- Enam dari sepuluh orang tua, tepatnya 59,3 persen, menerima paket makanan gratis dalam sebulan sebelum diwawancarai.
- Orang tua yang tidak bekerja satu setengah kali lebih sering mengambil paket dibandingkan yang bekerja.
- Kerawanan pangan sendiri tidak memisahkan pengguna dari bukan pengguna paket makanan.
- Anak dari keluarga pengguna paket mencatat skor 0,40 poin lebih rendah pada pola sayur dan produk susu.
- Karena semua data diambil pada satu waktu, arah hubungan antara paket dan pola makan anak tidak bisa dipastikan.
Daftar Isi
Bantuan makanan lazim dibayangkan sebagai jawaban yang selesai: orang yang kekurangan diberi sekantong bahan pangan, lalu persoalan dianggap tertutup. Bayangan itu goyah di penampungan keluarga tunawisma di kawasan Greater Paris, Prancis, tempat paket makanan gratis dari lembaga amal memang sampai ke tangan para orang tua, tetapi anak-anak mereka justru lebih jauh dari pola makan yang kaya sayur dan produk susu dibandingkan anak dari keluarga yang tidak mengambil paket.
Gambaran itu dilaporkan Alexandra Descarpentrie, Stéphanie Vandentorren, Nicole Darmon, Caroline Mejean, dan Sandrine Lioret dalam artikel Use of food parcels among families experiencing homelessness: socio-ecological correlates and associations with children’s dietary patterns, yang terbit lebih awal di jurnal BMC Public Health pada 2026. Descarpentrie dan Lioret bekerja di Centre for Research in Epidemiology and StatisticS, Université Paris Cité, Vandentorren di Santé Publique France, sedangkan Darmon dan Mejean berasal dari unit MOISA di Université de Montpellier.
Bahan mereka adalah survei ENFAMS, yang pada Januari sampai Mei 2013 mendatangi 801 keluarga tunawisma yang ditampung bersama anak-anaknya di pusat darurat, hostel sosial, dan pusat pencari suaka. Hampir semua orang tua adalah pendatang, sehingga wawancara berlangsung dalam 17 bahasa, dan dari 235 anak berusia 6 sampai 12 tahun dicatat pula seberapa sering berbagai jenis makanan hadir dalam keseharian mereka.
Yang datang mengambil paket
Enam dari sepuluh orang tua, tepatnya 59,3 persen, menerima paket makanan gratis dalam sebulan sebelum diwawancarai, dari lembaga seperti Emmaüs, Restos du coeur, atau Secours Catholique. Latar mereka nyaris seragam dalam kesempitan: pendapatan rumah tangga rata-rata hanya 311 euro per unit konsumsi sebulan, cuma 17,2 persen orang tua yang bekerja, dan kira-kira enam dari sepuluh tidak memegang asuransi kesehatan pelengkap.
Namun, di dalam kemiskinan yang tampak rata itu masih ada lapisan, dan paket makanan mengalir ke lapisan yang paling bawah. Di antara para pengguna paket, 90,6 persen tidak bekerja, sedangkan di antara yang bukan pengguna angkanya 71,6 persen. Hampir separuh pengguna, 49,1 persen, belum memiliki status administrasi yang diakui, tiga kali lipat lebih dari kelompok pembandingnya yang 15,7 persen, dan 72,8 persen tidak fasih berbahasa Prancis.
Ketika semua ciri itu ditimbang bersama, enam di antaranya tetap berdiri. Orang tua yang tidak bekerja satu setengah kali lebih sering mengambil paket, yang statusnya belum diakui 1,46 kali, yang pendapatannya berada di seperempat terbawah 1,3 kali, dan yang tidak fasih berbahasa Prancis 1,25 kali. Menyusul di belakangnya mereka yang tidak pernah bertemu teman dalam setahun terakhir, 1,2 kali, serta yang tiba di Prancis kurang dari 17 bulan sebelumnya, 1,14 kali.
Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama
Lapar ternyata bukan pembedanya
Justru sebaliknya dari yang mudah diduga, kerawanan pangan sendiri tidak memisahkan pengguna dari bukan pengguna. Memang 90,2 persen keluarga pengguna tergolong rawan pangan, tetapi di kelompok lain pun angkanya 80,5 persen, dan setelah ciri-ciri lain diperhitungkan kaitannya memudar. Para penulis menduga sebabnya sederhana: hampir seluruh keluarga dalam survei ini sudah rawan pangan, sehingga tidak tersisa cukup perbedaan untuk dibaca.
Di situlah persoalannya bergeser dari perut ke perjalanan. Kesulitan memperoleh makanan, menurut naskah ini, tampak bertaut dengan kurangnya dukungan bagi pendatang untuk menemukan pegangan baru yang cocok dengan budayanya pada masa awal peralihan dari negeri asal ke negeri tujuan. Status yang belum diakui dan bahasa yang belum dikuasai mempertebal ketergantungan itu, dan makin baru seseorang tiba, makin besar kemungkinan ia mengantre paket.
Pertemanan ikut menentukan, dengan cara yang tidak segera kelihatan. Lebih dari separuh pengguna paket, 53,5 persen, hampir tidak punya kontak dengan teman selama dua belas bulan, sementara di kelompok bukan pengguna hanya 33 persen. Descarpentrie dan rekan-rekannya menduga teman sebaya memberi sokongan yang berwujud maupun tidak dalam urusan makan, sebab orang tua yang tidak pernah diundang temannya lebih condong bersandar pada paket.
Yang tidak berpengaruh sama menariknya. Tingkat pendidikan, usia, negara kelahiran, hidup bersama pasangan atau tidak, dan jumlah anak tidak membedakan siapa yang mengambil paket. Begitu pula ada tidaknya microwave atau fasilitas memasak di tempat menginap. Dukungan pekerja sosial dan bantuan transportasi, yang semula tampak berkaitan, kehilangan kaitannya setelah pekerjaan, pendapatan, status, dan bahasa ikut ditimbang.
Piring anak yang tidak ikut membaik
Dari jawaban para orang tua tentang makanan anak, tersusun lima pola. Dua dianggap relatif sehat: pola beragam, yang memuat buah segar, daging, ikan, produk susu, dan sayur mentah, serta pola sayur dan produk susu, yang ditandai yogurt, sayur mentah dan matang, serta roti. Tiga lainnya dinilai kurang sehat, yakni pola siap santap dengan soda di dalamnya, pola berpati dengan kentang dan roti, serta pola makanan cepat saji.
Hasilnya membelokkan harapan. Anak dari keluarga pengguna paket mencatat skor 0,40 poin lebih rendah pada pola sayur dan produk susu, dan selisih itu bertahan setelah pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status, bahasa, serta jenis penampungan disetarakan. Pada pola berpati mereka cenderung lebih tinggi 0,30 poin, walau kaitan ini lemah. Tiga pola lainnya, termasuk pola beragam, tidak menunjukkan perbedaan yang jelas di antara kedua kelompok.
Mengapa begitu, naskah ini menawarkan dua tafsir yang sama-sama belum teruji. Bank pangan, menurut riset yang dirujuk para penulis, terbatas oleh sifat sumbangan yang mereka terima dari warga dan perusahaan, yang sering berupa bahan tahan lama dan praktis seperti aneka sumber pati. Kemungkinan lain, isi paket tidak cocok dengan budaya dan usia penerimanya, atau sayurnya tidak bisa dimasak dengan layak, sehingga sebagian terbuang.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Sistem yang belum bisa ditinggalkan
Pada titik inilah para penulis berhenti menyalahkan paket dan mulai menimbang sistemnya. “Meski bukan keniscayaan, bantuan pangan adalah sistem yang saat ini tak terhindarkan,” tulis Descarpentrie, Vandentorren, Darmon, Mejean, dan Lioret dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat tersebut mengubah arah pertanyaannya: bukan lagi perlu atau tidaknya paket dibagikan, melainkan apa yang semestinya ada di dalamnya dan bagaimana ia diserahkan.
