Makan Jagung Tiap Pekan, Warga Pesisir Kenya Tak Kenal Racunnya

A A

Ilustrasi sepiring ugali dengan sayur hijau dan semangkuk tumbukiza di Mombasa, Kenya [Foto: Ntjalekesi/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hanya 49,5 persen dari 17.813 kepala rumah tangga di Kaloleni dan Rabai pernah mendengar aflatoksin.
  • Sebanyak 77,6 persen rumah tangga makan ugali dari tepung jagung tiga kali atau lebih dalam sepekan.
  • Kanker hati hanya disebut 6,2 persen warga yang pernah mendengar aflatoksin sebagai akibat racun itu.
  • Warga desa lebih sedikit tahu tetapi sedikit lebih mungkin mempertimbangkan aflatoksin saat berbelanja.
  • Survei bersandar pada pengakuan warga dan tidak mengukur paparan lewat sampel darah maupun pangan.
Daftar Isi
  1. Iseme-Ondiek memilih pesisir yang lembap dan miskin
  2. Yang didengar Ngugi dan rekan-rekannya dari separuh warga
  3. Kanker hati, akibat yang paling jarang disebut kepada Saleh
  4. Di dapur dan di warung, catatan Abayo tentang ugali
  5. Ngugi mendapati desa lebih waspada meski lebih sedikit tahu
  6. Batas yang diakui Iseme-Ondiek dan selisih di naskahnya

Rosebella Iseme-Ondiek ingin tahu satu hal dari para kepala rumah tangga di Kaloleni dan Rabai, dua wilayah pedesaan di selatan Kilifi, pesisir Kenya: pernahkah mereka mendengar kata aflatoksin. Pertanyaan itu dibawa dari rumah ke rumah oleh para kader kesehatan setempat, ke dapur-dapur yang dalam sepekan berkali-kali menyajikan ugali, hidangan dari tepung jagung. Jawaban yang kembali kepadanya terbelah hampir sama besar.

Iseme-Ondiek menuliskan hasilnya bersama Joseph Abuodha, Anthony Ngugi, Innocent Abayo, dan Mansoor Saleh dalam artikel berjudul Assessing aflatoxin knowledge, perceptions, and related practices, in a rural coastal community: a population-based cross-sectional survey, yang terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 2513, tahun 2026. Iseme-Ondiek dan Ngugi bekerja di Department of Population, Medical College, Aga Khan University di Nairobi. Abuodha dan Saleh berasal dari Department of Haematology-Oncology di kampus yang sama, sedangkan Abayo dari IQVIA RDS, juga di Nairobi.

Yang ditanyai tim Iseme-Ondiek berjumlah 17.813 kepala rumah tangga, yakni orang yang diakui anggota keluarganya sebagai pengambil keputusan utama, sepanjang Juli sampai Desember 2022. Tiga dari empat di antaranya laki-laki, dengan usia rata-rata sekitar 49 tahun. Bertani menjadi pekerjaan yang paling banyak disebut, 32,3 persen, dan di kalangan perempuan kepala rumah tangga angkanya naik menjadi 47,8 persen.

Iseme-Ondiek memilih pesisir yang lembap dan miskin

Kilifi bukan tempat yang dipilih Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya secara kebetulan. Aflatoksin di hasil tani Kenya, tulis mereka, terutama dihasilkan jamur A. flavus, dan jamur itu tumbuh subur pada keadaan seperti di Kilifi, satu dari lima county pesisir negeri itu. Iklim tropisnya tidak menentu, dengan kemarau berkala, kelembapan tinggi, dan suhu tinggi.

Ngugi dan para penulis lain juga mencatat keadaan ekonomi wilayah tersebut. Tingkat kemiskinan absolut di Kilifi disebut 71 persen, sementara rata-rata nasional Kenya 47 persen, dan lebih dari separuh penduduknya hidup dari tanaman serta ternak. Jagung, kacang tunggak, singkong, dan kacang-kacangan, yang semuanya rentan tercemar aflatoksin, termasuk pangan pokok yang ditanam dan dimakan di sana.

