- Niat mereka untuk mengabari semua kontak ternyata tinggi, rata-rata 3,90 pada skala satu sampai lima.
- Dari 309 peserta, 84 persen tinggal di rumah mahasiswa.
- Mayoritas mengaku sudah memberi tahu semua atau hampir semua kontaknya pada kudis terakhir.
- Rasa diharapkan orang sekitar itulah yang paling erat terkait dengan niat mengabari.
- Ketika sikap, norma, dan pengalaman mengabari ikut diperhitungkan, stigma tidak lagi tampak berperan.
Daftar Isi
Mengabari teman serumah bahwa kita sedang kudisan dan mereka mungkin ikut tertular: itulah yang dalam bahasa petugas kesehatan disebut contact notification, pemberitahuan kontak. Di Belanda, kabar semacam itu belakangan makin sering harus disampaikan dari satu kamar ke kamar lain di rumah mahasiswa. Yang ditanyakan sekelompok peneliti di sana sederhana saja: apa yang membuat seorang mahasiswa mau menyampaikannya.
Pertanyaan itu diajukan Fraukje Elisa Francisca Mevissen, Diane de Zwart-Slats, Wilma A. Stolk, Marloes Stradmeijer, Inge van Disseldorp, dan Helene A.C.M. Voeten. Artikel mereka, WHØ you gonna call? Exploring factors influencing contact notification for scabies among students in the netherlands using a cross sectional design, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang lebih dulu dirilis sebelum versi suntingan akhir.
Para penulis bekerja di dinas kesehatan Rotterdam-Rijnmond, Erasmus MC di Rotterdam, dan dinas kesehatan wilayah Hollands Midden di Leiden. Mereka menyebut penelitian ini termasuk yang pertama menelusuri faktor sosial dan kejiwaan di balik pemberitahuan kontak untuk kudis.
Jawabannya datang dari 309 mahasiswa yang pernah kudisan dalam setahun terakhir. Niat mereka untuk mengabari semua kontak ternyata tinggi, rata-rata 3,90 pada skala satu sampai lima. Niat itu paling erat terkait dengan tiga hal: pernah mengabari pada kudis sebelumnya, menilai pemberitahuan sebagai hal yang baik, dan merasa orang sekitar memang mengharapkannya. Rasa takut dicap, yang semula diduga menjadi penghalang besar, hanya berperan kecil.
Scabies, kudis yang naik di kalangan anak muda
Scabies adalah kudis, penyakit kulit akibat tungau. Menurut naskah itu, tungau kudis berpindah lewat sentuhan langsung antarmanusia atau lewat bahan yang tercemar, seperti seprai dan pakaian. Gejalanya gatal dan ruam. Ketika ditanya seberapa terganggu oleh keluhan itu, para mahasiswa memberi angka rata-rata 3,79 dari lima, lebih dekat ke sangat terganggu daripada ke tidak terganggu sama sekali.
Para peneliti berangkat dari kenaikan kasus yang mereka sebut tidak terduga. Satu studi Belanda yang mereka kutip mencatat lonjakan dari 99 menjadi 1.341 episode kudis per 100.000 tahun-pasien antara 2014 dan 2023, atau lebih dari tiga belas kali lipat. Kenaikan terbesar terjadi pada usia 17 sampai 25 tahun. Gejala serupa dilaporkan di Jerman dan beberapa negara Eropa lain, dan penyebab pastinya belum jelas.
Mahasiswa disebut sebagai kelompok dengan angka kudis tertinggi di Belanda saat ini. Naskah itu menunjuk cara hidup mereka: hunian bersama dengan fasilitas yang dipakai ramai-ramai, berbagi ranjang, kebiasaan menumpang tidur di sofa teman yang dalam naskah disebut couch surfing, serta pergaulan yang sangat cair. Dari 309 peserta, 84 persen tinggal di rumah mahasiswa. Jumlah teman serumah mereka berkisar dari nol sampai 25 orang, dengan rata-rata 5,65.
