Flag Football Bikin Murid SD Shanghai Lebih Cepat Lari 50 Meter

A A

Anak-anak sekolah dasar bermain flag football bersama marinir di Koror, Palau [Foto: U.S. Marines 3MAW/Cpl. Casandra Lamas/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Sebanyak 147 murid berusia 9 sampai 11 tahun diundi ke kelompok flag football dan kelompok pelajaran olahraga biasa.
  • Rata-rata lompat tali kelompok flag football naik dari 107,3 menjadi 117,9 lompatan dalam satu menit.
  • Waktu tempuh lari 50 meter kelompok flag football turun dari 10,1 menjadi 9,7 detik.
  • Selisih perubahan lari bolak-balik 20 meter hanya 0,7 putaran dan tidak bermakna secara statistik.
  • Rata-rata denyut jantung murid yang dipantau 143,2 kali per menit atau 71,1 persen dari denyut maksimal.
Daftar Isi
  1. Dua sore sepekan yang diisi lempar, tangkap, dan belok mendadak
  2. Tali berputar lebih banyak, lintasan 50 meter ditempuh lebih singkat
  3. Daya tahan lari naik di kedua kelompok, jadi tak ada yang unggul
  4. Jantung berdetak 143 kali semenit, beban yang tergolong sedang
  5. Putra menang di lintasan lari, putri menang di tali
  6. Di mana penjelasan itu harus berhenti
  7. Yang ditawarkan flag football kepada jam pelajaran olahraga

Murid sekolah dasar yang berminggu-minggu berlatih melempar dan menangkap bola membaik pada uji lompat tali satu menit. Mereka juga berlari lebih kencang di lintasan pendek. Sebaliknya, daya tahan lari mereka tidak lebih baik daripada teman sekelas yang mengikuti pelajaran olahraga seperti biasa. Begitulah hasil sebuah uji coba flag football di satu sekolah dasar negeri di Shanghai, Tiongkok.

Uji coba itu dilaporkan Junyu Wang, Dongning Liu, Yixin Liang, Xinzhao Cao, Shenghui Guo, Jun Wu, Yong Yang, Ting Xie, Kunyi Yang, Jie Zhuang, dan Xuhui Chen. Judul artikelnya Impact of a school based flag football intervention on fitness outcomes in Chinese children aged 9 to 11 years: a randomized controlled trial, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bernaung di Shanghai University of Sport, sebagian lain di sekolah dasar dan lembaga pendidikan di Shanghai serta Chaohu University di Hefei.

Flag football, dalam uraian para penulis, adalah olahraga beregu tanpa kontak badan yang menuntut pemainnya menerobos wilayah lawan. Isinya lari berulang-ulang, menambah dan mengurangi kecepatan, berbelok mendadak, mengambil keputusan dalam sekejap, ditambah melempar dan menangkap bola. Olahraga ini, tulis mereka, bisa dijalankan dengan bahan murah dan rencana pelajaran yang seragam, sehingga cocok untuk sekolah dengan sumber daya yang berbeda-beda.

Karena itu mereka ingin tahu apakah satu cabang olahraga saja, bila diselipkan ke dalam jam pelajaran olahraga yang sudah ada, sanggup memperbaiki kebugaran anak. Sebanyak 147 murid kelas tiga sampai lima, berusia 9 sampai 11 tahun, diundi ke dalam dua kelompok: 74 anak bermain flag football dan 73 anak tetap mengikuti pelajaran olahraga biasa. Data lengkap sebelum dan sesudah program tersedia untuk 128 anak.

Dua sore sepekan yang diisi lempar, tangkap, dan belok mendadak

Kelompok pertama bermain flag football selama sepuluh pekan berturut-turut, setiap Senin dan Jumat sore, tepat pada jam pelajaran olahraga. Satu sesi berlangsung 60 menit. Sepuluh menit pertama dipakai untuk pemanasan, 40 menit berikutnya untuk latihan keterampilan dan permainan dalam regu kecil, lalu sepuluh menit terakhir untuk pendinginan dan peregangan otot tungkai serta lengan.

Pada bagian inti, murid dikenalkan pada bola, berlatih melempar dan menangkap, mempelajari pola gerak tiap posisi, menyusun barisan menyerang dan bertahan, lalu berhadapan satu lawan satu. Permainan yang dimodifikasi sengaja menekankan lari, memotong arah, dan berganti haluan. Seluruhnya memberi 120 menit paparan per pekan.

