Orang Korowai Turun dari Rumah Pohon, Sagu Pun Berganti Nasi

A A

Rumah pohon orang Korowai berdiri tinggi di tengah hutan dekat Basman, Papua, 1992 [Foto: Willem Theodoor van Oijen / Wereldmuseum/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Banyak orang Korowai kini menetap di permukiman yang lebih besar di sekitar wilayahnya.
  • Makanan tradisional sagu dan ikan air tawar mulai berganti nasi dan daging.
  • Beberapa orang Korowai memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan tidak lagi berbahasa asli.
  • Masih banyak pasangan Korowai yang memilih upacara pernikahan tradisional dengan pakaian adat.
  • Penulis mengusulkan pelatihan untuk mempertahankan keterampilan membangun rumah pohon.
Daftar Isi
  1. Rumah pohon
  2. Sagu dan nasi
  3. Telepon genggam
  4. Khakhua
  5. Upacara pernikahan
  6. Jalan, jembatan, bandara

Rumah itu berdiri di atas pohon, puluhan meter dari tanah. Dari kayu, dibangun tinggi agar penghuninya terlindung dari banjir dan binatang buas. Begitulah orang Korowai di pedalaman Papua dikenal selama ini: hidup di tengah hutan, berpindah mengikuti musim, dan menggantungkan makan pada apa yang disediakan alam di sekitar mereka.

Gambaran itu kini tidak lagi utuh. Heri Kurnia dan Dian Lestari, dari Faculty of Education, Cokroaminoto University, Yogyakarta, mencatat pergeserannya dalam artikel Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Suku Korowai dalam Konteks Modernisasi dan Globalisasi, yang dimuat Enggang: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya volume 4 nomor 1 tahun 2023. Keduanya menelusuri apa yang berubah dan apa yang masih dipegang orang Korowai.

Jawaban mereka tidak tunggal. Sebagian warga sudah turun dari pohon, pindah ke permukiman yang lebih besar, dan memegang telepon genggam. Sebagian lain masih bertahan di hutan dengan bahasa, adat istiadat, dan kepercayaannya. Di antara dua keadaan itu, tulis Kurnia dan Lestari, orang Korowai berusaha mempertahankan identitas dan budaya asli mereka.

Rumah pohon

Dulu, anggota suku Korowai tinggal di rumah-rumah pohon tradisional di tengah hutan. Mereka berpindah tempat, bergantung pada kondisi lingkungan dan musim. Pola itu yang berubah. Banyak dari mereka sekarang menetap di permukiman yang lebih besar di sekitar wilayahnya, dan kedua penulis menyebut kota Merauke dan Jayapura sebagai contohnya.

Kepindahan itu, menurut keduanya, terkait dengan akses yang lebih mudah ke fasilitas dan layanan modern, seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Gaya hidup ikut bergeser. Kurnia dan Lestari mencatat peralihan dari tinggal di rumah pohon ke rumah panggung yang lebih modern, juga rumah yang dibangun dari kayu, bambu, dan genteng.

Pakaian pun berganti. Beberapa orang Korowai memutuskan hidup secara modern dan mengenakan pakaian modern. Perubahan pola permukiman itu juga membawa dampak negatif. Menurut kedua penulis, keterampilan dan pengetahuan membangun rumah pohon tradisional ikut hilang, begitu pula ikatan dengan lingkungan alam di sekitar mereka.

Hidup orang Korowai, dulu dan kiniHidup orang Korowai, dulu dan kiniHidup orang Korowai, dulu dan kiniPerubahan yang dicatat pada sebagian wargaDuluKiniRumah pohonRumah panggungRumahSagu, ikanNasi, dagingMakananBerburuSawit, tambangNafkahBerpindahMenetapTempatUpacara adatGereja, sipilNikahSebagian warga masih hidup secara tradisional di hutan.
Sumber: Heri Kurnia dan Dian Lestari, Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Suku Korowai dalam Konteks Modernisasi dan Globalisasi, Enggang: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 4(1), 2023. Grafik: Cekricek.id

Hutan tempat rumah-rumah itu berdiri juga tidak sama lagi. Deforestasi dan konversi lahan untuk pertanian dan pertambangan, tulis Kurnia dan Lestari, telah merusak lingkungan alami dan mengancam keberlangsungan hidup orang Korowai. Perusahaan multinasional dan eksploitasi sumber daya alam di wilayah itu mereka sebut mengancam habitat suku yang mengandalkan alam sebagai sumber kehidupan.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Sagu dan nasi

Dari rumah, perubahan merambat ke dapur. Makanan tradisional orang Korowai adalah sagu dan ikan air tawar. Kini, menurut catatan Kurnia dan Lestari, mereka mulai beralih ke makanan modern seperti nasi dan daging. Peralihan itu dikaitkan kedua penulis dengan semakin mudahnya akses ke dunia luar dan meluasnya pengaruh budaya asing.

