- Sebanyak 462 ibu masuk hitungan akhir, terbagi rata menjadi 231 ibu yang bekerja dan 231 ibu yang tidak bekerja.
- Ibu yang tidak bekerja mencatat rata-rata 22,78, sedangkan ibu yang bekerja 19,12.
- Ibu yang tidak bekerja rata-rata meraih 61,59, sedangkan ibu yang bekerja 46,06.
- Bekerja atau tidak, para ibu bayi itu sama cemasnya.
- Datanya diambil pada satu waktu, jadi sebab dan akibat tidak dapat ditetapkan.
Daftar Isi
- Uçar menemukan dua kelompok ibu yang nyaris tak serupa
- Kaplan dan rekan mendapati ibu di rumah lebih lekat dengan media sosial
- Yildiz dan rekan mencatat keyakinan mengasuh yang jauh lebih tinggi
- Rasa cemas yang oleh Uçar didapati sama di kedua kelompok
- Ketika Kaplan dan rekan meminta komputer menebak siapa yang bekerja
- Batas yang diakui Uçar dan hal yang bisa diperiksa pembaca
Mehmet Uçar dan dua rekannya menemui ibu-ibu yang datang ke dua pusat kesehatan keluarga di sebuah ibu kota provinsi di Türkiye timur. Di ruang yang tenang dan tertutup, para ibu itu ditanyai tiga hal: seberapa lekat mereka dengan media sosial, seberapa sering mereka cemas, dan seberapa yakin mereka sanggup mengasuh bayinya sendiri. Jawaban yang terkumpul memisahkan ibu yang bekerja dari ibu yang tidak bekerja pada dua hal, tetapi tidak pada rasa cemas.
Hasilnya ditulis Mehmet Uçar bersama Mehmet Kaplan dan Metin Yildiz dalam artikel berjudul Associations of employment status with social media addiction, anxiety, and parenting self-efficacy among mothers of infants: a cross-sectional study using machine learning, yang terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 2619, tahun 2026. Uçar bekerja di Muş Alparslan University, Kaplan di Bingol University, dan Yildiz di jurusan kebidanan Sakarya University. Ketiganya menulis dari Türkiye, dan seluruh ibu yang mereka tanyai tercatat di negeri itu.
Yang ditemui Uçar dan rekan-rekannya adalah ibu berusia 18 sampai 44 tahun dengan anak berumur 0 sampai 24 bulan, antara November 2023 dan Februari 2024. Sebanyak 462 ibu masuk hitungan akhir, terbagi rata menjadi 231 ibu yang bekerja dan 231 ibu yang tidak bekerja. Ibu yang merokok, minum alkohol, atau pernah menjalani perawatan psikiatri sejak awal tidak diikutkan.
Uçar menemukan dua kelompok ibu yang nyaris tak serupa
Sebelum sampai ke media sosial, Uçar dan rekan-rekannya lebih dulu mencatat siapa para ibu itu. Dua kelompok tersebut ternyata berbeda jauh dalam hal sekolah. Di antara ibu yang tidak bekerja, 46,8 persen tamat sekolah dasar dan 44,2 persen tamat sekolah menengah pertama, sedangkan yang berpendidikan tinggi hanya 5,2 persen. Pada ibu yang bekerja, 76,6 persen berpendidikan tinggi, kira-kira tiga dari setiap empat orang.
Dompet mereka pun berlainan, menurut catatan Kaplan dan kedua rekannya. Lebih dari separuh ibu yang tidak bekerja, tepatnya 51,1 persen, mengaku pendapatannya lebih kecil daripada pengeluaran. Pada ibu yang bekerja angkanya hanya 6,1 persen, dan 63,2 persen di antara mereka menyebut pendapatan sama dengan pengeluaran. Yang pendapatannya melebihi pengeluaran berjumlah 30,7 persen pada ibu bekerja dan 16,9 persen pada ibu yang tidak bekerja.
Usia melengkapi perbedaan yang dicatat Yildiz dan rekan-rekannya. Ibu yang tidak bekerja cenderung lebih tua: 51,5 persen berumur 35 sampai 44 tahun, sementara pada ibu bekerja kelompok umur itu hanya 10 persen. Sebaliknya, 64,9 persen ibu bekerja berumur 25 sampai 34 tahun dan 25,1 persen berumur 18 sampai 24 tahun. Ketiga perbedaan latar ini bermakna secara statistik.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Kaplan dan rekan mendapati ibu di rumah lebih lekat dengan media sosial
Dari sinilah Kaplan dan rekan-rekannya masuk ke pertanyaan pertama. Kecanduan media sosial dalam naskah ini berarti ketidakmampuan mengendalikan pemakaian media sosial meskipun pemakaian itu mengganggu hidup sehari-hari. Makin tinggi skornya, makin kuat kelekatan itu. Ibu yang tidak bekerja mencatat rata-rata 22,78, sedangkan ibu yang bekerja 19,12.
