Media Sosial Menjerat Lebih dari Sepertiga Mahasiswa di Kerala

A A

Ilustrasi gedung kampus Bishop Jerome Institute berwarna biru-kuning di Kollam, Kerala, India [Foto: Arunvrparavur/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Sebanyak 38,07 persen dari 823 mahasiswa di dua distrik Kerala mencapai skor kecanduan media sosial.
  • Nilai tengah pemakaian harian mahasiswa itu 330 menit, lebih dari dua kali rata-rata dunia 151 menit.
  • Dari mahasiswa yang memakai media sosial lebih dari lima jam sehari, 46,9 persen mencapai skor kecanduan.
  • Di antara mahasiswi 42,3 persen mencapai skor kecanduan, sedangkan di antara mahasiswa laki-laki 30,7 persen.
  • Ambang skor yang dipakai belum pernah diuji secara resmi untuk penduduk India sehingga bukan diagnosis klinis.
Daftar Isi
  1. Enam pertanyaan pendek yang memisahkan pemakai biasa dari yang terjerat
  2. Lima setengah jam sehari, dan layar yang paling sering dibuka adalah Instagram
  3. Garis lima jam yang membelah mahasiswa menjadi dua kelompok berbeda
  4. Mahasiswi dan mereka yang sudah menikah lebih banyak melewati ambang itu
  5. Ambang pinjaman, hitungan yang tak cocok, dan batas yang diakui para penulis

Mereka sudah mencoba mengurangi. Tidak berhasil. Di ruang-ruang kuliah di Kollam dan Kozhikode, dua distrik di negara bagian Kerala, India, separuh lebih mahasiswa mengakui hal yang sama ketika ditanya tentang media sosial: kadang-kadang mereka berusaha memangkas pemakaiannya, lalu gagal. Hampir sama banyaknya yang mengaku kadang-kadang menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan media sosial.

Pengakuan itu terkumpul dalam artikel Prevalence and factors associated with social media addiction among undergraduate students from selected districts of Kerala, India: a cross-sectional study karya Swathy Krishna, Jeby Jose Olickal, dan Kavumpurathu Raman Thankappan, yang terbit di BMC Public Health pada 2026 dan masih berupa naskah diterima yang belum bernomor volume. Ketiganya menanyai 823 mahasiswa sarjana berusia 18 sampai 22 tahun dari kampus seni-sains dan kampus teknik. Olickal adalah profesor madya di Department of Public Health, Amrita School of Medicine, Kochi.

Angka pokoknya begini. Sebanyak 38,07 persen mahasiswa, lebih dari sepertiga, mencapai skor yang oleh para penulis digolongkan sebagai kecanduan media sosial. Di dalam kelompok itu ada lapisan yang lebih berat, yang mereka sebut gangguan media sosial: 4,03 persen dari seluruh mahasiswa. Rentang ketidakpastiannya juga dicantumkan, yakni 33,56 sampai 42,81 persen untuk angka pertama dan 2,69 sampai 5,99 persen untuk angka kedua.

Enam pertanyaan pendek yang memisahkan pemakai biasa dari yang terjerat

Skor itu lahir dari enam pertanyaan saja. Tiap pertanyaan menyentuh satu sisi kebiasaan: seberapa sering media sosial memenuhi pikiran, mengubah suasana hati, menuntut takaran yang makin besar, menimbulkan gelisah ketika dihentikan, mengganggu urusan lain, dan kambuh sesudah dicoba dikurangi. Jawabannya bergerak dari sangat jarang sampai sangat sering, sehingga jumlah nilainya antara 6 dan 30. Mahasiswa dengan nilai 19 ke atas masuk golongan kecanduan, 24 ke atas masuk golongan gangguan.

Sebaran jawabannya memperlihatkan di mana titik rawannya. Pada pertanyaan tentang gagal mengurangi pemakaian, 51,3 persen menjawab kadang-kadang, 15,4 persen sering, dan 5,1 persen sangat sering. Pada pertanyaan tentang banyaknya waktu untuk memikirkan media sosial, 51,2 persen menjawab kadang-kadang. Hampir separuh, 49,1 persen, kadang-kadang merasakan dorongan untuk memakainya lebih dan lebih lagi.