Kelompok pembanding tidak didiamkan. Mereka menjalani pelajaran olahraga sekolah yang lazim, tiga kali sepekan dengan durasi 35 menit, berisi aneka senam dan permainan bola tanpa latihan teknik flag football. Jumlah waktunya 105 menit per pekan, yang oleh penulis disebut kurang lebih sebanding. Pilihan itu diambil agar kebiasaan sekolah tetap berjalan dan flag football diuji dalam kondisi pelajaran olahraga yang nyata.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Tali berputar lebih banyak, lintasan 50 meter ditempuh lebih singkat

Bukti paling jelas muncul pada lompat tali satu menit. Rata-rata kelompok flag football naik dari 107,3 menjadi 117,9 lompatan, sedangkan kelompok olahraga biasa bergerak dari 113,3 ke 116,4 lompatan. Selisih perubahan di antara keduanya 7,4 lompatan, dan selisih itu bermakna secara statistik. Kenaikan di kelompok flag football, dengan kata lain, lebih besar daripada kenaikan yang terjadi dengan sendirinya di kelompok pembanding.

Sebelum dan sesudah sepuluh pekanKelompok flag football naik dari 107,3 ke 117,9 lompatan tali dan dari 10,1 ke 9,7 detik pada lari 50 meter; kelompok olahraga biasa dari 113,3 ke 116,4 lompatan dan dari 9,9 ke 9,8 detik.Sebelum dan sesudah sepuluh pekanRata-rata hasil uji murid usia 9-11 tahun di satu SD negeri ShanghaiFlag footballOlahraga biasa107,3 ke 117,9113,3 ke 116,4Lompat tali 1 menit10,1 ke 9,79,9 ke 9,8Lari 50 meter(detik)26,7 ke 32,222,8 ke 27,7Bolak-balik 20meterLompat tali dalam jumlah lompatan, lari bolak-balik dalam jumlahputaran.
Sumber: Junyu Wang, Dongning Liu, Yixin Liang, Xinzhao Cao, Shenghui Guo, Jun Wu, Yong Yang, Ting Xie, Kunyi Yang, Jie Zhuang, dan Xuhui Chen, Impact of a school based flag football intervention on fitness outcomes in Chinese children aged 9 to 11 years: a randomized controlled trial, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hal serupa terjadi di lintasan lari 50 meter. Waktu tempuh rata-rata kelompok flag football turun dari 10,1 menjadi 9,7 detik. Kelompok olahraga biasa nyaris tidak beranjak, dari 9,9 ke 9,8 detik. Selisih perubahannya 0,3 detik untuk keunggulan flag football, juga bermakna secara statistik. Analisis yang hanya memakai data lengkap 128 anak memberi hasil serupa.

Para penulis menjelaskan mengapa dua kemampuan itu yang bergerak. Sesi flag football berisi ledakan singkat berintensitas tinggi yang diselingi jeda pendek, dengan percepatan, pengereman, dan perubahan arah yang kerap terjadi. Beban putus-sambung semacam itu, menurut mereka, cocok untuk memperbaiki lari jarak pendek lewat dorongan kaki yang lebih kuat dan kendali pengereman, bukan lewat kerja panjang berkecepatan tetap.

Lompat tali pun punya penjelasannya. Uji itu, tulis mereka, mencerminkan kekakuan ritmis tungkai dan koordinasi seluruh tubuh. Paparan berulang pada gerak kaki, pola memotong arah, dan tuntutan bereaksi di tengah permainan boleh jadi memperkuat kendali saraf-otot dan ketepatan waktu gerak. Kemampuan itu kemudian dapat terbawa ke gerakan cepat dan berulang yang diminta tali.

Daya tahan lari naik di kedua kelompok, jadi tak ada yang unggul

Persoalannya ada pada uji ketiga, lari bolak-balik 20 meter yang dipakai untuk menakar kebugaran jantung dan paru. Kelompok flag football naik dari 26,7 menjadi 32,2 putaran. Kelompok olahraga biasa ikut naik, dari 22,8 ke 27,7 putaran. Selisih perubahan keduanya hanya 0,7 putaran dan tidak bermakna secara statistik. Taksiran daya serap oksigen maksimal, yang dihitung dari uji yang sama, juga tidak berbeda.

Yang membuatnya rumit, kedua kelompok sama-sama bergerak. Penulis menduga rangsangan tambahan dari dua sesi sepekan selama sepuluh pekan tergolong kecil dibandingkan kesempatan bergerak yang sudah dimiliki anak sehari-hari, sehingga perbedaan paparan antara kedua kelompok menyempit. Pola seperti itu, tulis mereka, sejalan dengan uji olahraga di sekolah lain yang berdurasi pendek dan pembandingnya tetap menerima pelajaran olahraga.

