Mahasiswa Farmasi Karachi Sadar Perubahan Iklim, 43% Bertindak

A A

Gerbang Silver Jubilee Universitas Karachi dengan kendaraan terparkir di depannya, Karachi, Pakistan [Foto: King Eliot/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 1.211 mahasiswa, atau 98,2 persen, pernah mendengar tentang perubahan iklim.
  • Yang pernah bertindak karena peduli pada iklim 531 orang atau 43,1 persen.
  • Hanya 461 mahasiswa atau 37,4 persen yang pengetahuannya digolongkan baik.
  • Penyakit pernapasan paling banyak disebut sebagai akibat perubahan iklim, oleh 24,1 persen mahasiswa.
  • Tim peneliti mengusulkan kurikulum farmasi memuat modul perubahan iklim dan kesehatan secara resmi.
Daftar Isi
  1. Sebelum Maqbool, dari Punjab sampai laporan WHO
  2. Akhir 2024: jawaban 1.233 mahasiswa untuk Shakeel
  3. Tahu, cemas, tetapi separuh belum bergerak
  4. Siapa yang harus turun tangan menurut para mahasiswa
  5. Penyakit yang mereka kaitkan dengan iklim
  6. Tafsir Maqbool atas jarak pengetahuan dan tindakan
  7. Batas penelitian dan mata rantai sesudah Maqbool

Karachi, kota metropolitan terbesar di Pakistan, belakangan menghadapi gelombang panas, banjir perkotaan, dan polusi udara. Di kota itu pula ribuan mahasiswa farmasi tahun keempat dan kelima sedang menyelesaikan pendidikan mereka, sebagian besar sudah melewati mata kuliah terapan yang menyinggung perubahan iklim. Kepada merekalah Tahmina Maqbool dan rekan-rekannya mengirim sebuah kuesioner lewat grup WhatsApp resmi kelas, pada Oktober sampai Desember 2024.

Hasilnya ditulis Tahmina Maqbool, Sadia Shakeel, Humera Ishaq, Muhammad Ali, Hina Rehman, Hira Naeem, Safila Naveed, Halima Sadia, Nazish Mumtaz, Saira Azhar, Anum Sattar, Suresh Shanmugham, dan Shazia Jamshed dalam artikel Fostering climate resilience in healthcare: the role of pharmacy students in understanding and addressing climate change in Karachi, Pakistan, yang dimuat BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1543 tahun 2026. Maqbool bekerja di Faculty of Pharmacy, Hamdard University, sedangkan Shakeel di Dow University of Health Sciences, keduanya di Karachi.

Sebelum tim ini bekerja, tulis Maqbool dan rekan-rekannya, belum ada penelitian di Pakistan yang menggali pandangan calon apoteker tentang persoalan global tersebut. Padahal, menurut mereka, apoteker memegang peran sentral dalam layanan kesehatan yang berkelanjutan, pengelolaan limbah obat, dan pendidikan pasien tentang risiko kesehatan lingkungan. Pandangan mahasiswa bidang lain memang sudah banyak diteliti, tetapi sebagian besar penelitian tentang kesadaran lingkungan mahasiswa dilakukan di negara maju.

Sebelum Maqbool, dari Punjab sampai laporan WHO

Latar yang disusun tim Maqbool berangkat dari riset di dalam negeri. Sebuah penelitian di Provinsi Punjab, yang mereka rujuk, memetakan dampak perubahan iklim pada masyarakat setempat dan menganjurkan kegiatan penyadaran. Emisi gas rumah kaca yang berlebihan teramati di seluruh Pakistan, akibat pemakaian energi yang boros, perluasan kota yang cepat, pembuangan sampah yang tidak layak, pertumbuhan ekonomi, cara bertani, dan pengelolaan ternak yang keliru.

Dari luar negeri, Maqbool dan rekan-rekannya mengutip perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa perubahan iklim akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian di seluruh dunia setiap tahun antara 2030 dan 2050. Mereka juga mencatat Pakistan sebagai salah satu dari sepuluh negara yang paling rentan terhadap bencana alam, seperti kekeringan, banjir, dan banjir bandang akibat jebolnya danau gletser.