Enam pertanyaan, enam jawaban "kadang-kadang"Gagal mengurangi pemakaian: Persen dari 823 mahasiswa +51,3%; Banyak memikirkan media sosial: Persen dari 823 mahasiswa +51,2%; Terdorong memakai makin sering: Persen dari 823 mahasiswa +49,1%; Memakainya untuk melupakan masalah pribadi: Persen dari 823 mahasiswa +44,0%; Pemakaian berdampak buruk pada studi: Persen dari 823 mahasiswa +38,8%; Gelisah bila dilarang memakai: Persen dari 823 mahasiswa +33,2%.Enam pertanyaan, enam jawaban"kadang-kadang"Mahasiswa yang menjawab "kadang-kadang" pada tiap butir, persen20%40%60%0Gagal mengurangi pemakaian51,3%Banyak memikirkan media sosial51,2%Terdorong memakai makin sering49,1%Memakainya untuk melupakan masalah pribadi44,0%Pemakaian berdampak buruk pada studi38,8%Gelisah bila dilarang memakai33,2%Jawaban "sering" dan "sangat sering" tidak termasuk dalam batang ini.
Sumber: Swathy Krishna, Jeby Jose Olickal, dan Kavumpurathu Raman Thankappan, Prevalence and factors associated with social media addiction among undergraduate students from selected districts of Kerala, India: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiga pertanyaan lain lebih dekat ke akibatnya. Sebanyak 44 persen kadang-kadang membuka media sosial untuk melupakan masalah pribadi, dan hampir satu dari lima melakukannya sering. Kira-kira sepertiga, 33,2 persen, kadang-kadang gelisah atau terganggu ketika dilarang memakainya. Lalu soal kuliah. Pemakaian yang berlebihan itu berdampak buruk pada studi bagi 38,8 persen mahasiswa secara kadang-kadang, bagi 20 persen secara sering, dan bagi 10,5 persen secara sangat sering.

Para penulis membaca pola itu dengan hati-hati. Menurut mereka, pikiran yang terus tertuju pada media sosial dan dorongan untuk memakainya lebih banyak adalah perilaku yang paling umum dilaporkan, dan keduanya mungkin mencerminkan ciri awal kecanduan. Kata yang dipakai adalah mungkin. Tidak ada pemeriksaan dokter di belakang angka ini; yang ada hanyalah jawaban mahasiswa atas enam pertanyaan tadi.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Lima setengah jam sehari, dan layar yang paling sering dibuka adalah Instagram

Berapa lama sebenarnya mereka di sana? Nilai tengah pemakaian harian mahasiswa itu 330 menit, atau lima setengah jam. Separuh mahasiswa berada di antara 220 dan 450 menit sehari. Para penulis menyandingkannya dengan rata-rata dunia pada 2023 yang mereka kutip, yaitu 151 menit sehari. Artinya, mahasiswa di dua distrik itu menghabiskan waktu lebih dari dua kali lipat angka dunia tersebut.

Layarnya pun dibuka berulang-ulang. Sebanyak 37 persen mahasiswa membuka media sosial 11 sampai 20 kali sehari, dan 32,3 persen lebih dari 20 kali. Enam dari sepuluh menyebut Instagram sebagai media sosial yang paling sering dipakai, disusul YouTube pada 26,3 persen. Konten tentang makanan diminati 76,6 persen mahasiswa, sedangkan 56,5 persen memakai media sosial untuk urusan kebugaran.

Kerala sendiri, tulis para penulis, punya lingkungan yang memudahkan semua itu. Negara bagian ini termasuk yang tertinggi di India dalam jangkauan internet, kepemilikan ponsel pintar, dan kecakapan digital. Layanan internet murah tersedia luas. Keterhubungan setinggi itu mereka sebut bermanfaat, tetapi sekaligus membuka peluang bagi pemakaian yang berkepanjangan pada orang-orang yang rentan.

