Remaja Norwegia Lebih Percaya Pesan Antivape dari Teman Sebaya

A A

Ilustrasi perangkat rokok elektrik hitam beserta kotak dan kabel pengisi daya di latar putih [Foto: Pannet/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Remaja lebih percaya pesan antivape dari teman sebaya.
  • Sebagian besar peserta merasa 5 tips menyampaikan perasaan, bukan fakta.
  • Keputusan berbagi digerakkan oleh emosi yang ditimbulkan video, bukan oleh pengetahuan di dalamnya.
  • Mereka ingin tahu apa isi vape dan bagaimana zat itu memengaruhi tubuh.
Daftar Isi
  1. Empat video, enam penonton
  2. Pengirim yang tak dikenali
  3. Teman sebaya paling didengar
  4. Fakta terasa seperti perasaan
  5. Enggan mengirim ke teman
  6. Permintaan penjelasan sederhana
  7. Batas dan catatan naskah
  8. Sisa pertanyaan

Remaja lebih percaya pesan antivape dari teman sebaya. Itu terlihat pada enam pelajar berusia 13–14 tahun di Tromsø, Norwegia. Mereka menonton empat video kampanye antivape, lalu menceritakan kesannya satu per satu.

Temuan itu ditulis Bente Schøning, Sarah E. Rosenbaum, Torkjel M. Sandanger, Jo Røislien, dan Charlotte Wien. Artikel mereka berjudul Trust, emotion, resonance, and relevance: Norwegian teens reactions to anti-vaping campaigns. Naskah itu terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel dalam proses terbit dan belum bernomor volume.

Schøning, Sandanger, dan Wien bekerja di Department of Community Medicine, UiT Arctic University of Norway, di Tromsø. Rosenbaum berasal dari Norwegian Institute of Public Health di Oslo. Røislien tercatat di University of Stavanger.

Vape sudah menjadi kekhawatiran kesehatan di Eropa. Laporan WHO Eropa yang dirujuk naskah menyebut 32 persen anak berusia 15 tahun, kira-kira satu dari tiga, pernah memakai rokok elektrik. Norwegia melarang penjualan rokok elektrik bernikotin dan berperisa serta memasang batas usia 18 tahun, tetapi anak yang lebih muda tetap menemukan jalan untuk mendapatkannya.

Empat video, enam penonton

Keempat video itu iklan layanan masyarakat yang dibiayai sumber pemerintah. Asalnya dari Amerika Serikat, Norwegia, dan Australia. Tiga berbahasa Inggris dan satu berbahasa Norwegia.

Video pertama, The Real Cost dari Amerika Serikat, memakai rasa takut dan jijik. Isinya gambar grafis dan istilah kimia yang akrab di telinga. Video kedua, Generation Free dari Norwegia, menampilkan remaja yang lebih tua bercerita tentang risiko kecanduan.

Video ketiga berasal dari Australia dan berjudul Do you know what you are vaping? Pesannya tentang bahan kimia tak dikenal di dalam vape. Video keempat, 5 tips to help you quit vaping, juga dari Australia dan menjadi satu-satunya yang mengajarkan cara berhenti.

Penontonnya tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan dari tiga sekolah, dan vape bukan hal asing bagi mereka. Seorang peserta bercerita sekolahnya menutup tiga toilet karena angkatan sebelumnya gemar duduk di sana sambil memakai vape dan snus, sementara guru lewat untuk memeriksa. Peserta lain menyebut vape mudah didapat, sebab yang diperlukan hanya uang tunai dan itu mungkin bagian tersulitnya.

Enam remaja, empat video antivapeEnam remaja, empat video antivapeEnam remaja, empat video antivapeAngka pokok dalam naskah6remajausia 13-14 tahun3sekolahdi Tromso,Norwegia4videokampanyeantivape5golonganteman, penentumau berbagiJalan risetnyaMenonton empat videoWawancara satu persatuTeman sebaya palingdipercaya
Sumber: Bente Schøning, Sarah E. Rosenbaum, Torkjel M. Sandanger, Jo Røislien, dan Charlotte Wien, Trust, emotion, resonance, and relevance: Norwegian teens reactions to anti-vaping campaigns, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pengirim yang tak dikenali

Para peserta ditanya siapa pembuat video yang mereka tonton, dan jawabannya samar. Mereka menduga remaja yang lebih tua, orang dewasa muda, seorang peneliti, atau sekadar seseorang di YouTube. Sebagian besar tidak menunjukkan pemahaman mengapa ada pihak yang ingin berkampanye melawan vape, dan para penulis menilai remaja seusia itu kurang mengenal lembaga kesehatan publik.