Mereka juga menyebut keragaman tumbuh kembang. Perbedaan kebugaran awal dan kematangan tubuh antaranak mungkin mengencerkan pengaruh program di tingkat kelompok selama masa yang relatif singkat itu. Karena itu temuan soal daya tahan diminta dibaca hati-hati. Kebugaran aerobik memang cenderung membaik seiring waktu, tetapi flag football tidak memberi tambahan yang jelas di atas pelajaran olahraga biasa.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Jantung berdetak 143 kali semenit, beban yang tergolong sedang

Untuk memahami hasil itu, para peneliti memasang alat pemantau denyut jantung di dada sebagian murid kelompok flag football, dua belas anak di tiap kelas. Rata-rata denyut seluruh murid yang dipantau 143,2 kali per menit. Angka itu setara 71,1 persen dari denyut maksimal yang ditaksir menurut usia. Program, simpul mereka, berjalan pada intensitas sedang hingga berat.

Denyut jantung selama sesi flag footballPutra berat normal: Denyut per menit +144,2; Putri berat normal: Denyut per menit +139,0; Putra berat berlebih/obesitas: Denyut per menit +146,2; Putri berat berlebih/obesitas: Denyut per menit +144,1.Denyut jantung selama sesi flag footballRata-rata denyut per menit pada murid yang dipantau40801201600Putra berat normal144,2Putri berat normal139,0Putra berat berlebih/obesitas146,2Putri berat berlebih/obesitas144,1Rata-rata semua murid yang dipantau 143,2 denyut per menit, setara71,1 persen denyut maksimal taksiran.
Sumber: Junyu Wang, Dongning Liu, Yixin Liang, Xinzhao Cao, Shenghui Guo, Jun Wu, Yong Yang, Ting Xie, Kunyi Yang, Jie Zhuang, dan Xuhui Chen, Impact of a school based flag football intervention on fitness outcomes in Chinese children aged 9 to 11 years: a randomized controlled trial, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rinciannya tidak jauh berbeda antarkelompok anak. Putra berberat badan normal mencatat rata-rata 144,2 denyut per menit dan putri berberat badan normal 139,0 denyut. Pada murid dengan berat badan berlebih atau obesitas, rata-ratanya 146,2 denyut untuk putra dan 144,1 denyut untuk putri. Penulis menyajikan angka-angka itu sebagai gambaran saja dan meminta pembaca menafsirkannya dengan hati-hati.

Di sinilah penjelasan tentang daya tahan menemukan pijakannya. Rata-rata sekitar 70 persen denyut maksimal, menurut penulis, menandakan beban fisiologis yang secara keseluruhan sedang, bukan latihan berintensitas tinggi yang berkelanjutan. Permainan yang putus-sambung mungkin tetap menghasilkan ledakan singkat yang berat. Namun, rata-rata denyut satu sesi tidak menunjukkan berapa lama anak berada di ambang intensitas tinggi, padahal waktu di ambang itulah yang lebih kuat mendorong penyesuaian jantung dan paru.

Putra menang di lintasan lari, putri menang di tali

Ketika anak dipilah menurut jenis kelamin dan berat badan awal, tanggapan mereka ternyata tidak seragam. Dari 128 anak berdata lengkap, 62 adalah putri dan 57 tergolong berat badan berlebih atau obesitas; tidak ada yang tergolong kurus. Pemilahan itu sudah direncanakan sejak awal, karena penulis menduga manfaat yang tampak tipis di tingkat kelompok bisa saja berarti bagi sebagian anak.

Peningkatan daya tahan paling nyata pada putra berberat badan normal. Di kelompok flag football mereka naik dari 29,27 menjadi 39,20 putaran lari bolak-balik, sedangkan putra sebanding di kelompok olahraga biasa naik dari 27,20 ke 31,20 putaran. Selisih perubahannya 5,9 putaran. Taksiran daya serap oksigen maksimal mereka pun unggul 1,9 mililiter per kilogram per menit.

Lari 50 meter membaik pada putra di kedua golongan berat badan. Selisih perubahannya 0,4 detik pada putra berberat normal dan 0,5 detik pada putra berberat berlebih atau obesitas. Lompat tali, sebaliknya, membaik pada putri. Putri berberat normal di kelompok flag football naik dari 124,00 menjadi 137,21 lompatan dengan selisih perubahan 13,5 lompatan, sedangkan pada putri berberat berlebih atau obesitas selisihnya 10,8 lompatan.