Cara mendapatkan makanan berubah lebih jauh lagi. Kedua penulis menyebutnya perubahan besar. Dulu orang Korowai hidup sebagai pemburu-pengumpul yang berpindah-pindah tempat untuk mencari makan. Sekarang mereka mulai menetap di permukiman yang lebih besar untuk mencari nafkah, dan banyak yang bekerja di perkebunan kelapa sawit atau perusahaan tambang di sekitar wilayahnya.

Ada pula yang menjadikan rumah pohon sebagai mata pencaharian. Beberapa orang Korowai menjadi pemandu wisata, membawa wisatawan ke rumah-rumah pohon dan memperkenalkan budaya serta tradisi mereka. Pekerjaan itu disebut kedua penulis bersama pekerjaan di kebun sawit dan tambang sebagai cara baru mencari nafkah.

Kurnia dan Lestari menyebut cara hidup itu membawa manfaat ekonomi. “Meskipun cara hidup ini membawa manfaat ekonomi, namun Suku Korowai harus beradaptasi dengan perubahan tersebut dan tetap berjuang untuk mempertahankan identitas dan budaya asli mereka,” tulis keduanya.

Telepon genggam

Di permukiman baru, benda-benda lain ikut masuk. Telepon genggam, televisi, dan listrik semakin marak di kalangan warga Korowai. Banyak anggota suku yang kini memakai ponsel pintar untuk berkomunikasi dengan orang di luar wilayahnya. Bahkan, menurut Kurnia dan Lestari, ada yang mempunyai akun media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Telepon itu tidak hanya dipegang mereka yang pindah. Warga yang masih hidup secara tradisional di hutan pun, tulis kedua penulis, telah mengadopsi beberapa teknologi modern. Telepon genggam mereka pakai untuk menjaga hubungan dengan keluarga dan teman yang tinggal di luar wilayah. Mereka juga tetap mempertahankan bahasa, adat istiadat, dan kepercayaannya.

Sambungan itu mengubah cara orang Korowai berbicara satu sama lain. Kurnia dan Lestari mencatat perubahan dalam cara berinteraksi dan berkomunikasi di antara sesama anggota suku. Beberapa orang Korowai mulai memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, bahkan tidak lagi menggunakan bahasa asli mereka.

Akses internet dan telepon seluler, menurut kedua penulis, memudahkan orang Korowai terhubung dengan dunia luar, tetapi juga dapat memengaruhi tradisi dan kebiasaan. Mereka yang tinggal di sekitar kota mulai terpengaruh budaya perkotaan. Sebagian mungkin terpengaruh tren global seperti mode dan musik, tulis Kurnia dan Lestari.

Baca juga Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan

Khakhua

Perubahan juga menyentuh keyakinan. Kurnia dan Lestari menulis bahwa orang Korowai memiliki keyakinan pada kekuatan dan arwah para leluhur, yang dalam naskah mereka disebut khakhua. Seiring masuknya agama dari luar dan mudahnya akses informasi, sebagian anggota suku kini memeluk agama lain dan mengikuti ibadahnya, sementara sebagian lain tetap menjaga keyakinan lama.

Bagi yang bertahan, tulis kedua penulis, khakhua dianggap bagian penting dari identitas dan budaya. Mereka percaya khakhua berperan menjaga keselamatan dan kesejahteraan, serta membantu dalam mencari makan dan meraih keberuntungan. Ritual yang berasal dari tradisi leluhur masih dijalankan oleh warga yang memegang keyakinan itu.

Kebudayaan itu juga hidup lewat tangan dan tubuh. Orang Korowai, menurut Kurnia dan Lestari, terus mengembangkan dan melestarikan kebudayaannya melalui seni dan kerajinan tradisional seperti ukiran kayu dan tarian adat. Beberapa program telah diluncurkan untuk membantu pelestarian, termasuk program pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai budaya mereka.

Upacara pernikahan

Pernikahan Korowai dahulu berlangsung sederhana. Yang terlibat hanya keluarga dekat dan beberapa tetangga. Sebelum upacara, pasangan harus menyelesaikan serangkaian tugas: memotong pohon, membuat tempat tidur, dan menyiapkan makanan. Baru setelah semuanya rampung, upacara dilangsungkan.

