Cara Orang Kerinci Merawat Adat Tanpa Menolak Teknologi Baru

A A

Empat tetua adat berbaju hitam bersulam emas duduk bersila saat Kenduri Sko [Foto: Rhmtdns/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Masyarakat Kerinci tersusun atas empat golongan yang disebut Uhang IV Jenis atau Uhang Empat Jenis.
  • Pelajaran Aksara Incung, seni budaya lokal, bahasa daerah, dan Parno Adat masuk muatan lokal sekolah dasar dan menengah pertama.
  • Masyarakat Kerinci memakai media sosial dan lokapasar daring untuk memperkenalkan tradisi dan memasarkan kerajinan.
  • Festival dan minat wisatawan dapat mengubah ritual sakral menjadi hiburan yang dikomersialkan, tulis para peneliti.
Daftar Isi
  1. Tekanan yang datang dari sekolah, kota, dan hutan yang ditebang
  2. Empat golongan yang membagi tugas di dalam kampung
  3. Aksara Incung dan Parno Adat masuk ke ruang kelas
  4. Kemitraan, kerajinan, dan cara menjaga alam
  5. Media sosial dan lokapasar sebagai jembatan
  6. Festival dan pelatihan yang mengikat anak muda
  7. Di mana siasat itu bisa berbalik arah

Sebuah upacara adat di Kerinci, yang dahulu hanya disaksikan dalam lingkup terbatas, kini direkam dan dibagikan lewat media digital. Kerajinan tradisional yang semula hanya dijual di pasar setempat sekarang ditawarkan di lokapasar daring dan bisa menjangkau pembeli di berbagai belahan dunia. Teknologi baru, yang oleh para peneliti disebut ikut mengikis nilai-nilai lama, justru dipakai untuk merawat tradisi.

Gambaran itu dicatat Mukhlis, Hafiza Yetti, Wulan Famelya Despita, Amelia Yetri, dan Doki Wardiman dalam artikel Resilience and Cultural Adaptation of the Kerinci Indigenous Community: Navigating Tradition in a Modernizing World, yang terbit di Indigenous Southeast Asian and Ethnic Studies tahun 2025. Mereka berasal dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, dan Ehime University di Jepang. Selama enam bulan mereka mengamati langsung kehidupan masyarakat adat Kerinci dan berbicara dengan tiga puluh informan kunci, dari pemimpin adat sampai wakil pemerintah.

Pertanyaan yang mereka ajukan: bagaimana sebuah masyarakat adat menjaga warisannya sambil menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman yang terus berubah? Masyarakat Kerinci, tulis mereka, memadukan unsur budaya modern dengan adat secara bijak, alih-alih menolak modernitas mentah-mentah. Cara kerjanya bisa diurai menjadi dua gerak: melestarikan dan menyesuaikan diri.

Tekanan yang datang dari sekolah, kota, dan hutan yang ditebang

Naskah itu lebih dulu memetakan apa yang dihadapi. Masuknya teknologi baru mengubah gaya hidup sehari-hari dan norma sosial. Pendidikan modern dan media mempercepat perubahan itu, terutama di kalangan generasi muda, yang kerap lebih tertarik pada gaya hidup masa kini daripada tradisi leluhur. Urbanisasi mendorong banyak anak muda pindah ke kota. Yang tertinggal adalah penduduk berusia lanjut, yang bersusah payah meneruskan praktik-praktik lama.

Tekanan juga datang dari arah lain. Kebijakan pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi, menurut para penulis, kerap mengabaikan nilai budaya setempat. Kegiatan ekonomi seperti penebangan hutan memperberat keadaan: lingkungan terdampak, praktik tradisional tergeser oleh peluang kerja modern, dan beban masyarakat adat dalam menjaga warisannya bertambah. Pendidikan modern, perubahan ekonomi, dan pengaruh budaya luar, tulis mereka, sama-sama mengancam kelestarian adat.

Para peneliti berpegang pada satu pengamatan dari pustaka yang mereka rujuk. Siasat pelestarian yang tidak memberi ruang bagi kebutuhan menyesuaikan diri sering tidak bertahan lama. Sebaliknya, penyesuaian yang meninggalkan nilai tradisi cenderung mengikis jati diri budaya dan melemahkan ikatan sosial. Yang dibutuhkan, tulis mereka, adalah pendekatan yang memegang nilai lama sekaligus menyesuaikan diri dengan budaya modern.

Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi

Empat golongan yang membagi tugas di dalam kampung

Sebelum sampai ke siasat, ada pijakannya. Masyarakat Kerinci tersusun dalam struktur sosial yang kuat, bertumpu pada adat, nilai kekeluargaan, dan gotong royong. Struktur itu terdiri atas empat golongan yang disebut Uhang IV Jenis atau Uhang Empat Jenis. Tiap golongan memegang urusan sendiri, dan lewat kerja sama, penyelesaian sengketa, serta pembagian tanggung jawab yang jelas, kehidupan sosial dan pemerintahan berjalan selaras.

Golongan pertama, Orang Adat, mengelola pemerintahan adat melalui tiga jenjang pemimpin: Sko Permenti Ninik Mamak, Sko Pemangku, dan Sko Depati. Sko Depati adalah pemegang wewenang tertinggi dalam peradilan adat, yang disebut Puncak Sko. Golongan kedua, Alim Ulama, bertanggung jawab atas kegiatan keagamaan. Di dalamnya ada ulama, imam, katib, bilal, lebai, dan petugas keagamaan lain.

Empat golongan penopang adat KerinciEmpat golongan penopang adat KerinciEmpat golongan penopang adat KerinciUhang IV Jenis dan tugas tiap golonganOrangAdatPemerintahadatAlimUlamaUrusanagamaCerdikPandaiPenghubungHulubalangPenjagadesaRukunTugas terbagi
Sumber: Mukhlis, Hafiza Yetti, Wulan Famelya Despita, Amelia Yetri, dan Doki Wardiman, Resilience and Cultural Adaptation of the Kerinci Indigenous Community: Navigating Tradition in a Modernizing World, Indigenous Southeast Asian and Ethnic Studies, 2025. Grafik: Cekricek.id

Golongan ketiga, Cerdik Pandai, berfungsi sebagai penghubung antara pemerintahan adat dan pemerintahan resmi. Mereka kerap memegang jabatan di lembaga pemerintahan daerah dan desa. Golongan keempat, Hulubalang, terdiri atas kaum muda yang ditugasi menjaga keamanan desa, memelihara ketertiban, dan melindungi warga. Dengan susunan itu, urusan adat, agama, pemerintahan, dan keamanan masing-masing punya penanggung jawab.

Agama menjadi dasar dari semua itu. Budaya orang Kerinci, tulis para peneliti, sangat dibentuk oleh agama, sebagaimana terungkap dalam adagium “Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah”. Agama berperan sebagai landasan moral dan spiritual yang mengesahkan praktik adat. Struktur sosial yang kokoh dan berakar pada prinsip keagamaan itulah yang oleh naskah disebut sebagai modal sosial penting bagi daya tahan masyarakat Kerinci.

Aksara Incung dan Parno Adat masuk ke ruang kelas

Gerak pertama adalah melestarikan, dan sekolah menjadi pintu masuknya. Kerja sama erat antara masyarakat dan pemerintah daerah memungkinkan tradisi, adat, dan nilai budaya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan setempat. Pelajaran tentang Aksara Incung, seni budaya lokal, bahasa daerah, dan Parno Adat menjadi bagian dari mata pelajaran muatan lokal di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Akibatnya, sekolah di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik. Menurut naskah itu, sekolah juga menjadi simpul penguatan jati diri budaya murid. Komitmen yang sama tampak dalam acara budaya, seminar, lokakarya tradisi, dan kegiatan ekstrakurikuler yang berpusat pada budaya lokal. Generasi muda memperoleh pemahaman tentang nilai dan adat, sekaligus kesempatan langsung untuk mempraktikkannya.

Di luar sekolah, masyarakat menghidupkan kembali praktik yang terancam terlupakan. Mereka menggelar Kenduri Sko serta upacara adat untuk perkawinan, khitanan, kelahiran, dan kematian. Warisan sastra lisan dirawat: Parno Adat, Tale, Barendih, Mantau, Nyaho, Kunun, dan K’ba. Begitu pula seni bela diri dan tari, yakni Pencak Silat atau Basilek, Tari Iyo-iyo, Rentak Kudo, Aseik, Tauh, dan Ngagah Harimau. Festival budaya digelar berkala di seluruh wilayah adat Kerinci.

Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival

Kemitraan, kerajinan, dan cara menjaga alam

Pelestarian tidak dikerjakan sendirian. Masyarakat adat Kerinci menjalin kemitraan dengan lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi akar rumput. Lewat kemitraan itu mereka menghimpun sumber daya dan memperjuangkan kebijakan. Hasilnya, menurut para peneliti, terlihat pada banyaknya penghargaan dan sertifikat tingkat nasional yang diterima untuk beragam unsur budaya.

Naskah itu menyebut nama-namanya: Lapeak Koto Dian, Kenduri Sko, Ntak Awo, Tale, Tari Rangguk Kumun, Iyo-iyo, Niti Naik Mahligai, Asyiek Tulak Bala, dan Ngayun Luci. Bagi para penulis, keberhasilan itu menunjukkan bahwa kerja sama dengan pihak luar memperkuat upaya pelestarian budaya adat. Pengakuan menjadi lebih luas, dan keberlanjutan warisan budaya bagi generasi berikutnya lebih terjamin.

Sumber daya setempat ikut digerakkan. Masyarakat mengembangkan industri kerajinan tradisional seperti tenun, batik, ukiran, dan anyaman dari daun pandan serta bambu. Usaha itu menopang keberlanjutan budaya sambil membuka lapangan kerja lokal. Para peneliti membacanya sebagai bukti bahwa pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi setempat dapat maju bersamaan, dengan manfaat budaya dan ekonomi bagi masyarakat adat Kerinci.

Alam masuk dalam hitungan yang sama. Para pemimpin dan warga, tulis naskah itu, terus berupaya menumbuhkan pemahaman tentang keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan pelestarian lingkungan, sebab alam tidak terpisahkan dari jati diri mereka. Saat bertani, berkebun, atau membuat kerajinan, dampaknya terhadap lingkungan dipertimbangkan. Penghijauan kembali dan praktik pertanian berkelanjutan disebut tertanam dalam prinsip budaya mereka.

Daya tahan adat Kerinci, sekilasDaya tahan adat Kerinci, sekilasDaya tahan adat Kerinci, sekilasAngka-angka yang disebut dalam naskah4golonganUhang IV Jenis3jenjang skopemimpin adat30informantokoh adat danpemerintah6bulankerja lapanganJalan risetnyaKabupaten KerinciKota Sungai Penuh30 informan kunci
Sumber: Mukhlis, Hafiza Yetti, Wulan Famelya Despita, Amelia Yetri, dan Doki Wardiman, Resilience and Cultural Adaptation of the Kerinci Indigenous Community: Navigating Tradition in a Modernizing World, Indigenous Southeast Asian and Ethnic Studies, 2025. Grafik: Cekricek.id

Media sosial dan lokapasar sebagai jembatan

Gerak kedua adalah menyesuaikan diri. Dalam upaya itu, tulis para peneliti, nilai-nilai tradisional tetap dipertahankan agar masyarakat tetap relevan di tengah dunia yang cepat berubah. Masyarakat Kerinci memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperoleh informasi, memperkenalkan tradisi, dan memasarkan kerajinan melalui lokapasar daring. Jangkauan praktik budaya meluas, begitu pula peluang pemasaran kerajinan tradisional.

“Alih-alih menolak teknologi modern mentah-mentah, masyarakat ini memadukannya secara bijak ke dalam praktik budayanya sambil mempertahankan inti nilai-nilai tradisional,” tulis Mukhlis dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Inovasi teknologi, menurut mereka, tidak hanya melestarikan warisan budaya dan memperbaiki peluang ekonomi. Ia juga menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Cara yang sama dipakai pada seni dan kerajinan. Inovasi dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan peluang. Anyaman bambu dan daun pandan dipakai untuk membuat tikar, jihu, bakun, lapik, tudung, dan jangki. Batik Aksara Incung menyerap unsur modern lewat proses produksi yang lebih efisien dan motif yang mengikuti selera masa kini, tanpa melepaskan nilai tradisinya. Dengan begitu, karya orang Kerinci tetap menarik bagi pasar yang lebih luas.

