- Pemakai rokok elektrik pada 2019 tercatat 1,33 poin persentase lebih rendah daripada yang diperkirakan.
- Pada seperlima rumah tangga berpendapatan terendah, pemakai turun 2,65 poin persentase.
- Rokok biasa tidak menunjukkan patahan serupa dan perokok dewasa terus turun sampai 2021.
- Kajian ini bersifat pengamatan, sehingga pengaruh faktor lain yang terjadi bersamaan tidak dapat disingkirkan.
Daftar Isi
Pada 23 Oktober 2019, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengeluarkan peringatan keras. Warga diminta berhenti memakai rokok elektrik jenis cair. Peringatan itu menyusul wabah cedera paru terkait rokok elektrik di Amerika Serikat dan satu kasus berat di dalam negeri pada seorang pemakai berusia 30 tahun.
Apa yang terjadi sesudah hari itu ditelusuri Yuri Lee, Stephen O’Neill, Zia Sadique, dan Matt Egan dalam artikel Differential impact of South Korea’s 2019 E-cigarette advisory on adult tobacco product use: an interrupted time series analysis by product type and subgroup, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempatnya bekerja di London School of Hygiene & Tropical Medicine di London. Lee juga tercatat di Myongji College, Seoul.
Bahan mereka adalah angka tahunan dari Korea National Health and Nutrition Examination Survey, survei kesehatan nasional atas warga berusia 19 tahun ke atas. Angka perokok biasa tersedia sejak 2007. Angka pemakai rokok elektrik cair baru dicatat sejak 2013, sedangkan produk tembakau yang dipanaskan sejak 2019. Seorang pemakai dihitung bila ia memakai produk itu dalam sebulan terakhir.
Dari 1998 sampai 2018: rokok biasa surut, produk baru datang
Catatan terlama dalam naskah itu berangka tahun 1998. Saat itu 66,3 persen laki-laki dewasa Korea Selatan merokok, salah satu angka tertinggi. Sesudah serangkaian kebijakan pengendalian tembakau yang kuat, angka itu turun menjadi 30,0 persen pada 2022. Perokok perempuan tetap rendah, yakni 5,0 persen.
Lalu produk baru berdatangan. Rokok elektrik masuk Korea pada 2008. Produk tembakau yang dipanaskan menyusul pada 2017. Keduanya, tulis para peneliti, dipromosikan sebagai pilihan yang lebih aman dan cepat diambil pemakai muda. Promosi produk beraroma dan pembingkaian alat itu sebagai pengurang bahaya disebut sebagai pendorongnya.
Pada 2013, ketika pertama kali disurvei, pemakai rokok elektrik cair tercatat 1,1 persen dari orang dewasa. Dua tahun kemudian, pada 2015, angkanya melonjak ke 4,2 persen. Tahun 2016 turun lagi ke 2,3 persen. Para peneliti mengaitkan penurunan itu dengan pemberitaan buruk tentang cairan yang tidak diatur dan masuknya rokok elektrik ke dalam larangan merokok di dalam ruangan pada 2015.
Sepanjang 2017 sampai 2019, angka itu bergerak di antara 2,7 dan 4,3 persen. Pada 2018 tercatat 4,3 persen. Bila enam tahun itu ditarik menjadi satu garis, pemakai rokok elektrik bertambah 0,43 poin persentase setiap tahun. Rokok biasa bergerak ke arah sebaliknya, turun 0,49 poin persentase per tahun sejak 2007.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Oktober 2019: peringatan tanpa larangan
Kabar dari Amerika Serikat datang lebih dulu. Wabah cedera paru terkait rokok elektrik di sana, yang dikenal dengan singkatan EVALI, sampai 25 Februari 2020 membuat 2.807 orang dirawat di rumah sakit dan 68 orang meninggal. Penyelidikan menunjuk vitamin E asetat, bahan tambahan pada produk ganja ilegal untuk rokok elektrik, sebagai penyebab utama.
Wabah itu, catat para peneliti, terutama terkait cairan ganja yang tercemar, bukan rokok elektrik bernikotin. Namun kejadiannya menyorot kemungkinan bahaya rokok elektrik dan memicu tanggapan cepat di berbagai negara. Korea Selatan termasuk yang pertama di luar Amerika Serikat yang menanggapinya dengan tegas.
Tanggapan itu berbentuk imbauan, bukan larangan. Para peneliti menyebutnya langkah luar biasa, sebab pemerintah pada dasarnya menganjurkan warga menjauhi produk konsumen yang sah. Produk tembakau yang dipanaskan tidak ikut disasar, padahal pangsa pasarnya sedang tumbuh.
