- Bahasa Wemale bukan lagi bahasa utama generasi sekarang, sebab masyarakat lebih banyak memakai bahasa Melayu Ambon.
- Seorang raja di Karlutu Warasiwa diangkat dua kali, secara administratif di Masohi dan secara adat di negeri sendiri.
- Nyanyian penyambutan berpesan bahwa pemimpin harus mampu menyelesaikan setiap persoalan yang timbul di tengah masyarakat.
- Para penulis menemukan lima fungsi sastra lisan itu, dari meneguhkan lembaga hukum adat sampai memberi nasihat.
Daftar Isi
Bahasa yang tidak lagi dipakai untuk bercakap sehari-hari lazim dianggap tinggal menunggu waktu untuk hilang. Di Negeri Karlutu Warasiwa, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, anggapan itu patah pada hari seorang raja dilantik: bahasa Wemale, yang dalam keseharian warganya sudah digantikan bahasa Melayu Ambon, justru menjadi bahasa yang wajib diucapkan ketika tetua adat menyambut pemimpin baru di gerbang negeri, menyanyikan pesan untuknya, dan mengantarnya menuju sumpah.
Peristiwa itu dicatat Evelin Potimau, Everhard Markiano Solissa, dan Merlyn Rutumalessy dari Universitas Pattimura, Ambon, dalam artikel Form and Function of Wemale Oral Literature in the Traditional Ceremony of King’s Inauguration in the Negeri Karlutu Warasiswa, yang terbit di Mirlam: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia volume 4 nomor 1 tahun 2023. Ketiganya menelusuri apa saja yang diucapkan dan dinyanyikan dalam pelantikan itu, lalu bertanya untuk apa semua ucapan tersebut bagi masyarakat yang mewariskannya.
Keterangan mereka bersumber dari orang-orang negeri itu sendiri: Mihel Samale, kepala adat berusia 82 tahun; Andarias Siwalette, kepala adat berusia 65 tahun; Zefanya Seluholo, tokoh masyarakat berusia 65 tahun; Marthen Polatu, ketua saniri berusia 48 tahun; serta Christian Latutuaparaya, raja negeri berusia 50 tahun. Dari mereka muncul gambaran bahwa sastra lisan dalam pelantikan raja masih terpelihara dan bertaut dengan kehidupan warga, dalam dua bentuk saja, yakni bahasa rakyat dan nyanyian rakyat.
Bahasa yang surut dari percakapan, bertahan di upacara
Para penulis memilih Karlutu Warasiwa karena warganya semula memakai bahasa Wemale untuk berkomunikasi sehari-hari. Namun keadaan itu sudah berubah: bahasa Wemale bukan lagi bahasa utama generasi sekarang, sebab masyarakat lebih banyak memakai bahasa Melayu Ambon. Bahasa ini, menurut naskah, memiliki dua dialek, Wemale Utara dan Wemale Selatan, dan warga Karlutu Warasiwa adalah penutur dialek selatan, sebuah komunitas adat yang pemerintahannya masih berbentuk kerajaan dan yang tetap memegang kebiasaan lama.
Justru sebaliknya yang terjadi di ruang upacara. Di sana bahasa Wemale bukan pilihan, melainkan syarat; para penulis menyebutnya bahasa yang diwajibkan dalam ritus adat, termasuk pelantikan raja. Kehadiran sastra lisan itu, tulis mereka, melampaui sekadar hiburan, karena di dalamnya tersimpan keyakinan budaya yang mengatur cara hidup para pendukungnya, dan karena itu pula ia diperlakukan sebagai warisan yang harus dijaga bagi generasi muda negeri tersebut.
Dua pengangkatan untuk satu raja
Seorang raja di Karlutu Warasiwa diangkat dua kali, dan keduanya saling melengkapi. Pengangkatan pertama bersifat administratif, dilakukan Bupati Maluku Tengah di Masohi; pengangkatan kedua berlangsung secara adat di negeri sendiri. Sesudah penetapan administratif itu, kepala adat dan para tetua dari rumah-rumah marga asal, bersama seluruh warga, menunggu kedatangan raja terpilih di gerbang depan negeri, dan di titik itulah bahasa Wemale mulai bekerja.