Selisih 3,66 poin itu oleh Uçar dan rekan-rekannya dinyatakan bermakna secara statistik, dan ukurannya tergolong lumayan besar. Perbedaan tersebut juga tidak hilang ketika usia, pendidikan, dan keadaan ekonomi para ibu ikut diperhitungkan. Artinya, jarak antara dua kelompok itu tidak bisa dijelaskan semata oleh kenyataan bahwa ibu yang tidak bekerja lebih tua, lebih singkat bersekolah, dan lebih sempit keuangannya.
Dugaan yang paling mudah adalah ibu di rumah punya lebih banyak waktu senggang. Uçar, Kaplan, dan Yildiz menolak berhenti di situ. “Alih-alih mengaitkan perbedaan ini semata dengan waktu luang yang lebih banyak, hal itu mungkin mencerminkan konteks psikososial yang rumit pada masa awal menjadi ibu,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Konteks yang dimaksud Yildiz dan rekan-rekannya cukup terang. Ibu bayi yang tidak bekerja kerap memikul pengasuhan tanpa upah yang menyita tenaga, punya lebih sedikit kesempatan bertemu orang lain, lalu memakai media sosial sebagai sumber informasi, dukungan emosional, dan pertemanan. Mereka meminjam gagasan Baumeister dan Leary tentang kebutuhan manusia untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok: media sosial boleh jadi menambal pertemuan tatap muka yang berkurang.
Yildiz dan rekan mencatat keyakinan mengasuh yang jauh lebih tinggi
Pertanyaan kedua yang dibawa Yildiz dan rekan-rekannya menyangkut keyakinan mengasuh, yaitu kepercayaan seorang ibu bahwa ia mampu merawat dan membesarkan anaknya dengan baik. Skornya bergerak dari 18 sampai 72. Ibu yang tidak bekerja rata-rata meraih 61,59, sedangkan ibu yang bekerja 46,06. Jaraknya lebih dari 15 poin, dan inilah perbedaan terbesar di antara ketiga hal yang ditanyakan.
Uçar dan rekan-rekannya mencatat bahwa jarak itu pun bertahan setelah usia, pendidikan, dan keadaan ekonomi diperhitungkan. Penjelasan yang mereka tawarkan bertumpu pada pengalaman sehari-hari. Ibu yang sepanjang hari mengurus bayinya dan ibu yang membagi hari antara pekerjaan dan rumah menjalani pengasuhan yang berbeda, dan perbedaan itu dapat membentuk cara mereka menilai kecakapan sendiri.
Untuk menopang tafsir itu, Kaplan dan kedua rekannya merujuk Bandura, yang berpendapat keyakinan seseorang atas kemampuannya dibentuk oleh pengalaman dan rasa berhasil dalam menjalankan suatu peran. Mereka juga menyebut gagasan Hays tentang pengasuhan intensif, yakni harapan sosial dan budaya di sekitar peran ibu yang ikut memengaruhi cara ibu menilai dirinya. Tuntutan pekerjaan, menurut studi yang mereka kutip, berkaitan dengan keyakinan mengasuh yang lebih rendah.
Meski begitu, Uçar dan rekan-rekannya meminta temuan ini dibaca dengan hati-hati. Keyakinan mengasuh, tulis mereka, kemungkinan besar dipengaruhi banyak hal pribadi, keluarga, dan lingkungan di luar status bekerja. Naskah ini tidak mengukur seberapa baik bayi-bayi itu sebenarnya dirawat. Yang diukur adalah penilaian para ibu atas diri mereka sendiri.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Rasa cemas yang oleh Uçar didapati sama di kedua kelompok
Pertanyaan ketiga memberi Uçar dan rekan-rekannya jawaban yang berbeda arah. Kecemasan diukur pada rentang 0 sampai 21. Ibu yang tidak bekerja rata-rata mencatat 9,93 dan ibu yang bekerja 9,76. Selisihnya hanya 0,18 poin dan tidak bermakna secara statistik. Bekerja atau tidak, para ibu bayi itu sama cemasnya.
Kaplan dan rekan-rekannya mengingatkan bahwa studi terdahulu tentang pekerjaan dan kecemasan memang tidak seragam. Sebagian mengaitkan tekanan pekerjaan dengan kecemasan yang lebih tinggi. Sebagian lain menunjukkan bahwa pengasuhan yang menyita tenaga dan urusan rumah tangga dapat menimbulkan tekanan batin yang setara pada ibu yang tidak bekerja. Hasil mereka, menurut para penulis, mencerminkan betapa berlapisnya kecemasan ibu pada dua tahun pertama setelah melahirkan.