Garis lima jam yang membelah mahasiswa menjadi dua kelompok berbeda

Titik baliknya ada pada angka lima jam. Dari 460 mahasiswa yang memakai media sosial lebih dari lima jam sehari, 46,9 persen mencapai skor kecanduan. Dari 363 mahasiswa yang memakainya lima jam atau kurang, angkanya 31,8 persen. Sesudah faktor lain diperhitungkan, kelompok pertama tetap 41 persen lebih banyak yang melewati ambang dibandingkan kelompok kedua.

Di sinilah para penulis menaruh kalimat terkuat mereka. “Lamanya pemakaian media sosial muncul sebagai faktor independen terkuat yang berkaitan dengan kecanduan media sosial, sehingga waktu layar yang berkepanjangan tampil sebagai sasaran perilaku yang berpotensi diubah lewat intervensi,” tulis Krishna, Olickal, dan Thankappan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Tetapi kaitan itu tidak sesederhana makin lama makin parah. Ketika lama pemakaian disandingkan langsung dengan skor tiap mahasiswa, hubungan keduanya memang searah, tetapi lemah. Para penulis sendiri menyimpulkan bahwa lama pemakaian hanya menerangkan sebagian dari ragam perilaku bermedia sosial. Ada mahasiswa yang berjam-jam di layar tanpa melewati ambang. Ada pula yang sebaliknya.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Mahasiswi dan mereka yang sudah menikah lebih banyak melewati ambang itu

Garis kedua membelah menurut jenis kelamin. Di antara 496 mahasiswi, 42,3 persen mencapai skor kecanduan; di antara 327 mahasiswa laki-laki, 30,7 persen. Selisih itu bertahan sesudah faktor lain diperhitungkan: mahasiswi 42 persen lebih banyak yang melewati ambang. Para penulis menawarkan dugaan dari riset terdahulu, bahwa perempuan lebih cenderung memakai jejaring sosial untuk berinteraksi, mengungkapkan perasaan, dan merawat hubungan.

Siapa yang lebih banyak melewati ambang kecanduanMahasiswa menikah (18 orang): Persen di tiap kelompok +71,7%; Belum menikah (805 orang): Persen di tiap kelompok +37,2%; Lebih dari 5 jam sehari (460 orang): Persen di tiap kelompok +46,9%; 0-5 jam sehari (363 orang): Persen di tiap kelompok +31,8%; Perempuan (496 orang): Persen di tiap kelompok +42,3%; Laki-laki (327 orang): Persen di tiap kelompok +30,7%.Siapa yang lebih banyak melewati ambangkecanduanMahasiswa yang mencapai skor ambang, persen tertimbang20%40%60%80%0Mahasiswa menikah (18 orang)71,7%Belum menikah (805 orang)37,2%Lebih dari 5 jam sehari (460 orang)46,9%0-5 jam sehari (363 orang)31,8%Perempuan (496 orang)42,3%Laki-laki (327 orang)30,7%Seluruh mahasiswa: 38,07 persen. Kelompok menikah hanya 18 orang.
Sumber: Swathy Krishna, Jeby Jose Olickal, dan Kavumpurathu Raman Thankappan, Prevalence and factors associated with social media addiction among undergraduate students from selected districts of Kerala, India: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Garis ketiga paling tajam sekaligus paling rapuh. Dari 18 mahasiswa yang sudah menikah, 12 orang mencapai skor kecanduan, setara 71,7 persen sesudah ditimbang. Pada 805 mahasiswa yang belum menikah, angkanya 37,2 persen. Delapan belas orang. Para penulis meminta temuan ini dibaca dengan hati-hati justru karena kelompoknya sekecil itu, dan menyebut perlu riset lebih besar untuk tahu apakah kaitan ini akan muncul lagi.

