- Sebanyak 2.185 dari 8.847 ibu hamil di sebuah rumah sakit Beijing didiagnosis diabetes kehamilan, atau 24,7 persen.
- Setiap tambahan 10 mikrogram ozon per meter kubik berjalan bersama risiko diagnosis yang 7,2 persen lebih tinggi.
- Para penulis tidak menemukan ambang aman, dan masa paling rawan adalah tiga belas minggu pertama kehamilan.
- Gula puasa berkaitan dengan ozon di sepanjang masa yang diamati, sedangkan gula sesudah minum larutan baru bereaksi pada paruh kedua.
- Sifat observasional penelitian ini tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat.
Daftar Isi
- Gas pengoksidasi yang kadarnya terus naik
- Siapa saja yang lebih sering terdiagnosis
- Setiap tambahan ozon, risiko ikut naik selangkah
- Tiga belas minggu pertama sebagai jendela rawan
- Gula puasa dan gula sesudah minum larutan bergerak berbeda
- Dari paru-paru ke pankreas dan plasenta
- Di mana penjelasan ini berhenti
Ozon dihirup lewat hidung dan berakhir di paru-paru. Diabetes kehamilan ditegakkan lewat segelas larutan gula dan beberapa kali pengambilan darah. Dua hal itu tampak tidak punya jalan untuk bertemu, tetapi catatan ribuan ibu hamil di Beijing justru memperlihatkan keduanya bergerak bersama. Makin banyak ozon di udara sekitar rumah seorang ibu pada paruh pertama kehamilannya, makin sering ia didiagnosis diabetes kehamilan.
Temuan itu dilaporkan Jing Wang, Xingyan Liu, Di Wu, Bo Peng, Ya Zhang, Yuan Zhang, Yuanyuan Wang, Li Lin, dan Xu Ma dalam artikel Maternal exposure to ozone during pregnancy and risk of gestational diabetes in a Beijing pregnancy cohort study, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Wang dan Lin bekerja di Department of Obstetrics and Gynecology, Peking University International Hospital. Rekan-rekan mereka berasal dari National Research Institute for Family Planning di Beijing.
Yang mereka telusuri adalah 8.847 ibu yang memeriksakan kehamilan di rumah sakit itu sejak Januari 2020 sampai Juni 2024. Sebanyak 2.185 di antaranya didiagnosis diabetes kehamilan, atau 24,7 persen, kira-kira satu dari empat ibu. Angka itu lebih tinggi daripada laporan terdahulu untuk Beijing, yang berkisar 19,7 sampai 24,24 persen. Para penulis menduga selisihnya datang dari perbedaan kelompok yang diteliti, kriteria diagnosis, atau kecenderungan yang berubah seiring waktu.
Gas pengoksidasi yang kadarnya terus naik
Ozon dalam naskah ini digolongkan sebagai pencemar yang baru naik daun, dengan tingkat paparan yang cenderung meningkat beberapa tahun terakhir. Karena daya oksidasinya kuat, gas ini sudah lama dikaitkan dengan gangguan pada sistem pernapasan serta jantung dan pembuluh darah. Kehamilan pun ikut disebut: riset yang dikutip Wang dan rekan-rekannya mendapati setiap kenaikan ozon 10 ppb berkaitan dengan risiko lahir prematur yang 6 persen lebih tinggi.
Diabetes kehamilan sendiri adalah gula darah tinggi yang pertama kali terdiagnosis ketika seorang perempuan sedang hamil. Intinya, tubuh kurang peka terhadap insulin atau tidak cukup menghasilkan insulin. Secara global angkanya 14,0 persen dari kehamilan, dengan rentang lebar dari 7,8 persen di Eropa sampai 20,8 persen di Asia Tenggara. Di Tiongkok angkanya 15,6 persen dan, menurut para penulis, terus menanjak.
Yang membuatnya rumit, akibatnya tidak berhenti ketika bayi lahir. Perempuan dengan riwayat diabetes kehamilan, menurut riset yang dirujuk naskah ini, menanggung risiko penyakit jantung dan pembuluh darah otak 45 persen lebih tinggi. Anak yang dikandungnya cenderung tumbuh dengan indeks massa tubuh, kadar lemak, dan lingkar pinggang lebih besar. Risiko gangguan spektrum autisme pada anak itu tercatat 38 persen lebih tinggi, dan disabilitas intelektual 70 persen lebih tinggi.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Siapa saja yang lebih sering terdiagnosis
Sebelum ozon masuk hitungan, dua kelompok ibu itu sudah berbeda dalam hal yang lebih akrab. Ibu yang terkena diabetes kehamilan rata-rata berusia 32,9 tahun, lebih tua daripada kelompok pembandingnya. Di antara ibu tanpa diabetes, 80,8 persen berusia di bawah 35 tahun, sedangkan di kelompok diabetes hanya 70,1 persen. Porsi ibu berusia 35 sampai 39 tahun naik dari 16,8 menjadi 25,1 persen, dan porsi usia 40 tahun ke atas berlipat dari 2,4 menjadi 4,8 persen.