Rantai riset yang mereka sambung terutama berasal dari Irak. Kuesioner yang dipakai tim Maqbool diadopsi, dengan izin, dari penelitian Abou Assi dan kawan-kawan terhadap mahasiswa farmasi di negara itu. Dalam penelitian tersebut, 47,2 persen peserta menilai sangat penting mengambil tindakan terhadap perubahan iklim, dan perempuan lebih bersemangat untuk bertindak. Angka dari Karachi kemudian disandingkan Maqbool dengan temuan pendahulunya itu.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Akhir 2024: jawaban 1.233 mahasiswa untuk Shakeel

Dari 2.046 mahasiswa yang dihubungi tim Maqbool dan Shakeel, 1.233 orang mengisi kuesioner, atau 60,3 persen. Sebanyak 720 di antaranya duduk di tahun keempat dan 513 di tahun terakhir program Doctor of Pharmacy. Hampir empat dari lima penjawab adalah perempuan, tepatnya 974 orang atau 79 persen, dan 747 orang atau 60,6 persen berasal dari kampus swasta. Sisanya, 486 orang, kuliah di kampus negeri.

Pertanyaan pertama nyaris tidak menyisakan ruang ragu. Sebanyak 1.211 mahasiswa, atau 98,2 persen, pernah mendengar tentang perubahan iklim, dan hanya 22 orang yang belum. Maqbool menyandingkan angka itu dengan riset lain dalam daftar pustakanya: di Bangladesh, 60 persen responden meyakini kegiatan manusia merusak lingkungan dan menyebabkan perubahan iklim, sedangkan di Lahore 78 persen mahasiswa setuju kegiatan manusia termasuk penyebab utamanya.

Dari mana kabar itu sampai kepada mereka? Tabel yang disusun tim Maqbool menempatkan internet di urutan teratas, disebut 843 mahasiswa atau 68,4 persen. Televisi disebut 752 orang, kampus 663 orang atau 53,8 persen, lalu keluarga dan teman 41,4 persen. Koran disebut 35 persen, jurnal akademik 29 persen, dan lembaga pemerintah 20 persen. Para penulis menambahkan perlunya kesadaran untuk memilih sumber elektronik yang tepercaya.

Hampir semua juga menganggap soal ini mendesak. Sebanyak 930 mahasiswa, 75,4 persen, menilai tindakan terhadap perubahan iklim sangat penting, dan 253 orang lagi menilainya penting. Tim Maqbool merangkum keduanya sebagai sekitar 95 persen, sedangkan Abou Assi melaporkan 47,2 persen di Irak. Seperti di Irak pula, tulis mereka, mahasiswa perempuan di Karachi lebih bersemangat dibandingkan rekan laki-lakinya.

Calon apoteker Karachi dan perubahan iklimCalon apoteker Karachi dan perubahan iklimCalon apoteker Karachi dan perubahan iklimKampus negeri dan swasta, Oktober-Desember 20241.233Mahasiswatahun keempatdan kelima98,2%Pernah dengarperubahan iklim37,4%Pengetahuantergolong baik43,1%Pernahbertindakkarena iklimJalan risetnyaKuesioner daring1.233 jawabanTiga skorSikap positif 53,6 persen; praktik baik 50,9 persen.
Sumber: Tahmina Maqbool, Sadia Shakeel, Humera Ishaq, Muhammad Ali, Hina Rehman, Hira Naeem, Safila Naveed, Halima Sadia, Nazish Mumtaz, Saira Azhar, Anum Sattar, Suresh Shanmugham, dan Shazia Jamshed, Fostering climate resilience in healthcare: the role of pharmacy students in understanding and addressing climate change in Karachi, Pakistan, BMC Public Health, 26(1543), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tahu, cemas, tetapi separuh belum bergerak

Kecemasan itu terasa pribadi. Sebanyak 1.100 mahasiswa, 89 persen, yakin perubahan iklim sedang atau akan memengaruhi diri mereka sendiri, dan 1.018 orang, 82,6 persen, percaya ada yang bisa dilakukan untuk menanganinya. Lalu Maqbool bertanya apakah mereka pernah, atau rutin, melakukan sesuatu karena peduli pada iklim. Yang menjawab ya 531 orang, 43,1 persen. Yang menjawab tidak 534 orang, 43,4 persen, dan 168 lainnya tidak tahu.

Jarak antara 95 persen dan 43,1 persen itulah yang menjadi inti temuan. “Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa farmasi memiliki kesadaran teoretis tentang perubahan iklim, mereka tidak terlibat aktif dalam upaya mitigasi,” tulis Maqbool dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mencatat, mahasiswa tetap menunjukkan kesediaan mengubah perilaku untuk menurunkan risiko dan menganggapnya kewajiban moral.

Kesediaan itu tampak pada dua pernyataan dalam kuesioner Shakeel dan Maqbool. Sebanyak 64,6 persen mahasiswa setuju dan 18,9 persen sangat setuju untuk mengubah kebiasaan demi ikut mengurangi perubahan iklim. Atas pernyataan bahwa mereka merasa wajib secara moral berbuat sesuatu, 50,3 persen setuju dan 22,8 persen sangat setuju. Namun 212 orang, 17,2 persen, menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan kedua itu.