Ada alasan lain mengapa Abuodha dan rekan-rekannya memilih bertanya kepada warga. Cemaran aflatoksin, menurut naskah mereka, tidak dapat dikenali dengan mata tanpa alat khusus, dan cara uji yang terjangkau di tingkat kampung belum tersedia. Padahal paparan racun ini dikaitkan dengan kanker hati, melemahnya kekebalan tubuh, dan anak yang tumbuh kerdil. Karena itu, apa yang diketahui warga menjadi pintu masuk yang mereka ambil.

Yang didengar Ngugi dan rekan-rekannya dari separuh warga

Hanya 8.816 orang, atau 49,5 persen, yang mengaku pernah mendengar aflatoksin, begitu catatan Ngugi dan keempat rekannya. Pada perempuan kepala rumah tangga angkanya 43,7 persen, pada laki-laki 51,4 persen. “Secara keseluruhan, tingkat pengetahuan tentang aflatoksin tergolong rendah, dengan kurang dari separuh penduduk pernah mendengarnya,” tulis Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Kepada mereka yang pernah mendengar itulah pertanyaan Abayo dan rekan-rekannya dilanjutkan. Jagung paling sering dikenali sebagai pangan yang bisa tercemar, disebut oleh 83,1 persen, disusul gandum 46,4 persen. Namun yang menjawab tepat ketiganya, yaitu jagung, gandum, dan susu, hanya 107 orang atau 1,2 persen. Sebanyak 16,3 persen terus terang mengaku tidak tahu.

Soal tanda-tanda jagung tercemar, Saleh dan rekan-rekannya mendapati perubahan warna sebagai jawaban paling umum, 71,8 persen. Bau apak justru paling jarang disebut. Hanya 17,3 persen yang menyebut lengkap empat tanda dalam daftar: warna berubah, berjamur dan basah, ada serangga, serta bau apak. Untuk penyebabnya, jagung yang kurang kering atau basah disebut 73,2 persen dan penyimpanan yang buruk 63,2 persen, sedangkan menjemur jagung di tanah paling jarang dikenali.

Yang diketahui warga soal aflatoksinJagung bisa tercemar: Menyebut +83,1%; Jagung kurang kering: Menyebut +73,2%; Warna berubah: Menyebut +71,8%; Penyimpanan buruk: Menyebut +63,2%; Anak kerdil: Menyebut +31,2%; Kanker hati: Menyebut +6,2%.Yang diketahui warga soal aflatoksinPersen dari 8.816 kepala rumah tangga yang pernah mendengar30%60%90%0Jagung bisa tercemar83,1%Jagung kurang kering73,2%Warna berubah71,8%Penyimpanan buruk63,2%Anak kerdil31,2%Kanker hati6,2%Kaloleni dan Rabai, Kilifi, Kenya.
Sumber: Rosebella Iseme-Ondiek, Joseph Abuodha, Anthony Ngugi, Innocent Abayo, Mansoor Saleh, Assessing aflatoxin knowledge, perceptions, and related practices, in a rural coastal community: a population-based cross-sectional survey, BMC Public Health, 26(2513), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kanker hati, akibat yang paling jarang disebut kepada Saleh

Saleh dan Abuodha, dua penulis dari bagian hematologi-onkologi, mendapati satu angka yang kecil di antara jawaban itu. Hanya 547 orang, atau 6,2 persen dari yang pernah mendengar aflatoksin, mengaitkannya dengan kanker hati. Anak tumbuh kerdil lebih sering disebut, 31,2 persen, begitu pula turunnya kekebalan tubuh, 21,3 persen. Tidak seorang pun menyebut lengkap seluruh akibat dalam daftar, dan 15 persen menjawab tidak tahu.

Bagi Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya, temuan itu menarik karena dampak aflatoksin paling berat justru terlihat pada hati, organ yang menetralkan racun di dalam tubuh. “Sudah diakui luas pula bahwa tidak ada tingkat paparan yang sepenuhnya aman, sehingga kadarnya harus ditekan sebisa mungkin,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Jagung dan sorgum, tambah para penulis, kerap dipakai sebagai makanan sapih anak di pedesaan Kenya, sehingga paparan sering bermula sejak dini.

