Sekali Berhenti di Video Sedih, Layar Remaja Inggris Ikut Muram

A A

Ilustrasi tangan seseorang menggulir galeri gambar di layar ponsel dalam cahaya remang [Foto: Ron Lach/Pexels]

  • Perempuan itu satu dari 27 anak muda berusia 14 sampai 19 tahun yang mereka wawancarai antara Maret dan September 2025.
  • Berkomentar karena tidak setuju, atau karena ingin menguatkan orang lain, sama saja dihitung sebagai minat.
  • Mengubah arah rekomendasi, kata mereka, terasa lambat, melelahkan, dan tidak konsisten.
  • Para peneliti mengakui pesertanya berasal dari Inggris Raya saja dan mendaftar atas kemauan sendiri.
Daftar Isi
  1. Jari yang berhenti sebentar sudah cukup untuk mengubah isi layar
  2. Suasana hati masuk ke layar, lalu layar mengembalikannya berlipat
  3. Mereka tahu cara kerjanya, menekan tombol tolak, dan tetap terseret
  4. Marah pun dihitung sebagai perhatian, dan perhatian dihitung sebagai uang
  5. Dua puluh tujuh suara dari Inggris Raya, batasnya, dan ganjil kecil di naskah

Seorang perempuan berusia 19 tahun di Inggris Raya membuka Instagram karena ingin rehat sebentar. Hatinya sedang tidak enak. Jarinya berhenti dua, tiga kali pada video yang kebetulan senada dengan perasaannya saat itu. Hanya berhenti, tidak lebih. Sesudah itu layarnya berubah: video serupa datang lagi, lalu lagi, dan rehat yang ia cari tidak pernah tiba.

Cerita itu dicatat Lizzy Winstone, James Parsonage, Lauren Cross, Cassey Muir, Amie Randhawa, Georgie MacArthur, Emma Garavini, dan Evangelina Asiedu-Addo dalam artikel Algorithmic recommendation and adolescent mental health: a grounded theory study of social and commercial determinants di BMC Public Health volume 26 nomor 2526 tahun 2026. Winstone, penulis korespondensi, bekerja di Population Health Sciences, University of Bristol. Rekan-rekannya berasal dari University of Cambridge, Newcastle University, University of Birmingham, dan The McPin Foundation di London.

Perempuan itu satu dari 27 anak muda berusia 14 sampai 19 tahun yang mereka wawancarai antara Maret dan September 2025. Tiap peserta membawa dua sampai sepuluh tangkapan layar dari halaman “For You” TikTok atau “Explore” Instagram miliknya sendiri. Dari gambar-gambar itulah percakapan dimulai: apa yang disodorkan layar kepada mereka, dan apa yang terjadi pada perasaan sesudahnya.

“Kalau kamu sedang tidak begitu baik—dan kamu membuka Instagram untuk rehat sebentar, kamu kebetulan berhenti beberapa kali pada video yang kurang lebih mencerminkan perasaanmu saat itu, lalu semuanya berputar begitu saja,” kata peserta perempuan berusia 19 tahun itu, yang dalam naskah hanya dicatat dengan jenis kelamin dan usianya. Ucapannya, seperti seluruh naskah, aslinya berbahasa Inggris.

Jari yang berhenti sebentar sudah cukup untuk mengubah isi layar

Mundur selangkah, inilah yang terjadi di balik layar itu menurut para peserta. Suka, komentar, mengikuti akun, membagikan, bahkan lamanya mata menatap sebuah video, semuanya dibaca platform sebagai keterangan tentang diri mereka. Para peneliti menyebut interaksi itu dipahami berfungsi sebagai data latih. Makin banyak yang terkumpul, makin rapat isi layar disusun mengikuti minat, identitas, atau suasana hati yang ditebak mesin.

Yang membuat para peserta gusar, tebakan itu tidak mengenal niat. Menonton karena penasaran dihitung. Menonton karena cemas dihitung. Berkomentar karena tidak setuju, atau karena ingin menguatkan orang lain, sama saja dihitung sebagai minat. Hasilnya adalah lebih banyak lagi kiriman sejenis, entah diinginkan entah tidak.