Ketika jawaban diubah menjadi skor, gambarnya lebih tajam. Hanya 461 mahasiswa, 37,4 persen, yang pengetahuannya digolongkan tim Maqbool baik, sedangkan 772 lainnya tergolong kurang. Sikap positif ditunjukkan 661 orang atau 53,6 persen, dan praktik yang baik 628 orang atau 50,9 persen. Di kampus swasta, 402 dari 747 mahasiswa mencatat praktik baik, sedangkan di kampus negeri 226 dari 486, dan beda itu bermakna secara statistik.

Siapa yang harus turun tangan menurut para mahasiswa

Soal siapa yang paling bertanggung jawab, jawaban mahasiswa terbelah. Sebanyak 500 orang, 40,6 persen, menunjuk pemerintahan global, sedangkan 246 orang, 20 persen, menyebut individu. Pemerintah nasional dipilih 19,3 persen, organisasi internasional 10,4 persen, serta dunia usaha dan industri 7 persen. Tim Maqbool membandingkannya dengan penelitian tentang mahasiswa magang farmasi di Ohio, yang sebagian besar mengakui apoteker punya tanggung jawab khusus dalam aksi iklim.

Kepercayaan kepada pemerintah tidak setinggi itu. Atas pernyataan bahwa pemerintah sungguh-sungguh ingin mengurangi dampak perubahan iklim, 31,9 persen mahasiswa tidak setuju dan 9,8 persen sangat tidak setuju. Yang setuju 26,8 persen, yang sangat setuju 9,4 persen, dan 22,1 persen memilih netral. Maqbool dan rekan-rekannya menulis bahwa tindakan terkoordinasi di antara semua pemangku kepentingan diperlukan untuk menghadapi tantangan global ini.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Penyakit yang mereka kaitkan dengan iklim

Mahasiswa farmasi itu kemudian diminta menyebut penyakit utama yang menurut mereka disebabkan perubahan iklim. Penyakit pernapasan paling banyak disebut, oleh 297 orang atau 24,1 persen. Sebanyak 20,1 persen menyebut gabungan beberapa penyakit, dan 17 persen menyebut penyakit tular vektor. Gangguan terkait suhu disebut 7,7 persen, alergi dan masalah kulit 7,2 persen, sementara 86 orang atau 7 persen menjawab tidak ada penyakit.

Penyakit pernapasan paling banyak disebutPernapasan: Mahasiswa yang menyebutnya +24,1; Kombinasi: Mahasiswa yang menyebutnya +20,1; Tular vektor: Mahasiswa yang menyebutnya +17,0; Terkait suhu: Mahasiswa yang menyebutnya +7,7; Alergi dan kulit: Mahasiswa yang menyebutnya +7,2; Tidak ada penyakit: Mahasiswa yang menyebutnya +7,0.Penyakit pernapasan paling banyak disebutPenyakit utama akibat iklim menurut mahasiswa, persen1020300Pernapasan24,1Kombinasi20,1Tular vektor17,0Terkait suhu7,7Alergi dan kulit7,2Tidak ada penyakit7,0Enam jawaban terbanyak dari dua belas pilihan.
Sumber: Tahmina Maqbool, Sadia Shakeel, Humera Ishaq, Muhammad Ali, Hina Rehman, Hira Naeem, Safila Naveed, Halima Sadia, Nazish Mumtaz, Saira Azhar, Anum Sattar, Suresh Shanmugham, dan Shazia Jamshed, Fostering climate resilience in healthcare: the role of pharmacy students in understanding and addressing climate change in Karachi, Pakistan, BMC Public Health, 26(1543), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dalam jawaban terbuka yang dihimpun tim Maqbool, malaria, dengue, dan chikungunya paling sering muncul, disusul asma, gangguan paru kronis, dan batuk. Mahasiswa juga menyebut kolera, diare, dan tifus, lalu stroke, hipertensi, sengatan panas, dehidrasi, dan alergi. Menurut para penulis, pola itu sejalan dengan bukti ilmiah yang sudah mapan, dan serupa dengan yang dilaporkan Abou Assi dari Irak, meski mahasiswa belum sepenuhnya membedakan dampak langsung dan tidak langsung.

Sebagian besar mahasiswa melihat dampak itu sudah hadir. Sebanyak 51,8 persen setuju dan 34,8 persen sangat setuju bahwa perubahan iklim kini sudah memengaruhi kesehatan manusia di Pakistan. Ketika Maqbool bertanya siapa yang paling terdampak, 960 orang, 77,9 persen, menjawab semua orang. Orang sakit disebut 7,7 persen, bayi 6,2 persen, anak-anak 4,1 persen, dan orang lanjut usia 3,6 persen.