Sebelum calon raja melangkah masuk, tetua adat menyambutnya dengan kalimat “Salamate upulatu, salamate loike usu mayamane ke sepuma mahele mayamane ye holo-holo”. Naskah mengartikannya sebagai ucapan selamat datang kepada raja, selamat memasuki negeri, disertai ajakan untuk bersama-sama membangunnya. Bagi para penulis, sambutan ini bukan basa-basi pembuka, melainkan cara tetua menyampaikan harapan dan permintaan warga agar raja memerintah dan memajukan negeri.
Penyambutan itu juga diiringi nyanyian rakyat, yang menurut naskah dapat mengiringi tari cakalele. Liriknya pendek dan diulang: “Latue silasa rorane lasa rorane”, lalu “Rorane manisa, sauwe mu manisa yo”. Maknanya, dalam terjemahan yang dimuat para penulis, para pemimpin memotong bambu; bambu itu rata, dan masalah pun rata. Pesan yang dibawanya, tulis mereka, ialah bahwa seorang pemimpin harus mampu menyelesaikan setiap persoalan yang timbul di tengah masyarakat.
Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera
Dari balai sumpah ke rumah tua
Dari gerbang, raja baru diarahkan ke balai pertemuan dengan kalimat “Usu lo wei wa tua adate hi hono adate su wea mina”, sebuah perintah agar ia masuk supaya kepala adat dapat mengambil sumpah adat. Di tahap inilah nasihat para tetua, yang disebut pasawari, disampaikan kepada calon raja. Pasawari, menurut naskah, adalah permohonan kepada leluhur, alam, dan pencipta, sekaligus sarana berkomunikasi dengan leluhur, dan tujuannya agar calon raja sanggup memerintah Karlutu Warasiwa dengan baik.
Sesudah pasawari, raja dan rombongannya dipersilakan masuk ke rumah tua. Makanan disajikan di atas wadah tradisional dari daun pisang: umbi-umbian, daun sirih yang disebut amu, pinang atau pua, kapur atau losa, tembakau atau takapu, rokok atau manaheti, serta minuman yang dikenal sebagai sageru. Tokoh adat, marga-marga dari rumah itu, dan keluarga pengiring makan dan minum di samping calon raja, sebelum semuanya berdoa bersama.
Rangkaian itu tidak berhenti di ranah adat. Calon raja dan rombongan berjalan bersama ke gereja untuk mengucapkan sumpah agama, yang oleh para penulis disebut tahap keempat. Sesudahnya ia kembali ke kantor negeri untuk acara penutup, berisi sambutan dari raja lama dan raja baru, lalu makan bersama. Pemerintah kabupaten, adat, dan gereja dengan demikian hadir bergiliran dalam satu pelantikan, tetapi ucapan berbahasa Wemale yang dicatat para penulis seluruhnya berasal dari bagian adat.
Dua baris nyanyian yang dibaca tiga kali
Di situlah persoalannya menjadi menarik. Para penulis tidak berhenti pada daftar ucapan, tetapi membaca apa yang dikerjakan ucapan itu bagi masyarakat, dan mereka menemukan lima fungsi: meneguhkan lembaga hukum adat, menjadi cermin harapan bersama, menghormati pemimpin, menyampaikan kritik sosial, dan memberi nasihat. “Sastra lisan mengemban beberapa tugas dalam pelantikan seorang raja, termasuk memuji sang penguasa dan menyampaikan kritik sosial,” tulis Potimau, Solissa, dan Rutumalessy dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Nyanyian bambu tadi memikul fungsi yang pertama. Menurut naskah, lembaga adat tetap berjalan sebagai jalan penyelesaian masalah selama lembaga dan jalan keluarnya diakui masyarakat adat, dan di negeri yang masih memegang hukum adat pemerintahan berada di tangan raja, yang antara lain bertugas menyelesaikan sengketa adat. Nyanyian pengiring cakalele itu mengingatkan calon raja bahwa persoalan, dari dalam maupun dari luar negeri, harus ia hadapi, termasuk dengan menemui pemimpin negeri-negeri lain.
