FBI Peringatkan Peretasan Akun untuk Curi Foto Pribadi Korban

Ilustrasi ponsel pintar dililit rantai dan gembok sebagai simbol keamanan akun dari peretasan

Ilustrasi keamanan akun digital. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengeluarkan peringatan publik soal maraknya penjahat siber yang meretas akun media sosial korban untuk mencuri foto dan video pribadi bersifat intim.

Dikutip dari TechCrunch, Selasa (11/8/2026), FBI menyebut pelaku kejahatan ini menyasar akun orang dewasa maupun anak-anak, dengan modus utama berupa rekayasa sosial atau social engineering untuk membobol akun sebelum mengambil konten pribadi yang tersimpan di dalamnya.

Modus dan Dampaknya bagi Korban

Menurut FBI, korban yang kontennya berhasil dicuri kerap menghadapi ancaman lanjutan berupa pelecehan, pemerasan seksual atau sextortion, penguntitan, hingga serangan yang menyasar identitas mereka secara spesifik.

"Korban sering menghadapi viktimisasi berulang lewat pelecehan, pemerasan seksual, penguntitan, atau serangan bertarget, seperti mengiklankan konten curian di halaman media sosial korban sendiri," tulis FBI dalam peringatan publiknya.

Peringatan ini muncul di tengah dugaan bahwa jumlah insiden serupa tengah meningkat, meski kejahatan berbasis pencurian konten intim semacam ini sebenarnya telah terdokumentasi selama bertahun-tahun. FBI mencatat anak laki-laki menjadi salah satu kelompok yang paling banyak disasar dalam gelombang serangan ini.

Tiga Cara Umum Peretas Membobol Akun

FBI menguraikan tiga pola serangan yang paling sering dipakai pelaku. Cara pertama adalah brute-forcing, yakni mencoba kombinasi kata sandi yang bocor dari basis data lain untuk masuk ke akun korban. Cara kedua adalah menyamar sebagai staf layanan pelanggan dari platform media sosial tertentu untuk mengelabui korban agar menyerahkan kredensialnya sendiri. Cara ketiga memakai surel phishing yang menautkan ke halaman masuk palsu yang tampilannya meniru platform asli.

Rachel Tobac, Chief Executive Officer SocialProof Security, menilai fenomena ini sudah melampaui sekadar persoalan keamanan siber individu semata. Ia menyebut dampaknya menyentuh ranah kesehatan mental korban, karena sebagian dari mereka sampai menyakiti diri sendiri akibat tekanan yang dialami.

"Ini persoalan kesehatan publik yang besar," kata Rachel Tobac, Chief Executive Officer SocialProof Security.

Langkah Perlindungan yang Disarankan

FBI merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan bagi pengguna media sosial. Pengguna disarankan memakai kata sandi unik untuk setiap akun dan menyimpannya lewat pengelola kata sandi atau password manager, mengaktifkan autentikasi multifaktor, bersikap skeptis terhadap kontak tak diminta yang mengaku dari pihak perusahaan, serta menghindari menyimpan foto atau video intim di penyimpanan daring mana pun.

Langkah-langkah ini sederhana secara teknis, tetapi menurut FBI justru sering diabaikan karena pelaku kejahatan lebih mengandalkan kelengahan korban ketimbang celah teknis pada platform itu sendiri. Semakin sedikit titik masuk yang tersedia bagi pelaku rekayasa sosial, semakin kecil pula peluang akun seseorang berpindah tangan tanpa disadari.

Kewaspadaan terhadap rekayasa sosial semacam ini sejalan dengan pola serangan siber lain yang belakangan ramai ditemukan. Kelompok peretas Kimsuky asal Korea Utara, misalnya, kini memakai kecerdasan buatan untuk membuat dokumen umpan phishing yang lebih meyakinkan, sementara insiden kebocoran data lewat kesalahan konfigurasi situs, seperti yang terjadi pada formulir pendaftaran Klaviyo yang meneruskan kata sandi pengguna ke perusahaan periklanan, menambah panjang daftar celah yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.

Baca juga: Mahasiswa Rentan Jadi Korban! Ini 5 Modus Penipuan Online Terkini yang Harus Dikenali

Baca Juga

Tangan memegang ponsel pintar yang menampilkan kartu profil sebuah aplikasi kencan
Bumble Hapus Aturan Perempuan Kirim Pesan Pertama
Penumpang memakai laptop di kursi kabin pesawat
Wi-Fi Palsu Muncul di Kabin, Delta Selidiki Penerbangan Las Vegas-Atlanta
Ilustrasi abstrak jaringan data dan kecerdasan buatan
Zuckerberg Terbitkan Manifesto 6.500 Kata soal Superkecerdasan Personal Meta
Seorang kreator merekam dirinya memakai kamera dan penyangga
YouTube Naikkan Ambang Monetisasi Dua Kali Lipat, Berlaku 1 Februari 2027
Ilustrasi tangan mengetik pada papan ketik dengan grafis keamanan
Formulir Pendaftaran Klaviyo Bocorkan Kata Sandi Pengguna ke Perusahaan Iklan
Layar komputer menampilkan barisan kode di ruang gelap
Peretas Kimsuky Korea Utara Pakai AI Bikin Dokumen Umpan, Sasar Militer dan Diplomat