“TikTok tidak tahu bahwa saya berkomentar karena saya tidak menyukainya. Jadi ia membawakan saya lebih banyak,” ujar seorang peserta laki-laki berusia 18 tahun. Peserta lain, 17 tahun dan menyebut dirinya beragam gender, menggambarkan mesin itu sebagai semacam hitungan matematika yang memiringkan jenis video yang akan dilihat, supaya orang bertahan lebih lama.

Lingkar yang menahan remaja di layarLingkar yang menahan remaja di layarLingkar yang menahan remaja di layarTiga proses yang dicatat peneliti dari cerita 27 anak mudaSuasana hatimurung atausenangBerhentisejenaksuka, komentar,menontonDibaca minatjadi bahanrekomendasiSerupakonten sejenisdatang lagiLingkar ini bekerja ke arah yang menghibur maupun yangmemperdalam murung.
Sumber: Lizzy Winstone, James Parsonage, Lauren Cross, Cassey Muir, Amie Randhawa, Georgie MacArthur, Emma Garavini, dan Evangelina Asiedu-Addo, Algorithmic recommendation and adolescent mental health: a grounded theory study of social and commercial determinants, BMC Public Health, 26(2526), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari situ para peneliti menarik gagasan pokok mereka. Kesehatan jiwa anak muda di dunia digital, menurut temuan itu, dibentuk bukan oleh satu unggahan, melainkan oleh paparan yang berulang dan menumpuk dari waktu ke waktu. Mesin rekomendasi mengatur apa yang terlihat, seberapa sering, dalam gabungan seperti apa, dan pada saat hati sedang bagaimana.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Suasana hati masuk ke layar, lalu layar mengembalikannya berlipat

Proses kedua yang dicatat adalah lingkar antara perasaan dan rekomendasi. Suasana hati menentukan pada video mana seseorang berhenti. Perhentian itu menentukan apa yang muncul berikutnya. Kiriman berikutnya, pada gilirannya, memengaruhi suasana hati. Pada sebagian peserta, lingkar itu menjadi pusaran: konten yang senada dengan emosi mereka makin menonjol dan makin sulit ditinggalkan.

Lingkar itu tidak selalu buruk. Konten yang menenangkan bisa menguatkan rasa memiliki tempat. Sebaliknya, kiriman yang menyesakkan bisa memperdalam murung atau kebiasaan membanding-bandingkan diri. Para peneliti mencatat kedua arah itu dapat berjalan serentak, misalnya ketika konten kesehatan jiwa yang terasa membenarkan perasaan justru membuat orang makin lama berkutat dengan hal-hal yang menyedihkan.

Ada pula keluhan tentang mesin yang tidak ikut berubah ketika pemakainya berubah. Sejumlah peserta bercerita, konten yang berkaitan dengan masa rapuh mereka dahulu tetap muncul kembali walau keadaan sudah berbeda. Naskah memakai satu kata dari mereka untuk perasaan itu: terjebak, pada jalur tontonan yang sudah tidak lagi mereka perlukan.

Pola yang sama berlaku pada jenis konten apa pun yang dibicarakan peserta, dari hiburan, kisah kesehatan jiwa, identitas, citra tubuh, dan iklan, sampai berita dan kiriman buatan kecerdasan buatan. Karena itu, tulis para peneliti, untung dan ruginya lebih ditentukan oleh pola paparan yang menumpuk daripada oleh golongan kontennya.

Mereka tahu cara kerjanya, menekan tombol tolak, dan tetap terseret

Di sinilah temuan itu berbelok dari dugaan umum. Anak-anak muda ini tidak lugu. Banyak yang paham bahwa interaksi membentuk rekomendasi, dan pemahaman itu mereka dapat dari mencoba-coba sendiri. Mereka membatasi sentuhan pada konten yang mengganggu, menekan tombol “not interested”, memblokir, melaporkan. Rasa tidak berkuasa tetap bertahan.