Penulis menawarkan dugaan tentang cara kerjanya. Putra mungkin lebih banyak terpapar lari berkecepatan tinggi dan percepatan berulang karena gaya bermain dan tugas yang mereka pilih, sementara putri mungkin lebih diuntungkan unsur ritme dan gerak kaki yang berulang. Berat badan ikut berperan. Anak dengan berat berlebih menanggung beban relatif lebih besar saat mempercepat dan mengerem, yang bisa membatasi lari kencang berkepanjangan.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Di mana penjelasan itu harus berhenti

Batas penelitian ini ditulis panjang oleh para penulisnya sendiri. Uji coba berlangsung di satu sekolah negeri di Shanghai dengan jadwal dan cara mengajar tertentu, sehingga belum tentu berlaku di daerah, jenis sekolah, atau model pelajaran olahraga lain di Tiongkok. Pengundian dilakukan per anak di dalam kelas yang sama. Murid kedua kelompok tetap bergaul di satu sekolah, dan penularan kegiatan antarteman tidak bisa dicegah sepenuhnya.

Susunan sesi kedua kelompok juga berbeda: dua kali 60 menit berhadapan dengan tiga kali 35 menit. Denyut jantung hanya dipantau pada sebagian murid kelompok flag football, tidak pada kelompok pembanding. Akibatnya, tulis penulis, tidak dapat dipastikan apakah hasil yang muncul berasal dari tuntutan gerak khas flag football atau sebagian dari perbedaan intensitas latihan dibandingkan pelajaran olahraga biasa.

Alat ukurnya pun sederhana. Daya serap oksigen ditaksir dengan rumus, tidak diukur langsung, dan lari 50 meter dicatat dengan stopwatch tangan. Lompat tali satu menit juga tidak mengukur daya tahan otot tungkai semata, karena hasilnya dipengaruhi koordinasi, ritme, kendali saraf-otot, dan kebugaran jantung-paru. Penulis meminta hasil itu dibaca sebagai kemampuan lompat tali, bukan bukti langsung otot tungkai yang lebih tahan.

Temuan per kelompok anak mendapat peringatan paling tegas. “Temuan subkelompok ini harus ditafsirkan dengan hati-hati karena jumlah sampel tiap lapisan tergolong kecil, dan analisisnya paling tepat dipandang sebagai pembangkit hipotesis,” tulis Wang dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut perlunya konfirmasi lewat uji yang lebih besar.

Yang ditawarkan flag football kepada jam pelajaran olahraga

Bagi sekolah, penulis melihat nilai praktis pada jenis kemampuan yang membaik. Kecepatan lari termasuk kebugaran yang mudah terlihat dalam permainan sehari-hari dan dalam tes kebugaran sekolah, sehingga lebih cepat disadari anak maupun guru. Perbaikan yang lekas tampak seperti itu, menurut mereka, dapat menopang rasa senang dan keikutsertaan yang berlanjut, di dalam maupun di luar jam sekolah.

Perbedaan tanggapan antara putra dan putri serta antargolongan berat badan mereka terjemahkan menjadi saran mengajar. Hasil itu mendukung pertimbangan pengajaran yang dibedakan dan tugas berjenjang dalam pelajaran olahraga, agar tuntutan kegiatan dan tahap kemajuannya sesuai dengan kemampuan tiap kelompok anak. Untuk penelitian berikutnya, mereka menyarankan pengukuran lama waktu anak berada di atas ambang denyut jantung tertentu.

Simpulan naskah merangkum semuanya dalam satu kalimat. “Flag football tampaknya merupakan strategi yang layak dan selaras dengan kurikulum untuk meningkatkan kecepatan lari dan kemampuan lompat tali yang spesifik tugas di sekolah, sekaligus menyoroti nilai tahapan latihan yang dibedakan agar manfaatnya optimal di semua subkelompok,” tulis Wang dan rekan-rekannya, juga diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Bagikan

Baca Juga

Angka Kelahiran Negara Maju Makin Mirip, Eropa Timur Malah Naik
Sepuluh Desa Samoa Merancang Cara Cegah Kekerasan pada Perempuan
Mahasiswa Farmasi Karachi Sadar Perubahan Iklim, 43% Bertindak
Pengingat Ponsel Bantu Pasien TB di Asia Menuntaskan Pengobatan
Makin Lama Program Kesehatan Karyawan, Makin Besar Imbal Hasilnya
Toilet Kamp Pengungsi Gaza Sulit Dipakai Penyandang Disabilitas