- Intervensi kognitif dijalankan 608 daerah, sedangkan program berhenti merokok hanya dijalankan 68 daerah.
- Sebanyak 606 daerah atau 66,4 persen mengaku sedang menimbang program multidomain tanpa tenggat waktu.
- Hanya 76 daerah atau 8,3 persen yang menjawab sudah menjalankan program serupa.
- Upaya meningkatkan literasi kesehatan warga menjadi faktor yang paling kuat berkaitan dengan niat memakai program.
- Survei tidak mengukur berapa banyak warga yang ikut sehingga temuan mencerminkan sikap kebijakan daerah.
Daftar Isi
Yujiro Kuroda mengirim satu daftar pertanyaan ke seluruh Jepang. Tujuannya 1.741 pemerintah kota, kota kecil, dan desa, tanpa satu pun dilewatkan. Kuesioner itu ia titipkan kepada pejabat urusan kebijakan demensia di 47 prefektur, yang meneruskannya ke kantor-kantor di wilayah masing-masing. Pertanyaannya sederhana: apa saja yang sudah dikerjakan daerah untuk mencegah demensia pada warganya, dan sejauh mana mereka mau melangkah lebih jauh.
Jawaban yang kembali kepada Kuroda berjumlah 941, atau 54,0 persen dari semua yang dikirimi. Bersama Aya Goto, Yumi Shindo, Yohei Koyama, dan Kohta Suzuki, ia menuliskannya dalam artikel Programmatic readiness and health literacy predict the adoption of multidomain dementia prevention: a nationwide survey of Japanese municipalities, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2371 tahun 2026. Kuroda dan Suzuki bekerja di Aichi Medical University School of Medicine, sedangkan Goto dan Koyama berafiliasi dengan Fukushima Medical University.
Bagi Kuroda, kantor-kantor daerah itu bukan alamat sembarangan. Di bawah sistem Asuransi Perawatan Jangka Panjang Jepang, tulisnya, pemerintah kota dan desa berdiri di antara kebijakan nasional dan warga. Merekalah yang menerjemahkan strategi pencegahan menjadi program setempat, sekaligus memikul tanggung jawab hukum untuk merencanakan, membiayai, dan menjalankan layanan pencegahan serta dukungan demensia. Sebagian besar orang dengan demensia pun tinggal di lingkungan yang mereka urus.
Kuroda memetakan siapa yang menjawab
Yang pertama dicatat Kuroda adalah rupa para penjawabnya. Hampir dua pertiga, tepatnya 63,6 persen atau 586 daerah, tergolong kota kecil dan desa berpenduduk di bawah 50.000 jiwa. Kota berpenduduk di bawah 100.000 menyumbang 16,3 persen, kota yang lebih besar 10,3 persen, dan kota inti berpenduduk 200.000 ke atas 9,8 persen. Sebaran menurut porsi warga berusia 65 tahun ke atas relatif seimbang.
Dari jawaban itu Kuroda dan timnya juga melihat betapa kecil tim yang mengurus soal ini. Kategori yang paling umum adalah dua sampai tiga orang petugas kebijakan demensia, dijawab 44,7 persen daerah. Sebanyak 28,7 persen hanya punya satu petugas atau tidak ada sama sekali, 17,5 persen punya empat sampai lima orang, dan cuma 9,1 persen yang memiliki enam orang atau lebih.
Ukuran yang dipakai Kuroda untuk menakar kegiatan mereka adalah 12 butir pencegahan yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO. Butir-butir itu, tulisnya bersama Goto, memberi kerangka yang praktis untuk menilai apa yang terjadi di tingkat daerah. Setiap kantor diminta menandai butir mana yang sudah dijalankan untuk warga berusia 65 tahun ke atas, dan boleh menandai lebih dari satu.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Yang ia temukan: otak dilatih, rokok dibiarkan
Gambar yang muncul di meja Kuroda timpang. Intervensi kognitif, yakni kegiatan melatih daya pikir, dijalankan 608 daerah dan menjadi yang paling banyak. Aktivitas sosial menyusul dengan 470 daerah, lalu aktivitas fisik dengan 444. Di ujung lain, program berhenti merokok hanya dijalankan 68 daerah, pengelolaan berat badan 78, dan pembatasan alkohol 82.