Contact notification, kabar untuk yang mungkin tertular
Maksudnya begini. Pemberitahuan kontak bertujuan menemukan orang yang mungkin sudah tertular dan memberi tahu mereka tentang risikonya, supaya mereka bisa mengambil langkah yang perlu dan penularan tidak berlanjut. Pemberitahuan ini berjalan bersama dua anjuran lain yang disebut naskah: pengobatan dengan krim atau pil dan protokol kebersihan yang panjang. Keberhasilan mengendalikan wabah kudis, tulis para peneliti, bergantung pada ketepatan dan kecepatan langkah-langkah itu.
Siapa yang disebut kontak juga punya batasan. Pedoman Belanda yang dikutip naskah menyebut tiga kelompok: orang serumah, termasuk teman satu rumah dan pasangan tidur; kontak erat, yakni orang yang bersentuhan kulit lebih dari 15 menit atau berbagi pakaian dan seprai; serta orang lain yang sering atau lama bersentuhan kulit dengan penderita, misalnya fisioterapis. Jadi yang dikabari bukan seluruh kenalan, melainkan mereka yang kulitnya atau kainnya benar-benar bersinggungan.
Bedanya dengan kewajiban lapor ada di sini. Di Belanda, kasus kudis perorangan pada masyarakat umum tidak wajib dilaporkan. Hanya wabah di kelompok rentan tertentu, seperti penghuni fasilitas perawatan jangka panjang, yang harus dilaporkan ke dinas kesehatan. Pemberitahuan kontak sangat dianjurkan, tetapi sukarela dan bergantung pada kemauan si penderita. Karena itulah niat menjadi pokok penelitian ini.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Index patient atau pasien indeks, dalam naskah ini, adalah orang yang terkena kudis dan dari dialah kabar harus berangkat. Seluruh 309 peserta berada di posisi itu pada pengalaman kudis terakhirnya. Hampir seperempatnya, 23,9 persen, bahkan masih kudisan ketika mengisi pertanyaan, dan 26,2 persen baru sembuh paling lama sebulan sebelumnya. Rata-rata mereka sudah mengalami kudis sekitar dua kali seumur hidup.
Beban kabar itu tidak sama bagi tiap orang. Enam dari sepuluh peserta, 60,1 persen, memperkirakan ada satu sampai lima orang yang mungkin mereka tulari. Sebanyak 14,3 persen punya lebih dari sepuluh kontak, sedangkan 6,2 persen merasa tidak punya kontak sama sekali. Makin banyak kontak yang harus dikabari, niat mengabari sedikit lebih tinggi, tetapi kaitan itu kecil dan hilang ketika faktor lain ikut diperhitungkan.
Lalu apakah mereka benar-benar mengabari? Sebagian besar menjawab ya. Pada skala dari satu, tidak mengabari siapa pun, sampai lima, mengabari semuanya, rata-rata jawaban mereka 4,0 dan nilai tengahnya 4,5. Artinya mayoritas mengaku sudah memberi tahu semua atau hampir semua kontaknya pada kudis terakhir. Pengalaman inilah yang kemudian muncul sebagai kaitan terkuat dengan niat mengabari lagi bila kelak kudisan kembali.
Para peneliti menjelaskannya dengan merujuk Ouellette dan Wood. Untuk perbuatan yang jarang dilakukan seperti mengabari kontak, pengalaman lampau menjadi sumber keterangan yang membentuk keyakinan orang tentang perbuatan itu. Bila dulu kabar disampaikan dan tanggapan yang merendahkan nyaris tidak ada, tumbuh perasaan positif, penilaian yang lebih baik, dan keyakinan bahwa cara itu berguna. Sebaliknya, makin sering seseorang pernah kudisan, niatnya justru sedikit lebih rendah.
Attitude, cara mahasiswa menilai kabar itu
Attitude atau sikap, dalam penelitian ini, adalah penilaian seseorang atas pemberitahuan kontak: ide yang sangat buruk di satu ujung, ide yang sangat baik di ujung lain. Para mahasiswa, tulis naskah itu, menunjukkan sikap yang sangat positif. Sikap juga termasuk dua hal yang paling erat terkait dengan niat, dan tetap menonjol sesudah pengalaman kudis ikut diperhitungkan, dengan koefisien 0,24 pada model akhir.
