Beban Batin Lelaki Ghana yang Tak Kunjung Punya Anak

A A

Ilustrasi kelompok rumah tanah liat bundar beratap jerami di tepi jalan tanah, Ghana [Foto: Hasslaebetch/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Delapan dari sebelas lelaki sudah lima sampai sepuluh tahun berhadapan dengan infertilitas.
  • Sebagian besar peserta menyebut anak-anak dan perempuan hamil sebagai pemandangan yang memicu kesedihan.
  • Banyak yang merasa hidup berlaku tidak adil karena keinginan punya anak tidak terpenuhi.
  • Istri yang membantu mengatur jadwal rumah sakit dan tetap menyemangati meringankan beban para suami.
  • Para penulis mengakui temuan ini dibentuk norma setempat sehingga tidak mudah digeneralisasi.
Daftar Isi
  1. Psikososial, Urusan Hati Sekaligus Urusan Pergaulan
  2. Pemicu Emosi, Hal Kecil yang Membuka Luka Lama
  3. Kualitas Hidup yang Dirasakan, Soal Adil dan Tidak Adil
  4. Dukungan Pasangan, Istri yang Tetap di Samping
  5. Pengungkapan, Perkara Berani Bercerita
  6. Keteralihan, Sejauh Mana Cerita Ini Berlaku di Tempat Lain

Kesejahteraan psikososial terdengar seperti istilah ruang kuliah, padahal isinya sederhana: seberapa tenang hati seseorang dan seberapa nyaman ia berada di tengah orang lain. Pada sebelas lelaki beristri di Bono Region, Ghana, dua hal itu goyah oleh sebab yang sama. Mereka sulit punya anak, dan kesulitan itu ikut masuk ke tempat kerja, ke gereja, sampai ke urusan tanah warisan.

Kisah mereka dihimpun Gidson Oppong Kwadwo, Florence Naab, Ernestina Asiedua, Josephine M. Kyei, dan Deborah Armah. Tulisan berjudul Tile: Psychosocial Well-Being of Men with Infertility: A Qualitative Study itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2141 tahun 2026. Kwadwo berasal dari Presbyterian Nursing and Midwifery Training College di Dormaa Ahenkro, sedangkan empat rekannya dari University of Ghana di Accra.

Kata kuncinya infertilitas pria. Menurut batasan Organisasi Kesehatan Dunia yang dikutip naskah, itu berarti pembuahan tidak tercapai karena faktor dari pihak laki-laki setelah satu tahun berhubungan teratur tanpa pelindung. Bahasa sehari-harinya: sudah setahun berusaha, kehamilan tak kunjung datang, dan sebabnya ada pada suami. Naskah menyebut sekitar 15,8 persen laki-laki Ghana diperkirakan mengalaminya, kira-kira satu dari enam.

Psikososial, Urusan Hati Sekaligus Urusan Pergaulan

Sebelas lelaki itu berusia 25 tahun ke atas dan semuanya beristri. Empat orang bertani kakao atau beternak unggas, dua orang tukang listrik, sisanya guru, perawat, tukang kayu, dan pegawai pemerintah. Delapan orang memeluk Kristen dan tiga orang Muslim. Mereka bercerita dalam bahasa Twi, lalu penuturannya dialihkan ke bahasa Inggris.

Lamanya menunggu tidak pendek. Delapan dari sebelas lelaki sudah lima sampai sepuluh tahun berhadapan dengan infertilitas, tiga lainnya satu sampai lima tahun. Empat orang belum punya anak sama sekali. Tiga orang punya satu anak, dan empat orang justru sudah punya tiga sampai empat anak, sebab naskah menerima diagnosis infertilitas primer maupun sekunder tanpa menguraikan beda keduanya.