Dua pertanyaan lain dari Abayo dan rekan-rekannya menguji hal yang lebih halus. Hanya 18,3 persen yang tahu bahwa aflatoksin dapat berpindah lewat air susu ibu dan daging ayam yang tercemar. Sebanyak 43,6 persen menjawab bahwa racun itu tidak hancur oleh memasak, merebus, atau memanggang. Bila seluruh jawaban dinilai, skor pengetahuan warga rata-rata 6,2 dari kemungkinan tertinggi 19, dengan nilai tengah 6.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Di dapur dan di warung, catatan Abayo tentang ugali

Abayo dan rekan-rekannya lalu menengok kebiasaan makan seluruh 17.813 rumah tangga. Sebanyak 77,6 persen, lebih dari tiga dari setiap empat, makan ugali tiga kali atau lebih dalam sepekan. Sebanyak 69,3 persen memakan tepung jagung yang ditanam dan disimpan di lingkungan sendiri, dan 80,4 persen juga memakan tepung jagung kemasan. Para penulis mengutip perkiraan konsumsi jagung Kenya sebesar 97 kilogram per orang, lebih tinggi daripada 76 kilogram di Afrika Timur dan Selatan.

Di antara warga yang pernah mendengar aflatoksin, Ngugi dan rekan-rekannya mencatat 60,8 persen mengaku mempertimbangkannya saat membeli tepung. Hampir separuh dari kelompok ini, 49,1 persen, mengandalkan keterangan pada kemasan, terutama tanda mutu Kenya Bureau of Standards. Sebanyak 30,8 persen bersandar pada kabar dari mulut ke mulut dan 20,1 persen pada media. Yang percaya ada merek tepung jagung Kenya yang aman dari aflatoksin hanya 29,2 persen.

Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya juga bertanya kepada semua kepala rumah tangga, baik yang pernah mendengar maupun belum, bagaimana sebaiknya kabar tentang tepung jagung yang aman disebarkan. Lebih dari separuh, 51,2 persen, memilih radio, televisi, dan baliho. Sebanyak 31,6 persen menginginkan dukungan dari ahli medis, dan 12 persen menyebut advokasi. Bagi para penulis, jawaban itu menunjukkan minat warga sekaligus saluran yang bisa dipakai.

Jagung di meja, racunnya tak dikenalJagung di meja, racunnya tak dikenalJagung di meja, racunnya tak dikenalSurvei Juli-Desember 2022 di pesisir Kenya17.813rumah tanggakepalanyaditanyai49,5%pernahmendengarkata aflatoksin77,6%makan ugalitiga kali atau lebihsepekan60,8%menimbangracun itu saat belitepungJalan risetnyaDatangi tiap rumahTanya kepala rumahNilai jawabannya60,8% dihitung dari yang pernah mendengar aflatoksin.
Sumber: Rosebella Iseme-Ondiek, Joseph Abuodha, Anthony Ngugi, Innocent Abayo, Mansoor Saleh, Assessing aflatoxin knowledge, perceptions, and related practices, in a rural coastal community: a population-based cross-sectional survey, BMC Public Health, 26(2513), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ngugi mendapati desa lebih waspada meski lebih sedikit tahu

Ketika Ngugi dan rekan-rekannya membandingkan kelompok warga, polanya tidak lurus. Skor pengetahuan lebih tinggi sekitar 0,6 poin pada kepala rumah tangga yang pernah bersekolah, tetapi lebih rendah sekitar 0,9 poin pada yang tinggal di desa dibanding di pinggiran kota. Perempuan kepala rumah tangga tercatat lebih rendah sekitar 0,2 poin daripada laki-laki, dan pengetahuan cenderung naik seiring kekayaan rumah tangga.

Meski begitu, warga desa justru sedikit lebih mungkin mempertimbangkan aflatoksin saat berbelanja, dengan angka perbandingan peluang 1,1. Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya menduga sebabnya ada pada pengalaman sehari-hari masyarakat tani yang melihat sendiri biji-bijian berjamur. “Pengalaman hidup ini dapat mendorong kehati-hatian ketika membeli tepung jagung, sekalipun pengetahuan teknisnya terbatas,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Abuodha dan rekan-rekannya mencatat pula bahwa rumah tangga desa hampir dua kali lebih mungkin makan ugali tiga kali atau lebih sepekan, dengan angka perbandingan peluang 1,9. Rumah tangga di dua lapis kekayaan teratas ternyata juga lebih sering memakannya. Para penulis membacanya sebagai kegemaran pada ugali yang bertahan ketika keluarga makin berada, dengan peralihan dari tepung giling setempat ke tepung kemasan.