Namun lirik yang sama juga dibaca para penulis sebagai kritik sosial. Nyanyian itu, tulis mereka, bukan hanya bagian dari lembaga adat, melainkan pula sarana kritik di dalam komunitas Karlutu Warasiwa: setiap masyarakat menginginkan negerinya aman, dan ketika masalah muncul, pemimpinlah yang harus menanganinya dengan baik. Dua baris lirik itu dengan demikian muncul tiga kali dalam naskah, sebagai bentuk nyanyian rakyat, sebagai peneguh lembaga adat, dan sebagai kritik.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Kursi yang diserahkan bersama pesan leluhur
Fungsi kedua, cermin harapan bersama, tampak pada lanjutan salam di gerbang. Sesudah ucapan selamat datang, tetua meneruskan dengan kalimat yang dalam naskah berbunyi “Analue holo holo le sihanaute hale auwanapua wa uweya”, disusul pesan tentang kursi. Artinya, menurut terjemahan para penulis, raja diminta mendengar baik-baik karena yang disampaikan adalah pesan leluhur kepadanya; kursi yang ia duduki memang miliknya, tetapi ia wajib mencermati masyarakat dan negeri ini dengan saksama.
Penghormatan kepada pemimpin diucapkan atas nama soa. Dalam naskah, empat soa disebut satu per satu, yaitu Soa Latutuaparaya, Soa Launatelu, Soa Latukarlutu, dan Soa Rumawatine, yang bersama-sama menyampaikan salam hormat kepada raja muda, lalu menyatakan bahwa mereka sudah mengenalnya dan telah menyiapkan kursi itu untuknya. Para penulis menjelaskan bahwa tetua dan warga menilai raja terpilih sebagai pemimpin yang baik dari perilakunya sehari-hari, dan setelah ia terpilih, masyarakat memberinya hormat dengan menaati aturan yang berlaku.
Fungsi terakhir adalah nasihat, dan di sini pasawari kembali muncul. Kalimat “Asaka ayamane holo-holo eyaa enitamataya” diartikan sebagai pesan bahwa seorang raja harus menjaga negeri dengan baik bersama rakyat. Para penulis menyebutnya petunjuk leluhur yang tetap berlaku hingga kini bagi siapa pun yang hendak memimpin Karlutu Warasiwa, disampaikan tetua dalam bahasa Wemale agar raja mewujudkan harapan leluhur akan pemimpin yang sanggup memajukan negeri.
Baca juga Pemakaman Raja Marapu di Rindi: Delapan Kuda, Delapan Kerbau
Mengapa harus bahasa Wemale, dan bukan bahasa Melayu Ambon yang kini lebih banyak dipakai warga? Naskah tidak menjawabnya dengan panjang, tetapi kesimpulannya memberi petunjuk: bahasa Wemale dipandang sakral karena terutama dipakai para tetua dalam ritus adat, dan setiap tetua ditugasi berbicara dalam bahasa itu sesuai perannya masing-masing. Pelantikan raja dalam bahasa Wemale, tulis para penulis, adalah tradisi leluhur yang bertahan dan masih dijalankan sampai sekarang.
Yang belum terjawab dari naskah ini
Temuan ini berdiri di atas pijakan yang sempit, dan itu perlu dicatat. Keterangannya berasal dari lima orang di satu negeri, sehingga tidak dapat dianggap mewakili seluruh penutur Wemale. Naskah juga hanya memuat segelintir ujaran, yakni dua baris nyanyian dan beberapa kalimat sambutan serta nasihat, tanpa keterangan seberapa banyak warga yang masih memahaminya. Para penulis sendiri menganjurkan penelitian lanjutan atas sastra lisan dalam upacara adat dan meminta pemerintah daerah mengutamakan pelestariannya.
Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Nama negeri ditulis Karlutu Warasiswa pada judul tetapi Karlutu Warasiwa di hampir seluruh isi, dan kecamatannya disebut Seram Utara Barat di satu bagian serta Pasanea di bagian lain. Sumpah agama disebut tahap keempat sekaligus tahap penutup, padahal tiga tahap sebelumnya tidak pernah dirinci dan sesudahnya masih ada acara di kantor negeri. Nama soa asal raja pun muncul dalam tiga ejaan.
Yang tersisa adalah sebuah bahasa dengan kedudukan ganjil: tidak lagi menjadi bahasa utama generasi sekarang, tetapi tetap diwajibkan untuk menyambut raja di gerbang, mengantarnya ke sumpah adat, dan menasihatinya. Naskah Potimau dan rekan-rekannya merekam kalimat-kalimat itu selagi para tetua masih mengucapkannya. Jika generasi muda yang oleh para penulis disebut pewaris budaya ini tumbuh dalam bahasa Melayu Ambon, siapa yang kelak menyanyikan bambu yang rata bagi raja berikutnya?














