan.
Ada alasan mengapa pergeseran itu dianggap layak diteliti. Makian tidak hanya menandai keadaan emosi orang yang mengucapkannya. Ia juga menimbulkan reaksi emosi pada orang yang membacanya. Karena itu makian dibaca sebagai salah satu bentuk kekerasan verbal, sekaligus sebagai gejala sosial budaya yang menunjukkan benda apa saja yang dianggap rendah oleh sekelompok penutur.
Baca juga Wayang dan Sate dalam Terjemahan Cantik Itu Luka
Pergeseran itulah yang dicari. Kata yang semula menyebut sesuatu berhenti menyebut, lalu mulai menilai. Nama benda tidak lagi menunjuk benda; ia menempel pada seseorang sebagai julukan. Makna leksikalnya tetap ada di kamus, tetapi tidak lagi dipakai di kolom komentar. Yang bekerja di sana adalah makna konotatif yang menempel pada benda itu di kepala orang banyak.
Jejak Penelitian Makian Sepanjang 2022
Empat tahun sebelum artikel ini terbit, dua penelitian mengambil arah berbeda. Hakim pada 2022 memeriksa makian dalam bahasa Sasak dialek E-E dan menemukan sembilan jenis. Pada tahun yang sama, Husnah dan Herniti membedah kolom komentar akun TikTok @Kekeyi Cantik dari sudut sosiolinguistik, yaitu bagaimana makian dipakai dalam interaksi antarpengguna. Dua penelitian itu berangkat dari pertanyaan yang berbeda. Yang satu memetakan bentuk makian dalam sebuah bahasa daerah, yang lain memeriksa perilaku berbahasa pemakai satu akun.
Dua tahun berikutnya arah itu melebar. Pada 2024, Irwansyah dan Nurtiputra memetakan makian bahasa Indonesia di Facebook, Instagram, dan TikTok sekaligus. Di tahun yang sama, Nurjanah bersama Mustafa dan Sinaga meneliti makian dalam konten animasi sebuah kanal YouTube. Fathurrohim bersama Nur dan Nugraha memeriksa tuturan makian dalam sebuah film serial. Ketiganya sampai pada kesimpulan yang mirip. Kesimpulan itu menyebut satu kategori sebagai yang paling sering muncul, yakni makian yang merujuk keadaan. Catatan itu penting untuk disimpan. Pada 2026, kategori tersebut tidak muncul sama sekali dalam data Sintia Sari dan Agustina.
Empat Tahap Pencatatan Sebelum Angka Muncul
Pendekatannya kualitatif dengan metode deskriptif. Tidak ada uji hipotesis dan tidak ada analisis statistik. Pengumpulan data memakai metode simak sebagaimana dirumuskan Sudaryanto pada 2015, dengan teknik dasar sadap. Lanjutannya teknik simak bebas libat cakap, artinya peneliti hanya mengamati bahasa yang muncul tanpa ikut berkomentar di dalamnya. Pilihan itu menentukan bentuk datanya. Yang terkumpul adalah bahasa yang memang sudah ada di layar, bukan bahasa yang terpancing oleh kehadiran peneliti.
Pemilihan akunnya sendiri punya alasan yang dicatat di bagian pendahuluan. Kolom komentar akun tersebut dinilai memuat bentuk makian yang tidak lazim, bukan kata kasar yang sudah umum beredar. Justru ketidaklaziman itu yang membuatnya berguna sebagai bahan. Data seperti itu memaksa peneliti menimbang ulang batas antara sindiran, permainan kata, dan makian. Unggahan yang diperiksa dipilih secara purposif. Kriterianya intensitas interaksi yang tinggi dan adanya nomina makian di kolom komentarnya. Data yang lolos dicatat, lalu diberi kode. Kodenya memuat tiga keterangan: nomor data, tanggal pengambilan, dan sumber unggahan. Dari titik itu, komentar berhenti menjadi komentar harian dan berubah menjadi arsip bertanggal.
Analisisnya memakai metode padan referensial, yang memeriksa hubungan antara bentuk bahasa dan benda yang dirujuknya. Ada empat tahap. Pertama, menyeleksi seluruh komentar yang mengandung nomina makian. Kedua, memastikan bentuk itu memang berkelas kata nomina. Ketiga, mengelompokkannya menurut referen. Keempat, menarik simpulan dari sebaran yang terbentuk.
Baca juga Membaca Stranger Things 4 lewat Teori Derrida
Tahap kedua yang paling banyak menggugurkan data. Satu komentar yang semula tampak memakai nama anggota tubuh akhirnya dicoret oleh penulisnya sendiri. Unsur yang berfungsi sebagai makian di sana ternyata bentuk verba hasil imbuhan, bukan nomina. Yang tersisa di komentar itu hanyalah permainan bunyi antara dua kata yang mirip. Penulisnya menyatakan data tersebut tidak layak dipakai sebagai contoh nomina makian.