Festival dan pelatihan yang mengikat anak muda

Penyesuaian juga berlangsung di ruang terbuka. Masyarakat secara rutin menggelar Kenduri Sko, festival budaya, Festival Kerinci, dan Sungai Penuh Kenuhai. Acara-acara itu menampilkan ritual sakral, kesenian, kerajinan, dan atraksi berbasis budaya dari berbagai wilayah, terutama Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Penyelenggaraannya dikerjakan bersama lembaga pemerintah dan organisasi berbasis masyarakat.

Menurut para peneliti, kegiatan semacam itu bekerja ke dua arah. Ke dalam, ia mempererat ikatan warga dan menumbuhkan pemahaman budaya di kalangan generasi muda. Ke luar, ia mendatangkan pengakuan dan penghargaan dari khalayak yang lebih luas. Acara itu tidak hanya menjadi perayaan setempat, tetapi juga menarik wisatawan dan pihak luar yang ingin mempelajari budaya Kerinci.

Pelatihan melengkapi rangkaian itu. Programnya mencakup kerajinan tradisional hingga warisan budaya takbenda, termasuk kursus Parno Adat, Tale, dan Basilek. Kerja sama dengan lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat membuka akses pada sumber daya dan teknologi modern. Pengetahuan tradisional dipadukan dengan keterampilan masa kini, sehingga generasi muda dibekali kecakapan yang mereka perlukan.

Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat

Di mana siasat itu bisa berbalik arah

Naskah itu tidak berhenti pada keberhasilan. Para penulis mencatat bahwa siasat pelestarian dan penyesuaian masyarakat Kerinci menghadapi sejumlah tantangan dan keterbatasan. Penekanan berlebihan pada pendidikan budaya, misalnya, dapat tanpa sengaja mempersempit pemahaman generasi muda tentang keragaman budaya yang lebih luas. Upaya menghidupkan kembali tradisi bisa berujung pada penyesuaian dangkal yang melemahkan nilai tradisi.

Kemitraan dengan pihak luar, walau bermanfaat, kadang mengurangi kemandirian masyarakat. Keterlibatan yang luas dengan teknologi digital dan media sosial dapat mengubah nilai dan norma budaya, lalu berpotensi menurunkan keterampilan tradisional di kalangan warga muda. Festival dan meningkatnya minat wisatawan, tulis mereka, dapat mengubah ritual sakral dan adat menjadi hiburan yang dikomersialkan, sehingga makna tradisionalnya terganggu.

Untuk menjawab tantangan itu, para peneliti menyarankan keterlibatan aktif para pemimpin adat dan batas yang jelas antara praktik budaya ke dalam dan ke luar. Mereka juga menyarankan pelatihan pengelolaan dan pemasaran produk budaya, pendidikan lingkungan, serta evaluasi berkala atas semua siasat itu. Perpaduan tradisi dan teknologi, tulis mereka, harus dijalankan dengan hati-hati agar nilai tradisional tetap utuh.

Ada pula yang belum terjawab. Penelitian lanjutan, menurut para penulis, perlu menggali lebih jauh bagaimana faktor luar seperti tekanan ekonomi dan perubahan lingkungan memengaruhi daya tahan masyarakat adat. Seberapa efektif siasat pelestarian budaya itu, dan apa dampaknya terhadap jati diri budaya, juga masih perlu dinilai. Mereka menganjurkan pendekatan lintas disiplin dan partisipatif agar dinamika budaya masyarakat adat dipahami lebih dalam.

Dalam catatan Mukhlis dan rekan-rekannya, upacara yang direkam dan anyaman yang dijual di lokapasar daring adalah bagian dari siasat yang direncanakan: nilai budaya tradisional dipadukan dengan unsur modern secara bijak. Masyarakat adat Kerinci, simpul mereka, menekankan pentingnya keseimbangan antara melestarikan dan menyesuaikan diri agar budaya, tradisi, dan adatnya terus berlanjut.

Bagikan

Baca Juga

Perjanjian Orang Baduy Dalam Dibuat Lisan dan Dijaga Tokoh Adat
Igya Ser Hanjob, Cara Suku Arfak Menjaga Hutan dan Menjamu Tamu
Sekolah Darurat Talang Mamak Dibiayai Rotan dan Kayu dari Hutan
Orang Rimba Membagi Hutan Jadi Rumah Dewa, Kebun Buah, dan Ladang
Ngeuyeuk Seureuh Kian Jarang Digelar di Kampung Adat Cikondang
Kayu Wiki Dipakai Suku Dani untuk Pagar, Honai, hingga Kremasi