Temuan tentang perempuan mendapat perhatian tersendiri dari Iseme-Ondiek. Perempuan, tulis para penulis, berperan besar dalam kerja tani, penanganan pascapanen, dan penyiapan makanan, tetapi pengetahuan mereka tentang aflatoksin lebih rendah. Di sampel ini hanya 33,3 persen perempuan kepala rumah tangga yang pernah mengenyam pendidikan formal, dibanding 75,2 persen laki-laki. Para penulis menyebut kesenjangan akses pada pendidikan, informasi, dan penyuluhan pertanian sebagai kemungkinan penjelasan.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Batas yang diakui Iseme-Ondiek dan selisih di naskahnya

Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya menuliskan sendiri batas penelitian mereka. Survei ini memotret satu waktu sehingga tidak dapat menetapkan sebab-akibat, dan seluruhnya bersandar pada pengakuan warga, bukan pengukuran paparan. Tidak ada sampel darah maupun sampel pangan yang diperiksa. Warga bisa saja melebih-lebihkan kebiasaan baik karena merasa sedang diamati, dan pertanyaan tentang belanja hanya diajukan kepada yang pernah mendengar aflatoksin.

Para penulis, termasuk Ngugi, juga mengakui 2.689 kepala rumah tangga yang dituju tidak ikut serta, dan ciri mereka tidak sepenuhnya diketahui. Para kader yang mewawancarai sudah mengenal warga, sehingga pengaruh pewawancara tidak bisa disingkirkan. Karena itu angka-angka ini menggambarkan Kaloleni dan Rabai pada 2022, bukan Kenya secara keseluruhan, dan bukan pula ukuran seberapa banyak racun yang sungguh termakan.

Naskah Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya memuat beberapa selisih yang bisa diperiksa pembaca. Jumlah warga yang mempertimbangkan aflatoksin saat membeli tepung tertulis 5.353 di badan naskah, tetapi 5.363 di dua tabelnya, dengan persentase sama. Tabel pengetahuan menandai jawaban tidak sebagai jawaban benar untuk soal apakah aflatoksin hancur oleh pemasakan, sedangkan lampiran penilaian memberi nilai untuk jawaban ya.

Satu selisih lagi ada pada kalimat Iseme-Ondiek dan rekan-rekannya tentang pengetahuan dan kebiasaan makan. Badan naskah menyebut pengetahuan yang lebih tinggi menaikkan peluang makan ugali tiga kali atau lebih sepekan. Tabel yang dirujuk menunjukkan angka 0,936, di bawah satu, yang berarti peluangnya sedikit lebih rendah. Tidak satu pun dari selisih ini mengubah temuan pokok bahwa separuh warga belum pernah mendengar aflatoksin.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Saleh dan keempat rekannya menutup naskah dengan usulan yang berangkat dari temuan tadi. Kesadaran tentang aflatoksin perlu ditingkatkan di masyarakat tani pedesaan, terutama di kalangan perempuan, misalnya lewat penyuluh pertanian, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi berbasis komunitas. Mereka juga mengingatkan bahwa ragam makanan yang terbatas menambah kerentanan terhadap paparan, di tengah penduduk yang lebih dari 70 persennya hidup di bawah garis kemiskinan.

Pertanyaan yang dibawa Rosebella Iseme-Ondiek ke Kaloleni dan Rabai akhirnya pulang dengan gambaran yang timpang. Jagung hadir di meja hampir empat dari lima rumah tangga beberapa kali sepekan, sementara nama racun yang bisa menumpang di dalamnya baru dikenal separuh kepala keluarga. Di antara yang mengenalnya pun, kanker hati nyaris tidak pernah disebut.

Bagikan

Baca Juga

Beban Batin Lelaki Ghana yang Tak Kunjung Punya Anak
Peradilan Adat Lamaholot Membaca Hati Hewan Saat Musim Tanam
Cloudflare Akuisisi Deno, Ryan Dahl Pindah Garap Workers
Serangan Siber Merambah Sistem Gedung dan Pendingin Makanan
Remaja Tibet yang Sering Makan Cepat Saji Lebih Rentan Murung
Perundungan Siber Menumpulkan Daya Pikir, Olahraga Bukan Perisai