Mengapa urusan ini berat bagi lelaki Ghana? Naskah memakai kata pronatalis, yakni masyarakat yang menempatkan kelahiran anak di pusat identitas sosial, keutuhan perkawinan, dan kelanjutan garis keturunan. Menjadi ayah di sana dibaca sebagai penanda kedudukan dan keabsahan seorang lelaki. Sementara itu, sulit punya anak lazimnya dilekatkan kepada perempuan, sehingga beban di pihak suami jarang terlihat.

Dari cerita kesebelas orang itu, para penulis menyusun dua tema besar dengan tujuh subtema. Sisi psikologis memuat masalah emosi, kualitas hidup yang dirasakan, dan pemicu emosi. Sisi sosial memuat perubahan keseharian, dukungan pasangan, dukungan kerabat dan teman, serta pengungkapan. Maksudnya, yang diperiksa bukan hanya isi kepala, tetapi juga isi rumah dan lingkungan.

Sebelas lelaki Bono dan beban batinnyaSebelas lelaki Bono dan beban batinnyaSebelas lelaki Bono dan beban batinnyaRingkasan peserta dan temuan di Bono Region, Ghana11lelaki beristriusia 25 tahun keatas8dari 11 oranginfertil 5-10tahun2tema besarpsikologis dansosial7subtemadari emosisampai berceritaJalan risetnyaSebelas lelakiWawancaraDua tema
Sumber: Gidson Oppong Kwadwo, Florence Naab, Ernestina Asiedua, Josephine M. Kyei, Deborah Armah, Tile: Psychosocial Well-Being of Men with Infertility: A Qualitative Study, BMC Public Health, 26(2141), 2026. Grafik: Cekricek.id

Masalah emosi paling mudah dipahami lewat cerita lelaki yang dicatat sebagai P1. Ia sudah sepuluh tahun menikah dan punya satu anak. Suatu hari ia mengajari seorang keponakan, si anak salah menangkap perintah, lalu ia hendak menghukumnya. Ibu anak itu menyahut bahwa ia sebaiknya punya anak sendiri dan mendisiplinkan mereka. P1 mengaku sangat terluka dan menangis sepanjang hari.

Lelaki lain memikul rasa yang serupa dengan rupa berbeda. P2 merasakan kesedihan yang dalam dan memandang dirinya merepotkan istri karena tidak mampu memenuhi harapannya. P4 pernah begitu larut dalam renungan saat mengemudi sampai lupa bahwa ia sedang berada di dalam mobil. Ia baru berhenti di sembarang tempat, lalu melanjutkan lamunannya di sana.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Pemicu Emosi, Hal Kecil yang Membuka Luka Lama

Pemicu emosi adalah istilah naskah untuk hal-hal yang menyedot perhatian para lelaki ini dan mengembalikan pikiran mereka pada kesulitannya. Bentuknya ternyata sangat biasa. Sebagian besar peserta menyebut dua pemandangan yang sama, yaitu anak-anak dan perempuan hamil yang mereka jumpai.

P7 bercerita bahwa istrinya langsung memberi tahu setiap kali melihat perempuan hamil dan mengungkapkan kerinduannya mengalami hal serupa. Ia sendiri mengaku tidak merasakan hal yang sama dengan istrinya. P6 lain lagi. Ia sering berpapasan dengan orang yang membawa anak atau dengan perempuan hamil, lalu merenungi keadaannya dan ingin berada di posisi mereka.

Pemicu itu bahkan muncul di rumah ibadah. Seorang penatua gereja menuturkan bahwa tiap hari Minggu ia menyaksikan hubungan orang tua dan anak di tengah jemaatnya. Pemandangan itu membuatnya sangat sedih. Pada hari-hari itu pula, katanya, selera makannya ikut hilang.

Bedanya begini. Membaca cerita tadi sebagai rasa iri semata akan meleset dari maksud naskah. Para penulis menautkannya dengan harapan sosial budaya yang menyamakan kesuburan dengan kelelakian. Pemandangan anak kecil atau perut yang membesar mengingatkan para lelaki ini pada ukuran yang dipasang masyarakat, bukan sekadar pada keinginan pribadi yang belum terkabul.