Kepercayaan justru lahir dari tampilan. Video The Real Cost dianggap dapat dipercaya karena dibuat secara profesional dan memakai efek. Seorang peserta menyebut video itu tampak sungguhan.

Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen

Sebagian peserta tidak langsung percaya. Seorang remaja belum pernah mendengar bahwa vape memuat bahan yang juga ada pada cat kuku. Kalau sedang di rumah, katanya, ia akan mengambil ponsel dan mencari tahu dulu.

Asal video ikut menentukan. Beberapa peserta menilai Generation Free lebih dapat dipercaya. Alasannya sederhana, video itu dibuat di negeri mereka sendiri dan memakai bahasa mereka sendiri.

Teman sebaya paling didengar

Musik, gambar, dan kata-kata berpengaruh pada para peserta. Namun faktor terkuat di keempat video adalah siapa yang berbicara. Tepatnya, apakah anak muda sendiri yang menyampaikan pesan itu.

Semua peserta menyukai remaja dalam Generation Free yang mengatakan vape tidak keren. Seorang peserta mengaku lebih condong tidak memakai vape ketika anak muda sendiri yang mengatakannya. Baginya itu lebih baik daripada seorang pria dewasa yang berdiri dan berbicara.

Peserta yang sama menambahkan satu usul. Pembicara yang lebih muda lagi mungkin akan lebih baik. Peserta lain melihat pembuat video berusaha menjangkau anak dan remaja dengan cara yang bisa mereka pahami.

Para penulis mencatat bahwa isi ucapan para remaja di video itu bukan tidak penting. Meski begitu, peserta sudah merasa aman hanya dengan melihat suasananya. Di sana anak muda membicarakan betapa tidak kerennya vape.

Fakta terasa seperti perasaan

Tim peneliti menduga video cara berhenti akan dibaca sebagai fakta, tetapi hasilnya terbalik. Sebagian besar peserta merasa 5 tips menyampaikan perasaan, bukan fakta. Sebabnya ada pada pesan yang menenangkan bahwa gagal saat mencoba berhenti adalah hal yang bisa diterima, sehingga peserta menangkap kebaikan dan ketenangan lalu merasa terhibur.

Rasa nyaman itu membawa akibat lain. Peserta mempersoalkan tidak adanya keterangan tentang risiko kesehatan, sehingga vape terkesan bukan perkara besar. Mereka menilai video itu tidak efektif untuk mencegah atau menghentikan kebiasaan vape.

Dua video, dua tanggapanDua video, dua tanggapanDua video, dua tanggapanCara peserta membaca dua dari empat videoGeneration Free5 tipsNorwegiaAustraliaAsalNorwegiaInggrisBahasaMengapa berhentiCara berhentiIsi pesanLebih dipercayaMenenangkanKesan peserta
Sumber: Bente Schøning, Sarah E. Rosenbaum, Torkjel M. Sandanger, Jo Røislien, dan Charlotte Wien, Trust, emotion, resonance, and relevance: Norwegian teens reactions to anti-vaping campaigns, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menarik satu pelajaran dari situ. Pesan emosional bisa memicu reaksi yang tidak diniatkan pembuatnya. Konten yang dirancang faktual pun dapat memancing emosi.

Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi

Enggan mengirim ke teman

Peserta juga ditanya apakah mau membagikan video itu, dan jawabannya bergantung pada teman yang dituju. Mereka menyebut lima golongan: teman yang tidak memakai vape, teman yang menimbang untuk mencoba, pemakai yang belum kecanduan, pemakai yang sudah kecanduan, dan pemakai yang ingin berhenti. Tiap golongan mendapat pertimbangan berbeda.

Seorang peserta menolak mengirim video kepada temannya yang memakai vape. Ia bercerita bahwa teman-teman itu punya orang tua yang bercerai dan sedang bergulat dengan masalahnya. Ia tahu video itu bisa menyakiti mereka.

Peserta lain tidak mau membagikan Generation Free karena sebagian temannya memakai nikotin. Ia justru meneruskan video TikTok tentang vape yang menurutnya lucu. Video semacam itu ia kirim bila isinya jelas mengena pada seorang teman.