Ketika Kuroda dan timnya memeriksa butir mana yang berjalan bersamaan, tiga serangkai itu muncul lagi. Paduan intervensi kognitif, aktivitas fisik, dan aktivitas sosial dijalankan 108 daerah, kombinasi yang paling sering. Jumlah yang sama, 108 daerah, hanya menjalankan intervensi kognitif tanpa butir lain. Sebanyak 62 daerah memadukan intervensi kognitif dengan aktivitas sosial saja.
Pengelompokan yang disusun Kuroda memperlihatkan pola itu sebagai gugus tersendiri. Kegiatan kognitif, fisik, dan sosial berkumpul dalam satu rumpun, terpisah jelas dari intervensi gizi dan dari rumpun lebih besar yang berisi pengelolaan risiko pembuluh darah serta faktor gaya hidup lain. Menurut Kuroda dan timnya, pola ini menyimpang dari model berbasis bukti yang memadukan perubahan gaya hidup dengan pemantauan ketat risiko jantung dan pembuluh darah.
Kuroda menawarkan penjelasan yang membumi. Program pergaulan dan olahraga lebih mudah digelar pusat kegiatan warga daripada intervensi yang menuntut keahlian medis dan peralatan khusus. Ia juga menunjuk kebiasaan organisasi di kantor daerah Jepang: pencegahan demensia biasanya dipimpin bagian perawatan jangka panjang, sedangkan pengelolaan risiko jantung berada di bagian promosi kesehatan. Sekat itu, tulis Kuroda dan timnya, membuat program yang benar-benar terpadu sulit ditawarkan.
Dua pertiga daerah masih menimbang
Pertanyaan berikutnya dari Kuroda menyangkut niat. Program multidomain, yaitu program yang menggarap beberapa faktor risiko sekaligus, disebutnya strategi pencegahan terdepan. Hanya 76 daerah, atau 8,3 persen, yang menjawab sudah menjalankan program serupa. Sebanyak 34 daerah lain sedang berencana: 20 hendak segera memulai dan 14 dalam dua sampai tiga tahun.
Jawaban terbanyak yang diterima Kuroda justru yang paling mengambang. Sebanyak 606 daerah, 66,4 persen, mengaku sedang menimbang tanpa tenggat waktu. Kira-kira satu dari lima, yakni 197 daerah atau 21,6 persen, terang-terangan tidak berencana memakainya. Menurut Kuroda dan timnya, kelompok besar yang menimbang itu kemungkinan berisi daerah yang minatnya baru tumbuh maupun daerah yang terus-menerus ragu.
Kuroda sempat melihat peta wilayah. Sebaran niat itu secara umum serupa di utara, tengah, dan selatan Jepang, tanpa pengelompokan geografis yang mencolok. Wilayah tengah cenderung memuat sedikit lebih banyak daerah yang aktif atau berencana, sedangkan utara dan selatan lebih banyak yang menimbang. Kuroda dan timnya menegaskan pola ini hanya gambaran, bukan hasil perbandingan statistik formal.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Shindo dan Goto membaca arti penyuluhan
Lalu Kuroda membandingkan 110 daerah yang aktif dengan 197 daerah yang menolak. Faktor yang paling kuat berkaitan dengan niat memakai program ternyata bukan gedung atau jumlah pegawai. Daerah yang menjalankan upaya meningkatkan literasi kesehatan warganya, yakni kemampuan warga memahami informasi kesehatan, punya rasio risiko relatif 2,8 untuk berada di kelompok aktif. Tiga faktor lain ikut berkaitan, tetapi lebih lemah.
Ketiganya dirinci Kuroda satu per satu. Pengalaman menjalankan program multidomain sebelumnya berkaitan dengan rasio 1,4. Pengetahuan petugas tentang butir anjuran WHO juga 1,4. Setiap tambahan satu butir pencegahan yang sudah dijalankan berkaitan dengan rasio 1,2. Kuroda dan timnya menyebut gabungan pengalaman, pengetahuan, dan jumlah butir itu sebagai kesiapan program.
Sebaliknya, hal-hal yang biasa dianggap modal tidak terbukti berkaitan dalam hitungan Kuroda. Pembangunan infrastruktur dan kerja sama lintas sektor, tersedianya kegiatan lanjutan bagi peserta, koordinasi antarbagian di kantor daerah, serta keterlibatan warga dalam perencanaan tidak menunjukkan kaitan yang bermakna. Jumlah petugas pun demikian. Semua perbandingan itu, catat Kuroda dan timnya, sudah memperhitungkan ukuran penduduk dan porsi warga lanjut usia.