Kualitas Hidup yang Dirasakan, Soal Adil dan Tidak Adil

Kualitas hidup yang dirasakan, dalam naskah ini, berarti cara para lelaki itu memandang hidupnya sendiri. Banyak yang merasa hidup berlaku tidak adil karena satu keinginan, yaitu punya anak, tidak terpenuhi. P5 menyebut hidup tidak peduli pada rencana yang sudah disusun rapi. P6 menduga keadaannya kehendak Tuhan, atau barangkali sebuah ujian.

Cerita P1 menunjukkan betapa rasa itu menempel pada harta. Ia sedang mengurus persoalan salah satu tanahnya dan meminta kejelasan. Istrinya tertawa, lalu bertanya siapa yang akan mewarisi tanah itu kalau ia meninggal. Bagi P1, pertanyaan itu menegaskan keyakinan budaya bahwa tanpa anak nilai seseorang berkurang dan jerih payahnya sia-sia.

Kecemasan soal waris juga datang dari P3. Ia dan istrinya memang bisa tidur, katanya, tetapi keduanya terus memikirkan masa depan karena tidak ada anak yang meneruskan nama mereka. Sesekali ia bertanya dalam hati siapa yang kelak mewarisi harta sederhana yang sudah ia kumpulkan.

Tidak semua peserta tanpa anakBelum punya anak: Jumlah lelaki +4; Satu anak: Jumlah lelaki +3; Tiga sampai empat anak: Jumlah lelaki +4.Tidak semua peserta tanpa anakJumlah lelaki menurut banyaknya anak, dari 11 peserta123450Belum punya anak4Satu anak3Tiga sampai empat anak4Angka menurut Tabel 1 naskah.
Sumber: Gidson Oppong Kwadwo, Florence Naab, Ernestina Asiedua, Josephine M. Kyei, Deborah Armah, Tile: Psychosocial Well-Being of Men with Infertility: A Qualitative Study, BMC Public Health, 26(2141), 2026. Grafik: Cekricek.id

Keseharian ikut terganggu, walau tidak pada semua orang. P2 mengaku teringat keadaannya pada jam kerja, lalu termenung, dan hasil kerjanya menurun. P9 dan P3 berpandangan lain. P9 menilai hidupnya biasa saja karena ia sedang berobat dan mengikuti semua anjuran. P3 berkata jati dirinya tidak berubah, ia masih muda dan tetap berharap menjadi ayah.

Para penulis menyimpulkan tekanan emosi para peserta membentang dari duka sampai pikiran untuk mengakhiri hidup. Mereka membacanya sebagai tanda merosotnya kualitas hidup psikologis. Gagal memenuhi harapan diri dan harapan masyarakat untuk menjadi ayah, tulis mereka, menambah stres dan menggerus harga diri.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Dukungan Pasangan, Istri yang Tetap di Samping

Dukungan pasangan di sini bukan istilah muluk. P9 menceritakannya dengan contoh yang sangat praktis. Ketika ia memberi tahu istrinya bahwa ia tidak mampu membuatnya hamil, sang istri membantu mengatur semua jadwal kunjungannya ke rumah sakit. Ia tidak melihat perubahan sikap pada istrinya dan tidak mendengar ucapan yang merendahkan.

P6 menggambarkan rumah yang tetap ramai. Ia dan istrinya mengobrol, tertawa, dan melakukan hal-hal yang lazim dikerjakan suami istri, sehingga ia bisa melupakan persoalan itu. P10 menyebut istrinya selalu menyemangati dan membantu mencari jalan keluar tanpa mengeluh. Begitu mendengar ada dokter atau obat tertentu, istrinya ingin mereka segera mencobanya.

Lingkaran di luar rumah juga berperan. Keluarga dan teman P3 menyemangati, menyarankan berobat, dan menopang sisi rohaninya. Ia tetap dihormati sebagai kakak laki-laki. P5 mendapat kata-kata penguat dari sahabat, ibu, dan saudari-saudarinya. Di tempat kerja, sebagian rekan memilih tidak membicarakan soal anak di depannya supaya ia tidak berkecil hati.