Peserta ketiga merasa tidak ada gunanya mengirim video kepada teman yang sudah kecanduan. Orang yang kecanduan, katanya, tidak memandang vape dengan cara yang sama. Ia lebih mau mengirimnya kepada teman yang baru menimbang untuk mencoba.

Para penulis membaca pola di balik jawaban itu. Keputusan berbagi digerakkan oleh emosi yang ditimbulkan video, bukan oleh pengetahuan di dalamnya. Peserta ragu meneruskan video yang bisa membuat teman pemakai vape merasa tidak nyaman.

“Remaja sering memperhatikan bagaimana sebuah pesan membuat mereka merasa dan mungkin melewatkan isi faktualnya,” tulis Schøning dan rekan-rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Para penulis mengaitkannya dengan pesan yang ditafsirkan berbeda dari maksud pembuatnya.

Permintaan penjelasan sederhana

Para peserta tetap menginginkan fakta. Mereka ingin tahu apa isi vape dan bagaimana zat itu memengaruhi tubuh. Seorang peserta memuji video yang menyamakan satu bahan vape dengan bahan penghapus cat kuku.

Nama kimia saja tidak berarti apa-apa baginya. Ia meminta penjelasan yang lebih sederhana tentang kerusakan yang bisa terjadi. Ia juga ingin tahu apa yang dilakukan nikotin pada otak yang sedang berkembang.

Peserta lain menilai satu video kurang menjelaskan apa yang terjadi saat orang memakai vape. Ia pernah bertanya kepada teman-teman yang sudah mencobanya. Mereka pun tidak tahu apa yang terjadi pada paru-paru.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Permintaan itu sulit dipenuhi. Menurut dua tinjauan yang dirujuk naskah, dampak kesehatan vape belum dapat disampaikan dengan kepastian tinggi. Para penulis menyebut jarak antara pengetahuan yang belum pasti dan komunikasi yang efektif sebagai persoalan penting.

Dari situ para penulis menyusun saran. Iklan layanan untuk remaja muda sebaiknya menyeimbangkan emosi dan fakta, disajikan secara profesional, dan disampaikan teman sebaya. Remaja juga perlu dilihat sebagai penyebar pesan, bukan hanya penerima.

Satu pertanyaan mereka biarkan terbuka. Apakah media sosial saluran yang tepat untuk pesan antivape? Remaja, tulis mereka, bisa menganggap seorang pemengaruh sama terpercayanya dengan Direktorat Kesehatan Norwegia.

Batas dan catatan naskah

Penelitian ini kecil. Pesertanya enam remaja dari satu kota, dan semuanya berasal dari keluarga berpendidikan tinggi. Para penulis mengakui keadaan itu membatasi sejauh mana temuan dapat digeneralisasi.

Jawaban peserta umumnya pendek, dan mereka tampak lelah bila wawancara berjalan lebih lama. Para penulis juga mengakui kemungkinan peserta menjawab sesuai yang dianggap pantas. Pewawancara sendiri mengenal orang tua dua peserta.

Ada satu batas lagi. Hanya Generation Free yang jelas menampilkan teman sebaya. Para penulis mengakui pilihan peserta bisa juga berasal dari bahasa, kedekatan budaya, atau format video itu.

Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Judul Tabel 1 menyebut empat video antirokok padahal keempatnya antivape, dan teks menyebut video ketiga dibiayai Southwest Cancer Society of Australia sedangkan daftar pustaka mencantumkan Cancer Institute NSW. Nomor rujukan strategi video ketiga di tabel itu mengarah ke artikel tentang penyebaran pengetahuan COVID-19 di pedesaan Cina.

Sisa pertanyaan

Enam remaja Tromsø itu meminta fakta, tetapi yang mereka ingat dan teruskan adalah rasa. Naskah ini mencatat kesan mereka terhadap video, bukan perubahan perilaku sesudahnya.

Bagikan

Baca Juga

Langkah Kaki Pagi Orang Swedia Hilang Saat Kerja dari Rumah
Pekerja Sesak Napas di Australia Lebih Sering Kurangi Jam Kerja
Kematian Demensia di Belgia Mengikuti Kelas Pekerjaan Seseorang
Napas Pedagang Kaki Lima Chennai Melemah Seiring Tahun Berjualan
Pekerja Jepang dengan HIV Bertahan Kerja bila Diagnosis Dini
Sekali Berhenti di Video Sedih, Layar Remaja Inggris Ikut Muram