Sesudah imbauan terbit, media setempat memberitakannya secara luas. Minimarket menarik produk rokok elektrik dari rak. Dua hal itu, menurut naskah tersebut, menambah perhatian masyarakat pada risiko rokok elektrik.
Tahun 2019: angka yang jatuh di bawah perkiraan
Angka survei tahun itu memperlihatkan patahan. Pemakai rokok elektrik pada 2019 tercatat 1,33 poin persentase lebih rendah daripada yang diperkirakan dari arah enam tahun sebelumnya. Karena angka 2018 adalah 4,3 persen, penurunan sebesar itu setara pengurangan sekitar 31 persen.
Sesudah 2019, garisnya mendatar. Para peneliti memperkirakan arah baru sebesar minus 0,16 poin persentase per tahun, tetapi perubahan arah itu tidak bermakna secara statistik. Artinya, yang terlihat jelas adalah penurunan seketika pada 2019, bukan penurunan yang terus berlanjut.
Mereka juga menguji tahun yang lain. Ketika titik perubahan dipindah ke 2018, saat tidak ada kejadian khusus di tingkat nasional, tidak ditemukan perubahan berarti. Ketika dipindah ke 2020, penurunan tetap muncul, yakni 1,201 poin persentase. Hasil itu, tulis mereka, mendukung tafsir bahwa penurunan terjadi di sekitar akhir 2019.
Rokok biasa tidak menunjukkan patahan serupa. Perubahan pada 2019 diperkirakan minus 0,76 poin persentase, tetapi angka itu tidak dapat dibedakan dari nol. Garis penurunannya, yang sudah berjalan sejak 2007, melewati 2019 tanpa berbelok.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Masih 2019: laki-laki, usia 40-an, dan kelompok termiskin
Penurunan itu tidak merata. Pemakai rokok elektrik di Korea terutama laki-laki. Pada 2018, pemakainya 7,1 persen di kalangan laki-laki dan 1,1 persen di kalangan perempuan. Pada 2019, angka laki-laki jatuh 2,35 poin persentase di bawah perkiraan. Menurut survei yang sama, pemakai laki-laki turun dari 7,1 persen pada 2018 menjadi 5,2 persen pada 2020.
Pada perempuan hampir tidak ada yang bergerak. Perubahannya dalam tabel tercatat minus 0,05 poin persentase dan tidak bermakna. Para peneliti tidak heran, sebab bahkan pada puncaknya hanya sekitar 1 sampai 2 persen perempuan yang memakai rokok elektrik.
Menurut umur, tanggapan terkuat datang dari kelompok 40 sampai 49 tahun, dengan penurunan 2,94 poin persentase. Kelompok 50 sampai 59 tahun turun 1,01 poin persentase. Kelompok 30 sampai 39 tahun turun 1,79 poin persentase, tetapi angka ini berada di batas kebermaknaan dan diminta dibaca dengan hati-hati.
Kelompok termuda justru tidak berubah secara terukur. Pemakai berusia 19 sampai 29 tahun selalu yang terbanyak, tetapi penurunan mereka pada 2019 hanya 0,25 poin persentase dan tidak bermakna. Para peneliti menduga angka kelompok ini sudah lebih dulu turun dari puncak sebelumnya. Pada usia 60 tahun ke atas, pemakainya memang sedikit dan tidak ada perubahan yang terdeteksi.
Tempat tinggal ikut membedakan. Di kota, pemakai turun 1,30 poin persentase dan penurunan itu bermakna. Di desa, angkanya 0,97 poin persentase tetapi tidak bermakna. Para peneliti menilai hal itu masuk akal karena pemakai awal di kota lebih banyak dan jangkauan media serta kampanye kesehatan di sana lebih besar.
Perbedaan paling tajam terlihat menurut pendapatan. Pada seperlima rumah tangga berpendapatan terendah, pemakai turun 2,65 poin persentase, penurunan terbesar dan jelas bermakna. Sebelum 2019, kelompok ini bertambah 0,62 poin persentase per tahun. Pada seperlima berpendapatan tertinggi, perubahannya hanya 0,04 poin persentase, praktis tidak ada.