Berat badan sebelum hamil memperlihatkan pola serupa. Ibu dengan kelebihan berat badan mengisi 12,5 persen kelompok tanpa diabetes, tetapi 21,5 persen kelompok diabetes. Untuk obesitas, angkanya 3,8 berbanding 8,7 persen. Sebaliknya, ibu yang berat badannya kurang lebih banyak ditemukan di kelompok tanpa diabetes, yakni 11,6 berbanding 6,1 persen. Ibu yang sudah pernah melahirkan juga sedikit lebih banyak di kelompok diabetes, 30,2 berbanding 27,6 persen.
Di tengah perbedaan itu terselip satu angka tentang udara. Nilai tengah paparan ozon ibu yang terkena diabetes kehamilan adalah 101,24 mikrogram per meter kubik, sedangkan pada ibu yang tidak terkena 95,43 mikrogram. Persoalannya, selisih itu belum bisa dibaca sendirian selama usia dan berat badan ikut berbeda. Karena itu Wang dan rekan-rekannya memperhitungkan usia, indeks massa tubuh sebelum hamil, riwayat melahirkan, dan musim saat pembuahan.
Setiap tambahan ozon, risiko ikut naik selangkah
Setelah semua itu diperhitungkan, kaitannya tetap berdiri. Setiap tambahan 10 mikrogram ozon per meter kubik selama minggu pertama sampai menjelang minggu ke-24 kehamilan berjalan bersama risiko diagnosis yang 7,2 persen lebih tinggi. Rasio odds-nya 1,072, dengan rentang kepercayaan 1,030 sampai 1,117. Garisnya lurus: risiko naik setahap demi setahap mengikuti kadar ozon, tanpa lonjakan mendadak di titik tertentu.
Garis lurus itu punya arti yang tidak menyenangkan. Para penulis tidak menemukan bukti adanya hubungan yang melengkung, dan tidak pula menemukan ambang aman tertentu, yakni kadar yang di bawahnya kaitan itu menghilang. Dalam data mereka, sedikit ozon berarti sedikit tambahan risiko, dan lebih banyak ozon berarti lebih banyak tambahan risiko. Tidak ada anak tangga pertama yang bebas dari hitungan.
Ozon jarang datang sendirian, dan itulah keberatan yang paling mudah diajukan. Udara yang sama membawa partikel halus PM2.5 beserta kandungannya: karbon hitam, sulfat, nitrat, bahan organik, dan amonium. Wang dan rekan-rekannya memasukkan pencemar itu satu per satu ke dalam hitungan. Kaitan ozon dengan diabetes kehamilan bertahan pada setiap pasangan, baik untuk seluruh masa paparan maupun untuk tiga bulan pertama.
Tiga belas minggu pertama sebagai jendela rawan
Ketika masa paparan dibelah dua, gambarnya menjadi lebih tajam. Pada minggu pertama sampai akhir minggu ke-13, setiap tambahan 10 mikrogram ozon berkaitan dengan risiko diabetes kehamilan yang 5,5 persen lebih tinggi, dengan rasio odds 1,055 dan rentang 1,023 sampai 1,089. Pada minggu ke-14 sampai akhir minggu ke-23, kaitan itu tidak lagi bermakna, baik ketika ozon dihitung sendiri maupun bersama pencemar lain.
Bagi para penulis, hasil kosong di paruh kedua justru mempertegas letak masa rawannya. Awal kehamilan adalah saat plasenta dibentuk, kepekaan terhadap insulin berubah, dan sel beta pankreas menyesuaikan diri, dan ketiganya mudah terusik oleh lingkungan. Memasuki trimester kedua, jalur metabolik yang terlibat dalam diabetes kehamilan mungkin sudah terlanjur terbentuk, sehingga paparan yang datang belakangan tidak banyak mengubahnya.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Gula puasa dan gula sesudah minum larutan bergerak berbeda
Diagnosis diabetes kehamilan di rumah sakit itu ditegakkan pada minggu ke-24 sampai ke-28. Ibu meminum 75 gram glukosa yang dilarutkan dalam 300 mililiter air hangat dalam lima menit, lalu darahnya diperiksa. Ada tiga angka yang dilihat: gula puasa dengan batas 5,1 milimol per liter, gula satu jam sesudah minum dengan batas 10,0, dan gula dua jam sesudahnya dengan batas 8,5. Melewati salah satunya sudah cukup untuk diagnosis.
Ketiga angka itu ternyata tidak menanggapi ozon dengan cara yang sama. Gula puasa berkaitan dengan ozon di sepanjang masa yang diamati: setiap tambahan 10 mikrogram berjalan bersama kenaikan 0,020 milimol per liter. Gula puasa, tulis para penulis, menunjukkan kemampuan dasar tubuh mengendalikan gula. Dengan kata lain, yang terusik adalah kendali gula ketika tubuh sedang tidak menerima makanan apa pun.