Yildiz dan kedua rekannya juga menutup pintu bagi tafsir yang terlalu jauh. “Karena desainnya potong lintang, temuan ini harus dibaca sebagai hubungan, bukan bukti bahwa status bekerja memengaruhi kecemasan,” tulis mereka, masih dalam bahasa Inggris. Peringatan serupa mereka ulang untuk media sosial dan untuk keyakinan mengasuh.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Ketika Kaplan dan rekan meminta komputer menebak siapa yang bekerja
Kaplan dan rekan-rekannya lalu membalik pertanyaannya. Bila sebuah model komputer hanya diberi tiga skor tadi, tanpa tahu usia, pendidikan, atau keuangan seorang ibu, dapatkah ia menebak apakah ibu itu bekerja? Model yang paling baik, bernama XGBoost, diuji pada 138 ibu. Hanya 18 di antaranya yang salah ditebak.
Rincian kekeliruan itu dicatat Uçar dan rekan-rekannya: delapan ibu bekerja dikira tidak bekerja, dan sepuluh ibu yang tidak bekerja dikira bekerja. Skor yang paling banyak membantu tebakan adalah keyakinan mengasuh, disusul kecanduan media sosial, lalu kecemasan di urutan terakhir. Urutan ini sejalan dengan besar kecilnya selisih yang sudah tampak pada rata-rata kedua kelompok.
Yildiz dan kedua rekannya berhati-hati menakar arti tebakan itu. Kemampuan model membedakan dua kelompok ibu, tulis mereka, hanya menunjukkan daya tebak, bukan penjelasan tentang apa yang terjadi di dalam batin para ibu. Urutan pentingnya ketiga skor juga bukan ukuran besarnya pengaruh. Cara ini mereka sebut pelengkap bagi perbandingan biasa, bukan penggantinya.
Batas yang diakui Uçar dan hal yang bisa diperiksa pembaca
Uçar, Kaplan, dan Yildiz menyebut empat batas penelitiannya. Semua jawaban berasal dari pengakuan para ibu sendiri, sehingga bisa condong ke jawaban yang dianggap pantas. Datanya diambil pada satu waktu, jadi sebab dan akibat tidak dapat ditetapkan. Para ibu berasal dari pusat kesehatan keluarga di satu wilayah Türkiye, dan hasilnya belum tentu berlaku bagi penduduk atau budaya lain.
Batas keempat menyangkut hal yang tidak ditanyakan Kaplan dan rekan-rekannya. Sifat kepribadian dan dukungan keluarga tidak diukur, padahal keduanya mungkin ikut membentuk hubungan yang teramati. Karena itu mereka meminta penelitian berikutnya mengikuti para ibu dari waktu ke waktu, melibatkan peserta dari budaya yang berbeda, dan menguji langsung cara-cara mendampingi ibu.
Bagi layanan kesehatan dasar, Yildiz dan kedua rekannya menarik satu saran. Pendampingan soal pemakaian media sosial yang sehat dan penguatan rasa percaya diri mengasuh sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja. Status bekerja, tulis mereka, perlu dilihat “dalam konteks psikososial yang lebih luas pada masa awal menjadi ibu, bukan sebagai penentu tunggal kesejahteraan ibu”.
Beberapa hal dalam naskah Uçar dan rekan-rekannya dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Alat ukur keyakinan mengasuh disebut berisi 18 pertanyaan, tetapi daftar butirnya memuat nomor sampai 20 dan beberapa nomor tertulis dua kali. Naskah juga mencatat 553 ibu bekerja dan 571 ibu tidak bekerja yang memenuhi syarat, 530 yang bersedia, lalu 462 yang dianalisis, tanpa menerangkan bagaimana jumlahnya menjadi persis 231 dan 231.
Satu hal lagi luput dibahas Kaplan dan kedua rekannya. Naskah menyebut skor 8 sebagai ambang kemungkinan gangguan cemas menyeluruh, sedangkan rata-rata kedua kelompok, 9,93 dan 9,76, berada di atas ambang itu. Naskah tidak mengulas arti angka tersebut. Selisih keyakinan mengasuh juga tertulis 15,54, padahal pengurangan dua rata-ratanya menghasilkan 15,53.
Yang dibawa pulang Uçar dari dua pusat kesehatan keluarga itu, dengan demikian, bukan gambaran ibu yang unggul dan ibu yang tertinggal. Ibu yang tidak bekerja lebih lekat dengan media sosial sekaligus lebih yakin pada kecakapannya mengasuh. Ibu yang bekerja lebih longgar dari media sosial, tetapi lebih ragu pada dirinya. Rasa cemas, satu-satunya hal yang tidak memisahkan mereka, hadir di kedua kelompok dengan takaran yang sama.