Sikap, menurut para peneliti, punya dua sisi: sisi nalar dan sisi perasaan. Sejumlah studi yang mereka rujuk menunjukkan sisi perasaan sering lebih kuat kaitannya dengan niat dan perbuatan. Di sini dugaan itu meleset. Emosi yang dialami ketika mengabari, entah puas, lega, dan percaya diri atau takut, bersalah, cemas, malu, canggung, dan tertekan, hanya lemah kaitannya dengan niat untuk mengabari lagi.
Hanya emosi positif yang masih terlihat pada model akhir, dan itu pun kecil, 0,10. Emosi negatif sama sekali tidak berkaitan. Begitu pula pengetahuan tentang kudis, anggapan seberapa parah penyakit ini, dan anggapan seberapa mudah ia menular. Dari situ para peneliti menyimpulkan bahwa upaya mendorong pemberitahuan kontak di kalangan mahasiswa sebaiknya menyasar sisi nalar dari sikap, bukan menakut-nakuti atau sekadar menambah pengetahuan.
Dua cara mereka sebut. Yang pertama mengajak penderita melihat keadaan dari sudut pandang orang yang akan dikabari. Yang kedua mengajak orang merenungkan dan memberi makna pada keterangan yang disusun untuk mendorong pemberitahuan. Keduanya, dalam naskah, masih berupa usulan yang ditimbang dari teori, belum diuji pada mahasiswa yang diteliti.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Injunctive norm, merasa diharapkan orang sekitar
Injunctive norm atau norma injungtif adalah keyakinan bahwa orang-orang dekat mengharapkan kita melakukan sesuatu. Dalam penelitian ini orang dekat itu orang tua, teman, teman serumah, dan anggota perkumpulan mahasiswa. Pasangannya, descriptive norm atau norma deskriptif, adalah keyakinan bahwa orang lain sendiri juga melakukannya. Yang pertama soal harapan, yang kedua soal kebiasaan yang terlihat.
Pada mahasiswa Belanda kedua norma itu tidak seiring. Mereka tidak menganggap mengabari kontak sebagai hal yang lazim dilakukan sebayanya, tetapi merasa diri mereka sendiri diharapkan melakukannya. Rasa diharapkan itulah yang paling erat terkait dengan niat, dengan koefisien 0,21 pada model akhir. Keyakinan bahwa orang lain juga mengabari hanya berkaitan sedang dan tidak lagi bermakna ketika pengalaman kudis diperhitungkan.
Para peneliti menghubungkannya dengan rasa kebersamaan dan budaya sebaya yang kuat di kalangan mahasiswa, terutama yang tinggal di rumah bersama seperti sebagian besar peserta. Mereka mencatat bahwa peran norma sosial dalam pemberitahuan kontak sejauh ini jarang diperhatikan dalam kepustakaan ilmiah. Saran mereka: tunjukkan kepada mahasiswa data bahwa teman-teman sebayanya berniat mengabari, sebab niat positif itu memang sudah ada di lingkungan mereka.
Satu hal mengejutkan para peneliti. Hanya 96 peserta, 31,1 persen atau kurang dari sepertiga, yang dulu dikabari oleh orang yang menulari mereka. Namun pernah atau tidaknya dikabari nyaris tidak mengubah niat. Mereka menduga ada dorongan lain yang bekerja: keinginan berbuat baik meski merugikan diri sendiri, harapan akan dibalas dengan kebaikan serupa, atau kepentingan diri sendiri. Dugaan itu, kata mereka, masih perlu diteliti.
Stigma, takut digunjingkan karena kudisan
Stigma dalam naskah ini dibagi dua. Anticipated stigma, stigma yang diperkirakan, adalah rasa takut akan digunjingkan bila orang tahu kita kudisan. Personalized stigma, stigma yang dialami, adalah pengalaman dijauhi sesudah orang tahu. Di sampingnya ada citra diri negatif, yaitu rasa malu karena pernah kudisan. Salah paham yang lazim, dan juga dugaan awal para peneliti, adalah bahwa rasa-rasa inilah penghalang utama orang untuk mengabari.