Mengubah arah rekomendasi, kata mereka, terasa lambat, melelahkan, dan tidak konsisten, sebab jejak interaksi lama masih terus berpengaruh. Seorang peserta perempuan berusia 17 tahun menyebut gerak-gerik yang tidak ia sengaja pun dicatat dan dipakai, sehingga ia merasa tidak punya pilihan. Ketepatan platform menebak minat dan perasaan juga membuat sebagian peserta risi.

“Tepat ketika kamu hendak menutupnya—kamu tersedot kembali ke dalam lingkaran itu,” ucap seorang peserta perempuan berusia 16 tahun. Sebagian memilih menjauh sama sekali dari platform. Harganya tidak murah: mereka tertinggal dari obrolan teman sebaya dan rujukan bersama yang beredar di media sosial.

Siapa yang diwawancaraiSebanyak 27 anak muda Inggris Raya berusia 14-19 tahun diwawancarai; 19 perempuan, 7 laki-laki, 1 ragam gender.Siapa yang diwawancaraiTikTok "For You" dan Instagram "Explore", Maret-September 202527Anak mudaInggris Raya14-19Usia (tahun)rata-rata 17,1519Perempuan7 laki-laki, 1ragam gender2-10Gambar layardari tiap pesertaJalan risetnyaTangkapan layarWawancaraModelRiwayat kesehatan jiwa, etnis, dan orientasi seksual peserta tidakdicatat.
Sumber: Lizzy Winstone, James Parsonage, Lauren Cross, Cassey Muir, Amie Randhawa, Georgie MacArthur, Emma Garavini, dan Evangelina Asiedu-Addo, Algorithmic recommendation and adolescent mental health: a grounded theory study of social and commercial determinants, BMC Public Health, 26(2526), 2026. Grafik: Cekricek.id

Bekal untuk bertahan pun tidak terbagi rata. Ada peserta yang dibimbing orang dewasa yang akrab dengan dunia digital, atau pernah mengikuti sesi sekolah yang membahas mesin rekomendasi. Ada yang hanya mendapat peringatan umum soal lama menatap layar. Seorang peserta 17 tahun bercerita sudah berbicara dengan ibunya, tetapi sang ibu tidak benar-benar paham, dan percakapan itu tidak menolong.

“Perlu ada pendidikan yang lebih baik daripada sekadar ’Itu buruk, jangan dipakai’, karena itu tidak realistis,” kata peserta perempuan 19 tahun lainnya. Para peserta sendiri punya gambaran pemakaian yang sehat: sering bertemu konten yang menguatkan, sanggup meninggalkan yang menyesakkan, waktu layar yang seimbang dengan kegiatan di luar, sikap kritis, dan lebih banyak bercakap dengan teman daripada menggulir tanpa tujuan.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Marah pun dihitung sebagai perhatian, dan perhatian dihitung sebagai uang

Maju ke akibatnya, para peserta membaca semua itu sebagai urusan dagang. Interaksi apa pun, yang senang, yang kesal, yang tidak disengaja, mereka pahami diubah menjadi jangkauan dan pendapatan. Iklan dan konten bermerek hadir di mana-mana dalam umpan mereka. Banyak yang menyebut cara kerja itu eksploitatif.

“Tidak penting apakah kamu memberinya perhatian negatif, itu tetap perhatian yang akan membuat videonya menyebar lebih jauh dan menghasilkan uang bagi platform,” ujar seorang peserta laki-laki berusia 16 tahun. Peserta lain menunjuk video yang memancing reaksi keras, yang menurutnya justru ramai ditanggapi dan karena itu menguntungkan TikTok.

Dengan cara pandang itu, tanggung jawab atas mudarat lebih banyak mereka letakkan pada pilihan desain dan dorongan komersial platform, bukan pada pemakainya. Para peneliti mengambil kesimpulan searah. Kesadaran dan siasat pribadi memang penting, tulis mereka, tetapi jarang cukup untuk menandingi mesin yang dirancang agar orang berlama-lama.