Pengungkapan, Perkara Berani Bercerita

Pengungkapan berarti memberi tahu diagnosis itu kepada istri, keluarga, atau teman. Para penulis menyebut bagian ini sebagai kebaruan penting dari kajian mereka. Sebagian lelaki membuka diri kepada keluarga agar istri mereka terbebas dari cap yang tidak adil. P3 tidak menyembunyikan apa pun dari istrinya, dengan harapan memperoleh dukungan.

Jalan P11 lebih berliku. Mula-mula ia menahan diri, lalu bercerita kepada satu anggota keluarga yang kemudian menyemangati dan memberinya arahan. P9 memilih sebaliknya. Tidak seorang pun keluarganya tahu, ia memikirkannya sendiri, berobat, dan berdoa. Naskah mencatat alasan mereka yang diam, yakni khawatir akan tanggapan buruk begitu kerabat mengetahuinya.

Di sinilah satu salah paham diluruskan, yaitu anggapan bahwa sulit punya anak hanya perkara tubuh. “Infertilitas bukan sekadar kondisi biomedis, melainkan pengalaman yang dibentuk secara sosial dan tertanam dalam harapan budaya tentang menjadi orang tua,” tulis Gidson Oppong Kwadwo dari Presbyterian Nursing and Midwifery Training College bersama rekan-rekannya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Dari sana para penulis menarik usul. Layanan infertilitas, menurut mereka, perlu memuat dukungan psikologis, program kesehatan reproduksi yang mengikutkan laki-laki, dan perawatan berbasis pasangan. Mereka juga meminta kebijakan kesehatan reproduksi mengakui kebutuhan batin laki-laki, serta memasukkan topik ini ke dalam pendidikan perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lain.

Keteralihan, Sejauh Mana Cerita Ini Berlaku di Tempat Lain

Keteralihan adalah soal apakah temuan di satu tempat boleh dibawa ke tempat lain. Para penulis mengakui batasnya. Pengalaman yang mereka catat dibentuk norma, keyakinan, dan kebiasaan setempat, sehingga tidak mudah digeneralisasi ke masyarakat lain. Selain itu, semua data berasal dari penuturan peserta sendiri, yang rawan salah ingat dan rawan condong pada jawaban yang pantas didengar.

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Judulnya diawali kata Tile. Tabel pekerjaan hanya berjumlah sepuluh orang, padahal pesertanya sebelas. Tema sosial disebut punya tiga subtema, sedangkan yang didaftar empat. Cerita penatua gereja diperkenalkan sebagai milik P7, tetapi penuturannya berlabel P8.

Dua hal lain menyangkut isi. Bagian pembahasan menyatakan sebagian besar peserta melaporkan kurangnya dukungan kerabat dan teman, sementara bagian hasil justru memuat cerita dukungan dari keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Pikiran untuk mengakhiri hidup juga disebut para penulis, tetapi tidak satu pun penuturan peserta yang dimuat menyinggungnya.

Jadi, kesejahteraan psikososial dalam naskah ini punya batas yang jelas. Ia adalah hati dan pergaulan sebelas lelaki di Bono Region, bukan gambaran semua lelaki yang sulit punya anak. Di dalam batas itu, ukurannya tetap benda-benda sehari-hari: gereja pada hari Minggu, jadwal rumah sakit yang diatur istri, dan sebidang tanah yang belum punya pewaris.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Tibet yang Sering Makan Cepat Saji Lebih Rentan Murung
Perundungan Siber Menumpulkan Daya Pikir, Olahraga Bukan Perisai
Rawan Pangan di Turki Tak Tertahan oleh Ijazah Sekolah Menengah
Makin Lama Duduk, Makin Rendah Kepadatan Tulang Panggul
Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Asuransi Kesehatan Disatukan, Pendapatan Warga Desa China Naik