Perbandingan dengan Temuan 2024
Sebaran akhirnya begini. Nomina makian yang merujuk nama makanan berjumlah 16 data. Nama anggota tubuh 8 data. Nama penyakit dan nama perangai masing-masing 4 data. Nama binatang dan nama tumbuhan masing-masing 2 data. Nama tempat dan arah hanya 1 data. Totalnya 37. Dominasi kategori makanan punya penjelasan yang dekat. Unggahan yang diperiksa sebagian besar adalah video promosi jualan kue dan roti. Warganet mengambil kosakata dari isi kontennya sendiri, lalu memutarnya kembali ke arah pemilik akun. Nama makanan yang muncul di komentar tidak lagi menunjuk makanan. Ia dipakai untuk menyindir orang yang menjual makanan itu.
Kategori anggota tubuh, yang berada di urutan kedua, bekerja lewat jalan lain lagi. Sebagian datanya berupa julukan yang dilekatkan pada bentuk wajah pemilik akun. Nomina yang dipakai tetap nomina dasar, tanpa imbuhan dan tanpa pengulangan. Efek merendahkannya tidak lahir dari proses pembentukan kata, melainkan dari kemiripan bunyi dan dari pengulangan kata yang sama dalam satu kalimat.
Kategori penyakit bekerja dengan cara lain. Yang dipinjam bukan kedekatan dengan isi video, melainkan rasa jijik yang menempel pada nama sebuah penyakit kulit menular. Kategori binatang meminjam sifat yang diasosiasikan pada organisme pengganggu tanaman. Kategori tempat dan arah, yang hanya satu data, meminjam citra sebuah daerah di India yang beredar di kalangan warganet. Semuanya berjalan dengan mekanisme yang sama, yaitu memindahkan sifat sebuah benda kepada seorang manusia.
Baca juga Arsip Lahar Marapi dan Peringatan dari Nagari
Di sinilah temuan 2026 berpisah dari temuan 2024. Tiga penelitian tahun itu menempatkan makian berreferen keadaan sebagai yang paling sering dipakai. Dalam data Sintia Sari dan Agustina, kategori tersebut nihil. Selisih dengan Hakim juga tercatat: sembilan jenis dalam bahasa Sasak berbanding tujuh kategori di sini. Perbedaan itu tidak dibaca sebagai pertentangan, melainkan sebagai akibat dari objek, bahasa, dan kerangka klasifikasi yang memang berbeda.
Yang Tidak Dijawab Sesudah 37 Data
Sesudah seluruh angka berdiri, barulah kesimpulan penulisnya masuk. “Penggunaan makian dalam kolom komentar akun TikTok @puttriipadang menunjukkan adanya variasi bentuk dan kreativitas bahasa dalam komunikasi digital,” tulis Sintia Sari dan Agustina.
Mereka menambahkan satu catatan tentang caranya. “Makian yang digunakan oleh warganet tidak selalu disampaikan secara langsung, tetapi juga dalam bentuk kiasan, permainan kata, dan sindiran yang halus,” tulis keduanya. Kalimat itu menjelaskan mengapa penyortiran tahap kedua tadi berat. Sebagian penghinaan di kolom komentar tidak berwujud kata kasar sama sekali.
Sumbangan artikel ini diletakkan penulisnya pada ranah semantik leksikal, yaitu kajian tentang makna kata. Bukan pada morfologi, yang memeriksa bagaimana kata dibentuk. Perbedaan itu ditegaskan berkali-kali di dalam artikelnya, termasuk ketika membandingkan diri dengan penelitian Husnah dan Herniti yang bertolak dari sosiolinguistik.
Batas kajiannya dinyatakan sendiri oleh penulisnya. Analisis dibatasi pada nomina makian dan pada pengelompokan menurut referen, bukan pada proses pembentukan katanya. Sumbernya satu akun, dengan unggahan yang dipilih secara purposif, bukan seluruh unggahan akun tersebut. Karena itu 37 data ini tidak dapat dibaca sebagai potret makian warganet Indonesia, dan tidak dimaksudkan demikian.
Satu hal lagi tercatat dari sebaran itu. Tujuh kategori yang disusun pada 2019 semuanya terisi, tidak ada kategori yang kosong, meski isinya sangat timpang. Enam belas data menumpuk di satu kategori, sementara kategori tempat dan arah hanya berisi satu. Timpang seperti itu bukan kelemahan data. Ia justru yang menunjukkan bahwa referen makian mengikuti isi konten yang dikomentari.
Yang tersisa adalah sebuah catatan bertanggal. Tujuh kategori disusun pada 2019. Kolom komentar dicatat, dikode, dan disortir menjelang 2026. Angkanya berhenti di 37.