“Mengalihkan tanggung jawab dari individu ke sistem yang mengatur paparan digital adalah hal yang esensial untuk melindungi kesehatan jiwa remaja,” tulis Lizzy Winstone, peneliti Population Health Sciences University of Bristol, bersama tujuh rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat tersebut menutup uraian mereka tentang tindakan yang perlu ditempuh.

Tindakan itu mereka susun dalam empat lapis. Anak muda perlu dibantu mengenali saat konten mulai merugikan batin dan memakai alat pengatur umpan. Orang tua dan pengasuh perlu bekal serupa. Sekolah perlu memasukkan pelajaran tentang mesin rekomendasi, penguatan emosi, dan niat komersial sejak dini. Di lapis teratas, sistem rekomendasi perlu diatur, dibuat terbuka, dan dimintai pertanggungjawaban.

Soal larangan media sosial berdasarkan usia, naskah itu bersikap hati-hati. Larangan menyeluruh, menurut para peneliti, berisiko memperlakukan media sosial sebagai bahaya yang seragam dan anak muda sebagai penerima pasif, sementara pendorong mudarat di tingkat sistem dibiarkan tidak berubah.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Dua puluh tujuh suara dari Inggris Raya, batasnya, dan ganjil kecil di naskah

Temuan ini berdiri di atas cerita, bukan hitungan. Para peneliti mengakui pesertanya berasal dari Inggris Raya saja dan mendaftar atas kemauan sendiri. Sembilan belas di antaranya perempuan, tujuh laki-laki, dan satu beragam gender. Status kesehatan jiwa, etnis, dan orientasi seksual mereka tidak dicatat secara resmi, sehingga tidak diketahui kelompok mana yang paling terwakili.

Batas lainnya menyangkut tempat. Yang dibahas terutama halaman temuan TikTok dan Instagram, tempat rekomendasi bekerja paling rapat. Hasilnya, tulis para peneliti, belum tentu berlaku untuk ruang berkirim pesan atau umpan yang berisi akun yang diikuti. Pengalaman membuat konten juga tidak digali. Mereka menyebut temuannya sebagai wawasan konseptual, bukan gambaran yang bisa digeneralisasi.

Pembaca yang membuka naskah aslinya akan menemukan dua hal kecil yang ganjil. Pada Tabel 1, di antara daftar kode analisis, ikut tercetak sebuah kalimat yang tampaknya petunjuk tata letak, yakni bahwa kolom kategori hasil semestinya hanya berisi tiga sel. Daftar kode tentang desain platform yang mengomersialkan pemakainya pun muncul dua kali berurutan.

Hal kedua ada di bagian kontribusi penulis. Di sana tertulis inisial AM, padahal dalam daftar delapan penulis tidak ada nama dengan inisial itu; yang paling dekat adalah Amie Randhawa. Keduanya tidak menyentuh isi temuan, tetapi dapat diperiksa siapa pun yang membaca naskah tersebut.

Perempuan 19 tahun itu membuka Instagram untuk rehat, dan yang ia dapat adalah pantulan perasaannya sendiri, diperbanyak. Ia tahu bagaimana hal itu terjadi. Ia bisa menjelaskannya dengan runtut kepada pewawancara. Pengetahuan itu, seperti yang berulang kali muncul dalam cerita 27 anak muda ini, tidak membuat jarinya lebih mudah beranjak dari layar.

Bagikan

Baca Juga

Udara di Dalam Rumah Dalian Ikut Mengisi Ruang Tunggu Klinik
Sakit Kronis Membuat Pekerja Eropa Berhenti Kerja Lebih Cepat
Tahu Wadah Plastik Lepas Partikel, Warga Nebraska Tetap Memakai
Enam Bulan Dinyatakan Aman, Warga Oahu Masih Takut Air Keran
Media Sosial Menjerat Lebih dari Sepertiga Mahasiswa di Kerala
Dokter Tanpa Jabatan di Turki Lebih Condong Bekerja Seperlunya