Latarnya adalah ketergantungan yang makin panjang. Kerawanan pangan dunia, catat mereka, naik dari 7,9 persen pada 2019 menjadi 9,2 persen pada 2022, dan di Prancis penerima bantuan pangan diperkirakan dua sampai empat juta orang setahun. Dari hampir 8.000 lembaga nirlaba penyalur bantuan di negeri itu pada 2021, sekitar 75 persen membagikan paket, 20 persen mengelola toko kelontong sosial, dan 5 persen menyajikan makanan siap santap.
Karena itu, yang mereka usulkan adalah pembaruan, bukan penghapusan. Pilihan makanan perlu diperluas dengan bahan segar, bergizi, dan sesuai budaya penerimanya, bantuan disesuaikan dengan kebutuhan tiap keluarga, dan tempat pembagian dibuat ramah serta tidak memberi cap buruk, sebab banyak orang yang rawan pangan enggan meminta tolong karena khawatir akan martabatnya. Pendidikan gizi dan kelas memasak ikut disebut sebagai bagian dari layanan itu.
Ada pula jalan lain yang ditimbang, yaitu bantuan tunai. “Memberi uang kepada orang-orang itu memberdayakan, karena memungkinkan tiap orang memutuskan apa yang mereka perlukan dan kapan mereka membutuhkannya,” tulis para penulis. Namun, mereka segera menambahkan syaratnya: makanan segar maupun uang tunai tidak akan cukup bila keluarga tidak punya tempat untuk menyimpan dan mengolah bahan makanan di penampungannya.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Batas temuan dan angka yang perlu dicek
Batas penelitian ini diakui terang-terangan. Karena semua data diambil pada satu waktu, arah hubungan antara paket dan pola makan anak tidak bisa dipastikan. Orang tua hanya ditanya pernah atau tidak menerima paket dalam sebulan terakhir, tanpa catatan tentang isi paket, seberapa sering diambil, atau puas tidaknya mereka. Toko kelontong sosial dan pembagian makanan siap santap tidak dihitung, dan makanan anak di bawah enam tahun tidak tercatat.
Usia datanya juga patut diingat. Keadaan yang dipotret adalah keadaan tahun 2013, sedangkan naskahnya terbit pada 2026. Para penulis berpendapat temuan itu tetap relevan, bahkan menduga situasinya memburuk setelah pandemi COVID-19, krisis energi, dan inflasi, tetapi dugaan tersebut tidak mereka ukur. Mereka menyebut kajian ini sebagai analisis kuantitatif pertama dan satu-satunya tentang penggunaan paket makanan di kalangan keluarga tunawisma di Prancis.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak seirama. Bagian pembahasan menyebut hanya sekitar 20 persen keluarga yang punya fasilitas memasak, padahal tabelnya mencatat 16,7 dan 19,8 persen sebagai keluarga yang tidak memilikinya. Jumlah keluarga tunawisma di kawasan itu ditulis sekitar 12 juta jiwa. Pola berpati, yang semula dirumuskan lewat keju, kentang, telur, dan roti, di bagian hasil dijelaskan sebagai pasta, nasi, dan kentang.
Sekantong bahan pangan yang di awal tampak sebagai jawaban, pada akhirnya lebih mirip petunjuk tentang siapa yang paling baru tiba, paling sedikit temannya, dan paling jauh dari pekerjaan. Di piring anak-anak mereka, sayur dan yogurt lebih jarang terlihat, sementara isi paket itu sendiri tidak pernah dibuka oleh survei ini. Apakah yang kurang adalah isi kantongnya, dapur untuk mengolahnya, atau keduanya sekaligus?