Gula sesudah minum larutan baru bereaksi pada paruh kedua. Kaitan yang bermakna hanya muncul pada minggu ke-14 sampai akhir minggu ke-23: gula satu jam naik 0,039 milimol per liter dan gula dua jam naik 0,031 untuk setiap tambahan 10 mikrogram ozon. Dua angka ini mencerminkan seberapa baik tubuh, lewat insulin, menanggapi lonjakan gula sesudah makan. Jadi diagnosis paling peka terhadap ozon di awal, sedangkan gula sesudah makan peka di pertengahan.
Dari paru-paru ke pankreas dan plasenta
Bagaimana gas yang dihirup bisa sampai ke gula darah? Wang dan rekan-rekannya menawarkan satu jalur yang mungkin, yakni stres oksidatif dan peradangan. Ozon yang masuk lewat saluran napas memicu stres oksidatif di paru-paru. Zat pemicu peradangan dan senyawa oksigen reaktif yang timbul kemudian masuk ke peredaran darah, sehingga gangguan yang semula setempat menjadi urusan seluruh tubuh dan menurunkan kemampuan tubuh menangkal oksidan.
Sel beta pankreas, penghasil insulin, disebut paling mudah terkena karena pertahanan antioksidannya memang rendah. Bila sel itu rusak, insulin yang dihasilkan tidak mencukupi. Pada saat yang sama, stres oksidatif mengganggu penerusan sinyal insulin, sehingga jaringan tubuh kurang memanfaatkan glukosa. Plasenta yang meradang ikut mengacaukan metabolisme gula ibu. Para penulis juga menyebut ozon mengurangi keragaman mikroba usus, yang pada gilirannya memperparah ketidakpekaan terhadap insulin.
Jalur itu sekaligus menerangkan mengapa waktunya penting. Paparan di tiga bulan pertama mengusik pembentukan plasenta dan memulai peradangan ringan yang menetap dalam tubuh ibu. Pada pertengahan kehamilan, tubuh setiap ibu secara alami menjadi kurang peka terhadap insulin. Bila daya tampung metabolik sudah terkikis sejak awal, tambahan beban alami itu tidak lagi tertanggung, dan risiko diabetes kehamilan naik.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Di mana penjelasan ini berhenti
Dari temuan itu para penulis menarik beberapa usul. “Kampanye kesehatan masyarakat dapat menyarankan perempuan yang merencanakan kehamilan atau sedang hamil muda agar mengurangi kegiatan di luar ruang pada hari-hari berozon tinggi, ketika plasenta yang sedang berkembang dan pemrograman metabolik berada pada masa paling rentan,” tulis Wang dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka juga mengusulkan pemeriksaan gula yang lebih ketat pada pertengahan kehamilan bagi ibu yang banyak terpapar ozon di awal.
Namun penjelasan itu punya batas yang mereka akui sendiri. Catatan rumah sakit tidak memuat pola makan, kegiatan fisik, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, atau minum alkohol para ibu. Paparan ozon ditaksir dari alamat rumah dalam petak 10 kali 10 kilometer, tanpa menghitung perjalanan harian atau udara di dalam ruangan. Semua ibu berasal dari satu rumah sakit di Beijing, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di tempat lain.
Batas terakhir menyangkut jenis kesimpulan yang boleh ditarik. “Sifat observasional penelitian ini tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat, meskipun metode statistiknya ketat,” tulis mereka pada bagian keterbatasan. Artinya, yang terlihat adalah ozon dan diabetes kehamilan yang naik beriringan pada ribuan ibu. Jalur lewat paru-paru, pankreas, dan plasenta tadi dirangkai dari riset lain, bukan diukur pada ibu-ibu ini.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak seirama di dalam naskah. Bagian kesimpulan menyebut “bukti kuat” bahwa ozon “sepanjang kehamilan” adalah faktor risiko yang berdiri sendiri, padahal paparan hanya dihitung sampai akhir minggu ke-23 dan sebab-akibat sudah dinyatakan tidak bisa ditarik. Teks juga menyebut ibu yang mengandung pada musim panas lebih berisiko, sementara tabelnya menunjukkan pergeseran terbesar pada musim semi, dari 24,1 menjadi 28,2 persen, dan musim semi di situ diartikan Januari sampai Maret.
Kejanggalan pembuka tadi akhirnya mendapat jawaban, walau belum tuntas. Udara dan gula darah bertemu bukan di paru-paru, melainkan di tempat insulin dibuat dan dipakai, serta di plasenta yang baru dibentuk pada minggu-minggu pertama. Pada 8.847 ibu di Beijing itu, pertemuan tersebut terbaca sebagai garis lurus yang naik pelan. Apakah ozon sendiri yang menaikkannya, naskah ini belum sanggup memastikan.