Tafsir Maqbool atas jarak pengetahuan dan tindakan

Mengapa pengetahuan tidak langsung menjadi tindakan? Analisis tim Maqbool menunjukkan pengaruh pengetahuan terhadap praktik sebagian besar berjalan lewat sikap, dengan rasio odds jalur tidak langsung itu 6,744. Mahasiswa yang pengetahuannya lebih tinggi cenderung membangun sikap lebih positif, yang lalu menguatkan praktik. Pengaruh langsung pengetahuan pada praktik juga bermakna, dan itu, menurut para penulis, menandakan ada jalur lain yang belum tergali.

Hubungan pengetahuan dan sikap sendiri ternyata berlawanan arah dalam model mereka, dan di sinilah Maqbool memberi tafsir. Mahasiswa yang lebih tahu, tulis timnya, mungkin mengenali celah dalam praktik yang ada atau hambatan sistemik, sehingga menjawab lebih hati-hati dan kritis. “Kerumitan yang teramati dalam hubungan pengetahuan dan sikap menunjukkan bahwa kesadaran yang lebih tinggi dapat menumbuhkan refleksi kritis, bukan perubahan perilaku yang otomatis,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Sumber informasi ikut berperan dalam hitungan Ali dan rekan-rekannya yang mengolah data. Mahasiswa yang mengandalkan koran berpeluang lebih besar mencatat praktik baik, dengan rasio odds 1,48. Informasi dari keluarga dan teman berkaitan dengan pengetahuan yang baik, dengan rasio odds 1,39. Jenis kelamin dan jenis kampus juga berkaitan dengan praktik. Para penulis menyebut semuanya hubungan, sebab rancangan penelitian mereka tidak memungkinkan penetapan sebab-akibat.

Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China

Batas penelitian dan mata rantai sesudah Maqbool

Maqbool dan rekan-rekannya mencatat sendiri batas penelitian mereka. Hanya mahasiswa tahun keempat dan kelima yang disertakan, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi semua mahasiswa farmasi. Hanya Karachi yang diteliti, sehingga data tidak dapat digeneralisasi ke semua kota Pakistan. Kuesioner tidak diuji coba dan divalidasi lebih dulu pada populasi setempat, dan jawaban yang diisi sendiri secara daring bergantung pada kejujuran para mahasiswa.

Di antara riset sejenis, temuan ini berdiri di samping dua penelitian lain yang dirujuk Maqbool. Ladhar dan kawan-kawan melaporkan 91 persen responden cenderung mendukung praktik farmasi berkelanjutan dalam profesi mereka kelak, dan 97 persen ingin belajar lebih banyak. Sebuah survei atas pendidik farmasi mencatat 74,7 persen meyakini perubahan iklim merugikan kesehatan manusia, dan 51,6 persen menilai hal itu berdampak pada apoteker dan praktik kefarmasian.

Dari situ tim Maqbool mengusulkan langkah berikutnya. Kurikulum farmasi, menurut mereka, perlu memuat modul perubahan iklim dan kesehatan secara resmi, dengan tekanan pada praktik farmasi berkelanjutan, pengelolaan limbah obat, dan pencegahan penyakit terkait iklim. Apoteker dapat mendorong kemasan ramah lingkungan dan mengurangi pembuangan obat yang tidak perlu. Kegiatan bersama masyarakat dan proyek keberlanjutan disebut dapat membantu menerjemahkan pengetahuan menjadi praktik.

Jawaban dari grup WhatsApp kelas di Karachi itu, bagi Maqbool dan Shakeel, baru satu mata rantai. Mereka menganjurkan penelitian lebih besar di banyak kampus, yang menyertakan mahasiswa farmasi semua tingkat dan peserta pascasarjana, serta membandingkan wilayah-wilayah Pakistan. Penilaian yang diulang selama beberapa tahun akademik, tulis mereka, akan memperlihatkan perubahan pengetahuan, sikap, dan praktik dari waktu ke waktu, juga pengaruh kurikulum terhadapnya.

Bagikan

Baca Juga

Pengingat Ponsel Bantu Pasien TB di Asia Menuntaskan Pengobatan
Makin Lama Program Kesehatan Karyawan, Makin Besar Imbal Hasilnya
Toilet Kamp Pengungsi Gaza Sulit Dipakai Penyandang Disabilitas
Radang Otak Jepang Merenggut Hampir Seperlima Pasien Anak India
Berat Badan Normal tapi Berlemak Tinggi di Sebuah Klinik Izmir
Air Saset di Nigeria Membawa Kuman, Logam, dan Sampah Plastik