Para peneliti menawarkan dua kemungkinan penjelasan. Pemakai berpendapatan rendah mungkin lebih menghindari risiko atau gentar oleh kemungkinan biaya kesehatan. Sebagian pemakai berpendapatan tinggi mungkin pula beralih ke produk tembakau yang dipanaskan, yang relatif mahal. Perilaku semacam itu, tulis mereka, tidak tertangkap tanpa mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu.
Dari 2020 sampai 2023: perokok tidak bertambah
Kekhawatiran yang kerap diajukan adalah orang yang meninggalkan rokok elektrik akan kembali ke rokok biasa. Angka tahun-tahun berikutnya tidak memperlihatkan hal itu. Perokok dewasa, yang 25,3 persen pada 2007, terus turun sampai 19,3 persen pada 2021. Pada 2023 angkanya naik tipis menjadi 19,6 persen.
Produk tembakau yang dipanaskan berjalan di jalurnya sendiri. Di kalangan laki-laki, pemakainya 10,3 persen pada 2019, turun ke 7,3 persen pada 2021, lalu naik lagi ke 9,1 persen pada 2023. Di kalangan perempuan, angkanya naik pelan dari 1,9 persen menjadi 2,9 persen. Para peneliti tidak melihat lonjakan mendadak sesudah imbauan.
Pandemi Covid-19 yang mulai pada 2020 ikut ditimbang. Perokok terus berkurang pada 2020 dan 2021 tanpa perubahan yang ganjil, dan pemakai rokok elektrik tidak melonjak kembali. Karena itu para peneliti menilai pandemi kemungkinan tidak mengacaukan temuan utama mereka secara besar.
Sampai 2023, pemakai rokok elektrik tercatat 2,8 persen. Andai arah sebelum 2019 berlanjut, angkanya diperkirakan sekitar 5,0 persen. Namun rentang ketidakpastian kedua angka itu banyak bertumpang. Para peneliti mengakui pemakaian mungkin saja mendatar atau turun tanpa imbauan, mengingat perubahan pasar dan munculnya produk tembakau yang dipanaskan.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Imbauan itu juga tidak menghapus rokok elektrik. Pemakai berusia 30 sampai 39 tahun bertambah perlahan sesudah 2020 dan mencapai angka tertinggi mereka pada 2023. Dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu, Lee dan rekan-rekannya menulis, “imbauan itu saja tidak menghapus rokok elektrik, dan sebagian pemakai tetap memakai atau baru mulai memakai rokok elektrik setelah ketakutan awal berlalu.”
Sesudah 2023: yang belum bisa dijawab
Para peneliti mencatat sejumlah batas. Kajian ini bersifat pengamatan, sehingga pengaruh faktor lain yang terjadi bersamaan tidak dapat disingkirkan. Datanya angka tahunan, padahal imbauan terbit pada Oktober. Kapan persisnya penurunan terjadi, akhir 2019 atau awal 2020, tidak dapat ditentukan.
Jawaban survei juga berasal dari pengakuan sendiri. Stigma yang menguat sesudah imbauan bisa membuat sebagian orang menyembunyikan kebiasaannya. Selain itu, yang diukur adalah jumlah perokok, bukan banyaknya rokok yang diisap. Kemungkinan sebagian orang merokok lebih banyak setelah berhenti memakai rokok elektrik tidak dapat disingkirkan.
Masa pengamatan yang pendek membatasi penilaian jangka panjang, termasuk terhadap produk baru seperti alat bernikotin sintetis. Imbauan berlaku di seluruh negeri, sehingga tidak ada kelompok pembanding. Para peneliti juga menyebut kepercayaan warga Korea pada lembaga pemerintah sebagai salah satu latar, dan meminta kehati-hatian sebelum temuan ini diterapkan pada negara lain.
Dalam kesimpulan, para peneliti menyebut imbauan itu berkaitan dengan penurunan pemakai rokok elektrik. “Eksperimen alami ini menegaskan kekuatan intervensi dan komunikasi kesehatan masyarakat yang tepat waktu dalam melindungi kesehatan penduduk,” tulis keempat peneliti itu. Agar manfaatnya bertahan, mereka menyebut perlunya aturan menyeluruh, antara lain pembatasan aroma, keterbukaan bahan, dan cukai.
Pertanyaan berikutnya mereka serahkan kepada kajian yang mengikuti orang per orang: apakah pemakai benar-benar berhenti atau berpindah produk, dan apakah perubahan itu bertahan. Catatan yang tersedia berhenti pada 2023. Pada tahun itu pemakai rokok elektrik dewasa di Korea Selatan tercatat 2,8 persen.