Kuroda merumuskan artinya dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris. “Hal ini menunjukkan bahwa adopsi intervensi yang kompleks dan berbasis bukti bukan terutama soal kapasitas statis sebuah organisasi, melainkan soal keadaan kesiapan dan keterlibatannya yang dinamis,” tulis Kuroda, Goto, Shindo, Koyama, dan Suzuki dalam naskah mereka. Daerah yang sudah akrab dengan gagasan semacam itu, lanjut mereka, lebih mungkin bergerak ke pelaksanaan.
Mengapa penyuluhan begitu menonjol, Kuroda dan timnya memberi tiga tafsir. Pertama, warga yang dididik lebih memahami pentingnya pencegahan sehingga muncul permintaan dan dukungan bagi program baru. Kedua, menyusun informasi kesehatan yang jernih ikut mengasah keterampilan dan kepercayaan diri petugas sendiri. Ketiga, butir itu barangkali mencerminkan semangat daerah untuk mencoba strategi baru. Pada kelompok yang masih menimbang, kaitan dengan literasi kesehatan tidak terlihat.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Saran Kuroda: bantuan yang bertahap
Dari temuan itu Kuroda menarik saran untuk kebijakan nasional. “Hasil kami menunjukkan bahwa sekadar menyediakan sumber daya mungkin tidak memadai untuk mendorong adopsi program multidomain yang kompleks,” tulis Kuroda dan rekan-rekannya, juga dalam bahasa Inggris. Yang mereka usulkan adalah dukungan bertahap yang disesuaikan dengan kesiapan tiap daerah, bukan satu pendekatan seragam untuk semua.
Bagi daerah yang belum siap, Kuroda dan timnya menyarankan dukungan awal berupa pembangunan kemampuan dasar. Isinya pelatihan literasi kesehatan bagi petugas kesehatan masyarakat agar keterampilan dan kepercayaan diri mereka bertambah, serta kerja sama yang terstruktur antara bagian promosi kesehatan dan bagian perawatan jangka panjang. Bagi daerah yang sudah aktif, bantuan dapat beralih ke pendampingan teknis untuk menjalankan program yang menyeluruh.
Kuroda juga menahan harapan yang berlebihan. Uji coba besar di Jepang yang ia rujuk, J-MINT, tidak menunjukkan efek bermakna pada hasil kognitif utama di seluruh kelompok, meski manfaat terlihat pada peserta yang patuh mengikuti program. “Intervensi multidomain tidak semestinya dipandang sebagai satu model universal,” tulis Kuroda dan timnya. Pelaksanaannya, menurut mereka, perlu disesuaikan dengan keadaan penyakit, sumber daya, dan prioritas warga setempat.
Batas yang diakui Kuroda
Kuroda menuliskan sendiri keterbatasan surveinya. Daerah yang lebih giat mencegah demensia atau lebih kuat secara administratif mungkin lebih bersedia menjawab, sehingga niat dan praktik bisa tampak lebih tinggi daripada kenyataan. Indeks kapasitas fiskal daerah penjawab memang sedikit lebih tinggi, rata-rata 0,52 berbanding 0,45 pada yang tidak menjawab. Perbandingan utama Kuroda juga tidak menyertakan 606 daerah yang masih menimbang.
Ada pula yang tidak tertangkap oleh pertanyaan Kuroda. Survei hanya menyorot kegiatan yang dijalankan dalam kerangka kebijakan pencegahan demensia, padahal sebagian daerah mungkin menggelar kegiatan serupa tanpa label itu. Survei juga tidak mengukur berapa banyak warga yang ikut. Karena itu, tulis Kuroda dan timnya, temuan mereka mencerminkan sikap kebijakan daerah, bukan jangkauan atau keberhasilan program pada warga.
Maka daftar pertanyaan yang dikirim Kuroda ke 47 prefektur itu pulang dengan dua gambaran. Kantor-kantor daerah di Jepang ramai menggelar latihan daya pikir, pergaulan, dan olahraga, tetapi jarang menyentuh rokok, berat badan, dan alkohol. Kesediaan mereka memakai program yang lebih menyeluruh, menurut simpulan Kuroda dan keempat rekannya, diramalkan oleh kesiapan program dan penyuluhan kesehatan, bukan oleh kapasitas struktural semata.