Mereka tetap mencoba menerangkannya. Mahasiswa yang menikah, menurut para penulis, mungkin memikul tanggung jawab sosial, akademik, dan keluarga tambahan yang membuat mereka lebih bersandar pada media sosial untuk berkomunikasi, mencari dukungan emosional, atau melepas tekanan. Itu dugaan, bukan temuan. Para penulis sendiri menyebut bukti tentang kaitan status pernikahan dan kecanduan media sosial pada mahasiswa masih terbatas.

Yang tidak membelah apa-apa juga layak dicatat. Usia, jurusan, kelas sosial keluarga, dan media sosial yang paling sering dipakai tidak berkaitan dengan kecanduan sesudah faktor lain diperhitungkan. Jenis kampus pun nyaris tidak berbeda: 37,5 persen di kampus negeri, 38,5 persen di kampus berbantuan, dan 38,4 persen di kampus swasta. Angka sepertiga lebih itu hadir hampir rata di semua tempat.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Ambang pinjaman, hitungan yang tak cocok, dan batas yang diakui para penulis

Pertanyaan terbesarnya ada pada kata kecanduan itu sendiri. Ambang 19 dan 24 adalah ambang yang dianjurkan secara internasional dan belum pernah diuji secara resmi untuk penduduk India. “Karena itu, angka kecanduan dan gangguan media sosial yang dilaporkan harus dibaca sebagai proporsi mahasiswa yang memenuhi ambang penyaringan, bukan angka kecanduan yang didiagnosis secara klinis,” tulis ketiga penulis, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Keterbatasan lain mereka sebut terang-terangan. Data diambil pada satu waktu, sehingga tidak bisa menunjukkan mana sebab dan mana akibat. Seluruh jawaban adalah laporan mahasiswa sendiri, yang bisa meleset karena lupa atau karena ingin tampak baik. Datanya semula dikumpulkan untuk meneliti risiko gangguan makan, bukan untuk mencari faktor kecanduan, sehingga kaitan-kaitan tadi mereka sebut bersifat penjajakan. Mahasiswa yang absen pada hari pendataan tidak ikut, dan dua distrik belum tentu mewakili tempat lain.

Ada pula beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Naskah menyebut 12,67 persen dari mahasiswa yang kecanduan memenuhi ambang gangguan; bila dihitung dari 38,07 persen, hasilnya sekitar 4,8 persen dari seluruh mahasiswa, bukan 4,03 persen. Uraian hasil menulis angka 51,2 sampai 33,2 persen sebagai jawaban setidaknya kadang-kadang, padahal di tabel angka itu adalah jawaban kadang-kadang saja.

Dua hal lagi lebih kecil. Lama pemakaian disebut faktor terkuat, padahal rasio untuk mahasiswa menikah, 1,73, dan untuk mahasiswi, 1,42, sedikit lebih besar daripada rasio pemakaian di atas lima jam, 1,41. Angka pembanding 31 persen dari telaah Cheng dan rekan dirujuk ke nomor pustaka yang berisi sumber statistik lain, dan di bagian pendahuluan angka itu adalah angka Asia. Naskah ini memang belum melewati penyuntingan akhir.

Maka yang tersisa adalah gambar di ruang kuliah tadi, dengan ukuran yang lebih tepat. Separuh lebih mahasiswa pernah mencoba mengurangi dan gagal. Lebih dari sepertiga melewati garis yang ditarik oleh enam pertanyaan. Sekitar empat dari seratus melewati garis yang lebih jauh. Lima setengah jam sehari berlalu di layar, sebagian besar di Instagram, di sebuah negara bagian yang jangkauan internetnya termasuk tertinggi di India.

Bagikan

Baca Juga

Dokter Tanpa Jabatan di Turki Lebih Condong Bekerja Seperlunya
Punya Kebun di Rumah, Warga Prancis Lebih Sering Digigit Caplak
Label Peringatan Gula Makanan Bayi Bisa Kalah oleh Klaim Alami
Main Ponsel Sejam Sebelum Tidur, Mahasiswa Tiongkok Kurang Lelap
New Delhi Dijaga Ketat Jelang Protes Gen Z soal Daftar Pemilih
Rumah Sakit Gratis, Korban Kecelakaan di Tehran Tetap Merugi