- Ribuan sistem pendingin di ratusan toko kelontong di Prancis dibobol peretas hingga makanan rusak dan sejumlah titik terbakar.
- Armis Labs mencatat 91 persen sistem otomasi gedung berkomunikasi lewat protokol yang tidak aman.
- Dragos mencatat 1.140 insiden ransomware terhadap organisasi industri pada kuartal kedua 2026.
Cekricek.id — Serangan siber kini merambah sistem fisik gedung, mulai dari pintu, pendingin ruangan, hingga mesin pendingin makanan, setelah ribuan sistem pendingin di ratusan toko kelontong di Prancis dibobol peretas baru-baru ini.
Melansir laporan The Register, Sabtu (17/10/2026), pelaku yang belum diketahui identitasnya meretas ribuan sistem pendingin yang dikendalikan dari jarak jauh. Suhu mesin dinaikkan, bahan makanan rusak, dan sejumlah titik terbakar.
Pada Agustus lalu, serangan ransomware juga mengganggu sistem manajemen gedung sebuah rumah sakit di Kanada, termasuk kontrol akses pintu, pemantauan sistem pendingin dan pemanas ruangan, serta penerbitan kartu akses staf.
“Ada satu kasus ketika pelanggan menolak membayar, lalu pelaku berkata, ‘Silakan coba masuk ke kantor kalian sendiri,’ dan mengunci semua orang di luar,” kata Tim Beasley, konsultan senior penanganan insiden di perusahaan keamanan Semperis.
Baca juga Wesco Akui Insiden Keamanan Usai ExfilSquad Klaim Curi 2,6 Juta Data
“Polisi harus mendobrak masuk ke gedung dan memecahkan beberapa jendela agar pelanggan akhirnya bisa kembali masuk,” ujar Beasley. Menurut dia, pelanggan tersebut tidak membayar tebusan.
Serangan Siber ke Sistem Gedung Sulit Dideteksi
Laporan Armis Labs milik ServiceNow yang terbit awal Oktober mencatat 73 persen organisasi memiliki sistem otomasi gedung yang pernah dipakai dalam serangan ransomware. Persentase yang sama memiliki celah keamanan yang sudah dieksploitasi pada sedikitnya satu sistem, sementara 91 persen sistem tersebut berkomunikasi lewat protokol yang tidak aman.
“Hal utama yang kami lihat dari setiap serangan terhadap sistem manajemen gedung atau sistem fisik adalah tempat itu menjadi persembunyian yang bagus bagi pelaku. Lebih mudah bagi mereka untuk membobolnya, dan lebih mudah pula untuk bersembunyi di dalamnya,” kata Michael Freeman, Direktur Senior Riset Ancaman ServiceNow.
Freeman menambahkan, “Kami juga melihat pelaku memakai AI untuk memahami lebih banyak sistem otomasi gedung, terutama yang memakai sistem operasi langka seperti VxWorks dan sistem bertipe Unix yang lebih tua.”
Baca juga FBI Peringatkan Peretasan Akun untuk Curi Foto Pribadi Korban
Ransomware ke Industri Terus Meningkat
Perusahaan keamanan teknologi operasional Dragos mencatat 995 serangan ransomware terhadap organisasi industri pada 2023, naik 49,5 persen dari 2022. Jumlahnya melonjak lebih dari 87 persen pada 2024. Pada 2025, Dragos mencatat 119 kelompok ransomware berdampak pada lebih dari 3.300 organisasi industri, dan tahun ini insidennya mencapai 1.020 pada kuartal pertama serta 1.140 pada kuartal kedua.
“Sebagian besar kasus bersifat oportunistik,” kata Abdul Alamri, analis ancaman senior Dragos. Dragos juga memperkirakan kurang dari 10 persen jaringan teknologi operasional di dunia memiliki pemantauan jaringan yang memadai.
Baca juga Wi-Fi Palsu Muncul di Kabin, Delta Selidiki Penerbangan Las Vegas-Atlanta
Matt Hayden, Wakil Presiden Bidang Siber dan Ancaman Baru General Dynamics Information Technology, menyebut serangan terhadap pendingin di Prancis sebagai contoh perangkat tanpa data sensitif yang tetap bisa disasar. “Dampaknya adalah penurunan pasokan pangan dalam skala kecil, tetapi ini contoh penting tentang apa yang bisa terjadi dalam skala besar dengan sangat cepat pada peralatan operasional yang lebih penting,” ujarnya.