Dugaan itu berasal dari penyakit lain. Pada infeksi menular seksual dan Covid-19, tulis para peneliti, stigma dikenal sebagai penentu penting. Pada kudis di kalangan mahasiswa Belanda, ketiga rasa itu memang berkaitan dengan niat yang lebih rendah, tetapi kaitannya hanya kecil sampai sedang. Ketika sikap, norma, dan pengalaman mengabari ikut diperhitungkan, stigma tidak lagi tampak berperan.
Penjelasannya mereka tawarkan dengan hati-hati. “Salah satu penjelasan yang mungkin ialah bahwa kudis telah menjadi makin umum di kalangan mahasiswa Belanda dalam beberapa tahun terakhir, sehingga kondisi itu makin dikenal dan muncul anggapan bahwa terkena kudis adalah hal yang relatif normal di lingkungan mahasiswa,” tulis Fraukje Elisa Francisca Mevissen, peneliti dinas kesehatan Rotterdam-Rijnmond dan Erasmus MC, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Itu tidak berarti stigma kudis tidak ada. Para penulis sendiri menyebut penjelasan tadi perlu dibuktikan dengan penelitian tambahan, dan memperingatkan bahwa peran stigma bisa lebih besar pada kelompok lain. Yang dapat dikatakan hanya ini: pada mahasiswa yang menjawab pertanyaan mereka, takut digunjingkan bukan hal yang paling menentukan mau atau tidaknya seseorang mengabari.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Cross-sectional, potret satu waktu dan batasnya
Cross-sectional berarti potret satu waktu: semua jawaban dikumpulkan sekali, antara Mei dan Juli 2023. Akibatnya, kata para penulis, tidak ada kesimpulan sebab-akibat yang bisa ditarik. Sikap yang baik mungkin menumbuhkan niat, tetapi potret seperti ini tidak dapat membuktikannya. Niat pun bukan perbuatan. Diperlukan penelitian yang mengikuti orang dari waktu ke waktu untuk melihat apakah faktor-faktor itu benar meramalkan tindakan mengabari.
Batas lain juga diakui. Peserta mungkin condong pada mahasiswa yang memang sudah rajin mengabari, sebab merekalah yang lebih bersemangat ikut dan berbagi pengalaman. Sebanyak 60 orang tidak mengisi usia, dan sebagian tidak menjawab soal perilaku mengabari sebelumnya; mereka yang tidak mengabari bisa jadi lebih enggan mengaku. Mahasiswa Belanda juga belum tentu mewakili kelompok lain di negeri itu atau mahasiswa di negara lain.
Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Ucapan terima kasih dan keterangan pendanaan masih memuat tanda bahwa nama disamarkan untuk penelaahan, dan dua rujukan masih berbunyi rinciannya akan diberikan kemudian. Uraian pengalaman kudis peserta dirujuk ke nomor 23, yang di daftar pustaka ternyata tulisan lain dari 2018. Skor pengetahuan disebut berentang satu sampai enam, padahal enam butirnya dinilai nol atau satu.
Saran praktis para peneliti bertumpu pada waktu. Karena pengalaman mengabari yang baik menumbuhkan niat berikutnya, upaya itu menurut mereka sebaiknya dimulai sebelum mahasiswa sendiri kudisan. Kesempatan yang mereka anggap paling masuk akal ialah masa orientasi mahasiswa baru di awal tahun akademik. Harapannya, pemberitahuan kontak tertanam sebagai norma sosial dan penularan kudis berkurang.
Jadi contact notification bukan pelaporan kepada pemerintah dan bukan pelacakan oleh petugas. Dalam penelitian ini ia sebatas kabar sukarela dari seorang mahasiswa kepada orang yang kulit atau seprainya pernah bersinggungan dengannya, dan yang diukur baru niatnya. Di rumah-rumah mahasiswa Belanda, niat itu ternyata lebih banyak ditopang kebiasaan, penilaian yang baik, dan rasa diharapkan teman serumah daripada dihalangi rasa malu.