Bentuk dan proses upacara itu ikut berubah. Karena sumber daya alam semakin sulit didapat, tulis Kurnia dan Lestari, tugas-tugas tersebut semakin sulit dilakukan dan sering kali diabaikan. Sementara itu, mudahnya akses ke wilayah Korowai dan bergesernya pola pikir membuat upacara pernikahan makin terpengaruh budaya luar.

Beberapa pasangan kini memilih pernikahan gereja atau pernikahan sipil. Pakaian pengantin tidak lagi hanya pakaian adat Korowai, tetapi sering pula mengikuti gaya pakaian Barat. Meski begitu, kedua penulis mencatat masih banyak pasangan yang memilih upacara tradisional, mengenakan pakaian adat dan menjalankan upacara adat.

Pilihan itu dibaca Kurnia dan Lestari sebagai tanda bahwa orang Korowai tetap ingin mempertahankan identitas dan kebudayaan aslinya. Adat pernikahan, kepercayaan, dan budaya saling percaya mereka sebut sebagai tradisi yang masih dijunjung tinggi. Karena itu keduanya memandang penting bagi masyarakat Korowai dan pemerintah untuk terus menjaga adat pernikahan tersebut.

Baca juga Pengukir Papua Buktikan Seni Bukan Adaptasi Evolusi

Jalan, jembatan, bandara

Dari mana semua perubahan itu masuk? Kurnia dan Lestari menyebut empat faktor: akses ke dunia luar, perubahan pola pikir, pengaruh budaya asing, dan pembangunan infrastruktur. Jalan, jembatan, dan bandara yang dibangun di Papua mempermudah warga berinteraksi dengan dunia luar. Listrik dan telepon seluler membuat teknologi modern semakin mudah dijangkau.

Empat pintu masuk perubahanEmpat pintu masuk perubahanEmpat pintu masuk perubahanFaktor yang disebut mengubah hidup KorowaiAkseske dunialuarPola pikiryangbergeserBudayaasingmasukJalanjembatan,bandaraBarucara hidupFaktor keempat: pembangunan infrastruktur.
Sumber: Heri Kurnia dan Dian Lestari, Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Suku Korowai dalam Konteks Modernisasi dan Globalisasi, Enggang: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 4(1), 2023. Grafik: Cekricek.id

Dengan akses informasi yang makin luas, tulis kedua penulis, pemikiran orang Korowai ikut bergeser. Menurut keduanya, warga mulai menyadari bahwa cara hidup tradisional tidak lagi berhasil menghadapi tantangan hari ini. Budaya asing, pada saat yang sama, masuk melalui berbagai media dan teknologi, lalu memengaruhi nilai dan kebiasaan sehari-hari.

Hasilnya, menurut Kurnia dan Lestari, membawa dampak positif dan negatif. Perubahan itu menawarkan kualitas hidup yang lebih baik dan peluang bagi orang Korowai untuk mengembangkan diri. Namun keduanya mengingatkan, “perubahan yang terjadi terlalu cepat dapat membahayakan kelangsungan budaya dan tradisi asli suku Korowai.” Karena itu upaya menjaga budaya dan tradisi asli mereka sebut sangat penting.

Kajian Kurnia dan Lestari bersandar pada data sekunder, yaitu pustaka, penelitian terdahulu, dan laporan yang sudah ada. Keduanya sendiri menyatakan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak perubahan sosial budaya itu dan bagaimana orang Korowai menyikapinya.

Keduanya juga mengajukan sejumlah saran. Program pembangunan, tulis keduanya, perlu sesuai dengan kebutuhan dan budaya suku Korowai. Pendidikan dan kesadaran tentang pentingnya melestarikan budaya asli perlu ditingkatkan. Hak-hak adat perlu dilindungi dan kepemimpinan suku diperkuat. Ekowisata yang bertanggung jawab dan praktik pertanian berkelanjutan disebut sebagai upaya yang sudah berjalan.

Satu saran menyangkut rumah pohon. Kurnia dan Lestari mengusulkan program pelatihan untuk mempertahankan keterampilan tradisional orang Korowai dalam memanfaatkan sumber daya alam dan membangun rumah pohon. Dengan langkah-langkah itu, tulis keduanya, suku Korowai diharapkan dapat mempertahankan dan mengembangkan budaya serta tradisinya sambil tetap beradaptasi dengan perubahan.

Bagikan

Baca Juga

Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara
Pemakai Rokok Elektrik Korea Turun Setelah Imbauan Tahun 2019
Cara Orang Kerinci Merawat Adat Tanpa Menolak Teknologi Baru
Perjanjian Orang Baduy Dalam Dibuat Lisan dan Dijaga Tokoh Adat
Igya Ser Hanjob, Cara Suku Arfak Menjaga Hutan dan Menjamu Tamu
Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda